Manusia dan Kebudayaan
November 12th, 2015 by mariska yunita

Keanekaragaman Makhluk Manusia dan Kebudayaan

Sebelum terbitnya buku The Origin of Species di kalangan orang Eropa dalam melihat masyarakat dan kebudayaan makhluk manusia. Banyak yang berpendapat bahwa orang yang paling sempurna adalah orang berkulit putih yaitu bangsa Eropa. Pendapat yang lain meyakini bahwa sebenarnya manusia hanya pernah di ciptakan satu kali saja dan keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya tinggi sampai rendah sebagai akibat proses kemunduran yang disebabkan oleh dosa yang pernah dilakukan Nabi Adam. Lalu pada abad XVI timbul rasionalisme yang menyebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengutamakan rasionalistas yang kemudian memunculkan banyak kajian dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan dalam bidang anatomi tubuh untuk mengkaji keanekaragaman cirri-ciri fisik manusia. Gerak kebudayaan yang telah menimbulkan perubahan perkembangan, akhirnya juga menyebabkan terjadinya pertumbuhan sementara itu tidak tertutup kemungkinan hilangnya unsur-unsur kebudayaan lama sebagai akibat ditemukannya unsur-unsur kebudayaan baru.

Konsep Kebudayaan

Ruang lingkup konsepsi kebudayaan sangat bervariasi, dan setiap pembatasan yang diberikan akan dipengaruhi oleh dasar pemikiran tentang azas-azas pembentukan masyarakat dan kebudayaan. Budaya yang pada dasarnya merupakan suatu sistem pemikiran yang mencakup sistem gagasan, konsep-konsep, aturan-aturan serta pemaknaan yang mendasari dan diwujudkan oleh masyarakat penganutnya melalui suatu proses belajar. Maka dari itu kebudayaan (C.Geertz) adalah sistem pemaknaan yang dimiliki bersama dan kebudayaan merupakan hasil dari proses sosial bukan proses perseorangan. Kebudayaan menekakan kepada pemahaman makna daripada tingkah laku manusia. Sistem pemaknaan di sini mempunyai mempunyai dua sisi yaitu aspek kognitif dan aspek evaluatif. Aspek kognitif lebih menitikberatkan aspek pengetahuan yang menentukan orientasi sekelompok orang terhadap tempat tinggalnya. Sedangkan aspek evaluative lebih kepada aspek kuantitatif yang diperoleh dari pengetahuan dan kepercayaan yang akan di tranformasikan menjadi nilai-nilai, yang pada periode tertentu akan menjadi suatu sistem nilai. Pada dasarnya kebudayaan tidak lepas dari yang namanya perubahan, kebudayaan pasti erat dengan tingkah laku dan sosial budaya. Ketiga faktor itulah cerminan kualitas kehidupan sosial.

Ekologi dan Homeostatis

Setelah garis evolusi manusia berpisah dari garis evolusi kera pada sekitar pertengahan masa Miosen atau sekitar lima belas juta tahun yang lalu, makhluk keluarga hominid yang akhirnya berkembang ke arah homo sapiens, memiliki cara baru dalam menghadapi kehidupan. Kebudayaan sebagai system budaya merupakan seperangkat gagasan yang membentuk tingkah laku seseorang atau kelompok dalam suatu ekosistem. Dalam kaitannya dengan kebudayaan, suatu perubahan ekologis juga akan dapat sekaligus membuat manusia menyesuaikan berbagai gagasan mereka. Metode paling sederhana dalam penerapan azas analisi ekologi ialah memandang bahwa seluruh masyarakat sebagai fenomena biotik seperti yang lain, kemudian menerapkan konsep ekologi itu secara langsung dan menyeluruh.

Ekologi Budaya

            Ekologi merupakan ilmu yang memperlajari saling keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya, termasuk lingkungan fisik dan berbagai bentuk orgnisme. Banyak kalangan ahli antropologi menyadari bahwa tidak selalu alam sekitar mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Pendekatan ekologi budaya pertama kalinya dilakukan oleh Julian H.Steward dengan istilah cultural ecology yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana manusia sebagai makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan lingkungangeografi tertentu. Pada dasarnya, J.H Steward mengatakan bahwa proses perkembangan kebudayaan memiliki corak khas dan unik terutama pada system mata pencaharian hidup, system kemasyarakatan dan religi. Menurutnya hal itu disebabkan oleh perkembangan yang sejajar dari lingkungan-lingkungan tertentu. Steward berpendapat bahwa hubungan antara kebudayaan dengan alam sekitarnya juga dapat dijelaskan melalui aspek tertentu dalam suatu kebudayaan, sekalipun alam sekitarnya belum tentu akan berpengaruh terhadap kebudayaan dari suatu suku bangsa. Menurut, Wiliam A. Haviland (1985) di antara berbagai unsur dalam suatu kebudayaan, ada yang merupakan inti yaitu berupa unsur kebudayaan tertentu yang menentukan berbagai bentuk kehidupan suatu masyarakat

 

Determinisme Lingkungan dan Posibilisme

Studi tenang kebudayaan selalu ditekankan akan adanya keterkaitian perilaku manusia dengan lingkungan. Oleh karena itu kebudayan menjadi sangat unik dan bervariasi, terutama lingkungan yang mempunyai andil besar dalam pembentukan suatu kebudayaan. Dalam perkembangannya ahli-ahli antropologi Amerika memiliki pemikiran yang berlawanan. Kaum posisibilism berpendapat bahwa suatu lingkungan tertentu tidak dapat dipandang sebagai sebab utama yang menyebabkan perbedaan suatu kebudayaan melainkan hanya sebagai pembatas atau penyeleksi. Sedangkan kaum antropogeografis lebih mendasarkan pada suatu pendekatan yang menekankan mengenai sejauh mana dan bagaimanakan cara kebudayaan manusia itu dibentuk oleh kondisi lingkungannya atau determinisme lingkungan. Menurut G.Geertz (1963), ketidakpastian pada kedua pendekatan tersebut berpangkalan dari kurang kuatnya dasar konsepsi. Kedua pendekatan itu memisahkan antara karya manusia dan proses alam menjadi dua bidang pengaruh yang berlawanan, yaitu kebudyaan adalah sebagai karya manusia, sedangkan lingkungan lebih merupakan proses alam


2 Responses  
  • zaidanfahmi writes:
    November 28th, 20157:22 pmat

    di read more kak biar makan beranda terlalu banyak

  • nurul writes:
    December 1st, 20156:47 amat

    keren kak, mungkin kalau dilengkapi dengan sumber akan lebih oke


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar