Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-nilai dan Etika Masyarakat Jawa

Ajaran-Filsafat-Kuno-Masyarakat-Jawa

Kebudayaan Jawa sangat identik dengan kraton Yogyakarta yang terkenal dengan tutur bahasanya yang halus dan santun. Dalam masyarakat Jawa, gambaran budaya yang halus dan penuh dengan tata krama telah digambarkan melalui sebuah tari-tarian. Sikap dan perilaku masyarakat seringkali mencerminkan nilai dan etika seseorang. Budaya kekerasan sering dianggap sebagai hal yang negatif dan bertentangan dengan nilai dan etika masyarakat Jawa, namun di sisi lain nilai budaya kekerasan memiliki dampak positif yaitu dapat menghormati jiwa para pahlawan dan meningkatkan rasa solidaritas antar kelompok. Budaya kekerasan juga diwariskan secara tradisi dan dari generasi ke generasi. Fenomena ini dapat kita lihat melalui dunia perwayangan dalam pertunjukan wayang yang ada disekitar kita.

Budaya alus dan budaya kasar dalam masyarakat Jawa diwujudkan dalam bahasa dan perilaku seseorang. Sejarah alus dan kasar ini ditandai dalam gerakan massa mewujudkan reformasi, yaitu dalam peristiwa 20 Mei 1998 yang penuh kekerasan, kebrutalan dan anarki yang dilakukan oleh massa maupun aparat negara. Watak alus identik dengan bangsawan dan priyayi, Sedangkan watak kasar identik dengan orang biasa, anak muda dan orang asing (orang pendatang). Potret masyarakat Jawa masa kini sudah hampir pudar, terutama pada kalangan kaum muda yang zaman sekarang anak muda “durung jawani” terutama dalam masyarakat kota. Bahkan saat ini nilai dan etika seseorang sudah beralih fungsi yang dulunya sebagai tanda bawasanya masyarakat jawa memiliki nilai kesopanan dan tata krama yang halus, namun sekarang nilai dan etika seseorang mencerminkan prestise kehidupannya seperti pada kalangan masyarakat priyayi.

2 Responses to “Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-nilai dan Etika Masyarakat Jawa”

  1. PUTRI AYU Says:

    sumbernya apa ya kak…

  2. Novita Windiarti Says:

    wah bagus, reviewnya langsung pada intinya

Leave a Reply