Materi Antropologi SMA Kelas X: Internalisasi Nilai-nilai Budaya Dalam Pembentukan Kepribadian & Karakter

A.    Pengertian Nilai Budaya

Nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagian besardari masyarakat yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan para warga masyarakat.

B.     Pengertian Kepribadian

Menurut John Milton Yinge, kepribadian adalah keseluruhan perilaku seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Macionis mendefinisikan kepribadian sebagai pola konstan berfikir, marasakan dan bertindak. Sementara itu, Ogburn dan Nimkoff mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sentimen, sikap, ide, kebiasaan, keterampilan, dan perilaku individu. manusia yang berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan hubungan antara diri kepribadiannya dengan lingkungan sekitarnya yang paling dekatdan paling serius, kepada siapa ia dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan dan baktinya.

C.     Faktor Pembentuk Kepribadian

1.      Warisan Biologis

Faktor keturunan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan bahan mentah kepribadian yang dapat dibentuk dalam berbagai cara.

2.      Lingkungan fisik

Ellsworth Huntington menekankan bahwa perbedaan perilaku kelompok disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi dan sumber alam. Contoh: orang yanng hidup di daerah pegunungan sebagai petani akan berbeda kepribadiannya dengan orang yang hidup di tepi pantai sebagai nelayan.

3.      Kebudayaan

Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, baik berupa gagasan, aktivitas, maupun hasil aktivitas manusia yang digunakan untuk memahami lingkungan dan pengalamannya, serta dijadikan pedoman hidup bagi anggotanya. Di dalam kebudayaan terkandung beberapa unsur, seperti kepercayaan, mata pencaharian, kesenian dan adat istiadat. Contohnya budaya Islam merupakan keseluruhan gagasan, aktivitas, dan hasil dari aktivitas masyarakat muslim yang dijadikan pedoman tingkah laku. Budaya bahari merupakan keseluruhan gagasan, aktivitas, dan hasil dari aktivitas masyarakat yang hidupnya tergantung dari sumber daya kelautan.

Kebudayaan berperan dalam membentuk kepribadian seseorang dan masyarakat. setiap kebudayaan menyediakan seperangkat norma yang berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Contohnya, orang Bugis memiliki budaya merantau dan mengarungi lautan. Budaya ini membuat pribadi orang-orang Bugis-Makassar menjadi pemberani.

4.      Pengalaman Kelompok

Masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok dengan budaya da standar atau ukuran moral berbeda-beda. Standar atau ukuran tersebut digunakan untuk menentukan mana kepribadian yang baik dan mana yang tidak baik. Contoh: jika seorang anak kurang diperhatikan oleh keluarganya, ia berpotensi nakal karena merasa dirinya tidak dicintai. Ia akan bergabung dengan kelompok yang mempunyai standar atau ukuran perilaku yang sesuai dengannya.

5.      Pengalaman Unik

Tidak seorangpun mengalami pengalaman yang sama persis satu sama lainnya. Pengalaman unik dapat membentuk kepribadian seseorang. Contohnya, ada dua gadis cantik dalam satu keluarga, yakni gadis A dan gadis B. Gadis A lebih percaya diri dan tenang dalam penampilan, sedangkan gadis B kurang percaya diri dan penampilannya biasa-biasa saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dua orang yang sama kecantikannya mempunyai kepribadian yang berbeda? Proses ini didapat dari perilaku orang tua dan keluarga yang mengatakan bahwa gadis A cantik. Hal itu diucapkan berulang-ulang oleh orang yang berbeda-beda. Dengan ini, gadis tersebut akan bertindak dan berpenampilan sebagai orang cantik. Sebaliknya, orang tua memperlakukan gadis B seperti anak yang tidak menarik. perlakuan orang tua itu mempengaruhi pembentukan pribadi gadis tersebut sehingga menjadi kurang percaya diri.

D.    Proses Enkulturasi dalam Pembentukan Pola Pikir sesuai dengan konteks Kebudayaan

Prof. Dr. Koentjaraningrat mengatakan bahwa proses enkulturasi adalah proses dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, sistem norma dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini dimulai sejak kecil dalam alam warga suatu masyarakat. mula-mula dari orang-orang di dalam lingkungan keluarga, kemudian dari teman-teman sepermainan. Seringkali dalam proses enkulturasi, seseorang belajar dengan meniru berbagai tingkah laku dan ucapan dari individu-individu yang lebih berpengalaman. Dengan berkali-kali meniru, maka tingkah laku dan tindakan seseorang menjadi suatu pola yang mantap.

William A. Haviland berpendapat bahwa ada hubungan antara enkulturasi dan pertumbuhan kepribadian. Contohnya, di dalam beberapa kebudayaan, kebiasaan membesarkan anak dengan cara tertentu meningkatkan pertumbuhan kepribadian yang penurut. Sedangkan, dalam kebudayaan lain, kebiasaan yang berbeda mempermudah terbentuknya kepribadian yang lebih bebas dan percaya diri.

Conrad Philip Kottak dalam buku Anthropology: The exploration of Human Diversity menjelaskan proses enkulturasi sebagai berikut, pertama-tama, kebudayaan diartikan sebagai seperangkat alat kontrol yang antara lain terdiri dari petunjuk-petunjuk, aturan-aturan, dan pengajaran-pengajaran. Hal tersebut kemudian diserap atau diinternalisasikan secara bertahap oleh seseorang lewat proses enkulturasi.

Melalui proses enkulturasi, seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.ia akan melihat dunianya, mengekspresikan  perasaan-perasaannya, dan membuat sejumlah penilaian sesuai dengan konteks kebudayaan di mana dia dibesarkan.

Sumber:

Koentjaraningrat. 1990. Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Djambatan

——————–. 2004. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

——————–. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Maryati, Kun & Suryawati, Juju. 2013. Sosiologi dan Antropologi untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Esis imprint dari Penerbit Erlangga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Lewat ke baris perkakas