Relevansi Filosofi Gusjigang dalam Praksis Pendidikan Abad 21

 

Gusjigang adalah local wisdom – local culture yang merupakan ajaran moral dari Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq), memuat tiga esensi kehidupan; yaitu perilaku baik (bagus), pintar ngaji (belajar), dan pandai berdagang. Gusjigang marupakan akronim dari kata bagus, ngaji, dan dagang. Makna filosofi yang terkadung di dalamnya kurng sebagai berikut.

Bagus, perilaku yang bagus yang merupakan cerminan akhlak mulia yang harus dimiliki masyarakat dalam kaitan hubungan horisontal antara sesama manusia dan vertikal kepada Tuhan YME. Ngaji, pinter ngaji artinya belajar membaca dan memahami isi Al Qur’an dan belajar kehidupan.  Dalam konteks ini “ngaji” tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai kegiatan tadarus/membaca Al Qur`an, tetapi dapat dimaknai secara lebih luas, yaitu mengkaji berbagai dinamika kehidupan dalam berbagai perspektif keilmuan.

Dilakukan untuk menemukan jawaban atas suatu permasalahan, dan untuk berkontribusi pada penambahan wawasan dan keilmuan manusia. Dagang, menunjuk pada makna mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup duniawi, dan secara lebih luas sebagai  jiwa enterpreuner yang harus dimiliki setiap warga masyarakat agar secara kreatif dan inovatif mampu mencari celah sumber penghidupan secara materiil untuk menjaga eksistensi kehidupannya.

Uraian tentang relevansi filosofi gusjigang dalam praksis pendidikan abad 21, dapat dibaca pada bahan presentasi.  Relevansi Filosofi GUSJIGANG dalam Praksis Pendidikan Abad 21

KUALITAS PEMBELAJARAN, TEKNOLOGI PENDIDIKAN, DAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PEMBELAJARAN

Oleh: Haryono

Pembelajaran adalah upaya sistematik dan sengaja untuk menciptakan terjadinya interaksi edukatif antara peserta didik dengan sumber belajar, sehingga terjadi proses belajar pada peserta didik. Pembelajaran merupakan usaha yang disengaja, bertujuan, terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap (Miarso, 2004). Usaha yang dimaksud hanya dapat dilakukan oleh seseorang atau tim yang memiliki kompetensi merancang dan mengembangkan aneka sumber belajar yang diperlukan. Proses  pembelajaran sebagai inti dan pusat aktivitas pendidikan, kualitas pembelajaran menjadi penentu keberhasilan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Kualitas pembelajaran berkorelasi positif terhadap mutu pendidikan secara keseluruhan.

Kualitas pembelajaran bersifat kompleks dan dinamis, merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penguna. Pada skala mikro pencapaian kualitas pembelajaran menjadi tanggung jawab profesional pendidik melalui penciptaan pengalaman belajar yang sunguh-sunggih bermakana bagi peserta didik. Pada skala makro secara sistemik dan sistematik institusi pendidikan (sekolah) bertangung jawab menyediakan peluang bagi terjadinya proses belajar secara maksimal bagi peserta didik.

Sekolah secara kelembagaan bertanggung jawab menyediakan masukan instrumental yang mencakup pendidik, kurikulum dan bahan ajar, iklim pembelajaran, media belajar, fasilitas dan materi ajar yang diperlukan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran secara berkualitas. Lebih dari itu  sekolah juga harus mengembangkan sistem penjaminan mutu pembelajaran sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial kepada segenap pemangku kepentingan.

Kualitas pembelajaran dalam skala operasional terindikasikan dalam bentuk perilaku atau kinerja pembelajaran pendidik, perilaku peserta didik baik dalam arti perilaku belajar maupun sebagai hasil belajarnya, iklim pembelajaran yang tercipta, materi ajar yang dikembangkan/digunakan, dan media dan sumber belajar yang dikembangkan/digunakan (Ditjen Dikti Kemdikbud, 2011). Indikator kualitas pembelajaran ini selanjutnya dapat dijadikan rujukan sekaligus bidang garapan yang dijaminkan kepada masyarakat dan segenap pemangku kepentingan pendidikan persekolahan.

Teknologi pendidikan adalah disiplin ilmu terapan, berkembang oleh adanya kebutuhan di lapangan yaitu kebutuhan untuk belajar secara lebih efektif, efisien, luas, banyak, cepat, dan sebagainya. Untuk itu ada suatu produk yang sengaja dikembangkan untuk kepentingan belajar tersebut, dan ada yang ditemukan dan dapat didayagunakan untuk kepentingan yang sama. Teknologi pendidikan adalah proses bersistem dalam membantu memecahkan masalah belajar manusia sepanjang hayat, di mana saja, kapan saja, dengan cara apa saja, dan oleh siapa saja (Miarso, 2004). Pemecahan masalah belajar yang terjadi di ruang-ruang kelas pembelajaran dapat dilakukan dengan menerapkan teori dan praktik teknologi pendidikan.

Selanjutnya merujuk pada definisi resmi teknologi pendidikan dari AECT pada tahun 2004, bahwa “Educational technology is the study and ethical practice of facilitating and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources” (Januszewski & Molenda [eds.], 2008), maka teknologi pendidikan sejatinya dapat berkontribusi secara teoretik dan praktik dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Secara teoretik konseptual dapat dilakukan kajian (study) untuk menghasilkan berbagai pengetahuan baru dan praktik-praktik yang teruji melalui penelitian ilmiah,sedangkan secara praktik dapat dilakukan praktik-praktik beretika dalam perancangan dan produksi berbagai perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.

Beberapa hal yang tercakup dalam bidang garapan teknologi pendidikan tersebut dapat berubah dan berkembang sesuai dengan konteks dan kebutuhan riil pembelajaran. Upaya tersebut memerlukan kejelian, sensitivitas sosial, dan daya analisis dari pengembang teknologi pendidikan untuk dapat mengaktualisasi dan berkontribusi secara maksimal terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Kehadiran pengembang teknologi pendidikanpada satuan pendidikan tidak hanya dalam konteks  mengembangkan desain pembelajaran, media dan bahan pembelajaran, sumber belajar, dan lingkungan pembelajaran, melainkan juga dalam kerangka proses penjaminan mutu pembelajaran.

Terkait dengan upaya penjaminan mutu pembelajaran sebagai implementasi teknologi pendidikan dalam skala kelembagaan, target yang dapat diupayakan adalah; (1) membangun budaya mutu di antara komponen sistem pembelajaran di sekolah, (2) adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan proporsional di antara komponen sistem pembelajaran di sekolah, (3) mulai ditetapkannya secara internal sekolah tentang standar mutu pembelajaran yang menjadi komitmen dari semua komponen dalam sistem pembelajaran, (4) terbangunnya sistem informasi mutu pembelajaran di satuan pendidikan. Penjaminan mutu pembelajaran dikembangkan dengan prinsip berkelanjutan, terencana dan sistemtis dengan kerangka waktu dan target capaian mutu yang jelas dan terukur, menghormati otonomi sekolah, memfasilitasi pencapaian pembelajaran berkualitas, dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Januszewski, Alan and Michael Molenda. 2008. Educational Technology: A Definition with Commentary. New York: Taylor & Francis Group.

Ditjen Dikti Kemdikbud. 2011. Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.Jakarta: Prenada Media.

Teknologi pendidikan adalah studi dan praktik secara beretika untuk memfasilitasi belajar dan peningkatan kinerja melalui penciptaan, pemanfaatan, dan pengelolaan aneka sumber dan teknologi secara tepat. Dalam kontek masyarakat abad 21 yang merupakan masyarakat berpengetahuan dengan mega kompetisi dalam setiap segi kehidupan, untuk memperoleh peluang partisipasi di dalamnya menuntut kompetensi yang lebih dari sebatas kemampuan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung. Kehidupan masyakat global menuntut warganya untuk menguasai kompetensi abad 21, yaitu berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, kolaboratif, kreatif dan inovatif. Hal ini diperlukan untuk dapat berpartisipasi, memperoleh peluang untuk bertahan dan terus eksis di dalamnya. Untuk menyiapkan manusia abad 21, diperlukan model pembelajaran yang tidak saja bersifat deduktif tetapi juga induktif. Teknologi pendidikan hadir berkontribusi mewujudkan model pembelajaran yang yang kondusif bagi berkembangnya kemampuan dasar individu yang memungkinkan untuk berkembang dan mencipta diri secara optimal.

Uraian teknologi pendidikan dan pembelajaran abad 21 terpapar dalam Makalah Seminar Teknologi Pendidikan dengan tema: ”INOVASI PENDIDIKAN DI ERA CYBER DAN PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN/PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA” di Banjarmasin, 15 Juli 2017, yang termuat dalam Prosiding Seminar halaman 425-436. TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ABAD 21

 

 

Di tengah kegundahan guru mengadopsi inovasi dalam pelaksanaan tugas profesionalnya yaitu Kurikulum 2013, teknologi pendidikan dapat hadir memberikan pencerahan. Sesuai dengan konsep dasarnya bahwa teknologi pendidikan adalah proses bersistem yang sistematik untuk mengatasi permasalahan belajar (Miarso, 2004) dapat berperan memberikan solusi atas kegundahan para guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 secara benar. Peran strategis teknologi pendidikan dalam pemecahan masalah belajar, khususnya dalam hal meningkatkan kualitas dan kinerja pembelajaran telah diakui secara formal dalam wujud jabatan fungsional pengembang teknologi pembelajaran (PermenPAN PER/2/M.PAN/3/2009), dan diperkuat melalui Perpres No. 22 Tahun 2013 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran. Pertanyaannya adalah bagaimana merealisasikan peran strategis teknologi pendidikan tersebut dalam praksis Kurikulum 2013 yang merupakan cetak biru bagi penyiapan manusia Indonesia yang akan hidup pada era global yang kompetitif dan kompleks.

Berikut dipaparkan sepintas tentang praksis Kurikulum 2013 dalam skala operasional, teknologi pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran, optimalisasi jabatan fungsional teknologi pembelajaran dalam kerangka profesionalisasi guru, dan fasilitasi kelembagaan pengembang teknologi pembelajaran untuk mengaktualisasikan diri. Makalah yang telah dipresentasikan dalam Seminar Internasional Pendidikan Serantau ke-7 di Padang pada tanggal 22 – 24 November 2014, dapat dibaca pada link berikut ini.   TERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN PRAKSIS KURIKULUM 2013

Abstrak. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui implementasi gagasan tentang tim pengembang teknologi pendidikaa di sekolah, terutama mengenai kompatibilitas gagasan dengan konteks dan kondisi riil di sekolah. Dengan menqgunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serti]a model reseacrh and development, penelitian dilaksanakan pada jeniang pendidikan dasar dan menengah di Kota Semarang dan sekitamya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan prototipe tirn pengembang teknologi pendjdikan di sekolah kompatibel dengan konteks dan kondisi sekolah. Problem kualitai gurudalam mengembangkan rencana pembelalaran, media belajar, termasuk keberlanjutan program peningkatan kualitas guru/ manajemen sekolah, dan tidak-adanya divisi pengembangan sumber daya manusia sekolah, dapat diatasi oleh tim pengembang teknologi pendidikan. Fakta di lapangan memang menunjukkan beberapa sekolal tempat uji implementasi gagasan tersebut tidak dapat maksimal dalam penerapannyan, namun hal tersebut  bukan disebabkan oleh kualitas  gagasan, melainkan faktor sosiokultural sekolah itu sendiri. Komposisi tim pengembang teknologi pendidikan di sekolah yang masih mahasiswa S1 diidentifikasi menjdi faktor penghambatnya. Walau begitu secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi gagasan tim pengembang teknologi pendidikan di sekolal telah berhasil dengan baik.

Merupakan artikel hasil penelitian yang terpublikasi dalam Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan BPMTP Vol. 3 No. 1, Juni 2015 ISSN 2338-9184  Hal 1 – 16. IMPLEMENTASI TIM PENGEMBANG TP DI SEKOLAH

Proses pendidikan adalah sebuah sistem yang melibatkan sejumlah komponen untuk berinteraksi dan berfungsi secara integratif dalam kerangka mencapai tujuan tertentu (Banathy, 1988). Dengan demikian berhasil tidaknya proses pendidikan sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan menghadapi tantangan masa depan, sangat tergantung dari kualitas komponen pembentuk sistem pendidikan itu sendiri. Komponen sistem yang cukup menentukan dan besar perannya dalam hal ini adalah “guru”. Guru merupakan ujung tombak dari seluruh rangkaian proses pendidikan,  menentukan berhasil tidaknya proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta proses internalisasi nilai-nilai etika dan moral  (Indra Djati Sidhi, 2001). Dalam kaitan ini profesi guru menjadi “bintang” sekaligus tumpuan harapan terhadap kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika pemerintah dan masyarakat menaruh perhatian dan mulai peduli terhadap berbagai aspek berkaitan dengan “guru”.

Profesi guru harus berkembang berdasarkan “ sistem merit”, artinya pengakuan dan penghargaan terhadap profesi guru didasarkan pada hasil karya berkualitas, berkembang karena jasa-jasa yang diberikan oleh guru dalam mencerdaskan generasi muda, meningkatkan taraf hidup masyarakat, bukan karena belas kasihan (“lamentation”). Profesi guru menerapkan pengetahuan dan keahliannya untuk memberikan jasa pelayanan menurut kemampuannya, kemudian kemampuan itu dirasakan oleh masyarakat sehingga diakui dan dihargai setara dengan jasa yang telah diberikan. Profesi guru akan berkembang apabila kehadirannya diterima dan dihargai oleh masyarakat, dan hal ini dapat terwujud manakala guru mau dan mampu meberikan jasa layanan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen.

Berikut adalah uraian tentang profesionalisasi guru sebagai upaya membangun citra, yang merupakan makalah yang pernah dipresentasikan dalam Seminar Nasional “Guru dalam Era Otonomi Daerah”, di Semarang pada tanggal 4 Mei 2002. PROFESIONALISASI GURU SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN CITRA

Berbicara tentang penelitian (khususnya kuatitatif) tidak dapat lepas dari pembahasan variabel dan instrumen. Hal ini wajar karena penelitian selalu berurusan dengan variabel, dan untuk melaksanakannya perlu instrumen. Variabel merupakan bahan baku penelitian yaitu sesuatu yang diteliti,  sedangkan instrumen adalah alat untuk mengumpulkan data tentang variabel. Dalam setiap penelitian tentu ada variabel, ada sesuatu yang menjadi fokus pengkajian, dan ada alat atau instrumen untuk mengungkapnya. Setelah memformulasikan masalah penelitian, langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah menetapkan variabel yang akan diteliti, data yang diperlukan, dan bagaimana data akan diperoleh.

Berkenaan dengan kedudukan dan fungsi strategisnya dalam penelitian, berikut diuraikan secara singkat perihal apa itu variabel, apa itu instrumen, dan bagaimana instrumen penelitian dikembangkan. VARIABEL DAN INSTRUMEN PENELITIAN

Pembelajaran dalam konteks mempersiapkan sumber daya manusia ke depan harus lebih mengacu pada konsep belajar yang dicanangkan oleh Komisi UNESCO (Tilaar, 1999:61; Sudarminta, 2000:7), yaitu mencakup belajar berpikir (“learning to think”), belajar bertindak (“learning to do”), belajar menjadi dirinya (“learning to be”), dan belajar hidup bersama (“learning to life together”). Hasil pembelajaran yang terpenting adalah dimilikinya kekuatan dan kemampuan belajar yang tinggi (“powerfull”) untuk dapat mendidik dan mengembangkan diri lebih lanjut (Joice & Weil, 1996:7), bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh (didapatkan) oleh siswa (Zamroni, 2000:30; Conny R. Semiawan, 1998:13).

Mengacu pada tuntutan perubahan orientasi pembelajaran sebagai implikasi dari gelombang perubahan dalam segala dimensi kehidupan manusia, landasan pengembangan desain pembelajaran juga tidak luput dari pergeseran. Teori belajar behaviorisme yang telah sekian lama menjadi pijakan dalam pengembangan desain pembelajaran, kini sudah tidak cukup memadai. Dengan masuknya teori belajar kognitif yang didukung oleh humanistik pun nampaknya juga belum mampu menjangkau tuntutan perubahan tersebut. Teori belajar konstruktivisme menjadi acuan yang harus dirunut dalam pengembangan desain pembelajaran untuk memenuhi tuntutan perubahan sesuai konteks. Berikut uraian singkat perihal aplikasi teori belajar dalam desain pembelajaran. APLIKASI TEORI BELAJAR DALAM DESAIN PEMBELAJARAN

ROAD MAP PENELITIAN

June 7th, 2017

Road map atau peta jalan penelitian adalah mile stones kegiatan penelitian dalam ruang waktu tertentu (5 – 20 tahun) yang dilakukan oleh peneliti secara individu dan atau kelompok peneliti baik secara multidisplin atau intra/inter disiplin. Road map penelitian dapat berupa peta jalan penelitian dan pengembangan – R & D, peta jalan teknologi, model, dan atau sistem, dan bisa juga berupa peta jalan suatu produk. Satu road map penelitian dapat mencakup 3 ranah penelitian sekaligus, yaitu dasar, terapan, dan pengembangan.

Road map penelitian merepresentasi penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, yang sedang dilakukan, dan yang akan dilakukan peneliti dalam kurun waktu terntetu. Road map penelitian yang baik dan benar adalah yang mampu memberikan informasi tentang penelitian yang telah dilakukan berikut luaran dicapai seperti publikasi dalam jurnal bereputasi (berakreditasi dan atau terindeks SCOPUS), paten, hak cipta, dan HKI lainnya.

Road map penelitian selain didideskripsikan secara naratif, dapat divisualisasikan dalam bentuk bentuk grafik dengan sumbu x merepresentasi waktu dan sumbu y merepresentasi kegiatan penelitian, atau dalam bentuk diagram fishbone, atau bisa juga dalam bentuk lain diagram, tetapi dengan tujuan yaitu memudahkan dalam memvisualisasikan peta jalan suatu penelitian.

Road map penelitian bukan alur penelitian, metoda dan atau tahapan penelitian yang akan dilakukan. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh road map penelitian. ROAD MAP PENELITIAN

Abstrak. Profesionalisme guru menunjuk pada kinerja pembelajaran yang dihasilkan dalam pelaksanaan tugas di kelas. Peningkatan kemampuan profesional guru harus berimplikasi pada perbaikan kualitas pembelajaran. Salah satu upaya memperbaiki kualitas pembelajaran adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) secara baik dan benar. Disamping itu penelitian tindakan kelas juga digunakan sebagai media peningkatan kemampuan profesional guru. Melalui penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara dosen dan guru, dapat dilakukan proses transfer pengetahuan dan keterampilan secara bertahap dan simultan oleh dosen selaku kolaborator kepada guru.

Kata Kunci: kemampuan profesional guru, penelitian tindakan kelas, kolaborasi.

Merupakan artikel hasil pemikiran yang termuat dalam Jurnal Kependidikan Widya Dharma Vol. 12 No. 1 Oktober 2006 ISSN 0853 – 0920.  PTK KOLABORATIF DAN PROFESIONALISASI GURU


Skip to toolbar