Materi Antropologi SMA Kelas XII : Karya Ilmiah dan Penelitian Antropologi

images

Metode Penelitian Kebudayaan

Dalam dunia ilmu pengetahuan makna dari istilah pendekatan adalah sama dengan metodologi, yaitu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji. Bersamaan dengan itu, makna metodologi juga mencakup berbagai teknik yang digunakan untuk melakukan penelitian atau pengumpulan data sesuai dengan cara melihat dan memperlakukan masalah yang dikaji. Dengan demikian, pengertian pendekatan atau metodologi bukan hanya diartikan sebagai sudut pandang atau cara melihat sesuatu permasalahan yang menjadi perhatian tetapi juga mencakup pengertian metode-metode atau teknik-teknik penelitian yang sesuai dengan pendekatan tersebut.

Jadi, pengertian pendekatan kebudayaan dapat diartikan sebagai sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu gejala yang menjadi per­hatian dengan menggunakan kebudayaan dari gejala yang dikaji tersebut sebagai acuan atau kacamata dalam melihat, memperlakukan, dan menelitinya. Permasalahannya kemudian adalah pengertian kebudayaan yang digunakan sebagai sudut pandang atau kacamata dalam melihat gejala yang dikaji.

Di Indonesia, di antara para cendekiawan dan ilmuwan sosial, konsep kebu­dayaan dari Prof. Koentjaraningrat amatlah populer. Dalam konsepnya, kebu­dayaan diartikan sebagai wujudnya, yang mencakup keseluruhan dari: (1) gagasan; (2) kelakuan; (3) hasil kelakuan. Konsep ini pun tidak dapat digunakan sebagai acuan bagi pendekatan kebudayaan untuk kajian agama. Karena agama bukanlah gagasan, bukan juga kelakuan, atau pun hasil kelakuan. Sebaliknya, kebudayaan dalam pengertian Prof. Koentjaraningrat adalah wujud, dan wujud inilah yang dijadikan sasaran kajian atau penelitian antropologi. Kajian atau penelitian wujud kebudayaan ini, dalam konsep Prof. Koentjaraningrat dilakukan dengan mengacu pada kerangka konsep unsur-unsur budaya universal yang menghasilkan taksonomi kebudayaan.

Banyak metode penelitian Antropologi sebagai berikut;

  1. Metode Fenomenologi

Banyak antropolog menggunakan pendekatan fenomenologi dalam studi mereka tentang pendidikan. Kerangka studi antropologisnya adalah konsep kebudayaan. Usaha untuk menguraikan kebudayaan atau aspek-aspek kebudayaan dinamakan etnografi. Walaupun diantara mereka kurang sependapat tentang definisi kebudayaan, mereka memandang kebudayaan sebagai kerangka teoretis dalam menjelaskan pekerjaan mereka.

Untuk menggambarkan kebudayaan menurut perspektif ini, seorang peneliti mungkin dapat memikirkan sesuatu peristiwa menurut cara sebagai berikut: Sebaiknya etnografi mempertimbangkan perilaku manusia dengan jalan menguraikan apa yag diketahui mereka yang membolehkan mereka berperilaku secara baik sesuai dengan common sesnse dalam masyarakatnya. Peneliti dalam tradisi ini mengatakan bahwa etnografi berhasil jika mendidik pembaca bagaimana sebaiknya berprilaku dalam suatu latar kebudayaan, apakah itu di antara keluarga-keluarga masyarakat hitam, di kantor kepala sekolah, atau di kelas taman kanak-kanak.

Etnografi dikenal dengan “uraian tebal” (thick description). Yang ditemui etnograf jika menguji kebudayaan menurut perspektif ini ialah suatu seri penafsiran terhadap kehidupan, pengertian, “akal sehat” yang rumit dan sukar dipisahkan satu dari lainnya. Tujuan etnografi adalah mengalami bersama pengertian bahwa pemeran serta kebuadayaan memperhitungkan dan menggambarkan pengertian baru untuk pembaca dan orang luaran.
Konsep kebudayaan terakhir diambil dari Rosalie Wax (1971, dalam Bogdan dan Biklen:36). Wax mendiskusikan tugas etnografi dalam rangka pengertian. Pengertian bukanlah berupa “empati yang misterius” di antara orang-orang, melainkan suatu kenyataan dari “Pengertian yang dialami bersama” (shared meaning).

  1. Metode Hermeneutik

Apabila metode fenomenologi mencoba mengungkapkan dan mendeskripsikan hakikat agama, metode hermeneutik mencoba memahami kebudayaan melalui interpretasi. Pada mulanya metode ini diterapkan untuk menginterpretasikan teks-teks keagamaan. Awal penerapan ini masih tetap melekat, dalam arti menempatkan konsep teks dalam kedudukan sentral. Kemudian, Dilthey mengembangkannya menjadi lebih luas, baik sebagai permasalahan filsafat maupun metodologi.

Berikut disajikan langkah-langkah yang bisa diikuti dalam melakukan penelitian dengan metode hermeneutika beserta asumsi-asumsi dasar yang harus dipegang, antara lain sebagai berikut.

  1. Telaah Hakikat Teks

Di dalam hermeneutika, teks diperlakukan sebagai sesuatu yang mandiri,
dilepaskan dan pengarangnya, waktu penciptaannya, dan konteks kebudayaan pengarang maupun kebudayaan yang berkembang dalam ruang dan waktu ketika teks itu diciptakannya. Oleh karena itu, wujud teks adalah tulisan dan yang ditulis adalah bahasa maka yang menjadi pusat perhatiannya adalah hakikat bahasa. Sebagaimana diketahui, bahasa merupakan alat komunikasi, alat untuk menyampaikan sesuatu. Sebagai akibatnya terdapat hubungan antara “alat penyampaian” dan “apa yang disampaikan”. Tujuan dari metode ini adalah mengerti tentang “apa yang disampaikan” itu, dengan cara mengin­terpretasikan “alat penyampaiannya”, yaitu teks atau bahasa tulis.

Jika sebelumnya dikatakan bahwa teks itu mandiri, apabila dikaitkan dengan bahasa yang dimaksudkan, adalah sifat otonomi semantik bahasanya. Jadi, interpretasi dilakukan terhadap bahasa melalui semantiknya untuk mengerti apa yang disampaikan.

Selanjutnya, jika yang disampaikan itu dikaji lebih mendalam, makna apa yang disampaikan itu dapat berupa ajaran, pesan, pengalaman atau peristiwa. Adapun yang dimaksud “untuk mengerti”, dalam perspektif ini ialah arti atau makna secara keseluruhan, makna dari kesemuanya itu. Demikianlah apa yang mula-mula bersifat subjektif, setelah dirumuskan dalam bahasa menjadi pengakuan umum atau objektif. Ditinjau dari sisi lain makna arti atau makna dari “apa” itu pun dengan sendirinya bersifat objektif pula walaupun “apa” itu sendiri masih bersifat individual.

Permasalahan lain yang timbul adalah bahwa unit analisis hermenenutika tidak terbatas hanya pada hubungan “apa” dan “tentang apa” secara semiotik­ dalam hal ini “apa” diperlakukan sebagai arti dan tanda. Akan tetapi, semiotik di sini dipergunakan hanya sebagai alat hermeneutik karena teks adalah sesuatu yang otonom, satu dunia sendiri, yaitu dunia teks.

  1. Proses Apresiasi

Apabila sebelumnya disampaikan bahwa teks itu bersifat otonom, lalu bagai­mana dengan pembaca atau peneliti? Di dalam penerapan metode hermeneutika, persoalan ini sering disebut dengan “proses apresiasi” yaitu proses yang pembaca-penelitinya (pembaca yang melakukan penelitian) terlebih dahulu mengerti akan dunia teks atau kemampuan ketika membaca teks yang tidak hanya bisa kembali ke dunianya sendiri, tetapi juga menciptakan dunia baru bagi dirinya. Dengan kata lain, ia terlebih dahulu menjadi mengerti dirinya sendiri, mengerti dirinya “secara lain”, atau mungkin baru mulai mengerti akan dirinya setelah mengerti “dunia” teks.

Dengan demikian, melalui hermeneutika pembaca-peneliti tidak diharapkan untuk tenggelam ke dalam dunia teks, tetapi mengaktualisasikan makna dalam dunia teks, serta kemudian mengaktualisasikannya dalam dirinya sendiri. Kemampuan aktualisasi pembaca-peneliti ini sangat ditentukan oleh “horizon”- yang dimiliki manusia, bisa pula sempit. Kemampuan manusia untuk mempergunakannya pun berbeda-beda, ada yang dapat memperluas, atau bahkan membuka horizon baru. Ada pula orang yang tidak dapat mempergunakan dengan baik- tidak mampu melihat jauh sehingga cenderung untuk melebih-lebihkan hal yang paling dekat dengan dirinya, bergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan keterbukaan manusia itu sendiri.

Di samping horison, kemampuan aktualisasi itu juga dipengaruhi oleh “kesadaran sejarah”. Pemilikan atas kesadaran sejarah ini akan memungkinkan manusia untuk menempatkan horizonnya pada dimensi-dimensi yang sebenarnya. Dengan sendirinya penerapan kesadaran ini dalam proses aktualisasi dapat menghindarkan manusia dari kesalahpahaman.

  1. Proses Interpretasi .

Pada waktu pembaca-peneliti berhadapan dengan teks, ia berada pada situasi yang dikenal sebagai situasi hermeneutik. Manusia berada pada posisi “antara”, yaitu masa kini (di mana ia berada) dan masa lalu (di mana teks diciptakan). Dernikian pula antara yang dikenal dan yang asing.

Di dalam situasi ini pembaca-peneliti menerka, menginterpretasikan arti yang tampak, dan mencoba mengerti arti yang tidak tampak ( tampak (tersembunyi). Arti yang tidak tampak itu menjadi tersembunyi oleh unsur atau jarak waktu, geografis, budaya, atau bahkan spritual. Dengan demikian, proses interpretasi itu seolah-olah menjembatani unsur dari jarak itu. Atas dasar inilah maka teks itu disebut sebagai “mandiri”.

Sebaliknya, manusia, pembaca-peneliti, dalam proses interpretasinya melibatkan kemampuan menerapkan “horizonnya”. Tanpa penerapan ini maka proses apresiasi tidak terjadi. Demikian pula halnya dengan kesadaran sejarah.

Setiap interpretasi menciptakan situasi tertentu dan pada waktu tertentu pula. Hal ini berarti bahwa setiap saat terjadi interpretasi baru. Dengan kata lain,

ditinjau dari proses, seolah-olah unsur kesejarahan ini melekat dalam struktur.

Dengan sendirinya dari sudut pembaca-peneliti, diperlukan pemilikan kesadaran sejarah dalam horizonnya agar unsur kesejarahan dapat tercakup dalam proses interpretasinya. Penerapan yang demikian dapat mencegah penempatan situasi di mana ia berada pada perspektif sejarah atau pada dimensi yang keliru. Kekeliruan penempatan pada dimensi waktu inilah yang sering mengakibatkan kesalahpahaman.

  1. Pendekatan Kebudayaan, Pendekatan Kualitatif, dan Kajian Agama

Fenomena agama adalah fenomena universal manusia. Selama ini belum ada laporan penelitian dan kajian yang menyatakan bahwa ada sebuah masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang agama. Walaupun peristiwa perubahan sosial telah mengubah orientasi dan makna agama, hal itu tidak berhasil meniadakan eksistensi agama dalam masyarakat. Sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan menjadi kajian yang penting. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya. Seringkali kajian tentang politik, ekonomi, dan perubahan sosial dalam suatu masyarakat melupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor determinan. Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan realitas sosial yang lebih lengkap.

            Selain itu ada pula metode penelitian Antropologi yang digunakan secara lebih mudah dan Simple yaitu:

  1. Metode dan Pengumpulan Fakta

 Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala cara yang digunakan dalam ilmu tersebut, untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai oleh para sarjana ilmu yang bersangkutan melalui tiga tingkat, yaitu; 1) pengumpulan data, 2) penentuan ciri-ciri umum dan system, dan 3) verifikasi.

  • Pengumpulan data/fakta

Untuk antropologi-budaya, tingkat ini adalah  pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan secara ilmiah. Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan digolongkan kedalam tiga golongan, yaitu: (a) penelitian dilapangan, (b) penelitian di laboratorium, (c) penelitian dalam perpustakaan.

 Dalam penelitian di lapangan (field work), peneliti harus menunggu terjadinya gejala yang menjadi objek observasinya itu; sebaliknya dalam penelitian di laboratorium gejala yang akan menjadi objek obserbvasi dapat  dibuat dan sengaja diadakan oleh peneliti. Sedangkan dalam penelitian di perpustakaan, gejala yang akan menjadi objek penelitian harus dicari dari berates-ratus ribu buku yang beraneka ragam. Selain itu, dalam penelitian di lapangan, peneliti harus masuk ke dalam objeknya, artinya, ia sendiri harus memperhatikan hubungan antara objek dan dirinya sendiri; sedangkan dalam laboratorium dan perpustakaan peneliti berada tetap di luar objeknya, artinya dirinya sendiri tidak ada hubungan dengan objek yang ditelitinya itu.

 Seorang peneliti antropologi-budaya terutama menggunakan metode-metode pengumpulan fakta yang bersifat kualitatif. Metode-metode itu terutama berupa metode wawancara dan catatan hasil (field notes). Field notes yang telah dikumpulkan tadi harus di ubah menjadi tulisan/karangan deskripsi yang oleh sarjana-sarjana lain dapat dipergunakan dan diolah menjadi teori-teori tentang asas-asas kebudayaan, atau untuk menambah pengetahuan bagi peneliti yang akan terjun langsung ke daerah tersebut.

 Seluruh metode yang digunakan, mulai dari metode pengumpulan bahan konkret tentang suatu masyarakat yang hidup, sampai pada metode untuk mengolah bahan menjadi karangan yang dapat dibaca orang lain, merupakan bidang deskriptif dari ilmu antropologi yang disebut etnografi.

  1. Penentuan ciri-ciri umum dan sistem

Hal ini adalah tingkat dalam cara berpikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Proses berpikir di sini berjalan secara induktif; dari pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, kearah konsep-konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstrak.

 Seorang ahli antropologi menggunakan metode perbandingan (metode komparatif)  untuk mencari ciri-ciri umum diantara beragam fakta masyarakat dan memulainya dengan metode klasifikasi, artinya ia harus memperkecil jumlah keragaman tersebut sehingga tersisa beberapa perbedaan pokok saja.

 Dalam ilmu-ilmu alam, penentuan ciri-ciri umum dan sistem dalam fakta-fakta alam dilakukan berbagai macam hubungan mantap antara fakta-fakta tadi. Hubungan itu biasanya hubungan kovaribel (artinya, kalau suatu fakta berubah dengan cara yang tertentu, maka fakta-fakta lain yang berkaitan dengan itu berubah juga), atau hubungan itu mungkin hubungan sebab-akibat (artinya suatu fakta menyebabkan timbulnya, berubahnya, atau hilangnya suatu fakta yang lain). Perumusan-perumusan yang menyatakan hubungan-hubungan mantap antara beraneka fakta dalam alam disebut kaidah-kaidah alam.

 Pada ilmu-ilmu social dan ilmu antropogi, sebagian besar dari pengetahuannya bersifat “pengertian” mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan. Namun ada pula pengetahuan yang berupa kaidah-kaidah sosial budaya.

  1. Verifikasi

Ilmu antropologi yang lebih banyak mengandung pengetahuan berdasarkan “pengetian” daripada pengetahuan berdasarkan kaidah, mempergunakan metode-metode verifikasi bersifat kualitatif, dimana ilmu antropologi mencoba memperkuat pengertiannya dengan menerapkan pengertian itu dalam kenyataan, yaitu pada beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara mengkhusus dan mendalam. Saat ini metode statistik juga mulai menjadi suatu metode analisis yang sangat penting dalam ilmu antropologi.

Parsudi Suparlan,“Agama Islam: Tinjauan Disiplin Antropologi”, Tradisi Baru Penelitian Agama Islam; Tinjauan antar Disiplin Ilmu, (Bandung: Nuansa bekerja sama dengan Pusjarlit, Cet. I, 1998), hal. 110

Metode Ilmiah dari Antropologi. esa161.weblog.esaunggul.ac.id/2012/12/05/materi-6/. diakses 21 Desember 2015.

Muslimin, Zuhdi. Pendekatan Antropologi (Metode Penelitian Kebudayaan) Bag 7. http://www.musliminzuhdi.com/2011/08/pendekatan-antropologi-metode.html. diakses 21 Desember 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.