Teknologi pendidikan adalah studi dan praktik secara beretika untuk memfasilitasi belajar dan peningkatan kinerja melalui penciptaan, pemanfaatan, dan pengelolaan aneka sumber dan teknologi secara tepat. Dalam kontek masyarakat abad 21 yang merupakan masyarakat berpengetahuan dengan mega kompetisi dalam setiap segi kehidupan, untuk memperoleh peluang partisipasi di dalamnya menuntut kompetensi yang lebih dari sebatas kemampuan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung. Kehidupan masyakat global menuntut warganya untuk menguasai kompetensi abad 21, yaitu berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, kolaboratif, kreatif dan inovatif. Hal ini diperlukan untuk dapat berpartisipasi, memperoleh peluang untuk bertahan dan terus eksis di dalamnya. Untuk menyiapkan manusia abad 21, diperlukan model pembelajaran yang tidak saja bersifat deduktif tetapi juga induktif. Teknologi pendidikan hadir berkontribusi mewujudkan model pembelajaran yang yang kondusif bagi berkembangnya kemampuan dasar individu yang memungkinkan untuk berkembang dan mencipta diri secara optimal.

Uraian teknologi pendidikan dan pembelajaran abad 21 terpapar dalam Makalah Seminar Teknologi Pendidikan dengan tema: ”INOVASI PENDIDIKAN DI ERA CYBER DAN PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN/PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA” di Banjarmasin, 15 Juli 2017, yang termuat dalam Prosiding Seminar halaman 425-436. TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ABAD 21

 

 

Di tengah kegundahan guru mengadopsi inovasi dalam pelaksanaan tugas profesionalnya yaitu Kurikulum 2013, teknologi pendidikan dapat hadir memberikan pencerahan. Sesuai dengan konsep dasarnya bahwa teknologi pendidikan adalah proses bersistem yang sistematik untuk mengatasi permasalahan belajar (Miarso, 2004) dapat berperan memberikan solusi atas kegundahan para guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 secara benar. Peran strategis teknologi pendidikan dalam pemecahan masalah belajar, khususnya dalam hal meningkatkan kualitas dan kinerja pembelajaran telah diakui secara formal dalam wujud jabatan fungsional pengembang teknologi pembelajaran (PermenPAN PER/2/M.PAN/3/2009), dan diperkuat melalui Perpres No. 22 Tahun 2013 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran. Pertanyaannya adalah bagaimana merealisasikan peran strategis teknologi pendidikan tersebut dalam praksis Kurikulum 2013 yang merupakan cetak biru bagi penyiapan manusia Indonesia yang akan hidup pada era global yang kompetitif dan kompleks.

Berikut dipaparkan sepintas tentang praksis Kurikulum 2013 dalam skala operasional, teknologi pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran, optimalisasi jabatan fungsional teknologi pembelajaran dalam kerangka profesionalisasi guru, dan fasilitasi kelembagaan pengembang teknologi pembelajaran untuk mengaktualisasikan diri. Makalah yang telah dipresentasikan dalam Seminar Internasional Pendidikan Serantau ke-7 di Padang pada tanggal 22 – 24 November 2014, dapat dibaca pada link berikut ini.   TERAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN PRAKSIS KURIKULUM 2013

Abstrak. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui implementasi gagasan tentang tim pengembang teknologi pendidikaa di sekolah, terutama mengenai kompatibilitas gagasan dengan konteks dan kondisi riil di sekolah. Dengan menqgunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serti]a model reseacrh and development, penelitian dilaksanakan pada jeniang pendidikan dasar dan menengah di Kota Semarang dan sekitamya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan prototipe tirn pengembang teknologi pendjdikan di sekolah kompatibel dengan konteks dan kondisi sekolah. Problem kualitai gurudalam mengembangkan rencana pembelalaran, media belajar, termasuk keberlanjutan program peningkatan kualitas guru/ manajemen sekolah, dan tidak-adanya divisi pengembangan sumber daya manusia sekolah, dapat diatasi oleh tim pengembang teknologi pendidikan. Fakta di lapangan memang menunjukkan beberapa sekolal tempat uji implementasi gagasan tersebut tidak dapat maksimal dalam penerapannyan, namun hal tersebut  bukan disebabkan oleh kualitas  gagasan, melainkan faktor sosiokultural sekolah itu sendiri. Komposisi tim pengembang teknologi pendidikan di sekolah yang masih mahasiswa S1 diidentifikasi menjdi faktor penghambatnya. Walau begitu secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi gagasan tim pengembang teknologi pendidikan di sekolal telah berhasil dengan baik.

Merupakan artikel hasil penelitian yang terpublikasi dalam Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan BPMTP Vol. 3 No. 1, Juni 2015 ISSN 2338-9184  Hal 1 – 16. IMPLEMENTASI TIM PENGEMBANG TP DI SEKOLAH

Proses pendidikan adalah sebuah sistem yang melibatkan sejumlah komponen untuk berinteraksi dan berfungsi secara integratif dalam kerangka mencapai tujuan tertentu (Banathy, 1988). Dengan demikian berhasil tidaknya proses pendidikan sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan menghadapi tantangan masa depan, sangat tergantung dari kualitas komponen pembentuk sistem pendidikan itu sendiri. Komponen sistem yang cukup menentukan dan besar perannya dalam hal ini adalah “guru”. Guru merupakan ujung tombak dari seluruh rangkaian proses pendidikan,  menentukan berhasil tidaknya proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta proses internalisasi nilai-nilai etika dan moral  (Indra Djati Sidhi, 2001). Dalam kaitan ini profesi guru menjadi “bintang” sekaligus tumpuan harapan terhadap kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika pemerintah dan masyarakat menaruh perhatian dan mulai peduli terhadap berbagai aspek berkaitan dengan “guru”.

Profesi guru harus berkembang berdasarkan “ sistem merit”, artinya pengakuan dan penghargaan terhadap profesi guru didasarkan pada hasil karya berkualitas, berkembang karena jasa-jasa yang diberikan oleh guru dalam mencerdaskan generasi muda, meningkatkan taraf hidup masyarakat, bukan karena belas kasihan (“lamentation”). Profesi guru menerapkan pengetahuan dan keahliannya untuk memberikan jasa pelayanan menurut kemampuannya, kemudian kemampuan itu dirasakan oleh masyarakat sehingga diakui dan dihargai setara dengan jasa yang telah diberikan. Profesi guru akan berkembang apabila kehadirannya diterima dan dihargai oleh masyarakat, dan hal ini dapat terwujud manakala guru mau dan mampu meberikan jasa layanan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen.

Berikut adalah uraian tentang profesionalisasi guru sebagai upaya membangun citra, yang merupakan makalah yang pernah dipresentasikan dalam Seminar Nasional “Guru dalam Era Otonomi Daerah”, di Semarang pada tanggal 4 Mei 2002. PROFESIONALISASI GURU SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN CITRA

Berbicara tentang penelitian (khususnya kuatitatif) tidak dapat lepas dari pembahasan variabel dan instrumen. Hal ini wajar karena penelitian selalu berurusan dengan variabel, dan untuk melaksanakannya perlu instrumen. Variabel merupakan bahan baku penelitian yaitu sesuatu yang diteliti,  sedangkan instrumen adalah alat untuk mengumpulkan data tentang variabel. Dalam setiap penelitian tentu ada variabel, ada sesuatu yang menjadi fokus pengkajian, dan ada alat atau instrumen untuk mengungkapnya. Setelah memformulasikan masalah penelitian, langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah menetapkan variabel yang akan diteliti, data yang diperlukan, dan bagaimana data akan diperoleh.

Berkenaan dengan kedudukan dan fungsi strategisnya dalam penelitian, berikut diuraikan secara singkat perihal apa itu variabel, apa itu instrumen, dan bagaimana instrumen penelitian dikembangkan. VARIABEL DAN INSTRUMEN PENELITIAN

Pembelajaran dalam konteks mempersiapkan sumber daya manusia ke depan harus lebih mengacu pada konsep belajar yang dicanangkan oleh Komisi UNESCO (Tilaar, 1999:61; Sudarminta, 2000:7), yaitu mencakup belajar berpikir (“learning to think”), belajar bertindak (“learning to do”), belajar menjadi dirinya (“learning to be”), dan belajar hidup bersama (“learning to life together”). Hasil pembelajaran yang terpenting adalah dimilikinya kekuatan dan kemampuan belajar yang tinggi (“powerfull”) untuk dapat mendidik dan mengembangkan diri lebih lanjut (Joice & Weil, 1996:7), bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh (didapatkan) oleh siswa (Zamroni, 2000:30; Conny R. Semiawan, 1998:13).

Mengacu pada tuntutan perubahan orientasi pembelajaran sebagai implikasi dari gelombang perubahan dalam segala dimensi kehidupan manusia, landasan pengembangan desain pembelajaran juga tidak luput dari pergeseran. Teori belajar behaviorisme yang telah sekian lama menjadi pijakan dalam pengembangan desain pembelajaran, kini sudah tidak cukup memadai. Dengan masuknya teori belajar kognitif yang didukung oleh humanistik pun nampaknya juga belum mampu menjangkau tuntutan perubahan tersebut. Teori belajar konstruktivisme menjadi acuan yang harus dirunut dalam pengembangan desain pembelajaran untuk memenuhi tuntutan perubahan sesuai konteks. Berikut uraian singkat perihal aplikasi teori belajar dalam desain pembelajaran. APLIKASI TEORI BELAJAR DALAM DESAIN PEMBELAJARAN

ROAD MAP PENELITIAN

June 7th, 2017

Road map atau peta jalan penelitian adalah mile stones kegiatan penelitian dalam ruang waktu tertentu (5 – 20 tahun) yang dilakukan oleh peneliti secara individu dan atau kelompok peneliti baik secara multidisplin atau intra/inter disiplin. Road map penelitian dapat berupa peta jalan penelitian dan pengembangan – R & D, peta jalan teknologi, model, dan atau sistem, dan bisa juga berupa peta jalan suatu produk. Satu road map penelitian dapat mencakup 3 ranah penelitian sekaligus, yaitu dasar, terapan, dan pengembangan.

Road map penelitian merepresentasi penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, yang sedang dilakukan, dan yang akan dilakukan peneliti dalam kurun waktu terntetu. Road map penelitian yang baik dan benar adalah yang mampu memberikan informasi tentang penelitian yang telah dilakukan berikut luaran dicapai seperti publikasi dalam jurnal bereputasi (berakreditasi dan atau terindeks SCOPUS), paten, hak cipta, dan HKI lainnya.

Road map penelitian selain didideskripsikan secara naratif, dapat divisualisasikan dalam bentuk bentuk grafik dengan sumbu x merepresentasi waktu dan sumbu y merepresentasi kegiatan penelitian, atau dalam bentuk diagram fishbone, atau bisa juga dalam bentuk lain diagram, tetapi dengan tujuan yaitu memudahkan dalam memvisualisasikan peta jalan suatu penelitian.

Road map penelitian bukan alur penelitian, metoda dan atau tahapan penelitian yang akan dilakukan. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh road map penelitian. ROAD MAP PENELITIAN

Abstrak. Profesionalisme guru menunjuk pada kinerja pembelajaran yang dihasilkan dalam pelaksanaan tugas di kelas. Peningkatan kemampuan profesional guru harus berimplikasi pada perbaikan kualitas pembelajaran. Salah satu upaya memperbaiki kualitas pembelajaran adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) secara baik dan benar. Disamping itu penelitian tindakan kelas juga digunakan sebagai media peningkatan kemampuan profesional guru. Melalui penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara dosen dan guru, dapat dilakukan proses transfer pengetahuan dan keterampilan secara bertahap dan simultan oleh dosen selaku kolaborator kepada guru.

Kata Kunci: kemampuan profesional guru, penelitian tindakan kelas, kolaborasi.

Merupakan artikel hasil pemikiran yang termuat dalam Jurnal Kependidikan Widya Dharma Vol. 12 No. 1 Oktober 2006 ISSN 0853 – 0920.  PTK KOLABORATIF DAN PROFESIONALISASI GURU

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains guna meningkatkan kemampuan proses sains dan hasil belajar siswa. Dengan pendekatan “R and D” penelitian dilakukan di Kabupaten Pati, Purbalingga, dan Sukoharjo Jawa Tengah. Tahapan penelitian mencakup pengembangan model dan uji keefektifan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) keterampilan proses sains siswa dan guru SD pada umumnya rendah (4,08% dan 65,79%), (2) di SD keterampilan proses sains umumnya dkembangkan secara terintegrasi dengan pembelajaran yang berpola deduktif, (3) model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang menterjemahkan keterampilan proses sains ke dalam rangkaian proses pembelajaran di kelas, (4) model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains secara signifikan efektif untuk meningkatkan kemampuan proses sains siswa (dari 46,08% menjadi 67,27%).

Kata Kunci: model pembelajaran, keterampilan proses sains.

Merupakan artikel hasil penelitian yang terpublikasi dalam Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 7 No. 1, Maret 2006 ISSN 1411-285X Hal 1 – 13. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

Pendidikan adalah suatu upaya untuk menyiapkan anak-anak bangsa menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa ini lebih bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia (Anita Lie, 2004). Pendidikan berpotensi membentuk bangsa ini ke depan. Namun hingga sejauh ini pendidikan masih cenderung menjadi subordinat (jika tidak layak disebut sebagai budak) dari sistem politik negara, sehingga kehilangan ruh dan kekuatannya untuk memastikan reformasi bangsa pada rel dan tujuan yang semestinya. Untuk kepentingan itu, sesungguhnya mau dibawa kemana pendidikan kita ke depan.

Berikut pokok-pokok pikiran sebagai stimulan bagi pembaca untuk mendiskusikan lebih lanjut perihal tantangan dunia pendidikan pada aras keterbukaan dunia, pendidikan kemanusiaan versus tuntutan pasar, dan visi baru pendidikan Indonesia dalam makalah yang telah presentasikan pada Seminar Nasional ”Menggagas Pendidikan ke Depan sebagai Ivestasi Peradaban” di Semarang pada tangal 4 Mei 2005. VISI BARU PENDIDIKAN


Skip to toolbar