Keterkaitan antara Keberagaman Budaya, Bahasa Dialek, Tradisi dengan Kehidupan Masyarakat dalam Suatu Daerah (Materi Antropologi SMA Kelas XI)

268788373_640Banyak orang tentunya sudah tidak asing dengan istilah bahasa dan dialek, namun apakah kalian tahu apa itu pengertian dari bahas dan dialek? Mari sedikit kita ulas.

Bahasa menurut Kridalaksana (2005) adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomumikasi dan mengidentifikasi diri.

Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) dialek adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh satu masyarakat untuk membedakan dari masyarakat lain.

Ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat di suatu wilayah tertentu yang membedakannya dari bahasa yang dipakai oleh sekelompok anggota masyarakat di wilayah lainnya yang disebut dialek. Misalnya, bahasa Indonesia dialek Minang yang diucapkan oleh orang di daerah Padang akan berbeda dengan bahasa Indonesia dialek Jawa yang diucapkan oleh orang di daerah Solo.

Ragam bahasa yang digunakan oleh seke lompok masyarakat di suatu lingkungan tertentu yang berbeda dari suatu bahasa atau dialek yang digunakan oleh sekelompok masyarakat di suatu lingkungan sosial lainnya. Misalnya, ragam bahasa atau dialek yang digunakan oleh orang-orang di lingkungan pasar akan berbeda dengan ragam bahasa atau dialek yang digunakan oleh orang-orang di kantor atau sekolah.

Bahasa yang digunakan dalam kehidupan manusia mengandung beragam dialek. Dialek tersebut memiliki varian yang beragam. M. Ramlan membagi ragam bahasa Indonesia menjadi:
1. Berdasarkan tempat,.musalnya dialek Jakarta, dialek Manado, dialek Jawa.
2. Berdasarkan penutur terbagi menjadi ragam golongan cendekiawan dan golongan bukan cendekiawan
3. Berdasarkan sarana terbagi menjadi ragam lisan dan ragam tulis
4. Ragam bahasa berdasarkan bidang penggunaan terbagi menjadi ragam ilmu dan non ilmu
5. Ragam bahsa berdasarkan suasana penggunaan terbagi menjadi ragam resmi dan santai.

Pengaruh bahasa dan dialek dengan kehidupan masyarakat

Manusia mengenal bahasa dan dialek sejak ia dilahirkan. Semula hanya isyarat, mimik muka, atau gerak tubuh yang melambangkan istilah-istilah yang sederhana. Seperti larangan jangan menangis dengan gerakan menepuk-nepuk kedua belah tangan, mengajak bercanda sampai bayi itu tertawa, dan mengajak bernyanyi. Ketika usia mendekati satu tahun, manusia mulai belajar melafalkan kata-kata sederhana, seperti ayah, ibu, makan, dan minum. Lingkungan merupakan faktor penentu dalam kebiasaan hidup manusia. Manusia akan selalu beradaptasi dengan lingkungannya. Contohnya, keluarga dari suku Dayak yang sudah bertahun-tahun tinggal di lingkungan Solo akan menyukai masakan Solo yang relatif lebih manis karena mereka terbiasa hidup dengan masakan yang manis itu. Orang yang berasal dari daerah lain atau pendatang memiliki kecenderungan untuk beradaptasi yang tinggi dengan lingkungan barunya kalau ingin diterima. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat setempat. Dengan beradaptasi, para pendatang dapat mengidentifikasi diri sehingga mereka mampu memperlihatkan bahwa mereka sama dengan masyarakat sekitarnya yang menerima mereka sebagai masyarakat setempat. Salah satu cara untuk mengidentifikasikan diri agar diterima oleh masyarakat pribumi dengan mempelajari dan belajar menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-sehari terutama dalam berkomunikasi dengan pribumi.

Daftar Pustaka

Kridalaksana, H. dan H. Sutami. 2005. “Aksara dan Ejaan” dalam Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. ed. Kushartanti. Jakarta: PT.Gramedia.

Supriyanto,2009 “Antropologi Kontekstual” Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Berbagai Sumber.

Leave a Reply