SS

Keragaman Budaya
Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang memiliki beragam budaya. Indonesia memiliki letak sangat strategis dan tanah yang subur dengan kekayaan alam melimpah ruah.. pengalaman masa lampau menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang sibuk dan menjadi salah satu urat nadi perekonomian yang ada di Asia Tenggara dan dunia yang menyebabkan banyak penduduk dari Negara lain datang ke Indonesia. Menurut Anthony Reid, Negara Indonesia merupakan negeri di bawah angin karena pentingnya posisi Indonesia di mata dunia.
Keadaan geografis yang strategis ini menyebabkan semua arus budaya asing bebas masuk ke Indonesia. Hamper semua budaya setiap etnis mulai Asia sampai Eropa ada di Indonesia. Budaya yang masuk itu memperkaya dan memengaruhi perkembangan budaya local yang ada secara turun-temurun. Perkembangan kebudayaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Lingkungan geografis induk bangsa, dan
b. Kontak antarbangsa
Indonesia telah memenuhi faktor tersebut sehingga kebudayaan yang ada beragam dan unik.
Ilmu Antropologi merupakan rumpun ilmu yang menjadikan berbagai cara hidup manusia dengan berbagai macam tindakannya sebagai objek penelitian dan analisis. Konsep budaya atau kebudayaan sering berbeda dibandingkan dengan disiplin ilmu lainnya. kadang-kadang pengertiannya hanya dibatasi pada sesuatu yang indah, seperti candi, tarian, seni, sastra, dan filsafat. Menurut Ilmu Antropologi, “Kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.”(Koentjaraningrat, 2009:144).
Kebudayaan tidak sama dengan peradaban, secara sederhana, peradaban dapat diartikan sebagai kebudayaan yang tertinggi. Misalnya, konsep yang dipakai untuk menjelaskan tentang kehidupan lembah sungai Nil disebut peradaban Lembah Sungai Nil, kemudian baru berbicara tentang kebudayaan. Peradaban juga digunakan untuk menggambarkan system teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan system kenegaraan serta masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Indonesia terletak di wilayah yang menghampar dari ujung utara Pulau Weh sampai ke bagian timur di Merauke. Selain itu Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan keragaman budaya yang dimilikinya. Konsep mengenai budaya local telah mengalami perkembangan. Pengertian lama budaya local sangat berkaitan dengan wilayah. Hal ini dapat dilihat dari 19 wilayah kebudayaan yang diajukan oleh Koentjaraningrat.
1. Aceh
2. (a.) Gayo, Alas, dan Batak, (b) Nias dan Batu
3. (a) Minangkabau, (b) Mentawai
4. (a) Sumatra Selatan, (b) Enggano
5. Melayu
6. Bangka dan Belitung
7. Kalimantan
8. Minahasa dan Sangir Taulud
9. Gorontalo
10. Toraja
11. Sulawesi selatan
12. Ternate
13. Ambon, Kepulauan barat daya
14. Irian
15. Timor
16. Bali dan Lombok
17. Jawa tengah dan Jawa Timur
18. Surakarta dan Yogyakarta
19. Jawa Barat
Budaya local dalam pengertian tersebut langsung dengan daerah. Seiring perkembangan zaman dan system social budaya, dewasa ini budaya local dimaknai sebagai pengetahuan bersama yang dimiliki sejumlah orang.
Pengertian budaya local tidak dapat dibedakan secara tegas. Mattulada sebagaimana dikutip Zulyani Hidayah, mengemukakan lima cirri pengelompokan suku bangsa dalam pengertian yang dapat disamakan dengan budaya local.
Pertama, adanya komunikasi melalui bahasa dan dialek di antara mereka. Kedua, pola-pola social kebudayaan yang menumbuhkan perilaku dinilai sebagai bagian dari kehidupan adat istiadat yang dihormati bersama. Ketiga, adanya perasaan keterkaitan antara satu suku dan yang lainnya sebagai suatu kelompok dan yang menimbulkan rasa kebersamaan diantara mereka. Keempat, adanya kecenderungan menggolongkan diri ke dalam kelompok asli, terutama ketika menghadapi kelompok lain pada berbagai kejadian social kebudayaan. Kelima, adanya perasaan keterkaitan dalam kelompok karena hubungan kekerabatan, genealogis, dan ikatan kesadaran territorial diantara mereka. Dengan adanya keberagaman budaya local, maka masyarakat yang ada didalamnya tentu memiliki bahasa dan dialek sendiri yang digunakan dalam interaksi sehari-hari.
Bahasa dan Dialek
Menurut KBBI, bahasa adalah system lambing bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yang digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat dalam berkomunikasi memiliki dua arti atau makna yang tersirat dalam bunyi bahasa. Setiap bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia belum dikategorikan sebagai bahasa apabila bunyi bahasa tersebut tidak memiliki makna tertentu di dalamnya. Oleh karena itu, setiap kelompok masyarakat pemakai suatu bahasa telah memiliki kesepakatan mengenai struktur bunyi ujaran tertentu yang memiliki arti tertentu. Dengan demikian dalam setiap kelompok masyarakat bahasa akan terhimpun bermacam-macam susunan bunyi berbeda dengan yang lain yang mengandung arti serta makna yang berbeda-beda. Selanjutnya, hasil proses pembentukan bunyi bahasa yang telah mengandung arti tertentu tersebut membentuk perbendaharaan kata dari suatu bahasa di dalam masyarakat pemakainya.
Fungsi bahasa sendiri sebagai alat komunikasi atau alat perhubungan antar anggota-anggota masyarakat yang diadakan dengan mempergunakan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Oleh karena itu, meskipun komunikasi antar anggota masyarakat dapat mengambil bentuk-bentuk lain, berupa isyarat , bunyi lonceng, peluit, dan terompet, akan tetapi berbagai macam alat komunikasi tersebut tidak dapat disebut sebagai bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang khusus dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan sarana berupa alat ucap manusia. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi yang paling efektif digunakan oleh berbagai anggota masyarakat.
Perkembangan bahasa suatu suku bangsa, terutama suku bangsa yang besar teridi atas beberapa juta pengujar senantiasa terjadi variasi-variasi karena adanya perbedaan daerah geografi atau karena adanya perbedaan lapisan dan lingkungan sosialnya. Misalnya, dalam bahasa Jawa, bahasa Jawa orang di Purwokerto , Tegal, Surakarta, atau Surabaya, masing-masing memiliki dialek yang berbeda. Perbedaan bahasa Jawa yang ditentukan oleh lapisan social dalam masyarakat Jawa juga sangat mencolok. Bahasa Jawa yang digunakan orang di daerah pedesaan jauh berbeda dengan bahasa yang dipakai dengan bahasa priyayi dan keduanyapun berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam keraton-keraton di Jawa Tengah. Perbedaan bahasa berdasarkan lapisan social dalam masyarakat bersangkutan disebut dengan tingkat social bahasa. Walaupun tidak seekstreem bahasa Jawa, namun perbedaan bahasa berdasarkan tingkat social sering terjadi. Oleh karena itu, terdapat perbedaan yang umum antara kelompok masyarakat bahasa satu dengan kelompok lainnya dalam bahasa suatu suku bangsa.
Perbedaan ragam bahasa dalam satu bahasa suatu suku banagsa tersebut disebut dialek. Dialek adalah variasi bahasa yang berbeda menurut pemakai bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok social tertentu atau kurun waktu tertentu. Dialek suatu daerah dapat diketahui berdasarkan tata bunyinya. Bahasa Indonesia yang diucapkan dalam dialek orang Tapanuli dapat dikenali karena tekanan katanya lebih jelas. Perbedaan ragam dialek tersebut berkaitan dengan bahasa ibu penutur bahasa. Oleh karena itu, dalam penggunaan bahasa terdapat perbedaan dialek seperti bajasa Jawa yang dipergunakan oleh orang-orang di Pekalongan dan Tegal berbeda dengan bahasa Jawa yang dipergunakan di Solo atau Yogyakarta.
Bahasa merupakan sarana yang sangat penting bagi manusia sebagai alat komunikasi dalam interaksi social. Kemajemukan bangsa Indonesia juga terjadi dalam beragamnya bahasa yang digunakan oleh kelompok-kelompok etnik tertentu. Sebagai landasan dalam melakukan interaksi secara universal di Indonesiaa maka ditetapkanlah bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi antar masyarakat (lingua Franca) sebagai bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Karena beragamnya bahasa yag dipakai di kelompok-kelompom etnik maka menghasilkan suatu dialek bahasa yang beragam pula. Dan beragamnya dialek bahasa ini dapat ditemui di beberapa komunitas dalam masyarakat.
Tradisi Lisan
Suatu masyarakat memiliki beberapa macam cara untuk mewariskan masa lalunya yang berupa kebiasaan, adat istiadat, dan sejarah kepada generasi penerusnya. Proses pewarisan kebudayaan tersebut dilakukan melalui bukti-bukti tertulis maupun penuturan secara lisan atau cerita dari generasi tua kepada generasi penerus. Proses kebiasaan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya yang dilakukan secara lisan disebut tradisi lisan.
Tradisi lisan merupakan salah satu jenis warisan kebudayaan masyarakat setempat yang proses pewarisannya dilakukan secara lisan. Tradisi lisan muncul dilingkungan kebudayaan lisan dari suatu masyarakat yang belum mengenal tulisan. Dalam tradisi lisan terkandung unsure-unsur kejadian sejarah, nilai-nilai moral, nilai-nilai keagamaan, adat istiadat, cerita-cerita khayalan, peribahasa, nyanyian, serta mantra-mantra suatu masyarakat.
Salah satu bagian dari upaya pelestarian budaya yang ada di masyarakat adalah melalui proses pewarisan budaya. Ketika masyarakat belum mengenal tulisan (prasejarah) maka proses pewarisan budaya dilakukan secara lisan dengan bahasa. Hal ini kemudian menghasilkan suatu budaya yaitu tradisi lisan walaupun ketika manusia telah mengenal tulisan proses pewarisan budaya ada sebagian yang belum dalam bentuk tulisan. Terdapat banyak perkembangan tradisi lisan di Indonesia, seperti cerita rakyat, bahasa rakyat, sajak, peribahasa rakyat, teka-teki rakyat, maupun nyanyian rakyat.
Tradisi lisan memiliki suatu pesan tersendiri bagi keberlangsungan kehidupan social budaya dalam kelompok masyarakat. Di dalam tradisi lisan mengandung unsure-unsur kejadian sejarah, nilai moral, cerita khayalan, peribahawa, nyanyian maupun mantra-mantra suatu masyarakat.

Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT Rineka Cipta
Siany L., dan Atiek Catur B. 2009. Khazanah Antropologi (jilid I untuk Kelas XI SMA dan MA). Jakarta: PT Wangsa Jatra Lestari
Sutardi, Tedi. 2007. Atropologi: Mengungkap Keragaman Budaya (untuk kelas XI SMA/MA). Bandung: PT. Setia Purna Inves
http://blog.unnes.ac.id/anisaauliaazmi/2015/12/11/keterkaitan-antara-keberagaman-budaya-bahasa-dialek-tradisi-lisan-dengan-kehidupan-masyarakat-dalam-suatu-daerah-materi-antropologi-kelas-xi-sma/ diunduh pada tanggal 15 Desember 2015