kajian etnografi

Upacara-Kunungan-Suku-Tengger-Jakarta-Bromo-Tour

Potret Harmoni Sosial Masyarakat Kaki Bromo

Masyarakat Adat Di Tengah Arus Globalisasi Turisme

Desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo

Selayang Pandang Objek Penelitian

Suku Tengger merupakan suku yang bertempat tinggal di kaki pegunungan Bromo. Pusat penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah di Desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo

Suku Tengger di Desa Ngadas masih kental dengan adat istiadat keagamaannya, karena mayoritas penduduk Suku Tengger di Desa Ngadas bergama Hindu. Walaupun banyak wisatwan yang datang namun, kekentalan adat dalam tubuh masyarakat masih sangat kental. Itulah yang membuat istimewanya Suku Tengger di Desa Ngadas.

Walaupun adat sangat mendominasi kehidupan masyarakat namun mereka tidak meninggalkan administrasi Desa sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terbukti dengan adanya Lembaga Pemerintahan yaitu Balai Desa.

Pertanian menjadi sektor mata pencaharian utama masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas. Hasil pertaniannya yaitu berupa kentang, sayur-sayuran seperti kol, daun bawang, … . dengan masuknya sektor wisata tidak lantas membuat masyarakat meninggalkan pertaniannya. Sektor wisata yang masuk dijadikan seconjob bagi masyarakat Desa Ngadas diantaranya yaitu menjadi supir Jeep, joki Kuda, ataupun penjual souvenir. Ditambah dengan penyewaan homestay.

Kehidupan suatu suku terus berkembang dan mengalami perubahan begitu pula dengan kehidupan masyarakat suku Tengger. Globalisasi merupakan salah satu faktor utama adanya perubahan pada masyarakat Tengger. Globalisasi masuk melalui sektor pariwisata yag dikembangkan di Kaki Pegunungan Bromo. Realitasnya banyak para wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata Bromo. Meskipun begitu masyarakat Tengger tetap melestarikan adat istiadat maupun ritual keagamaan sebagai mana yang diajarkan agama mereka. Adat istiadat dan ritual tersebut dilakukan bukan semata-semata untuk kepentingan wisata namun mempunyai nilai kesakaralan.

Kata Kunci : Suku Tengger,  Masyarakat Adat, Globalisasi

Pendahuluan

Latar Belakang

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang berarti universal (mendunia). Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk interaksi yang lain.

Dari Globalisasi memiliki banyak definisi, salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Lodge (1991), mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan. Dengan pengertian ini globalisasi dikatakan bahwa masyarakat dunia hidup dalam era dimana kehidupan mereka sangat ditentukan oleh proses-proses global.

Globalisasi telah memaksa masuk dalam kehidupan masyarakat suku Tengger melalui sektor  wisata. Hal tersebut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Tengger baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun budaya. Wujud realnya yaitu adanya paguyuban-pauyuban seperti paguyuban Jeep, Paguyuban Kuda, dan Paguyuban Souvenir. Adanya paguyuban tersebut karena masuknya kapitalisme dalam kehidupan masyarakat Tengger.

Tatkala arus dan dampak globalisasi menerpa semua bidang kehidupan, bukan saja sains, teknologi dan ekonomi, tetapi juga orientasi nilai budaya yang inovatif, karena konteks budaya dan sosial politik tidak terpisahkan dari sains, teknologi dan ekonomi. Globalisasi dan informasi secara komprehensif dapat dikemukakan sebagai pertemuan dan pergulatan kebudayaan.

Suatu kenyataan yang tidak dapat terpungiri terhadap arus globalisasi dan informasi ialah tak adanya satu masyarakat pun yang dapat menutup diri. Oleh karena iu masyarakat suku Tengger yang mempunyai kekhasan primordial, tetap memiliki sikap sebagai subjek yang bebas menentukan pilahnnya sendiri.

Ditengah ramainya kapitalisme  dalam sektor pariwisata masyarakat Tengger, mereka tetap mempertahankan adat istiadat dan ritual keagamaan yang mereka anut yaitu Agama Hindu. Adat istiadat tersebut masih berdiri kokoh seperti ritual upacara kasada, menaruh sesajen di sudut-sudut desa dan lainnya.

Dari penjelasan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengkaji Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kehidupan masyarakat Tengger melalui sektor pariwisata serta bagaimana masyarakat Tengger mempertahankan kesakralan adata istiadat yang mereka lakukan secara bertahun-tahun?

Sejarah Suku Tengger

Wong Tengger atau orang-orang pegunungan merupakan sebuah kelompok khusus karena mereka merupakan keturunan terakhir dari peradaban Majapahit pada akhir masa periodenya. Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.

Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasada.

Letak geografis daerah Tengger

Luas daerah Tengger kurang lebih 40km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m – 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif .Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam menulis artikel ini adalah metode observasi partisipasi dimana penulis langsung berkunjung pada objek penelitian untuk mencari informasi. Baik dengan wawancara maupun pengamatan.

Pembahasan

Pengaruh Globalisasi terhadap Mata Pencaharian Masyarakat

Masyarakat Desa Ngadas Kecammatan Sukapura Kabupaten Probolinggo mayoritas bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran. Hamparan lahan pertanian dapat di lihat di sepanjang jalan menuju Taman Nasional Bromo. Tanaman yang diproduksi mulai dari daun bawang, kentang, sledri, dan lainnya. Dahulu hanya para laki-laki yang bekerja di sektor pertanian dan perempuan hanya bekerja dirumah saja. Namun dengan semaikn majunya perdaban suku Tengger di Desa Ngadas kebutuhan mereka menjadi semakin bertambah karena naiknya tingkat konsumsi. Oleh karena itu para perempuan mulai membantu suami mereka untuk menambah pendapatan rumah tangga. Baik itu bekerja di sektor pertanian maupun membuka usaha dengan membuka warung-warung di depan rumahnya.

Dengan letaknya yang strategis dilewati para wisatawan yang berkunjung ke Bromo Desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu desa wisata yang ada di sekitar Taman Nasional Gunung Bromo. Peluang terebut di manfaatkan oleh masyarakat Desa Ngadas untuk lapangan pekerjaan yang baru ( second job ) setelah mata pencaharian utama sebagai petani. Mata pencaharian yang baru yaitu sebagai supir jeep untuk penyedia transportasi menuju ke Bromo, penjual souvenir, dan joki kuda. Masyarakat Desa Ngadas juga menyediakan banyak homestay dan peyewaan mobil jeep untuk melayani wisata. Masyarakat Desa Ngadas bekerja dari mulai jam 4 pagi hingga sore hari. Suasana desa Ngadas menjadi sangat sepi ketika para warganya sedang bertani di ladanganya. Maupun sedang bekerja di sektor wisata. Begitu pula dengan anak-anak tak banyak dijumpai ketika siang karena mereka juga membantu orang tua mereka baik di ladang maupun di menjajakan souvenir di tempat wisata.

Sektor pariwisata sangat membantu perekonomian masyarakat desa Ngadas karena di sektor pertanian masyarakat melakukan penanaman dan dua kali panen dalam waktu enam bulan. Bulan selanjutnya dimanfaatkan warga untuk fokus pada sektor wisata.

Interaksi masyarakat terjadi ketika malam hari datang setelah mereka selesai bekerja. Berbagai perkumpulan maupun rapat-rapat desa juga dilaksanakan pada malam hari. Walaupun pengaruh kapitalisme sudah masuk dalam Desa Ngadas namun rasa kekeluargaan di masing-masing individunya masih kental.

Masyarakat adat dalam Globalisasi

Letaknya yang dekat dengan objek wisata membuat suku Tengger yang ada di desa Ngadas tidak lagi masyarakat yang tradisional. Banyaknya kebudayaan yang masuk di wilayah Desa Ngadas yang dibawa oleh para wisatawan membuat adanya difusi kebudayaan. Bangunan – bangunan rumah di desa Ngadas sudah didominasi bangunan dengan tembok bata dan lantai keramik. Meskipun begitu masyarakat Desa Ngadas yang mayoritas bergama Hindu masih kental dengan ritual keagamaan dan adat istiadatnya. Berbagai upacara dilakukan sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan seperti upacara Kasada, Upacara Karo, Upacara Kawulu, dan lainnya. Disana banyak ditemukan sesajen yang ditutup dengan kain kuning di pojok desa.  Masyarakat desa Ngadas bisa disebut juga masyarakat adat.

Dalam ungkapan Hans Daeng “ Tempora mutatur et nos Mutamur lllis” ( waktu terus berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. Itulah makna kehidupan dalam berbudaya. Dengan kebudayaan tampaknya hidup menjadi lebih bermakna dan manusia menjadi lebih arif.

Perubahan sebagai akibat dari adanya globalisasi merupakan suatu yang konstan yang justru memperlihatkan suatu proses yang dinamis dalam kehidupan masyarakat. Bahwa manusia adalah animal historicum  yang menyimpan historisitasnya sendiri. Tantangn globalisasi yang dilihat sebagai setting historis penting yang membutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Pemaknaan yang sesungguhnya bersifat historis yang menyebabkan pembentukan kesadaran dan pengetahuan kebudayaan yang terjadi merupakan serangkaian interaksi antara manusia dan lingkungan.

Adat istiadat masyarakat Desa Ngadas sangat dipengaruhi oleh kekuatan Agama mereka. Karena kebudayaan masyarakat pada dasarnya bersuber dari Agama yang mereka anut. Sebagaimana dikatan oleh Berger keyakinan religious membentuk masyarakat yang kognitif, memberi agama kemungkinan menjadi pedoman pemberi arah duntuk pola tingkah laku dan corak sosial.

Masyarakat Desa Ngadas masihtetap melestarikan salam khasnya yaitu hong ulun basuki langgeng. Salam tersebut diucapkan dalam acara penerimaan tamu maupun dalam rapat-rapat desa.

Tokoh adat atau tokoh agama dalam agama Hindu adalah dukun Pandhita dimana dalam proses pegangkatannya terdapat upacara yang disebut mulunen. Upacara tersebut dilakukan karena pengangkatan dukun pandhita tidak dilakukan secara turun temurun tetapi melalui beberapa proses. Selain dukun pandhita ada dua dukun lain yaitu dukun sepuh dan dukun legen yang tugasnya membantu tugas menyiapkan sesaji ketika akan melaksanakan upacara ritual.

Dalam proses pendewasaan seorang anak laki-laki ada pula ritual yaitu sunat sama halnya dengan agama Islam. Namun sunat dalam agama Hindu Desa Ngadas terdapat ritual-ritual tertentu dalam proses sunatan. Remaja terlebih dahulu di sunat oleh dukun sunat selanjutnya dibawa ke dokter.

Dalam masyaraakat Tengger selain Hari Raya Nyepi ada pula Hari Raya Karo dimana dalam perayaan tersebut digunakan masyarakat Hindu di Desa Ngadas untuk melakukan silaturrahim terhadap masyarakat muslim di desa sebelahnya yaitu desa Wonokerto.

Pengetahuan tentang adat didapat secara turun temurun dari orang tua mereka. Semua warga desa Ngadas turut aktif dalam berbagai ritual keagamaan baik dari kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua.

Dengan adanya sektor wisata ini tidak mengganggu kesakaralan berbagai ritual dan adat istidat yang dilakukan oleh masyarakat Desa Ngadas. Upacara Kasada menarik wisatawan untuk mengunjungi Taman Nasional Bromo karena upacara kasada dilaksanakan di Pura yang bertempat di Lautan Pasir di kakin gunung Bromo.

Baju Adat Tengger Hitam, sehelai kain baju tanpa jahitan,Udeng dan kain Selempang berwarna kuning. Hal ini sesuai dengan yang diperoleh sebagai warisan dari nenek moyang Suku Tengger. Untuk menghalau cuaca yang dingin masyarakat Tengger selalu mengalungkan sarung pada leher mereka. Baik itu laki-laki maupun perempuan.

Upacara adat yang dilakukan masyarakat Tengger Desa Ngadas

  1. Pujan Karo (Bulan Karo)

Hari raya terbesar masyarakat Tengger adalah upacara karo atau hari raya karo diawali tanggal 15 kalender saka Tengger. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru, kadang pula membeli pakain hingga 2-5 pasang, perabotan pun juga baru. Makanan dan minuman pun juga melimpah pada adat ini masyarakat suku tengger juga melakukan anjang sana (silaturrahmi) kepada semua sanak saudara, tetangga semua masyarakat Tengger. Uniknya tiap kali berkunjung harus menikamati hidangan yang diberikan oleh tuan rumah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo ini adalah: mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal-usul manusia, untuk kembali pada kesucian, dan untuk memusnahkan angkara murka.

  1. Pujan Kapat (Bulan Keempat)

Upacara kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin yang dilakukan bersama- sama disetiap desa (rumah kepala desa) yang dihadiri para pini sepuh desa, dukun, dan ,masyarakat desa.

  1. Pujan Kapitu (Bulan Tujuh)

Pujan kapitu (bulan tujuh), semua pini sepuh desa dan keharusan pandita dukun melakukan tapa brata dalam arti diawali dengan pati geni (nyepi) satu hari satu malam, tidak makan dan tidak tidur. Selanjutnya diisi dengan puasa mutih (tidak boleh makan makanan yang enak), biasanya hanya makan nasi jagung dan daun – daunan selama satu bulan penuh. Setelah selesai ditutup satu hari dengan pati geni. Pada bulan kapitu ini masyarakat suku tengger tidak diperbolehkan mempunyai hajat.

  1. Pujan Kawolu

Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tanggal 1 tahun saka. Pujan kawolu sebagai penutipan megeng. M,asyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamtan bymi,air, api, angina, matahari, bulan dan bintang. Pujan kawolu dilakukan bersama dirumah kepala desa.

  1. Pujan Kasangan

Upacara ini jatuh pada bulan kesembilan (sanga) tanggal 24 setelah purnama tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kenyongan dan membawa obpr. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke kepal desa, untuk dimantrai oleh pendeta, selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan mengadakan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat tengger. Masyarakat bersama anak – anak keliling desa membawa alat kesenian dan obor.

  1. Kasada (Bulan Dua Belas)

Upacara kasada dilaksanakan tnggal 14 dan 15 dilakukan di ponten pure luhur, semua masyarakat tengger berkumpul menjelang pagi. Tidak hanya masyarakat Tengger yang beragama Hindu saja, tetapi semua masyarakat Tengger yang beragama lainnya. Setelah upacara, melabuhkan sesaji berupa hasil bumi yang sudah dimantrai dukun kekawah gunung Bromo. Tidak hanya upacara saja tetapi juaga bermusyawarah dan bersilaturrahmi dengan dukun dan masyarakat Tengger. Upacara dilaksanakan pada saat purnama bulan kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini juga disebut dengan hari Raya Kurba. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya kasada, diadakan berbagai tontonan seperti: tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari masing-masing desa, serta masyarakat tengger mendaki gunung Bromo untuk melempar kurban (sesaji) ke kawah gunung bromo. Setelah pendeta melempar ongkeknya (tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.

  1. Upacara Unan-unan

Upacara ini di adakan hanya tiap lima tahun sekali. Unan-unan adalah tahun panjang (seperti tahun kabisat) melakukan upacara ngurawat jagat, mensucikan hal-hal yang tidak baik dengan mengorbankan kerbau. Unan yaitu menagrungi bulan. Tujuan unan-unan yaitu untuk mengadaksn penghormatan terhadap roh leluhur. Dalam acara ini selalu diadakan acara penyembelihan binatang ternak yaitu kerbau. Kepala kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak kesanggar pamujan.

  1. Upacara yang dilakukan secara individu:
  2. Upacara tujuh bulanan (sayut) dipimpin oleh pandita dukun.
  3. Upacara indungi anak, anak yang menginjak masa remaja.
  4. Upacara Tugel Gombak (laki-laki) dan Tugel Kuncung (perempuan), memotong sedikit rambut sekitar pusar rambut anak-anak yang menginjak usia 5 tahun.
  5. Upacara Ngruwat, jika ada saudara 2 laki-laki atau salah satu anak laki-laki dan perempuan atau anak tunggal.
  6. Upacara Kawiahan (kawin), upacara ini sama halnya dengan ijab Kabul.
  7. Upacara Wala gara (Temu Manten).
  8. Upacara Mendirikan Rumah.
  9. Upacara Kematian, minimal 4 hari setelah meningggal dilakukan upacara untas-untas (roh orang meningggal diharapkan kembali pada pemiliknya).
  10. pacara Entas – Entas

Yakni upacara kematian yang terakhir kali dan perkawinan. “Waktu sekarang ini merupakan hari-hari baik bagi masyarakat Tengger untuk melaksanakan entas-entas dan perkawinan. Upacara entas-entas oleh masyarakat Tengger seperti halnya upacara pembakaran mayat (Ngaben) di Bali. Bedanya, di masyarakat Tengger yang dibakar adalah boneka dari yang meninggal dunia.

Walaupun dengan kondisi yang serba modern karena globalisasi masyarakat suku Tengger Desa Ngadas tetap menjunjung tinggi adat dan istiadatnya.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan analisis yang dilakukan oleh penulis dapat disimpulkan bahwa masyarakat Tengger masih kental dengan adat istiadatnya. Derasnya arus globalisasi dalam hal ini yang paling utama adalah sektor ekonomi tidak membuat warganya begitu saja berorientasi kapital mereka tetap menjalankan aktivitas dan adat istiadat keagamaan yang biasa mereka lakukan.

Dalam ungkapan Hans Daeng “ Tempora mutatur et nos Mutamur lllis” ( waktu terus berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. Itulah makna kehidupan dalam berbudaya. Dengan kebudayaan tampaknya hidup menjadi lebih bermakna dan manusia menjadi lebih arif.

Perubahan sebagai akibat dari adanya globalisasi merupakan suatu yang konstan yang justru memperlihatkan suatu proses yang dinamis dalam kehidupan masyarakat. Bahwa manusia adalah animal historicum  yang menyimpan historisitasnya sendiri. Tantangn globalisasi eah dilihat sebagai setting historis penting yang membutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Pemaknaan yang sesungguhnya bersifat historis yang menyebabkan pembentukan kesadaran dan pengetahuan kebudayaan yang terjadi merupakan serangkaian interaksi antara manusia dan lingkungan.

Semua lapisan masyarakat senantiasa berkontribusi dalam setiap upacara perayaan bai itu remaja, anak-anak, maupun orang tua dengan berpakaian adat yang sudah diwariskan nenek moyang mereka.

Dengan aadanya sektor wisata dirasa membantu masyarakat Desa Tengger dalam upaya memenuhi kesejahteraan hidup mereka.

Saran

Berdasarkan pembahasan diatas adalah agar pemerintah bersama-sama warga berusaha untuk tetap melestarikan adat istiadat yang ada dalam masyarakat Tengger. Kerifan lokal masyarakat Tengger merupakan salah satu aset yang harus dipertahankan dam proses pengglobalan dimana tidak ada batas akan informasi dan komunikasi di Negara seluruh dunia.

Daftar Pustaka

Poole, Ross.1993.Moralitas dan Modernitas.Yogyakarta:KANISIUS

Daeng, J.Hans. 2008.Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR

http://d16do.blogdetik.com/about-suku-tengger/

http://redendonk.blogspot.com/2012/10/kebudayaan-suku-tengger.html

http://jurnalistik-fakta.blogspot.com/2010/12/kebudayaan-tengger.html

6 comments

Skip to comment form

  1. Sangat menarik sekali,,,, cuman ukran gambarnya terlalu besar, jadinya kalau ndak di klik read more nya cuman kelihatan gambarnya…. 🙂

    1. Oke novi, terimaksih sarannya

  2. sangat bermanfaat lat, menarik juga kerapihan tulisan juga bagus…

    1. terima kasih anis, semoga kita bisa saling berbagi

  3. semanagt menulis,,,

    1. terima kasih anis

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: