Register / Log in

Oleh: Abdul Haris Fitri Anto (abdul.haris@mail.unnes.ac.id)

 

Mukadimmah

Mimbar-mimbar akademik Fakultas Psikologi di seluruh Indonesia didominasi oleh ilmu-ilmu yang ‘diimpor’ dari Barat seperti mazhab (aliran besar) Psikoanalisis, Behavorisme, Humanisme, Transpersonal, Integral, bahkan Neuroscience. Meski bermanfaat, kenyataan itu menimbulkan berbagai pertanyaan pada segenap masyarakat psikologi di Indonesia: Apakah pengetahuan tentang kejiwaan manusia hanya berasal dari Barat? Apakah tidak ada pengetahuan kejiwaan yang berakar dari pengetahuan lokal (indigenous) nusantara? Misalpun ada, seperti apakah epistemologi pengetahuan tersebut? Adakah (sampai dimanakah) upaya-upaya ilmiah-akademis para masyarakat psikologi di Indonesia dalam mengupayakan pengetahuan indigenous tersebut agar sejajar dengan -misalnya- Psikoanalisis Freud, Behaviorisme Watson, maupun Humanisme Maslow? Atau, sebagaimana retorika pesimistik yang sempat terbersit di benak Prof. Darmanto Djatman “mungkinkah upaya untuk mengangkat ilmu jiwa lokal adalah upaya yang sia-sia belaka?”

Prof. Darmanto Djatman dalam bukunya Psikologi Jawa[1] setidaknya menyebut tiga filsuf Jawa yang memiliki concern terhadap kawruh jiwa, mereka adalah R.M.P Sosrokartono[2], Ki Ageng Soerjomentaram[3], dan R. Soenarto Mertowardojo[4]. Menurut pembacaan penulis, buah pemikiran mereka tentang kejiwaan sangatlah mendasar dengan potensi aksiologis yang luas. Namun sampai hari ini, kualitas dan kuantitas penelitian ilmiah untuk menggali dan mengembangkan pemikiran ketiga local genius tersebut masih jauh tertinggal dibanding ilmu psikologi yang ‘diimpor’ dari Barat.

Artikel ini adalah sebuah upaya sederhana di tengah sepinya upaya-upaya melakukan konservasi dan inovasi pemikiran para local genius di bidang pengetahuan kejiwaan. Terutama, artikel ini mengupas secara singkat pemikiran R. Soenarto Mertowardojo yang didisertasikan oleh Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso[5]. Artikel ini tidak bertujuan untuk menyajikan konstruk Candrajiwa Indonesia secara komprehensif, namun tujuan penulisan artikel ini antara lain adalah 1) ikut mengembangkan wawasan tentang ilmu psikologi yang berasal dari khasanah kebudayaan Indonesia, 2) turut memotivasi para sidang pembaca untuk ikut nguri-uri “buah” dari cipta-rasa-karsa pada filsuf di Indonesia, dan 3) menumbuhkan pemahaman “Candrajiwa Indonesia” para sidang pembaca terutama pada a) sejarah Candrajiwa, b) struktur Candrajiwa, c) Perkembangan Candrajiwa, dan d) dinamika Candrajiwa dan e) Candrajiwa dan puasa.


Sejarah Candrajiwa

Konstruksi Candrajiwa berbeda dengan psikoanalisis yang lahir dari praktik terapi yang dilakukan Freud selama lebih dari dua puluh tahun, atau psikologi behavioristik yang didasarkan pada eksperimen-eksperimen ada hewan, maupun psikologi humanistik yang merupakan ekstraksi dari filsafat eksistensial a la barat. Teori Candrajiwa dikonstruk dari ajaran-ajaran R.Soenarto yang bersifat intuitif. Berikut kutipan dari Hardjoprakoso[6] yang menggambarkan sejarah ilmu yang menjadi fokus disertasinya:

“Peristiwa tersebut dimulai tangga 14 Februari 1932 ketika R. Soenarto tiba-tiba mendengar suara dari dalam dirinya sendiri yang dalam, yang memberi jawaban terhadap apa yang dicari. Jawaban atas pertanyaan “apakah Yang Nyata itu?” Dan “apa yang dinamakan Ilmu Sejati itu?” Suara itu tidak didengarnya lewat indera pendengaran, dan dalam kesadaran yang telah berubah itu diilhamkan apakah Jalan yang sampai kepada Yang Nyata itu. R.Soenarto bertanya dalam hati siapakah gerangan yang bersabda itu, dan segeram menerima ilham lain…”

Soenarto, tidak sendirian mengembangkan ilmu yang diilhamkan padanya. Dalam ilhamnya, R. Soenarto diberi petunjuk bahwa ia akan dibantu oleh R.T. Hardjoprakoso dan R. Sumodihardjo. Mereka bertiga “dipertemukan” secara “tidak sengaja”. Ternyata dua orang tersebut jua memiliki kegelisahan yang sama dengn R.Soenarto.

 

Struktur Candrajiwa

struktur Candrajiwa Indonesia

Struktur Candrajiwa R. Soenarto, terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi immateriil (badan ruhani), dimensi psike (badan halus), dan dimensi materiil (badan kasar).

Dimensi immateriil adalah dimensi terdalam dan merupakan pusat dari struktur kepribadian Candrajiwa. Ia adalah alam sejati. Dimensi ini merupakan tempat asal sekaligus tujuan bagi perkembangan kepribadian seseorang. Dalam alam sejati (dimensi immateriil) terdapat tiga segi yang bersifat tunggal (tri tunggal/ tri purusa) yaitu: Suksma kawekas, Suksma sejati, dan Roh suci. Ketiganya merupakan pusat immaterial dalam tiap manusia yang disebut Tri Purusa. Segi pertama yaitu suksma kawekas (hidup yang diam dan statis). Dari situ terjadilah segi dua: Suksma Sejati, yaitu hidup yang bergerak dan dinamis, yang dapat merealisasikan omnipotensi Suksma Kawekas. Segi ketiga yaitu Roh Suci sebagai percikan/bunga api dari Suksma Sejati. Roh Suci ini adalah jiwa manusia. Suksma sejati digambarkan sebagai utusan abadi Suksma Kawekas atau sebagai sang putera terhadap ayahnya. Terhadap Roh Suci, Suksma Kawekas merupakan guru sejati.

Dimensi immateriil tentu bersifat immateriil, selain itu kesadaran dimensi immateriil bersifat kolektif, dan juga ditandai oleh tiadanya keinginan. Jika dilihat dari perkembangan fisik, dimensi immateriil -idealnya- mendominasi kesadaran seseorang ketika ia telah memasuki usia dewasa.

Dimensi Biologis, adalah dimensi terluar dalam struktur Candrajiwa. Dimensi biologis terdiri dari badan materiil dengan segala sistem di dalamnya. Dalam dimensi ini terdapat proses-proses asadar kolektif seperti insting-insting yang berfungsi otonom. Dimensi ini juga ditandai dengan sifat yang “penuh keinginan”.

Dimensi terakhir adalah dimensi psike atau badan halus. Dimensi ini terletak di antara dimensi materiil dan immateriil. Dalam dimensi ini terdapat pengaruh dari dimensi materiil dan immateriil. Pengaruh dari dimensi materiil adalah adanya nafsu. Hardjoprakoso[7] mencatat setidaknya ada empat macam nafsu: amarah kemauan, keinginan, sentripetal (nimum, makan, tidur, syahwat, loba, tamak, iri, aniaya, fitnah, dll) dan sentrifugal (sosial, suprasosial). Nafsu-nafsu tersebut adalah manifestasi dunia material dalam dimensi psike. Pengaruh dimensi immateriil adalah mewujudnya tri purusa dalam logos/intelektualitas (cipta-rasa-karsa) dan kedaulatan. Kemampuan seseorang untuk berfikir (cipta), menilai (rasa), dan berusaha (karsa) berasal dari tri purusa. Disamping itu, refleksi lain dari tri purusa dalam dimensi psike adalah ‘kedaulatan’. Kedaulatan inilah yang berfungsi untuk mengendalikan nafsu-nafsu pengaruh dari dimensi materiil.

Fungsi ‘kedaulatan’ atas diri agar dapat mengandalikan nafsu-nafsu pada gilirannya melahirkan kesadaran individual tentang adanya “aku”. “Aku” memiliki corak kesadaran yang personal, maka ia cenderung egois karena orientasi kesarannya adalah “aku-oriented” (terhadap dirinya sendiri). Konsep “aku” disini mirip dengan konsep “ego” Freudian maupun Jungian, namun ia berasal dari konstruk yang berbeda. “Aku” dalaam Candrajiwa adalah wasiat dari tri purusa. Ia berada di badan halus dan dikepung oleh pengaruh-pengaruh saling kontradiktif dari dua arah (dimensi materiil versus dimensi immateriil). Kontradiksi-kontradiksi tersebut antara lain: materiil vs immateriil, asadar kolektif vs sadar kolektif, dan penuh keinginan vs tanpa keinginan. “Aku” berfungsi untuk mengelola kontradiksi-kontradiksi tersebut.

 

Perkembangan Candrajiwa

Tujuan perkembangan Candrajiwa adalah eksistensi immateriil. Sebagaimana penulis jelaskan di awal, dimensi immateriil adalah asal sekaligus tujuan perkembangan kepribadian. Dimensi immateriil terpendam dalam badan badan jasmani.

Ketika seorang bayi lahir, ia secara otomatis dikuasai oleh dimensi material yang identik dengan asadar kolektif. Pada masa kanak-kanak belum ada kesadaran akan dimensi immateriil. Fase perkembangan ini juga didominasi oleh dimensi biologis yang lebih mengutamakan pemenuhan keinginan. Pada fase ini, anak mulai menyadari adanya “aku” sebagai suatu eksistensi yang berbeda dan terlepas dari segala sesuatu yang bukan “aku”. Namun, “aku” ketika fase perkembangan masih dalam tahap masa kanak-kanak, ia sangat dipengaruhi oleh dimensi material.

Fase berikutnya adalah fase masa muda. Pada fase ini, pengaruh cipta-rasa-karsa mulai menguat di dimensi psike. Fungsi pikiran, perasaan, dan tekad ikut mempengaruhi corak kesadaran “aku”. Pengaruh dari tri purusa saling berhadapan dan kontradiksi terhadap pengaruh nafsu-nafu dari dimensi material. Jika dorongan/pengaruh yang berseberangan tersebut sama-sama kuat, maka “aku” merasakan tarikan-tarikan kontradiktif dalam dirinya.

Fase tertinggi adalah eksistensi immateriil. Jika pada masa muda, “aku” dapat mengelola kontradiksi materiil vs immateriil dan memenangkan kedaulatan cipta-rasa-karsa di atas nafsu-nafsu biologis, maka ia akan berkembang ke fase perkembangan tertinggi: eksistensi immateriil. Eksistensi tersebut adalah eksistensi dimana individu berada dalam kesadaran kolektif dan telah terbebas dari keinginan-keinginan. Pada fase terakhir ini, nafsu-nafsu bukanlah hilang namun mereka disalurkan/dijinakkan dengan baik sehingga keberadaan nafsu menjadi dasar vitalitas untuk menjalankan hidup. Nafsu-nafsu sentrifugal (sosial dan suprasosial) lebih unggul daripada nafsu sentripetal. Pada fase ini pula, karakter kesadaran individu bersifat sadar kolektif. Artinya, kesadarannya bukanlah sekedar kesadaran individual yang egoistik, namun sebentuk kesadaran yang telah menyatukan segala sesuatu disekitarnya sebagai bagian dari dirinya.

Proses penting dalam perkembangan kepribadian adalah “pamudaran”. Proses pamudaran terjadi manakala perkembangan telah mencapai fase dewasa (dimensi immateriil). Pamudaran, dalam bahasa indonesia bisa diartikan sebagai pemudaran (pudar). Sehingga pamudaran dapat diartikan sebagai proses memudarnya pengaruh dan dominasi dimensi biologis di alam psike dan meningkatnya pengaruh tri purusa terhadap kesadaran aku. Maka, dalam peristiwa pemudaran terjadi transformasi menuju sifat-sifat tri purusa. Transformasi itu antara lain adalah dari ‘asadar kolektif’ menjadi ‘sadar kolektif’, dari ‘penuh keinginan’ menjadi ‘sepi keinginan’, dari ‘orientasi materiil’ menjadi ‘orientasi immateriil’. Dalam khasanah psikologi Barat, hanya terhadapat satu teori yang mirip dengan pamudaran yaitu teori “individuasi”[8] oleh Jung.

Individu dewasa yang sehat adalah individu yang telah tuntas mengalami proses pamudaran. Ia tidak lagi dikepung oleh keinginan-keinginannya sendiri, tidak berorientasi pada dirinya sendiri, memiliki keluasan sadar kolektif seiring dengan nafsu sosial serta nafsu suprasosial. Orientasi materi dan diri sendiri bukanlah yang utama karena kesadaran “aku” telah melebur dengan keseluruhan. Hardjoprakoso[9] mencontohkan, bilamana seseorang telah dekat dengan kesadaran kolektif, maka ia mendapatkan “bocoran” dari realitas keseluruhan tersebut lewat intuisi/ilham. Semakin dekat dengan kesadaran kolektif, intuisi semakin tajam /ilham semakin sering diterima.

 

Dinamika Candrajiwa, Psikoterapi, dan Puasa

Tidak semua manusia dapat mencapai dimensi immateriil. Sebagian manusia sampai tua stuck pada muda dengan berbagai kontradiksinya. Tidak sedikit pula walaupun secara fisik telah tua, namun dimensi psike-nya masih didominasi oleh sifat-sifat dimensi materiil.

Hardjoprakoso[10] menulis:

“ Pergeseran dari tekanan ke arah nafsu sentrifugal ini dicapai dengan melakukan cara hidup yang sederhana dan melakukan budidarma, suka menolong, dan cinta kepada sesama. Kalau perlu hidup sederhana itu dapat dilakukan dengan semacam tapabrata. Perubahan di dalam jiwa ini adalah mekanisme sublimasi.”

Berdasar nukilan tersebut, struktur kejiwaan dan proses perkembangan Candrajiwa yang telah wungkul dapat dilihat aplikasinya pada laku hidup sederhana. Hidup dengan penuh kesederhanaan menandakan orientasinya yang bukan immateriil. Konsep hidup sederhana juga harus dimaknai bahwa seseorang tidak dipusingkan dengan kerumitan egoistik karena kesadaran ego menjadi sederhana. Kesederhanaan itu memungkinkannya memuai pada segala sesuatu di luar diri sehingga ia merasa menjadi bagian dari segala sesuatu dan sesuatu tersebut menjadi bagian dari dirinya.

Pemahaman di atas menjadi dasar terapi. Menurut Hardjoprakoso[11], psikoterapi Candrajiwa pada pokoknya adalah bertujuan untuk menimbulkan kesediaan pasien untuk mengarahkan orientasi hidupnya kepada pusat immaterial di dalam dirinya. Berdasarkan pokok tersebut, maka dapat dipahami bahwa berbagai gejala ketidaksehatan mental harus dibongkar akarnya dari: 1) Apa yang menjadi orientasi hidup orang tersebut, 2) apakah terjadi kontradiksi-kontradiksi psikologis yang pelik dan tidak terselesaikan dalam dirinya, 3) bagaimana perkembangan kepribadiannya.

 

Candrajiwa dan Puasa

Laku candrajiwa secara substansial selaras dengan praktik puasa dalam Islam. Dapat kita ringkas bahwa laku utama seseorang berdasarkan Candrajiwa adalah ia berpusat pada dimensi immateriil (suksma kawekas), menjunjung tinggi eksistensi immateriil, mengembangkan kesadaran kolektif, menempatkan nafsu sosial dan suprasosial sebagai proiritas, dan di dalam dirinya sepi dari segala macam keinginan. Misal kita lakukan perbandingan vis a vis, maka puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu. Hal itu selaras dengan laku Candrajiwa berupa hidup sederhana yang sepi dari keinginan-keinginan duniawi dan berorientasi pada dimensi immateriil.

 

____________________________

[1] Darmanto Djatman. (2002). Psikologi Jawa; Eksplisitisasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Soerdjomentaram. Limpad: Semarang

[2] Raden Mas Pandji Sosrokartono, Kakak kandung Raden Ajeng Kartini.

[3] Ki Ageng Soerjomentaram adalah Pangeran Kraton Yogya, Purta dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

[4] Raden Soenarto Mertowardojo. Filsuf Jawa penulis buku “serat Sasangka Djati”, dan pendiri Paguyupan Ngesti Tunggal (Pangestu).

[5] Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso. (1956). Indonesisch Mensbeeld als basis enjer psycho therapie. Doctoral Dissertation. Unpublished. Universiteit Leiden

[6] ibid

[7] ibid

[8] Individuation processes: proses transformasi menggeser kesadaran, dari kesadaran yang berorientasi pada ego, menuju kesadaran yang berorientasi pada self dalam ketaksadaran kolektif. Individu yang sehat adalah individu yang mampu menyadari isi ketaksadaran kolektifnya, sedangkan individu yang stuck pada ego, akan mudah mengalami gangguan mental.

[9] ibid

[10] ibid

[11] ibid

Definisi: Social Experiment Project adalah kegiatan mereplikasi atau memodifikasi eksperimen-eksperimen dalam jurnal/buku/publikasi psikologi sosial. (more…)

TRAINING FOR TRAINER JURUSAN PSIKOLOGI UNNES

1. LATAR BELAKANG

Hasil Training Need Analysis

2 TUJUAN PELATIHAN

  1. Tujuan Umum
  2. Tujuan Khusus
    • Tujuan Kognitif
    • Tujuan Afektif
    • Tujuan Behavioral

“Tujuan khusus” training dikategorikan berdasarkan domain-domain yang relevan dengan tujuan umum training. Tidak harus berdasarkan domain kognitif, Afektif, behavior. Anda dapat menentukan domain-domain domain anda sendiri

3. PESERTA PtELATIHAN

  • Gambaran Umum Peserta Pelatihan
  • Identitas Peserta Pelatihan
  • Jumlah Peserta Pelatihan
  • Dst…

4. HIGHLIGHT PELATIHAN

Berisi gambaran/deskripsi pelatihan secara general/umum dari awal hingga akhir pelatihan

5. RANCANGAN OPERASIONAL PELATIHAN

Operasional atau teknis pelatihan dijabarkan per sesi.

  1. Nama /judul sesi pelatihan
  2. Tujuan sesi pelatihan
  3. Metode sesi pelatihan
  4. Waktu dan tempat
  5. Jumlah Peserta
  6. Durasi
  7. Trainer, co-trainer, fasilitator
  8. Perlengkapan
  9. .

NB:

  • Setiap hal yang dilakukan dalam training wajib dijelaskan hingga teknis pelaksanaannya.
  • Struktur desain training ini bersifat tentatif (tidak kaku harus seperti di atas) namun sangat terbuka terhadap berbagai pengembangan, improvisasi, dan kreativitas anda dalam mengembangkan desain.
  • Buatlah penampakan/kemasan produk desain training anda semenarik mungkin, sebagaimana anda ingin meyakinkan klien bahwa training tersebut adalah yang terbaik.
  • Desain pelatihan dikumpulkan pada kamis, 7 Mei 2017 di meja saya.
  • Pengumuman kandidat desain – desain terpilih dilakukan hari Senin, 7 Mei 2017.

 

 

 

Dosen Pengampu PPDSM 2017

Abdul Haris F.A dan Abdul Azis

 

 

.

Dear student, berikut sistematik makalah psikologi sosial 2017

27
December

MUKADIMAH

Selamat pagi, sidang pembaca!

Artikel ini adalah artikel untuk mengantikan pertemuan tatap muka kelas ‘Sejarah Aliran Psikologi’ untuk rombel 1 angkatan 2016 di jurusan Psikologi FIP UNNES. Karena pengampu masih honeymoon (ciee…hanimun), maka lesson class dipindah ke laman maya ini.

Nah, artikel ini mengupas tentang mazhab ke-4 dalam psikologi, yaitu psikologi transpersonal. Tulisan ini disampaikan dengan bahasa formal dan informal secara bergantian agar terasa lebih mengalir bagi anda, sidang pembaca. Anda mungkin membutuhkan waktu 10-60 menit untuk membaca artikel di bawah ini, tapi mungkin anda membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk memahaminya. Jadi yaa feel free untuk membaca berulang-ulang, feel free untuk browsing artikel-artikel psikologi transpersonal sebagai komparasi dan deep probing (penyelidikan mendalam), Juga, feel free saja untuk mengajukan pertanyaan di kolom komentar. Oiya, artikel ini menggunakan footnote untuk menjelaskan istilah-istilah yang sekiranya asing.

Baiklah, sebelum kita mulai belajar, alangkah baiknya jika kita awali dengan berdoa. Berdoa menurut agama/kepercayaan masing-masing dipersilahkan! (hening krik krik… )

Ok, Let’s get the ball rollin’

 

PENGERTIAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

As usual, kita mulai pembahasan dengan menentukan definisinya (dlm bahasa inggris, definisi atau to define, berarti ‘membatasi/pembatasan’. Namun dalam bahasa Indonesia, diartiken sebagai ‘pengertian’).

Etimologically, transpersonal berasal dari dua kata: trans (melampaui) dan personal (pribadi). Personal dalam bahasa inggris adalah personality (kepribadian). Sehingga, transpersonal dapat diartikan sebagai cabang psikologi yang mempelajari potensi-potensi di atas (melampaui) tingkat personal/personality. Apa itu potensi-potensi yang melampaui tingkat personal? (sebenarnya kita sudah membahas ini lhoo di teorinya C.G. Jung dan Viktor Frankl.. ingat? Oke, kita perdalam di bawah ya).

Pengertian dari beberapa ahli. Daniel (2005), mengatakan, psikologi transpersonal adalah cabang psikologi yang fokus pada studi terhadap keadaan dan proses pengalaman manusia yang lebih luas, atau suatu sensasi yang lebih besar dari koneksitas terhadap orang lain dan alam semesta, atau merupakan dimensi spiritual. Menurut Friedman dan Pappas (2006) kajian psikologi transpersonal mencakup potensi tertinggi umat manusia dengan mengenali, memahami, serta realisasi dari penyatuan spiritual, dan melampaui keadaan kesadaran (state of consciousness). Lajoie & Shapiro (dalam Jaenudin, 2012) mendefinisikan transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari umat manusia melalui pengenalan, pemahaman, dan realisasi terhadap keEsaan, spiritualitas, dan kesadaran transendental[1]. Jadi, pengertian/defisini psikologi transpersonal adalah mazhab ke-4 psikologi yang berfokus menjembatani psikologi dan spiritualitas dengan memusatkan perhatiannya pada studi tentang bagian dan proses pengalaman mendalam, perasaan yang luas tentang siapa dirinya, sensasi yang besar terhadap konekstas dengan orang lain, alam, atau dimensi spiritual, berusaha membantu seseorang untuk mengeksplorasi tingkat energi psikisnya, serta studi potensi manusia yang melampaui dimensi kepribadian (personal).

Psikologi transpersonal berdiri pada perjumpaan antara psikologi modern dengan spiritualisme. Selain itu, psikologi transpersonal dapat dikatakan sebagai mazhab ke-4 dalam jelaga aliran psikologi setelah psikoanalisa, behaviorisme, dan humanistik. Sebenarnya ada mahab ke-5 yaitu psikologi integral yang digagas Ken Wilber. Namun hal itu masih penuh perdebatan, jadi kita lewati saja.

Psikologi transpersonal, dibangun dari perspektif psikologis yang berbeda. Jika pada era 1990an psikologi banyak didefinisikan sebagai “ilmu tentang perilaku manusia”[2], maka tahun 2000an berkembang menjadi “ilmu tentang perilaku dan pikiran manusia”. Kini, beberapa buku psikologi umum (introduction to psychology) telah mencantumkan ilmu tentang “kesadaran” (consciousness) dalam definisi psikologi. Hal itu selaras dengan tema-tema transpersonal banyak berada dalam wilayah kesadaran mendalam (transendental). Maslow, yang menginisiasi mazhab ke-3, berpendapat bahwa perspektif humanisme adalah fase transisi dari pengetahuan psikologi yang berorientasi pada human menuju pengetahuan yang lebih trans-human (kemudian disebut transpersonal).

Keunikan lain dari transpersonal adalah, mazhab ini menaruh penghargaan besar pada agama-agama dan kepercayaan seperti dalam islam, kristen, katolik, hindu, budha, Tao, Kejawen, dan semacamnya sebagai sumber kesehatan mental manusia. Atau dengan kata lain, transpersonal tidak mengkhususkan bahasannya pada agama-agama tertentu saja, tapi juga pada berbagai aliran keyakinan. Namun demikian, telaah berbagai jurnal psikologi transpersonal seringkali berkaitan dengan penganut agama-agama.

 

SEJARAH PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Kemunculan psikologi transpersonal bukanlah sesuatu yang ujug-ujug. Ia melalui sejarah yang cukup panjang. Dilihat dari zeitgeist-nya[3] psikologi transpersonal muncul untuk ikut membantu memecahkan krisis yang dialami oleh manusia-manusia modern[4]. Di zaman modern, manusia hidup bergelimang materi. Kebutuhkan material menjadi yang utama: Keluarga, pendidikan, pekerjaan, karir, hubungan sosial, semuanya dilakukan untuk mendapatkan dan meningkatkan perolehan materi.

Coba bayangkan: Anda memiliki pasangan yang tampan/cantik, berpendidikan tinggi, karir cemerlang, dikaruniai anak-anak yang imut, memiliki rumah megah komplit dengan garasi berisi mobil SUV yang sangat nyaman. Sempurna sekali kan, hidup anda?

Namun dibalik gelimang perolehan materi semacam itu, orang modern mengalami krisis spiritual yang akut. Hal itu disebabkan oleh kecenderungan manusia modern yang semakin material-oriented dan (disadari atau tidak, diakui atau tidak) membiarkan dimensi spiritual dalam dirinya kosong, kering, dan hampa. Kekosongan ini lah yang menyebabkan krisis spiritual orang-orang modern. Mereka merasa dahaga spiritual ditengah limpahan material

Krisis spiritual semacam semacam itu, alih-alih disembuhkan, para behaviorist cenderung menghindari problem itu, para psikoanalis freudian menganggap fenomena itu menjurus patologis[5], dan para humanis cenderung bias dalam menyikapi krisis spiritual itu. Maka diperlukan suatu perspektif baru dalam psikologi dalam menggambarkan, memahami, dan mencari solusi dari problem tersebut. Di sini lah peran psikologi

Beberapa tokoh disebut-sebut sebagai perintis aliran ini. Pertama, William James (ingat.. materi psikologi fungsional) dianggap sebagai pemikir transpersonal karena dalam karyanya “The Varieties of Religious Experience” Ia berkesimpulan bahwa akar dari seluruh agama di dunia adalah adanya pengalaman mistis. Pengalaman tersebut mengandung impuls yang natural dan sehat (Daniels, 2005). James juga memperkenalkan konsep spiritual-self yang setara dengan material-self dan sosial-self. Serta eksistensi higher-self (atau transpersonal-self) yang lebih tinggi dari tiga self lainnya.

Tokoh lain adalah Carl Justav Jung. Berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa ketaksadaran manusia bersifat irasional, penuh dengan dorongan yang tidak terpenuhi, dan gunungan sampah psikis, menurut Jung ketaksadaran kolektif manusia adalah sumber spiritualitas yang menyehatkan. Perlu digarisbawahi bahwa archetypal experience (pengalaman arketipal) entah melalui mimpi, ritual ibadah, pengalaman mistik, upacara adat, dsb adalah dasar pengalaman transpersonal seseorang. Daam perspektif Jung, Keterputusan seseorang dari ketidaksadaran kolektif justru menjadi salah satu penyebab munculnya krisis spiritual.

Tokoh berikutnya adalah Viktor Frankl (masih ingat kan, logoterapi Frankl?). Menurut Frankl, manusia selalu mencari makna terdalam (ultimate meaning) dari berbagai hal yang ia alami. Kegagalam dalam memaknai suatu peristiwa, dapat mengarahkan seseorang mengalami meaningless dan anomi. Tokoh lain yang juga daapat dikategorikan sebagai tokoh transpersonal adalah Abraham Maslow. Walaupun dikenal sebagai inisiator mazhab ke-3 dan penemu teori aktualisasi diri, Maslow melihat psikologi humanis adalah mazhab transisi untuk menjadi psikologi transpersonal. Begitupula, aktualisasi diri bukanlah pencapaian tertinggi dari kebutuhan manusia. Menurut Maslow, terdapat rupa kebutuhan yang lebih tinggi dari aktualisasi diri: transendensi diri. Dalam aktualisasi-diri, kesadaran seseorang masih berfokus pada ego-nya, namun transendensi-diri adalah proses perkembangan diri yang telah melampaui kesadaran ego (egoless state of consciousness[6]). Level kesadaran tersebut bersifat transendental: Ia membantu seseorang terbebas dari ego-nya dan menyelaraskan diri dengan alam dan Sang Pencita.

Nah.. sementara ini, mereka dulu ya yang kita tulis. Sebenarnya masih banyak lagi dedengkot psikologi transpersonal, anda dapat mengeksplorasinya sendiri..

 

TEMA-TEMA PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Apa sih yang menjadi topik/ kajian psikologi transpersonal? Banyak sekali. Tema-tema transpersonal sangat khas. Umumnya menyangkut berbagai fenomena yang oleh aliran-aliran sebelumnya dianggap irasional, magis, bahkan psikopatologis[7]. tema-tema transpersonal, Beberapa adalah seperti di bawah ini:

 

KEBANGKITAN SPIRITUAL

Seperti tertera di atas, ada banyak sekali topik psikologi transpersonal. Salah satu topik psikologi transpersonal yang paling populer didiskusikan dan diteliti adalah spiritual emergence (kebangkitan spiritual). Tapi, disini perlu kita luruskan terlebih dulu bahwa ‘spiritualitas’ yang dibahas dalam psikologi transpersonal bukanlah istilah yang berkaitan dengan praktik perdukunan, santet, jin atau makhuk halus. Namun menurut Jaenudin (2012) spiritualitas lebih diartikan sebagai rupa-rupa keterhubungan manusia dengan sesama makhluk, dengan alam, maupun dengan Tuhan (pengalaman keberTuhanan[8]).

Jika di-compare dengan mazhab sebelumnya: psikoanalisis Freudian lebih memperhatikan manusia pada dimensi ketidaksadaran dan irasionalitasnya. Para Behaviorist berfokus pada dimensi perilaku manusia. Para humanist (mazhab ke-3) sibuk dengan studi potensi-potensi personal seseorang. Dalam psikologi transpersonal, manusia dilihat sebagai makhluk spiritual (spiritual being) sehingga dimensi spiritualitas banyak memperoleh perhatian.

Fenomena Spiritual biasanya terjadi pada orang-orang usia dewasa/paruh baya. Terdapat berbagai istilah untuk spiritual emergence, antara lain spiritual crises, positive disintegration, mystical, nadir experience, dsb.

Dari penelusuran berbagai literatur, penulis menemukan berbagai rupa pengalaman spiritual.

  1. Rudolf Otto, mengajukan konsep numinous experience atau pengalaman keberTuhanan. Pengalaman ini adalah pengalaman dimana seseorang speechless, tidak dapat berkata-kata karena merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat dengannya.
  2. Jung, memiliki konsep synchronicity atau meaningful coincidence. Yaitu ketika seseorang yang mengalami kebetulan-yang-bukan-kebetulan belaka, atau kebetulan yang penuh makna. Hal-hal yang sering kita bilang “kebetulan” kadang tidak sesederhana istilahnya, ada semacam mekanisme makrokosmos sehingga momentum “kebetulan” tersebut terjadi.
  3. Pengalaman spiritual lain adalah near death experience (NDE). Anda tentu pernah mendengar seseorang yang telah dinyatakan meninggal, tiba-tiba ia bernafas dan hidup kembali. Sekembalinya orang tersebut dari kematian, ia dapat menceritakan derngan jelas berbagai hal yang ia lihat di alam baka (alferlife). Hal itu kemudian mempengaruhi kepribadiannya, cara pandangnya terhadap dunia, dan perilaku-perilakunya. (ada contoh film menarik tentang fenomena Near death experience: judulnya Heaven is for real).
  4. Grof dan Grof melihat berbagai peristiwa paranormal sebagai fenomena spiritual seperti out of body experince, dan kewaskitaan[9].
  5. Dalam berbagai kebudayaan, fenomena kesurupan bukanlah simtom histeria sebagaimana dijelaskan Freud, bukan dissosiative disorder seperti dalam DSM-IV[10], bukan pula kemasukan roh jahat seperi gugontuhon[11] masyarakat tradisional pada umumnya. Fenomena kesurupan dapat pula berupa altered state of consciousness[12] dimana kesadaran seseorang dikuasai oleh elemen-elemen ketidaksadaran kolektif (archetype).
  6. Apakah anda punya contoh lain tentang kebangkitan spiritual? Silahkan tulis di kolom komentar…

 

 

[1] Transendental adalah hal-hal yang melampaui kemampuan akal manusia

[2] Definisi ini banyak dipengaruhi oleh mazhab behaviorisme

[3] Momentum zaman/ semangat zaman

[4] Sejak kapan zaman modern dimulai? Ingat Renee Descartes!

[5] Bersifat penyakit mental

[6] Istilah egoless state of consciousness sebenarnya dicetuskan Jung, namun dalam hal ini saya gunakan untuk menjelaskan transendensi-diri dari Maslow

[7] psikopatologis: berhubungan dengan penyakit psikis

[8] Pengalaman keberTuhanan, dipinjam dari istilahnya Rudolf Otto: Numinous experience. Yaitu semacam pengalaman mistis dimana seseorang merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat dengannya.

[9] Mampu mengetahui peristiwa sebelum itu terjadi

[10] DSM-IV: Diagnostics and Statistic Manual of Mental Disorder: kitab yang berisi kategori-kategori gangguan mental

[11] Gugontuhon: Tahu kalau pengetahuan/keyakinan itu salah namun masih tetap dipercaya.

[12] Perubahan kesadaran: Dalam psikologi transpersonal, terdapat altered state of consciousness (ASC) dimana kesadaran seseorang dapat berubah pada level transpersonal

09
December

Short Movie Project

Written by haris. No comments Posted in: Student Assignment

Definisi:Short movie project adalah tugas bagi mata kuliah ‘sejarah aliran Psikologi’ rombel 1 psikologi Unnes yang dikerjakan secara berkelompok.

Tujuan: Setiap kelompok memproduksi sebuah film pendek tentang sejarah aliran psikologi denga durasi 10-15 menit.

Manfaat: Mempraktikkan active learning dengan menggunakan seluruh panca indera untuk belajar, terutama indera visual dan auditory.

Materi yang menjadi movie project:

  1. The History of Psychology: Dari zaman yunani kuno hingga zaman modern.
  2. The Rise of Psychology: Kelahiran psikologi sebagai modern science, strukturalisme, dan fungsionalisme.
  3. The 1st Wave: Psychoanalysis Freud & Psikologi analitik Jung.
  4. The 2nd Wave: Behaviorisme Pavlov, Skinner, Thorndike, dan Bandura.
  5. Gestalt Psychology: sejarah gestalt, pandangan gestalt, & teori lapangan Lewin.
  6. The 3rd Wave: Existentialism, Phenomenology, & Humanism.
  7. Cognitive Psychology: Sejarah, tokoh, & teori psikologi kognitif.

Petunjuk teknis movie project:

  1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 6 orang. Pembagian kelompok dapat dilihat di sini.
  2. Project ini dimulai sejak diumumkan (9/12/16) dan dikumpulkan maksimal 30/12/16 dalam bentuk DVD.

Penilaian: Nilai project ini akan digunakan untuk mendukung hasil Ujian akhir semester (UAS). Setiap film akan dinilai melalui dua cara penilaian.

  1. Private evaluation: Dosen akan memberikan nilai (dari nilai E hingga A) dengan memperhatikan a) kelengkapan materi, b) Kejelasan penyampaian, c) Kreativitas cinematografinya.
  2. Public evaluation: Adalah penilaian yang diberikan oleh khalayak umum. Caranya, Semua video akan saya unggah ke channel youtube “Psikologi Unnes”. Penilaiannya, semakin banyak “like” dan komentar positif tentang video tersebut, maka akan semakin tinggi nilai video tersebut. Video dengan total like dan komen positif terbanyak, akan menjadi video terbaik. Setiap anggota kelompok dipersilahkan mempromosikan videonya sebanyak mungkin sampai tanggal 10 Januari 2017.

 

Dear students,

Perkuliahan Sejarah Aliran psikologi hari ini (2/12/2016) dilakukan dengan metode student centered learning. Yang menjadi fokus kita hari ini adalah Psikologi kognitif dan sejarahnya. Untuk melaksanakannya, beberapa langkah berikut wajib anda lakukan:

  1. Kita bentuk kelompok2 kecil terdiri dari 4 orang (rombel 1 terdiri dr 43 mahasiswa, jadi akan ada 10 kelompok berangggotakan 4 orang, dan 1 kelompok anggotanya 3 orang). Namai setiap kelompok dari kelompok 1 sampai kelompok 11. Mahasiswa yang absent sila dimasukkan pada kelompok-kelompok yang ada dan ditulis keterangan in absentia.
  2. Setiap kelompok menggunakan seluruh sumber daya yang dapat diakses (buku/e-book, jurnal/e-journal, prosiding/e-proceeding,dll) untuk sekomprehensif mungkin membuat ulasan/review point-point di bawah ini:
    1. Nomor kelompok dan anggota kelompok (nama lengkap dan NIM)
    2. Pengertian psikologi kognitif
    3. sejarah lahirnya psikologi kognitif
    4. Penelitian-penelitian awal psikologi kognitif
    5. Tokoh dalam psikologi kognitif dan teori apa saja yang ia kemukakan
    6. Tren dalam penelitian-penelitian psikologi kognitif dewasa ini
  3. Jangan lupa cantumkan “daftar pustaka” atau “sumber referensi” di akhir ulasan.
  4. Ulasan dikerjakan dalam Ms.office dengan font Arial 11, margin standar, spasi 1,5,
  5. Agar weekend kita tidak blown dengan tugas, maka ulasan mengenai psikologi kognitif dikumpulkan hari jumat 2/12/16 melalui email haris.assignment@gmail.com maksimal jam 24.00 wib. Untuk memudahkan identifikasi email masuk, judul email dapat dibuat sebagai berikut: ulasan_SAP_Klp.1 (contoh judul email untuk kelompok 1).
  6. Pertanyaan lebih lanjut sila menghubungi saya via Whatsapp.

Selamat bekerja kelompok, do the best, and happy almost weekend,

:thanks2 :salaman :shakehand2

regards.

Haris

Universitas Negeri Semarang/ Semarang State University

Dear student,

I herewith attach The Third Wave: Existentialism, Phenomenology, Humanism power point presentation, so you are able to review our last lesson. Happy weekend & enjoy your time..

 

:cendol

 

Regards,

Haris

 

Universitas Negeri Semarang / Semarang State University

10
November

Dear beloved student,

Hereby you might get your stuff for Observation Report Format.

Be sure you conduct your observation immensely and write your report perfectly.

your report reflects your achievement motivation, so.. do the best!

:2thumbup

Regards,

Abdul Haris Fitrianto

Psychology Department of Universitas Negeri Semarang / Semarang State University

20
October

Begawan Ran

Written by haris. No comments Posted in: Inspiring article

Mi pangsit Mas Ran atau mi pangsit KUA. Begitu masyarakat Cepu dan sekitarnya menyebut sebuah warung di depan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cepu. Sejak saya di sekolah dasar sampai sekarang, warung mi pangsit Mas Ran ya begitu-begitu saja: tak bertambah lebar, tak bertambah bagus, tak memiliki bangunan permanen, dan tak membuka cabang. Kini yang agak berbeda adalah spanduknya. Dulu, berupa kain kuning bergambar sablon mirip si Unyil melet sambil pamer jempol. Kini, terpasang MMT bagus dari Mi Sedap.
Dasaran warung mulai digarap setiap sore. Jika air selokan meluap, warung Mas Ran pun tergenang. Anda dapat menikmati semangkuk mi pangsit berkuah panas mengepul kala gerimis di dalam warung yang kebanjiran. Pengalaman romantis bukan?
Displai warung yang sederhana itu tak mencerminkan cita rasa mi pangsit yang istimewa. Butuh catatan tersendiri untuk menceritakan betapa nikmat mi pangsit olahan Mas Ran. Dan, selama 15 tahun meracik mi, Mas Ran telah memiliki pelanggan setia. Singkat kata, mi pangsit depan KUA sangat lezat, sehingga tetap ramai konsumen hingga hari ini.

Tak Buka Cabang
Tulisan ini bukan reportase wisata kuliner, melainkan fokus pada beberapa pandangan dan sikap Mas Ran dalam berusaha. Dasar tulisan ini adalah wawancara insidental singkat beberapa waktu lalu.
Menggelitik bagi saya: manakala para usahawan berupaya mengembangkan bisnis seluas mungkin, baik dalam diversifikasi dan inovasi produk, marketing creative, branding management, service excellence, maupun pembukaan cabang di sana-sini, Mas Ran justru tampak mandek. Berkesan puas atas apa yang dia jalani selama ini. Bagi saya, itu ganjil. Padahal, dia memiliki modal fundamental untuk mengembangkan usaha. Pertama, resep mi pangsit yang istimewa. Kedua, memiliki banyak pelanggan setia.
Dalam skala internasional, dapatlah kita contoh ekspansi waralaba seperti Pizza Hut, KFC, atau Hoka-Hoka Bento yang memiliki cabang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di dalam negeri, berbagai waralaba “-mart/-maret” kini memiliki cabang di setiap rukun warga (RW). Waralaba lokal seperti Pecel Lele Lela telah membuka cabang di beberapa provinsi. Begitu pula Warung Steak, Rocket Chicken, Special Sambal.
Perkiraan saya, selama 15 tahun ini seharusnya Mas Ran minimal bisa memiliki lapak permanen plus 10 cabang di beberapa kabupaten. Namun tidak. Mas Ran tidak mengembangkan usaha semacam itu. Justru itulah keunikan dan kebesarannya.

Universitas Mi Pangsit
Mas Ran memang tidak membuka cabang. Namun dia membidani kelahiran usahawan mi pangsit dan mi ayam di beberapa kabupaten. Warung mi pangsit depan KUA layaknya universitas yang mencetak sarjana-sarjana mi pangsit. Asisten Mas Ran adalah “mahasiswa-mahasiswa” yang sedang belajar meracik mi. Mereka juga belajar manajemen warung mi pangsit. Setelah mereka cukup menimba ilmu, “Professor” Ran memotivasi anak ideologisnya untuk secara mandiri merintis warung mi pangsit atau mi ayam. Bukan cabang dari mi pangsit KUA. Itulah alasan mengapa Mas Ran tidak memiliki cabang. Mas Ran lupa, atau lebih tepatnya tak pernah berniat menghitung, sudah berapa warung mi ayam yang sukses dibuka oleh mantan anak buahnya.
Itu tentu dia sadari dan dia sengaja. Mas Ran tak berkehendak membuka cabang warung mi pangsit KUA dan menjadi pusat jejaring cabang itu, lalu memperoleh penghasilan lebih banyak, kemudian memutar modal tersebut untuk ekspansi jaringan cabang yang lebih masif lagi. Tidak. Dia justru memosisikan usahanya sebagai “kampus” gratis bagi para calon usahawan mi ayam. Menarik. Selain membagi ilmu, setiap bulan Mas Ran juga menggaji “para siswa” itu.
Dalam nalar persaingan bisnis, tak seharusnya dia melakukan itu. Sebab, para mantan murid Mas Ran sangat potensial menjadi pesaing untuk berebut konsumen. Kecuali, mereka membuka warung mi ayam cabang Mas Ran, sehingga relasi usaha mereka lebih bersifat koordinatif daripada kompetitif. Namun kenyataannya itu tidak jadi masalah bagi Mas Ran. Mantan anak buahnya pun menggantang mi ayam mereka masing-masing. Entah bernama Mi Ayam Chibi-Chibi, Mi Ayam Unyu-Unyu, atau Mi Ayam Posmodern. Entahlah.
Oh iya, perlu digarisbawahi, asisten-asisten Mas Ran tidak datang dari golongan yang mampu secara finansial. Mereka bekerja di warung Mas Ran karena tidak memiliki dana untuk melanjutkan pendidikan formal. Juga tidak memiliki modal untuk membuka usaha. Di warung itulah mereka memperoleh kesempatan menjadi usahawan mi pangsit dengan modal ilmu dan tabungan finansial.
Asisten Mas Ran datang dan pergi. Melihat mantan anak didiknya berdikari merupakan kebahagiaan tersendiri bagiMas Ran.

Potret sang Begawan
Saya tidak habis pikir. Itu luar biasa. Mas Ran melewatkan kesempatan menjadi the wealthy, orang kaya. Dia memilih tidak menjadi usahawan mi pangsit terkemuka dengan cabang di sana-sini, walau bisa melakukan. Bahkan dia menjalani hari-hari secara bersahaja, jauh dari definisi usahawan sukses.
Jelaslah, Mas Ran meletakkan ilmu dan keterampilan membuat mi pangsit di jalan darma. Dia tidak mematok harga pada orang yang ingin belajar membuat mi. Dia pendidik sejati yang tidak pernah mendapat gaji dari pemerintah, tunjangan sertifikasi, tunjangan kinerja, apalagi remunerasi. Dia telah sejak dahulu kala memutuskan menjadi tuan yang merdeka dengan menggaji diri sendiri dan menggaji “para mahasiswa”-nya.
Mas Ran tak akan pernah tercatat dalam jajaran pengusaha Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dengan nama flamboyan dan pencapaian-pencapaian yang mletik, apalagi mau masuk ke ranah politik. Kebesaran Mas Ran adalah anonim. Tidak banyak orang tahu. Orang yang tahu pun tak banyak yang paham, bagaimana dia melakukan program pemberdayaan masyarakat secara swadaya menggunakan warung mi pangsit. Tak perlulah Mas Ran mengajukan “proposal pengabdian masyarakat” ke pemerintah. Untuk apa? Tidak akan pula berbagai perguruan tinggi di dunia ini tebersit memberikan titel doctor honoris causa (Dr. H.C.) untuk Mas Ran.
Tak banyak orang tahu, di balik sosoknya yang bersahaja, Mas Ran adalah begawan. Anonim yang begawan. Tentu di luar sana banyak sekali Mas Ran lain. Namun mata dunia ini tidak cermat menerawang ke kedalaman dan keindahan dunia rohani itu. Selain, tentu saja, lebih mudah mengamati dunia permukaan dengan jaring-jaringnya yang rakus itu. Iya kan?

Note: Hidden mesage Artikel ini termasuk mengajak pembaca berfikir ulang bahwa Sufi itu tak harus seperti Al Gazali, Rumi, atau Abdul Qadir El Jelani. Namun, jika kita mau memperhatikan, bahkan seorang penjual mi ayam pun diam-diam adalah sufi.

 

this post has been posted in the-caldera.blogspot.co.id