MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MENGUBAH TANTANGAN MENJADI PELUANG PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Dunia telah banyak mengalami perubahan, dan perubahan itu akan terus terjadi. Manusia dihadapkan pada kenyataan hidup yang semakin kompleks,  semakin sulit, semakin keras, sehingga banyak di antara manusia yang akhirnya mengalami krisis pengharapan (Stoltz, 2000). Kondisi yang terus berubah dari waktu ke waktu, menuntut tidak saja pemahaman, tetapi juga sikap dan tindakan. Untuk dapat bertahan dalam kehidupan dunia yang penuh tantangan dan kompetisi, manusia perlu memiliki ciri fleksibilitas, keterbukaan, berpikir secara kreatif dan kritis, tangkas, peka terhadap masalah, dan mampu menjalin hubungan dan kerjasama dengan orang lain (Conny R. Semiawan, 1998). Guna memperoleh peluang partisipasi dalam kehidupan dunia yang semakin kompleks dan tidak menentu, orang atau individu harus memiliki kemampuan mengubah tantangan dan atau hambatan menjadi peluang.

Berikut penulis memaparkan secara singkat tentang Adversity Quotient (AQ) yang merupakan kerangka kerja konseptual baru dalam memahami makna kesuksesan (Stoltz, 2000). Ketahanmalangan adalah prediktor holistik tentang kesuksesan, bukan saja untuk proses akademik di sekolah tetapi yang lebih penting pada hidup di masyarakat. Paparan singkat sebagai stimulan bagi para pembaca untuk mahami lebih jauh, telah penulis paparkan dalam bentuk makalah yang telah disajikan dalam Seminar Nasional Pengembangan Potensi Anak Usia Dini di Semarang pada tanggal 2 Oktober 2004. Makalah lengkap dapat dibaca; 

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MENGUBAH TANTANGAN MENJADI PELUANG

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco


Skip to toolbar