Register / Log in
27
December

MUKADIMAH

Selamat pagi, sidang pembaca!

Artikel ini adalah artikel untuk mengantikan pertemuan tatap muka kelas ‘Sejarah Aliran Psikologi’ untuk rombel 1 angkatan 2016 di jurusan Psikologi FIP UNNES. Karena pengampu masih honeymoon (ciee…hanimun), maka lesson class dipindah ke laman maya ini.

Nah, artikel ini mengupas tentang mazhab ke-4 dalam psikologi, yaitu psikologi transpersonal. Tulisan ini disampaikan dengan bahasa formal dan informal secara bergantian agar terasa lebih mengalir bagi anda, sidang pembaca. Anda mungkin membutuhkan waktu 10-60 menit untuk membaca artikel di bawah ini, tapi mungkin anda membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk memahaminya. Jadi yaa feel free untuk membaca berulang-ulang, feel free untuk browsing artikel-artikel psikologi transpersonal sebagai komparasi dan deep probing (penyelidikan mendalam), Juga, feel free saja untuk mengajukan pertanyaan di kolom komentar. Oiya, artikel ini menggunakan footnote untuk menjelaskan istilah-istilah yang sekiranya asing.

Baiklah, sebelum kita mulai belajar, alangkah baiknya jika kita awali dengan berdoa. Berdoa menurut agama/kepercayaan masing-masing dipersilahkan! (hening krik krik… )

Ok, Let’s get the ball rollin’

 

PENGERTIAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

As usual, kita mulai pembahasan dengan menentukan definisinya (dlm bahasa inggris, definisi atau to define, berarti ‘membatasi/pembatasan’. Namun dalam bahasa Indonesia, diartiken sebagai ‘pengertian’).

Etimologically, transpersonal berasal dari dua kata: trans (melampaui) dan personal (pribadi). Personal dalam bahasa inggris adalah personality (kepribadian). Sehingga, transpersonal dapat diartikan sebagai cabang psikologi yang mempelajari potensi-potensi di atas (melampaui) tingkat personal/personality. Apa itu potensi-potensi yang melampaui tingkat personal? (sebenarnya kita sudah membahas ini lhoo di teorinya C.G. Jung dan Viktor Frankl.. ingat? Oke, kita perdalam di bawah ya).

Pengertian dari beberapa ahli. Daniel (2005), mengatakan, psikologi transpersonal adalah cabang psikologi yang fokus pada studi terhadap keadaan dan proses pengalaman manusia yang lebih luas, atau suatu sensasi yang lebih besar dari koneksitas terhadap orang lain dan alam semesta, atau merupakan dimensi spiritual. Menurut Friedman dan Pappas (2006) kajian psikologi transpersonal mencakup potensi tertinggi umat manusia dengan mengenali, memahami, serta realisasi dari penyatuan spiritual, dan melampaui keadaan kesadaran (state of consciousness). Lajoie & Shapiro (dalam Jaenudin, 2012) mendefinisikan transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari umat manusia melalui pengenalan, pemahaman, dan realisasi terhadap keEsaan, spiritualitas, dan kesadaran transendental[1]. Jadi, pengertian/defisini psikologi transpersonal adalah mazhab ke-4 psikologi yang berfokus menjembatani psikologi dan spiritualitas dengan memusatkan perhatiannya pada studi tentang bagian dan proses pengalaman mendalam, perasaan yang luas tentang siapa dirinya, sensasi yang besar terhadap konekstas dengan orang lain, alam, atau dimensi spiritual, berusaha membantu seseorang untuk mengeksplorasi tingkat energi psikisnya, serta studi potensi manusia yang melampaui dimensi kepribadian (personal).

Psikologi transpersonal berdiri pada perjumpaan antara psikologi modern dengan spiritualisme. Selain itu, psikologi transpersonal dapat dikatakan sebagai mazhab ke-4 dalam jelaga aliran psikologi setelah psikoanalisa, behaviorisme, dan humanistik. Sebenarnya ada mahab ke-5 yaitu psikologi integral yang digagas Ken Wilber. Namun hal itu masih penuh perdebatan, jadi kita lewati saja.

Psikologi transpersonal, dibangun dari perspektif psikologis yang berbeda. Jika pada era 1990an psikologi banyak didefinisikan sebagai “ilmu tentang perilaku manusia”[2], maka tahun 2000an berkembang menjadi “ilmu tentang perilaku dan pikiran manusia”. Kini, beberapa buku psikologi umum (introduction to psychology) telah mencantumkan ilmu tentang “kesadaran” (consciousness) dalam definisi psikologi. Hal itu selaras dengan tema-tema transpersonal banyak berada dalam wilayah kesadaran mendalam (transendental). Maslow, yang menginisiasi mazhab ke-3, berpendapat bahwa perspektif humanisme adalah fase transisi dari pengetahuan psikologi yang berorientasi pada human menuju pengetahuan yang lebih trans-human (kemudian disebut transpersonal).

Keunikan lain dari transpersonal adalah, mazhab ini menaruh penghargaan besar pada agama-agama dan kepercayaan seperti dalam islam, kristen, katolik, hindu, budha, Tao, Kejawen, dan semacamnya sebagai sumber kesehatan mental manusia. Atau dengan kata lain, transpersonal tidak mengkhususkan bahasannya pada agama-agama tertentu saja, tapi juga pada berbagai aliran keyakinan. Namun demikian, telaah berbagai jurnal psikologi transpersonal seringkali berkaitan dengan penganut agama-agama.

 

SEJARAH PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Kemunculan psikologi transpersonal bukanlah sesuatu yang ujug-ujug. Ia melalui sejarah yang cukup panjang. Dilihat dari zeitgeist-nya[3] psikologi transpersonal muncul untuk ikut membantu memecahkan krisis yang dialami oleh manusia-manusia modern[4]. Di zaman modern, manusia hidup bergelimang materi. Kebutuhkan material menjadi yang utama: Keluarga, pendidikan, pekerjaan, karir, hubungan sosial, semuanya dilakukan untuk mendapatkan dan meningkatkan perolehan materi.

Coba bayangkan: Anda memiliki pasangan yang tampan/cantik, berpendidikan tinggi, karir cemerlang, dikaruniai anak-anak yang imut, memiliki rumah megah komplit dengan garasi berisi mobil SUV yang sangat nyaman. Sempurna sekali kan, hidup anda?

Namun dibalik gelimang perolehan materi semacam itu, orang modern mengalami krisis spiritual yang akut. Hal itu disebabkan oleh kecenderungan manusia modern yang semakin material-oriented dan (disadari atau tidak, diakui atau tidak) membiarkan dimensi spiritual dalam dirinya kosong, kering, dan hampa. Kekosongan ini lah yang menyebabkan krisis spiritual orang-orang modern. Mereka merasa dahaga spiritual ditengah limpahan material

Krisis spiritual semacam semacam itu, alih-alih disembuhkan, para behaviorist cenderung menghindari problem itu, para psikoanalis freudian menganggap fenomena itu menjurus patologis[5], dan para humanis cenderung bias dalam menyikapi krisis spiritual itu. Maka diperlukan suatu perspektif baru dalam psikologi dalam menggambarkan, memahami, dan mencari solusi dari problem tersebut. Di sini lah peran psikologi

Beberapa tokoh disebut-sebut sebagai perintis aliran ini. Pertama, William James (ingat.. materi psikologi fungsional) dianggap sebagai pemikir transpersonal karena dalam karyanya “The Varieties of Religious Experience” Ia berkesimpulan bahwa akar dari seluruh agama di dunia adalah adanya pengalaman mistis. Pengalaman tersebut mengandung impuls yang natural dan sehat (Daniels, 2005). James juga memperkenalkan konsep spiritual-self yang setara dengan material-self dan sosial-self. Serta eksistensi higher-self (atau transpersonal-self) yang lebih tinggi dari tiga self lainnya.

Tokoh lain adalah Carl Justav Jung. Berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa ketaksadaran manusia bersifat irasional, penuh dengan dorongan yang tidak terpenuhi, dan gunungan sampah psikis, menurut Jung ketaksadaran kolektif manusia adalah sumber spiritualitas yang menyehatkan. Perlu digarisbawahi bahwa archetypal experience (pengalaman arketipal) entah melalui mimpi, ritual ibadah, pengalaman mistik, upacara adat, dsb adalah dasar pengalaman transpersonal seseorang. Daam perspektif Jung, Keterputusan seseorang dari ketidaksadaran kolektif justru menjadi salah satu penyebab munculnya krisis spiritual.

Tokoh berikutnya adalah Viktor Frankl (masih ingat kan, logoterapi Frankl?). Menurut Frankl, manusia selalu mencari makna terdalam (ultimate meaning) dari berbagai hal yang ia alami. Kegagalam dalam memaknai suatu peristiwa, dapat mengarahkan seseorang mengalami meaningless dan anomi. Tokoh lain yang juga daapat dikategorikan sebagai tokoh transpersonal adalah Abraham Maslow. Walaupun dikenal sebagai inisiator mazhab ke-3 dan penemu teori aktualisasi diri, Maslow melihat psikologi humanis adalah mazhab transisi untuk menjadi psikologi transpersonal. Begitupula, aktualisasi diri bukanlah pencapaian tertinggi dari kebutuhan manusia. Menurut Maslow, terdapat rupa kebutuhan yang lebih tinggi dari aktualisasi diri: transendensi diri. Dalam aktualisasi-diri, kesadaran seseorang masih berfokus pada ego-nya, namun transendensi-diri adalah proses perkembangan diri yang telah melampaui kesadaran ego (egoless state of consciousness[6]). Level kesadaran tersebut bersifat transendental: Ia membantu seseorang terbebas dari ego-nya dan menyelaraskan diri dengan alam dan Sang Pencita.

Nah.. sementara ini, mereka dulu ya yang kita tulis. Sebenarnya masih banyak lagi dedengkot psikologi transpersonal, anda dapat mengeksplorasinya sendiri..

 

TEMA-TEMA PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Apa sih yang menjadi topik/ kajian psikologi transpersonal? Banyak sekali. Tema-tema transpersonal sangat khas. Umumnya menyangkut berbagai fenomena yang oleh aliran-aliran sebelumnya dianggap irasional, magis, bahkan psikopatologis[7]. tema-tema transpersonal, Beberapa adalah seperti di bawah ini:

 

KEBANGKITAN SPIRITUAL

Seperti tertera di atas, ada banyak sekali topik psikologi transpersonal. Salah satu topik psikologi transpersonal yang paling populer didiskusikan dan diteliti adalah spiritual emergence (kebangkitan spiritual). Tapi, disini perlu kita luruskan terlebih dulu bahwa ‘spiritualitas’ yang dibahas dalam psikologi transpersonal bukanlah istilah yang berkaitan dengan praktik perdukunan, santet, jin atau makhuk halus. Namun menurut Jaenudin (2012) spiritualitas lebih diartikan sebagai rupa-rupa keterhubungan manusia dengan sesama makhluk, dengan alam, maupun dengan Tuhan (pengalaman keberTuhanan[8]).

Jika di-compare dengan mazhab sebelumnya: psikoanalisis Freudian lebih memperhatikan manusia pada dimensi ketidaksadaran dan irasionalitasnya. Para Behaviorist berfokus pada dimensi perilaku manusia. Para humanist (mazhab ke-3) sibuk dengan studi potensi-potensi personal seseorang. Dalam psikologi transpersonal, manusia dilihat sebagai makhluk spiritual (spiritual being) sehingga dimensi spiritualitas banyak memperoleh perhatian.

Fenomena Spiritual biasanya terjadi pada orang-orang usia dewasa/paruh baya. Terdapat berbagai istilah untuk spiritual emergence, antara lain spiritual crises, positive disintegration, mystical, nadir experience, dsb.

Dari penelusuran berbagai literatur, penulis menemukan berbagai rupa pengalaman spiritual.

  1. Rudolf Otto, mengajukan konsep numinous experience atau pengalaman keberTuhanan. Pengalaman ini adalah pengalaman dimana seseorang speechless, tidak dapat berkata-kata karena merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat dengannya.
  2. Jung, memiliki konsep synchronicity atau meaningful coincidence. Yaitu ketika seseorang yang mengalami kebetulan-yang-bukan-kebetulan belaka, atau kebetulan yang penuh makna. Hal-hal yang sering kita bilang “kebetulan” kadang tidak sesederhana istilahnya, ada semacam mekanisme makrokosmos sehingga momentum “kebetulan” tersebut terjadi.
  3. Pengalaman spiritual lain adalah near death experience (NDE). Anda tentu pernah mendengar seseorang yang telah dinyatakan meninggal, tiba-tiba ia bernafas dan hidup kembali. Sekembalinya orang tersebut dari kematian, ia dapat menceritakan derngan jelas berbagai hal yang ia lihat di alam baka (alferlife). Hal itu kemudian mempengaruhi kepribadiannya, cara pandangnya terhadap dunia, dan perilaku-perilakunya. (ada contoh film menarik tentang fenomena Near death experience: judulnya Heaven is for real).
  4. Grof dan Grof melihat berbagai peristiwa paranormal sebagai fenomena spiritual seperti out of body experince, dan kewaskitaan[9].
  5. Dalam berbagai kebudayaan, fenomena kesurupan bukanlah simtom histeria sebagaimana dijelaskan Freud, bukan dissosiative disorder seperti dalam DSM-IV[10], bukan pula kemasukan roh jahat seperi gugontuhon[11] masyarakat tradisional pada umumnya. Fenomena kesurupan dapat pula berupa altered state of consciousness[12] dimana kesadaran seseorang dikuasai oleh elemen-elemen ketidaksadaran kolektif (archetype).
  6. Apakah anda punya contoh lain tentang kebangkitan spiritual? Silahkan tulis di kolom komentar…

 

 

[1] Transendental adalah hal-hal yang melampaui kemampuan akal manusia

[2] Definisi ini banyak dipengaruhi oleh mazhab behaviorisme

[3] Momentum zaman/ semangat zaman

[4] Sejak kapan zaman modern dimulai? Ingat Renee Descartes!

[5] Bersifat penyakit mental

[6] Istilah egoless state of consciousness sebenarnya dicetuskan Jung, namun dalam hal ini saya gunakan untuk menjelaskan transendensi-diri dari Maslow

[7] psikopatologis: berhubungan dengan penyakit psikis

[8] Pengalaman keberTuhanan, dipinjam dari istilahnya Rudolf Otto: Numinous experience. Yaitu semacam pengalaman mistis dimana seseorang merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat dengannya.

[9] Mampu mengetahui peristiwa sebelum itu terjadi

[10] DSM-IV: Diagnostics and Statistic Manual of Mental Disorder: kitab yang berisi kategori-kategori gangguan mental

[11] Gugontuhon: Tahu kalau pengetahuan/keyakinan itu salah namun masih tetap dipercaya.

[12] Perubahan kesadaran: Dalam psikologi transpersonal, terdapat altered state of consciousness (ASC) dimana kesadaran seseorang dapat berubah pada level transpersonal

0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

[+] kaskus emoticons nartzco