Resiprositas Di Desa Keturen

“Mantu Poci”

Mantu Poci sendiri yaitu sebuah hajatan pernikahan yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Desa Keturen dan juga desa-desa yang ada di sekitarnya seperti desa Sidakaton, Sidapurna, maupun Dukuhturi. Desa tersebut terletak di Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal, yaitu sebuah kota yang terkenal dengan wartegnya.

Awal mula Mantu Poci yaitu dahulu terdapat sepasang calon pengantin yang berbuat nekat kabur dari desa Keturen karena tidak mau dijodohkan oleh kedua orang tuanya, karena mempunyai alasan tersendiri. Sehingga acara pernikahan yang tinggal tiga hari lagi menjadi gagal total dan berantakan.

Dalam kegagalan pernikahan tersebut, ada seorang warga Keturen yang memberikan usul untuk menempuh perkawinan poci sebagai pengganti calon pengantin yang telah kabur. Usulan tersebut ternyata disambut dengan suka cita, baik oleh pihak perempuan maupun dari pihak laki-laki.

Itulah tutur cerita Pernikahan Poci atau Mantu Poci yang terdapat di Keturen, dan tradisi tersebut pada akirnya mulai menyebar ke desa-desa tetangga seperti desa Sidakaton, Sidapurna, dan Dukuhturi. Tradisi Mantu Poci pada awalnya dimaksudkan untuk meredam rasa malu karena calon pengantinnya yang kabur. Dalam perkembangannya sendiri, tradisi tersebut dimanfaatkan sebagai hajatan alternatif bagi pasangan keluarga yang tidak mempunyai anak agar sumbangannya kembali.

Tatacara yang berlaku dalam hajatan Mantu Poci hakekatnya sama seperti pernikahan pada umumnya. Perbedaannya mempelai pria dan wanita digantikan dengan Poci. Untuk membedakan mana mempelai pria dan wanita, orang bisa melihat dari besar dan kecilnya poci yang dipajang di singgasana pengantin. Poci yang besar biasanya merupakan simbol dari mempelai pria, sedangkan yang kecil merupakan simbol dari mempelai wanita. Poci yang merupakan simbol pengantin itu, terbuat dari tanah liat, berbentu teko, dan fungsi sebenarnya sebagai penyeduh teh.

Pada acara mantu poci tamu undangan wajib mendoakan sepasang suami istri yang menggelar mantu poci agar dapat segera diberi keturunan karena tujuan utama diselenggarakannya mantu poci adalah agar penyelenggara mantu poci merasa seperti sepasang orangtua yang sudah berhasil merawat dan membesarkan putra putri mereka kemudian dilepas dengan hajat pesta besar.

Tatacara dalam kondangan (menghadiri acara pernikahan) disini dikenal dengan tradisi “Buka Sumbangan” di depan umum. Tradisi itu dituturkan bukan semata-mata untuk melecehkan para penyumbang, melainkan sekedar mengetahui seberapa besar sumbangan yang harus dikembalikan pada saat diundang para penyumbang dalam hajatan pengantin atau sunatan.

Sebelum Poci digunakan sebagai kotak sumbangan, Poci diberi rangkaian hiasan dari bunga melati dan diarak keliling Desa. Baru kemudian diletakan di atas kursi yang telah dihias dan diapit oleh kedua orang tua atau yang punya hajat. Acara ini biasanya digelar selama tiga hari berturut-turut. Sebelum acara ini dilegar, pemilik hajat jauh-jauh hari sudah mendata jumlah titipan sumbangan yang pernah diberikan kepada orang yang punya hajatan. Jadi dalam kepercayaan masyarakat apabila diundang tidak hadir dan tidak mengembalikan sumbangan, maka akan mendapatkan sangsi moral.

Kini tradisi Mantu Poci dan buka sumbangan masih terus berlangsung, ada juga yang mereda dengan sendirinya. Salah satu repertoar yang diusung oleh Dewan Kesenian kota Tegal di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah tahun 2003 adalah mementaskan drama berjudul Kang Daroji Mantu Poci, dikemas secara komedi.

Poci sendiri yaitu ciri khas dari pada kota tegal, terdapat sebuah poci yang berukuran cukup besar. Dalam tradisi Mantu Poci, masyarakat Tegal khususnya di Desa Keturen sangat menjaga dan melestarikan tradisi tersebut sampai saat ini. Hajatan yang ada di Desa Keturen membuka yang namanya sumbangan, apabila ada salah satu warga yang mengadakan hajatan seperti nikahan maupun sunatan maka warga yang lain tidak segan-segan untuk menyumbang baik dalam bentuk uang. beras, telur, mie sayur, bumbu masakan. Dan masih banyak lagi.

Sumbangan tersebut dimaksudkan agar terdapat yang namnya timbal-balik antar warga yang satu dengan warga yang lainnya, dan biasanya sumbangan yang diberikan oleh orang lain akan dicatat oleh keluarga yang memiliki hajat tersebut agar nantinya bisa memberikan sumbangan yang serupa dengan apa yang sudah orang lain berikan kepada dirinya.

Di desa Keturen juga terdapat yang namanya senoman atau sering dikenal dengan sebutan sinoman pada hajatan warga. Di desa saya masih terdapat senoman tadi, apabila ada salah satu warga yang mengadakan hajatan entah itu prnikahan maupun sunatan maka tetangga yang ada disekitar rumah yang hajatan tersebut ikut membantu memasak, membuat jajanan yang nantinya akan disajikan pada hajatan pernikahan atau sunatan tersebut.

Kebanyakan yang ikut senoman tersebut kaum wanita, karena dalam hajatan tersebut kaum wanita lebih bisa dan sudah terbiasa dalam membuat jajanan maupun memasak. Entah itu membuat jajanan lapis, bongko, kipas-kipas, rempeyek, dan masih banyak lagi.

Mereka yang ikut senoman tidak mengharapkan mendapat uang atau bayaran setelah ikut membantu yang punya hajat tersebut, tetapi yang mereka harapkan yaitu agar nantinya warga yang dibantu tersebut bisa membantu tetangga yang mengadakan hajatan. Dalam artian mengharapkan timbal-balik antara wrga yang satu dengan warga yang lainnya.

Saya sendiri juga pernah ikut senoman di rumah tetangga saya yang mengadakan hajatan pernikahan, saya ikut membuat jajanan bongko dan ikut membuat wedang atau membuat teh untuk para tamu undangan yang hadir pada acara pernikahan tersebut.

Selain itu juga ada warga yang senoman tetapi dibayar dengan uang, yaitu biasanya seseorang yang telah dipercaya oleh keluarga yang mengadakan hajatan tersebut untuk memasak semua makanan yang nantinyaakan disajikan dihajatan tersebut. Seperti memasak ayam, ikan, kentang, tempe, sayur, dodol, dan masih banyak lagi.

Biasanya berjumlah tiga orang, yaitu dua wanita dan satu pria. Dua wanita tersebut bagiannya memasak ayam. Ikan, sayur, kentang, tempe, dan masih bnyak lagi. Sedangkan yang pria biasanya memasak air dalam wadah besar dan juga membuat dodol. Yang biasa senoman di desa saya tersebut yaitu ibu ratinah, ibu siti, dan bapak rasmad.

Mereka senoman selama tiga hari tiga malam, dan setelah hajtan selesai langsung dibayar masing-masing dari mereka mendapat Rp 200.000,- dan biasanya sudah ada perjanjian dengan yang mengadakan hajatan pernikahan maupun sunatan tersebut.

Tradisi senoman tersebut masih dilaksanakan sampai saat ini di desa saya yaitu desa Keturen, baik senoman yang berharap mendapatkan imbalan timbal-balik maupun  senoman yang dibayar dengan menggunakan uang.

Senoman tersebut juga sebagai alat untuk mempererat dan menjalin hubungan baik antara warga yang satu dengan warga yang lainnya yang ada di desa Keturen. Dengan adanya senoman tersebut, tetangga yang satu dengan yang lainnya bisa saling kenal dan menjadi akrab.

Saya sejak kecil hidup di desa Keturen, sehingga saya mengenal tradisi-tradisi yang ada di desa saya salah satunya yaitu tradisi senoman yang sudah dijelaskan di atas.

Masyarakat keturen sangat ramah dan jarang sekali yang namanya terjadi konflik antara warga yang satu dengan warga yang lainnya. Saling membantu dengan sesama, dan mengedepakan kebersamaan jiwa sosial yang tinggi.

Tidak seperti di kota, dengan tetangganya sendiri tidak saling kenal dan akrab. Bahkan sampai sekarang hal tersebut masih ada, karena sifat masyarakat kota yang terkenal individualis dan masa bodoh.

Berbeda halnya dengan masyarakat desa, masih menjunjung tinggi nilai gotong-royong, silaturrahmi, dan menjalin keakraban. Sehingga apabila terdapat masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa bisa mudah dan cepat untuk diselesaikan, karena diselesaikan secara bersama-sama antara warga yang satu dengan warga yang lainnya.

Nilai yang ada di desa tersebut seperti menjunjung nilai gotong-royong, silaturrahmi, dan menjalin keakraban juga masih dilestarikan di desa saya yaitu desa keturen.

Setiap dua minggu sekali masyarakat Keturen melaksanakan gotong-royong atau kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekitar desa Keturen, dengan adanya kegiatan tersebut warga bisa saling kenal dan akrab dengan warga yang lainnya.

Masyarakat keturen dengan tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi gotong-royong,menjunjung tali silaturrahmi antara satu dengan yang lainnya, dan menjalin keakraban sehingga jarang sekali terjadi yang namanya musuhan atau konflik antar warga. Sangat santun dan tidak sungkan untuk membantu masyarakat lain yang sedang mengalami kesusahan. Baik dalam hal materi maupun non materi.

12 comments

Lompat ke formulir komentar

  1. Nama NIM Rombel Makul mengurangi kerapian dan estetika tampilan artikel. Buat saja di bawah sebagai catatan kaki.

    1. oh iya terima kasih Bapak,

  2. Like.. 🙂

    1. like too bang hendro..

  3. bagus sekali, menceritakan kebudayaan lokal.

    1. iyah terimakasih kawan..

  4. like 😀

    1. like too

  5. sangat membantu

    1. iyah pastinya

  6. wah saya di slawi juga ada kak… di tegal juga 😀

    1. kan slawi bagian dari kota Tegal

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Lewat ke baris perkakas