RELEVANSI FILOSOFI GUSJIGANG DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN ABAD 21

Relevansi Filosofi Gusjigang dalam Praksis Pendidikan Abad 21

 

Gusjigang adalah local wisdom – local culture yang merupakan ajaran moral dari Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq), memuat tiga esensi kehidupan; yaitu perilaku baik (bagus), pintar ngaji (belajar), dan pandai berdagang. Gusjigang marupakan akronim dari kata bagus, ngaji, dan dagang. Makna filosofi yang terkadung di dalamnya kurng sebagai berikut.

Bagus, perilaku yang bagus yang merupakan cerminan akhlak mulia yang harus dimiliki masyarakat dalam kaitan hubungan horisontal antara sesama manusia dan vertikal kepada Tuhan YME. Ngaji, pinter ngaji artinya belajar membaca dan memahami isi Al Qur’an dan belajar kehidupan.  Dalam konteks ini “ngaji” tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai kegiatan tadarus/membaca Al Qur`an, tetapi dapat dimaknai secara lebih luas, yaitu mengkaji berbagai dinamika kehidupan dalam berbagai perspektif keilmuan.

Dilakukan untuk menemukan jawaban atas suatu permasalahan, dan untuk berkontribusi pada penambahan wawasan dan keilmuan manusia. Dagang, menunjuk pada makna mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup duniawi, dan secara lebih luas sebagai  jiwa enterpreuner yang harus dimiliki setiap warga masyarakat agar secara kreatif dan inovatif mampu mencari celah sumber penghidupan secara materiil untuk menjaga eksistensi kehidupannya.

Uraian tentang relevansi filosofi gusjigang dalam praksis pendidikan abad 21, dapat dibaca pada bahan presentasi.  Relevansi Filosofi GUSJIGANG dalam Praksis Pendidikan Abad 21

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco


Skip to toolbar