Pengaruh Globalisasi Pada Gaya Hidup Mahasiswa

Salam semangat

Generasi milenial

Apa kabar kalian semua? Semoga baik-baik saja yaa. Kali ini penulis akan berbagi mengenai tugas kuliah yang penulis dapat ketika semester 1 yaitu pada mata kuliah Pengantar Sosiologi dimana tugas ini merupakan laporan hasil wawancara terhadap salah satu mahasiswa Undip mengenai pengaruh globalisasi terhadap gaya hidupnya. Berikut merupakan materi atau isi dari tugas tersebut.

Senin, 4 Januari 2016 saya telah melakukan observasi dan mewawancarai seorang narasumber bernama Afif Abiyyu Hanan seorang mahasiswa semester 5 Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tersebut, didapatkan informasi mengenai gaya hidup atau lifestyle para mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang dalam era globalisasi saat ini. Dari hasil observasi dan wawancara tersebut didapati terdapat berbagai macam perubahan pada gaya hidup akibat pengaruh globalisasi diantaranya dalam hal:

  1. Pakaian

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, narasumber mengatakan bahwa para mahasiswa Universitas Diponegoro saat ini banyak yang mengenakan segala sesuatu yang bermerek luar negeri atau branded tidak terkecuali dengan pakaian. Dalam satu kali belanja untuk baju dan celana, narasumber dapat menghabiskan Rp100.000-200.000,- untuk satu baju sedangkan untuk celana ia dapat menghabiskan Rp500.000,- untuk satu celana saja. Dalam sebulan ia dapat membeli sekitar 3 buah baju dan 2 buah celana. Selain itu narasumber juga lebih suka membeli pakaiannya di mall dibandingkan di toko-toko baju biasa. Ia memiliki alasan bahwa membeli di mall kualitas bahannya lebih bagus, model dan ukuran lebih bervariatif serta ada kebanggaan tersendiri apabila membeli di mall. Selain itu model pakaian yang dikenakan mahasiswa saat ini lebih trendy dan mengikuti zaman, salah satu contoh model pakaian mahasiswa saat ini yaitu mengenakan skinny jeans, jogger pants, kaos, dan lain-lain.

  1. Sepatu

Selain pakaian, barang branded lainnya yang dipakai oleh mahasiswa Universitas Diponegoro ini adalah sepatu. Narasumber menuturkan untuk membeli sebuah sepatu original brand luar negeri ternama seperti Nike ia dapat menghabiskan Rp700.000-2.000.000,- untuk sepasang sepatu saja. Dalam sebulan ia dapat membeli 1-2 pasang sepatu. Kini ia telah memiliki 6 pasang sepatu dengan berbagai brand luar negeri ternama. Ia juga memiliki alasan mengapa ia membeli sebuah sepatu dengan harga sedemikian. Ia beralasan bahwa sepatu original brand luar negeri ternama tersebut memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari pada sepatu brand lokal selain itu sepatu brand luar negeri tersebut juga awet atau tahan lama serta nyaman dipakai.

  1. Tempat Nongkrong

Menurut narasumber, setiap harinya para mahasiswa Universitas Diponegoro ini mempu untuk pergi dan mengeluarkan uangnya untuk nongkrong atau kongkow di kafe/restaurant yang ada di sekitar Undip atau Semarang. Menurut narasumber, untuk sekali kongkow ia dapat menghabiskan Rp50.000-100.000,-. Namun saat ini, kini ia pergi kongkow bersama teman-temannya hanya 4-5 kali dalam sebulan. Selain itu, untuk makan setiap harinya ia membeli makanan di luar atau delivery restaurant cepat saji dan tidak pernah memasak sendiri makanannya. Alasan ia lebih suka membeli atau delivery restaurant cepat saji dikarenakan lebih praktis dan cepat dibandingkan harus memasak sendiri. Berbeda dengan mahasiswa zaman dulu yang jarang bahkan tidak pernah nongkrong di luar untuk makan. Mahasiswa zaman dulu juga lebih suka memasak makanannya sendiri dibandingkan dengan membeli makanan di luar. Selain itu, layanan pesan antar makanan atau delivery saat itu juga belum ada atau belum tersedia pada zaman mahasiswa dulu.

  1. Alat Transportasi

Hampir seluruh mahasiswa Universitas Diponegoro menggunakan kendaraan bermotor ketika pergi ke kampus. Tidak terkecuali dengan narasumber saya. Ia menuturkan bahwa saat ini mahasiswa Universitas Diponegoro banyak yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat terutama pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan fakultas-fakultas lainnya. Ia menuturkan alasannya menggunakan kendaraan bermotor ketika pergi ke kampus karena lebih praktis dan cepat sampai. Selain itu ketika mereka akan pergi untuk nongkrong atau ke suatu tempat dengan menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah, tidak perlu jalan kaki atau menunggu untuk naik kendaraan umum terlebih dahulu. Hal ini tentu saja berbeda dengan mahasiswa zaman dulu. Mereka untuk pergi ke kampus dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda atau naik kendaraan umum.

  1. Gadget

Gadget merupakan sesuatu yang dianggap penting saat ini. Gadget saat ini dilihat sebagai sebuah kebutuhan primer dan bukan merupakan kebutuhan tersier lagi bagi sebagian besar orang. Tidak terkecuali dengan narasumber saya ini. Ia menuturkan bahwa gadget merupakan sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan. Setiap hari ia berkomunikasi dengan orang-orang menggunakan handphone/gadgetnya. Selain itu, ia juga menggunakan handphonenya untuk mencari data-data pendukung di internet untuk membuat tugasnya dibanding harus mencari dibuku yang belum tentu ada jawabannya. Ia pun mengakui bahwa handphone sangat mempermudahkannya dalam mengakses segala hal yang ia butuhkan.

Handphone saat ini pun tidak hanya didesaign untuk sms atau telfon saja melainkan telah didesaign sedemikian rupa sehingga dapat mengakses segala sesuatu di seluruh dunia. Kita dapat mencari dan membaca berita di internet tanpa harus membaca dari surat kabar/koran. Selain itu terdapat aplikasi videocall dimana kita dapat bertatap muka dengan orang yang kita telfon yang sedang berada jauh disana. Selain itu terdapat juga fitur/aplikasi sosial media dimana kita bisa berinteraksi dengan masyarakat dunia luas tanpa mengenal batas wilayah. Berbeda dengan dulu dimana belum adanya handphone secanggih saat ini. Dahulu mahasiswa hanya bisa sms dan telfon saja bahkan hanya bisa mengirim surat apabila ingin berkabar dengan orang-orang terdekatnya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tersebut, terdapat beberapa pengaruh globalisasi yang ditimbulkan terhadap gaya hidup (lifestyle) pada kalangan mahasiswa khususnya di Universitas Diponegoro Semarang. Pengaruh yang ditimbulkanpun ada yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh atau dampak globalisasi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Dampak Positif

  1. Mahasiswa dapat mengakses segala hal yang berbau pendidikan (data materi-materi kuliah) untuk membantunya dalam mengerjakan tugas kuliah yang diberikan oleh dosen.
  2. Layanan pesan antar makanan yang membantu mahasiswa ketika tidak sempat memasak atau sedang sibuk sehingga tidak dapat memasak makanan untuk dirinya.
  3. Dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar sehingga tidak membatasi diri untuk berteman di dunia sekitar saja.
  4. Mendapatkan informasi terupdate mengenai kondisi di dalam maupun di luar negeri saat ini.

Dampak Negatif

  1. Timbulnya sikap hedonisme
  2. Timbulnya sikap konsumerisme
  3. Timbulnya sikap kebarat-baratan (westernisasi)
  4. Adanya ketergantungan pada gadget
  5. Lebih mencintai produk luar negeri dibandingkan produk dalam negeri
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel Kuliah SosAnt. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco