KOMUNITAS SATOE ATAP (Sayang Itoe Asli Tanpa Pamrih)

PAHLAWAN PENDIDIKAN ANAK JALANAN
1446550700976

Banyak manfaat bisa kita bagi kepada lingkungan, apalagi jika bergabung dengan komunitas Satoe Atap yang merupakan salah satu komunitas di Semarang yang sejak awal didirikan memang untuk berbagi manfaat pada lingkungan. Hebatnya komunitas ini di gagas oleh mahasiswa. Tidak semua anak-anak di sekitar kita dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah karena berbagai faktor, terutama bagi anak-anak jalanan. Harapan itulah yang menjadi pondasi dari gerakan-gerakan pemuda mahasiswa sekitar Semarang untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui suatu komunitas Satoe Atap (Sayang Itoe Asli Tanpa Pamrih).

Komunitas Satoe Atap adalah sebuah komunitas sosial yang didirikan oleh mahasiswa yang peduli terhadap anak jalanan dan anak miskin di daerah kota Semarang. Komunitas ini menaungi anak-anak jalanan di kota Semarang dengan memberikan pendidikan kepada mereka secara cuma-cuma, karena keprihatinan melihat banyaknya anak jalanan yang tidak bersekolah. Berawal dari keinginan beberapa mahasiswa di Semarang yang peduli dengan pendidikan bagi anak jalanan, maka pada tahun 2007 (awal mengajar di Undip) terbentuklah sebuah komunitas kecil yang bertujuan agar para anak jalanan bisa mengerti membaca, menulis dan berhitung (balistung). Namun juga terbuka bagi anak-anak yang bersekolah tetapi tidak bisa mengerjakan PR, nanti akan di bantu oleh kakak volunteer untuk mengerjakan tugasnya jadi bisa dikatakan komunitas ini juga bertujuan sebagai tempat les. Komunitas ini terbuka untuk umum, namun lebih di fokuskan untuk anak-anak jalanan dan anak miskin yang berada di sekitar kota Semarang. Setiap hari selasa dan rabu diadakan pengajaran untuk anak-anak. Untuk hari selasa berada di Saroja, sementara hari Rabu berada di jalan kelinci. Tempat pengajaran hanya di pinggir jalan dan ijin terlebih dahulu kepada Kepala Desa setempat. Dalam komunitas ini tidak ada kepala yang memimpin, tetapi hanya ada 1 koordinator. Anak dan pengajar tidak tetap dan juga tidak tentu, terkadang banyak sedikit tergantung kondisinya. Kakak-kakak mahasiswa yang mengajar disebut volunteer. Komunitas Satoe Atap tidak mengikat, bisa naik turun dalam perkembangan dari tahun ke tahun.

Para volunteer aktif di Satoe Atap mereka umumnya adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di Semarang. Mereka berasal dari Universitas yang berbeda, jurusan yang berbeda, daerah asal yang berbeda tetapi mereka memiliki suatu kepedulian dan harapan yang sama. Kakak volunteer rata-rata berasal dari UNDIP, UNNES, UNIKA, UPGRIS, dan UDINUS. Setiap volunteer memiliki anak asuh sebanyak 5 anak. Mereka umumnya adalah anak-anak sekolah dasar dan anak-anak putus sekolah. Anak-anak yang belajar di komunitas Satoe Atap berasal dari kalangan masyarakat yang menengah ke bawah. Jadi tidak jarang bila ada waktu-waktu luang yang mereka miliki mereka gunakan untuk membantu orang tua mereka. Bahkan terkadang hanya sedikit anak jalanan yang mengikuti pembelajaran di komunitas Satoe Atap, jadi kakak-kakak volunteer mencari anak-anak jalanan di pusat simpang lima. Komunitas Satoe Atap memiliki sebuah program kerja dalam rangka membantu anak-anak untuk keperluan beasiswa ataupun mengadakan kerjasama untuk mengajarkan softskill dengan pihak-pihak tertentu. Selain itu mencari donasi-donasi dana yang uang tersebut digunakan untuk melatih sosftskill orang tua dan anak dengan mengadakan pelatihan.

Komunitas Satoe Atap adalah bukti bahwa di zaman sekarang ini merupakan zaman multidimensi, zaman yang kebanyakan para individu lebih mementingkan diri sendiri dan memiliki pola hidup individualisme. Masih ada segelintir orang yang peduli pada masalah pendidikan anak-anak jalanan dan anak miskin kota, masih ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk membuat perubahan bagi anak-anak jalanan. Mereka yakin bahwa suatu saat nanti secercah harapan muncul dari raut wajah mereka yang kumal. Sebuah semangat hadir dari baju mereka yang sudah tidak jelas bentuknya. Mereka percaya di balik tatanan rambut yang tidak jelas dari anak-anak itu, di dalam hati anak-anak tertanam sebuah harapan yang cerah untuk menjalani hidup ini. Satoe Atap tidak sekedar mengajarkan baca tulis dan berhitung tetapi mereka mengajarkan sebuah harapan. Itulah salah satu potret kepedulian pemuda terhadap pendidikan dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk mengajar, mereka telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Meski gerakan mereka belum menjadi sebesar gerakan Indonesia Mengajar, namun tindakan mereka sudah sangat berarti, khususnya bagi anak jalanan di kota Semarang yang tidak beruntung seperti anak-anak lain yang mampu mengenyam pendidikan dengan fasilitas yang terpenuhi.

4 Responses to “KOMUNITAS SATOE ATAP (Sayang Itoe Asli Tanpa Pamrih)”

  1. PUTRI AYU Says:

    makasih kk informasinya ^.^ ternyata ada volunteer seperti itu di semarang. kalo mau daftar jadi vounteer gimana kak?

  2. ika fitrianingrum Says:

    Caranya mudah kak, kamu tinggal main aja kesana setiap hari Rabu sama Kamis sore.. Kalo hari Rabu di belakang hotel Horison, kalo hari kamis di jalan kelinci.

  3. Novita Windiarti Says:

    wah keren sekaliii, lanjut k kegiatan positif lainnya! 😀

  4. ika fitrianingrum Says:

    iya kakak 🙂

Leave a Reply