Tradisi Buwuh dan Mlandang

( Resiprositas sebanding dalam masyarakat Desa Jerukwangi )

PENDAHULUAN

Masyarakat desa identik dengan kekeluargannya yang sangat kental. Salah satunya dengan keanekaragaman tradisi yang dimiliki di setiap daerah berbeda-beda. Setiap daerah memiliki tradisi unik dan khas yang hanya dimiliki daerah tersebut. Seperti di masyarakat Desa Jerukwangi, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara memiliki tradisi Buwuh dan Tradisi Mlandang yang berbeda dari daerah lain. Tradisi ini hanya bisa kita temui saat ada acara hajatan saja. Terdapat kepercayaan akan bulan-bulan baik dalam mengadakan acara hajatan pada masyarakat Jerukwangi. Sehingga pada bulan-bulan tersebut warga desa Jerukwangi sudah mempersiapkan keuangan untuk menyumbang warga yang akan mengadakan acara hajatan. Dalam acara hajatan terjadi suatu mekanisme pertukaran (resiprositas) yang ditentukan oleh pihak yang mengadakan acara hajatan. Misalnya dalam bentuk uang, barang maupun dalam bentuk tenaga.

Selain tradisi Buwuh, di Desa Jerukwangi, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara ada juga memiliki tradisi lain yaitu tradisi Mlandang. Tradisi ini merupakan wujud kepedulian warga sekitar untuk bergotong royong membantu warganya yang sedang memiliki hajat. Mungkin di daerah lain juga ada tradisi Mlandang, namun namanya berbeda. Dari kedua tradisi ini, penulis tertarik untuk mengetahui secara detail mengenai Tradisi Buwuh dan Tradisi Mlandang yang ada di Desa Jerukwangi. Tradisi ini perlu dijaga dan dilestarikan agar peran masyarakat dalam bersosialisasi dengan tetangganya tetap terjaga dengan baik. Seperti kita ketahui sendiri, jaman sekarang sangat sulit kita temui masyarakat yang masih bergotong royong dalam melakukan hal sesuatu. Apalagi di daerah perkotaan sikap individualis sangat tinggi. Apa saja bisa mereka lakukan dengan uang. Sikap solidaritas antar individu di perkotaan sudah luntur. Untuk itu masyarakat pedesaan yang masih menjujunjung tinggi nilai tradisional perlu kita jadikan sebagai panutan. Terutama dalam hal tradisi yang dimiliki dari setiap daerah.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tradisi Buwuh

Tradisi Buwuh merupakan kegiatan menyumbang barang dalam hajatan yang bertujuan untuk membantu seseorang yang sedang memiliki beban menyelenggarakan hajatan. Dalam tradisi Buwuh, bantuan yang diberikan dianggap sebagai suatu kebaikan yang harus dibalas dengan kebaikan yang sama. Seseorang selalu berusaha memberikan, menerima, dan mengembalikan Buwuh sebagai upaya menjaga hubungan baik diantara pihak yang terlibat. Tradisi Buwuh bertujuan untuk mengetahui proses resiprositas yang terjadi dalam pelaksanaan tradisi Buwuh di Desa Jerukwangi.

Masyarakat Desa Jerukwangi selalu berusaha melakukan pertukaran pemberian Buwuh secara seimbang. Proses pencatatan Buwuh dalam acara hajatan dilakukan untuk meminimalisir adanya pertukaran pemberian Buwuh yang tidak seimbang. Pertukaran yang belum seimbang membuat orang yang belum mengembalikan Buwuh memiliki tanggungan (potangan) yang diartikan sebagai hutang yang harus dibayarkan. Tradisi Buwuh berperan dalam meringankan beban seseorang yang sedang menyelenggarakan hajatan, namun di sisi lain tradisi Buwuh juga bisa menambah kebutuhan hidup baru bagi para pelakunya yaitu kebutuhan untuk memberikan Buwuh dalam hajatan. Dalam proses perkembangannya, terdapat beberapa perubahan dalam tradisi Buwuh yaitu pergeseran makna memberikan Buwuh yang sekarang ini telah berisikan pamrih, perubahan bentuk barang yang diberikan sebagai Buwuh, serta semakin sempitnya lingkup seseorang dalam memberikan Buwuh.

Sebagai sebuah tradisi, Buwuh menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dengan masyarakat Desa Jerukwangi. Bagi masyarakat Desa Jerukwangi, tradisi Buwuh adalah suatu prosesi yang harus dijalankan dalam suatu upacara hajatan berlangsung. Berbagai ragam perilaku dilakukan sebagai bentuk budaya buwuh. Indikasi bahwa buwuh diadakan dalam suatu upacara hajatan dimulai ketika awal mula hingga akhir acara dilakukan. Mekanisme pertukaran (resiprositas) dalam hajatan ditentukan oleh pihak yang mengadakan acara hajatan. Terdapat kepercayaan akan bulan-bulan baik dalam mengadakan acara pernikahan pada masyarakat Jerukwangi. Sehingga pada bulan-bulan tersebut warga desa Jerukwangi sudah mempersiapkan keuangan untuk menyumbang warga yang akan mengadakan hajatan.

Proses tradisi Buwuh pada masyarakat Desa Jerukwangi Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara terdapat fenomena lain yang ternyata dapat dijelaskan kegunaan dan maknanya sebagai simbol tradisi seperti : kartu undangan, amplop, dan kendi yang sudah di modifikasi untuk tempat amplop (penyimpanan uang). Dalam proses sumbang menyumbang ini terdapat perbedaan nominal yg telah menjadi tradisi. Dalam tradisi Buwuh terjadi pembedaan buwuh kepada saudara, teman, teman dekat maupun sekedar kenalannya saja, hubungan relasi dalam bermasyarakat menentukan jumlah suatu nominal yang diberikan dalam suatu sumbangan yang diberikan dalam buwuh. Adanya relasi tetangga, teman dekat, ataupun keluarga menjadikan buwuh relatif lebih lentur. Bentuk sumbangan yang diberikan tidak hanya berupa uang namun dapat berupa barang keperluan dalam acara hajatan. Ditambah lagi dengan adanya jangka waktu dalam menyumbang dan mengembalikan sumbangan.

Wujud dalam simbol tradisi buwuh adalah kartu undangan buwuh. Undangan buwuh ini merupakan simbol bahwa seseorang meminta sumbangan. Kartu undangan buwuh berbeda dari kartu undangan kenduren. Setiap orang akan mendapatkan dua kartu undangan sekaligus yaitu kartu undangan buwuh dan kartu undangan kenduren. Kartu undangan buwuh merupakan satu bentuk kewajiban memberikan sumbangan yang dibentuk melalui kartu undangan buwuh itu sendiri. Dalam hal ini, kartu undangan adalah simbol tradisi yang menjadi identitas masyarakat Desa Jerukwangi. Keberadaan kartu undangan menjadi sangat krusial bagi masyarakat Desa Jerukwangi dan suatu mekanisme buwuh dalam pesta hajatan. Keberadaan undangan tergantung dari orang yang mengadakan acara hajatan. Tradisi Buwuh menjadi acara tersendiri dalam upacara hajatan. Di samping itu, kartu undangan yang diedarkan terdapat dua jenis yang pertama adalah kartu undangan kenduri atau kenduren dan yang kedua adalah kartu undangan buwuh.

Selain kartu undangan, salah satu simbol tradisi dalam tradisi buwuh adalah amplop. Amplop yang sebelumnya adalah sebagai tempat untuk mengirim surat, namun dalam tradisi buwuh, amplop dipakai sebagai tanda bahwa seseorang telah menyumbang. Dengan amplop tersebut seseorang memasukkan uang sumbanganya lalu memberikannya kepada tuan rumah yang mengadakan acara dengan dibubuhi nama sebagai tanda bahwa orang tersebut sudah menyumbang.

Tradisi Mlandang

Tradisi lain di Desa Jerukwangi juga ada tradisi Mlandang sebagai sebuah tradisi dimana hubungan kekeluargaan diantara mereka dapat terpelihara dengan kuat. Tradisi Mlandang ini kaitannya sangat erat dengan Tradisi Buwuh. Lebih dari itu, Mlandang juga merupakan wadah sosialisasi bagi orang yang melaksakannya serta menjadi tempat belajar dalam hal ini adalah belajar memasak. Tradisi Mlandang merupakan kesadaran sosial dalam bentuk bantuan terhadap orang lain agar bebannya menjadi lebih ringan. Selain itu juga bertujuan untuk bersosialisasi dan menjaga hubungan komunikasi di dalam masyarakat. Tradisi Mlandang dilaksanakan dengan menekankan pada kesadaran sosial. Mlandang merupakan sekumpulan orang-orang yang sukarela melibatkan dirinya untuk membantu seseorang untuk menuntaskan pekerjaannya dan tanpa dibayar. Sebelum acara hajatan dilaksanakan, penyelenggara hajat secara langsung mendatangi para tetangga dengan meminta mereka untuk datang sebagai pelandang dalam acara yang ia gelar.

Meski tidak mengharapkan imbalan, namun orang yang memiliki hajat tetap memberikan poden berupa imbalan bagi individu yang ikut serta dalam tradisi Mlandang tidak berupa uang, namun berupa makanan / jajanan yang lebih dari acara hajatan tersebut. Biasanya imbalan tersebut berupa beras, gula, dan jajanan sisa dari acara hajatan. Sifat imbalan ini tidak dibatasi dengan kesepakatan antara yang punya hajat dengan yang mlandang. Akan tetapi semuanya terserah yang punya hajat yang terpenting ikhlas dalam membantu, karena kegiatan ini tentunya akan bergilir ketika orang tersebut sedang memiliki hajat. Jadi tradisi Mlandang merupakan kegiatan sukarela yang melibatkan individu untuk membantu tetangga yang sedang mempunyai hajat yang bertujuan membantu meringankan pekerjaan tanpa mengharapkan pamrih.

Keterkaitan Tradisi Buwuh dan Tradisi Mlandang dengan Pendekatan Resiprositas Sebanding

            Dalam tradisi Buwuh kegiatan menyumbang barang dalam hajatan yang bertujuan untuk membantu seseorang yang sedang memiliki beban menyelenggarakan hajatan. Bantuan yang diberikan dianggap sebagai suatu kebaikan yang harus dibalas dengan kebaikan yang sama. Pertukaran yang belum seimbang membuat orang yang belum mengembalikan Buwuh memiliki tanggungan (potangan) yang diartikan sebagai hutang yang harus dibayarkan. Jadi orang yang mempunyai hajatan memiliki tanggungan (potangan/hutang) yang sama kepada orang yang menyumbang. Misalnya jika penyumbang tersebut menyumbang uang maka, ketika nanti yang nyumbang akan memiliki hajat maka orang yang mempunyai potangan mengembalikan sesuai dengan apa yang telah disumbangkan, dan Jika penyumbang memberikan sumbangan dalam bentuk uang, maka orang yang mempunyai potangan mengembalikan apa yang telah disumbangkan harus sesuai dengan yang telah diterima sebelumnya. Dari fenomena tersebut terjadi proses pertukaran (resiprositas sebanding) yang sesuai dengan apa yang telah orang lain sumbangkan kepada orang yang punya hajat.

Hampir sama dengan tradisi Buwuh, namun dalam tradisi Mlandang fokus utama lebih ke tenaga kerja. Tradisi mlandang ruang lingkupnya lebih ke orang-orang yang sukarela melibatkan dirinya untuk membantu seseorang untuk menuntaskan pekerjaannya dan tanpa dibayar. Kegiatan ini akan memutar dan bergantian ketika ada warganya yang sedang mempunyai hajat. Jadi ada suatu keputusan untuk melakukan kerjasama dan rasa kesetiakawanan sangat melekat dalam tradisi Mlandang. Pertukaran ini termasuk resiprositas sebanding tenaga kerja dibalas dengan tenaga kerja.

 

  1. PENUTUP

Makna tradisi buwuh membentuk suatu skema yang terbagi dalam dua bentuk simbol yakni simbol sosial dan simbol ekonomi. Pada simbol sosial terlihat bahwa Tradisi buwuh menjadi sarana bagi Desa Jerukwangi untuk bersosialisasi dan mempererat hubungan tali persaudaraan. Tradisi buwuh menciptakan kewajiban saling menyumbang, kewajiban timbal balik bantuan (resiprositas) dan secara terus menerus saling membantu hajat antar warga.

Pada simbol ekonomi buwuh secara tidak langsung merupakan asuransi / jaminan sosial bagi warga, tidak ada lagi rasa khawatir tidak mampu menggelar hajatan karena sudah ada kepastian bantuan dari para warga. Bahkan sebagian warga ada yang memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan dari hasil sumbangan para undangannya. Tradisi Buwuh dapat langgeng hingga saat ini karena memiliki nilai dan jaminan sosial bagi masyarakat. Timbul rasa rasa gotong royong dan persaudaraan yang semakin erat dari waktu ke waktu untuk membantu sesama warga dengan harapan suatu saat akan mendapatkan bantuan serupa disaat membutuhkan.

Dari Buwuh itu sendiri yang merupakan simbol dari tradisi masyarakat ketika ada acara hajatan, lalu undangan sebagai isyarat dan bawaan yang dipergunakan untuk Buwuh juga mempuyai simbol dan makna yang mendalam. Bawaan yang biasa disumbangkan tergantung dari apa yang sebelumnya orang lain berikan. Sehingga barang yang akan diberikan untuk membayar atau menaruh mempunyai simbol atau makna pertukaran (resiprositas) yang mana mempunyai nilai seimbang bagi masyarakat yang melaksanakan aktivitas buwuh.

Dalam Tradisi Mlandang, kesadaran sosial dalam bentuk bantuan pekerjaan terhadap orang lain agar bebannya menjadi lebih ringan. Selain itu juga bertujuan untuk bersosialisasi dan menjaga hubungan komunikasi di dalam masyarakat. Tradisi Mlandang dilaksanakan dengan menekankan pada kesadaran sosial dan tanpa dibayar. Di Desa Jerukwangi hubungan antara tradisi Buwuh dan Mlandang sangat melekat, kedua tradisi ini tidak dapat dipisahkan.

 

  1. Saran

Untuk Masyarakat Desa Jerukwangi Proses Tradisi Buwuh dan tradisi Mlandang yang telah berjalan bertahun-tahun patut untuk dipertahankan. Berbagai proses tradisi Buwuh dan Mlandang telah memunculkan simbol-simbol sarat akan makna gotong royong dan persaudaraan yang erat dalam kehidupan bermasyarakat. Telah terbukti bahwa proses tradisi buwuh dapat meningkatkan solidaritas warga Desa Jerukwangi. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam ajaran agama Islam ketika memberi tidak boleh berharap untuk mendapatkan pengembalian, sumbangan yang diberikan seharusnya bersifat ikhlas disertai keyakinan akan suatu balasan atas keihlasan bukan karena jumlah nominal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sairin Sjafri, Pujo Semedi, dan Bambang Hudayana. 2002, Pengantar Antropologi Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Poerwanto Hari. 2005, Kebudayaan dan Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

12 Responses to “Tradisi Buwuh dan Mlandang”

  1. Novita Windiarti Says:

    penulisan lokasi pada judul lebih spesifik ya Bu, karena sebelum baca isi teksnya pasti orang lirik judulnya dulu 😀 overall tampialnnya udah rapi hihi

  2. ika fitrianingrum Says:

    Makasi masukannya ya Bu..

  3. arif ponco putranto Says:

    Itu sebaiknya kata2 dibawah gudang sosiolohi dan antropologi bisa diganti, agar mencerminkan bahwa blog ini benar2 blog sosiologi dan antropologi

  4. ika fitrianingrum Says:

    Caranya gimana kakco?

  5. mrbayu Says:

    Kategori terlalu banyak, judul kecil masih template, perlu dimanfaatkan.

  6. ika fitrianingrum Says:

    Makasih masukannya Bapak.

  7. Vivin Asafirda Says:

    Ada sumber referensinya ngga kak?

  8. ika fitrianingrum Says:

    Ada kak. Makasi sarannya

  9. PUTRI AYU Says:

    makasih infonya kak..

  10. ika fitrianingrum Says:

    Samasama kak

  11. Novita Windiarti Says:

    judulnya kurang spesifik kak

  12. ika fitrianingrum Says:

    oke, nanti saya perbaiki

Leave a Reply