Lewat ke baris perkakas

penelitian di Tambak Mulyo

LAPORAN OBSERVASI

KEHIDUPAN MASYARAKAT NELAYAN TAMBAK MULYO

 

Narasumber : Ibu Ngatinem RT 1/RW 14

Pekerjaannya jualan makanan kecil dan punya warung sendiri, suami dari ibu Ngatinem adalah seorang nelayan. Informasi yang saya dapet dari ibu tersebut yaitu penduduk di daerah itu mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, banyak juga yang bekerja di pabrik-pabrik sekitar tanjung mas. Untuk pendidikan yang terdekat baru ada SD/MI islam, sedang kan SMP dan SMA sudah keluar dari dusun tambak mulyo tepatnya di Sultan Agung. Rumah penduduk sangat sederhana, kecuali rumah para juragan kapal yang bagus dan bangunannya juga baru.

Acara adat yang ada yaitu berkah laut/sedekah laut satu tahun sekali,yaitu sebelum bulan suro. Warga sekitar biasanya mempersembahkan kepala sapi, buah, nasi kuning, dan mengadakan hiburan seperti dandut dan pertunjukan wayang. Mereka mempercayai apabila berkah laut/sedekah laut tidak dilaksanakan maka akan terjadi banyak bencana. Acara tersebut dipimpin oleh Bapak lurah dan didiiringi dayang-dayang. Kebanyakan anak-anak mereka tidak ada dan malas mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan karena belum berpengalaman dan malah banyak yang merantau ke Malaysia

Perikanan ikan asin,orang tua (bakulan), ikan teri, udang, cumi, tongkol, ada yang dijual di pasar da nada juga dilelang di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Banyak penduduk sekitar yang sudah memiliki kapal-kapal kecil, usaha yang ada di daerah tersebut diantaranya yaitu nyuci motor, warung kecil, warnet, counter dll. kebanyakan pendidikan SMA dan yang kuliah bagi yang mampu saja. Tidak ada kegiatan untuk membersihkan lingkungan bersama, lebih cenderung perseorangan di rumah masing-masing.

Penghasilan yang didapat tergantung dari cuaca laut, apabila cuacanya sedang bersahabat maka penghasilan dari melaut juga banyak. Sedangkan apabila cuaca kurang bersahabat maka banyak nelayan yang tidak pergi untuk melaut. Mereka menganggur, dan istri-istri mereka hanya berjualan di warung. Banyak penduduk yang sukses menjadi nelayan dan bisa menyekolahkan anak-anaknya sehingga tidak harus menjadi nelayan seperti orang tuanya. Kapal yang mereka miliki tidak untuk disewakn melainkan dipakai sendiri.

Narasumber : Ibu Suratmi RT 15/RW 14

Ikan ger, penduduk ada yang menjual ikan yang dikeringkan. Satu kilonya di jual seharga Rp 80.000,- anak dari Ibu Suratmi hanya sekolah sampai kelas 3 SD saja dan sekarang bekerja sebagai nelayan ikut orang. Pekerjaan Ibu tersebut yaitu sebagai penjual ikan kering dan menjemurnya sendiri disekitar tempat tinggalnya.

Narasumber : Ibu Rosihah RT 15/RW 14

Istri dari seorang nelayan, tetapi suaminya sudah dua tahun ini meninggal karena sakit. Saat ini Ibu Rosihah tinggal bersama anak, menantu, dan cucunya. Yang menggantikan pekerjaan suaminya sebagai nelayan yaitu menantunya atau suami dari anak Ibu Rosihah sendiri, terdapat perkumpulan ibu-ibu PKK, Arisan, dan peminjaman modal. Kata Ibunya, di daerah tersebut mendapatkan beberapa bantuan yang disalurkan melalui ketua perkumpulan tersebut, tetapi banyak warga yang kurang mampu justru tidak mendapatkan bantuan tersebut.

Ketua PKK nya bernama Ibu Warwati, setiap hari minggu mengadakan senam pagi dan juga arisan. Ketua RW nya bernama Bapak Bono, beliau juga sebagai ketua Taran Taruna, Ibu-ibu di daerah tersebut banyak yang jualan eker-eker atau jualan ikan secara seadanya.

Narasumber : Bapak Ngatimono dan Nur Khasan RT 15/RW 14

Bekerja khusus untuk memperbaiki kapal-kapal nelayan yang rusak di sekitar dusun tambak mulyo, bantuan dari pemerintah bertahap tiap-tiap kelompok yang ada. Yang sudah mendapatkan bantuan tersebut sekitar 20-25 kelompok. Terdapat permainan dana, sudah dua tahun ini belum lancer, 100 juta 13 orang. Setiap bulan januari sampai bulan maret musim ikan. Untuk perbaikan kapal bisa mencapai 3-6 juta, penduduk sekitar 99% beragama islam, dana berkah laut/sedekah laut tiap KK iuran Rp 6.000,- dana 6-9 juta. Walikota mendanai tanggapan-tanggapan pada acara berkah laut tersebut seperti pertunjukan wayang, lurah di dusun tambak mulyo hanya memfasilitasi masyarakatnya. Tetapi pada kenyataannya lurah tersebut kurang dan jarang menemui warga-warganya, sehingga hubungan antara warga dengan lurahnya kurang bejalan dengan harmonis.

Narasumber : Rameni Ajang RT 9/RW 14

Pendidikan tidak terlalu dipentingkan, uang dari melaut digunakan untuk membangun rumah yang terkena air laut pasang dan banjir. Mereka membangun dengan uang dari hasil kerja keras mereka sendiri, karena dari pemerintah tidak memberikan bantuan sama sekali. Makmur Jaya, Maju Makmur, Posyandu, Puskesmas (fasilitas kesehatan).

Narasumber : Bapak Ahmad Marwan

Bapak Marwan sendiri bekerja sebagai guru kelas di SD Islam yang ada di dusun tersebut, berasal dari Semarang. Kepala sekolah SD tersebut bernama Bapak Drs. Soekiman, terdapat beberapa kegiatan yang ada, salah satunya yaitu rebana semarangan, dan juga setiap bulan muharrom mengadakan pentas seni yang dimainkan oleh siswa-siswi SD Islam sendiri.

Narasumber : Bapak Munain RT 4/RW 14

Bekerja sebagai nelayan (rajungan, udang, ikan), sekarang-sekarang ini rajungan. Umur 52 tahun, memiliki 5 anak dan lulusan SMA semua. Sedangkan Bapak Munain dan istrinya hanya sampai SD saja. Malam pasang, toleransi antar masyarakat terjalin dengan baik. Masyarakatnya mayoritas nelayan, pendidikan mayoritas SMP. SD di daerah sekitar, sedangkan untuk SMP dan SMA sudah keluar dari daerah tersebut. Kapal milik sendiri, fasilitas umum belum cukup memadai. Tidak ada paguyuban, turun temurun jadi nelayan. Modal dan hasil tidak sebanding, tidak semua nelayan asli penduduk dusun tambak mulyo. Modal sekali jalan Rp 250.000,- tidak ada mata pencaharian lain, langganan banjir rob bulan ke-7,8, dan 9. Tidak ada investasi.

Narasumber : Ibu Warsini RT 6/RW 14

Bekerja sebagai pedagang ikan dan rajungan, berumur 46 tahun asli Demak. Suaminya adalah nelayan asli orang Semarang, dan memilki kapal sendiri. Mempunyai tiga anak, satu bekerja dan yang dua lagi masih sekolah SMP dan SD. Penghasilan dari jualan ikan dan rajungan tiap harinya Rp 50.000,- dan tidak ada intimidasi antara pedagang satu dengan yang lainnya.

Untuk pemeliharaan lingkungan belum terlihat jelas, karena masih banyak sampah yang berserakan di lingkungan sekitar. Dari pemerintah sendiri belum ada yang namanya pengolahan sampah, baik itu sampah plastic maupun sampah organic sehingga terlihat sangat kumuh.

10 comments

10 pings

Lompat ke formulir komentar

  1. Sepertinya akan lebih baik jika judulnya adl “KEHIDUPAN MASYARAKAT NELAYAN TAMBAK MULYO”. Kemudian “Laporan observasi penelitian di tambak mulyo” bisa dijadikan ket di tulisan paling akhir.
    Over all, I like it..

    1. okeyh” bang hendro arjuno ireng,haha..

  2. asyik..nambah pengetahuan

    1. sipp

  3. untuk kategori pada setiap artikel mohon diperbaiki ya kak

    1. diperbaiki gmana yah kaka

  4. jselalu ada pengulamgan

    1. okeyh”

  5. makasih kak menambah wawasan..

    1. iyah mba uti, kita harus saling berbagi ilmu

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: