Review Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-nilai dan Etika Masyarakat Jawa

Kebudayaan Jawa dikenal dengan kebudayaan yang halus dan adiluhung. Sikap halus tersebut diekpresikan oleh masyarakat Jawa pada berbagai hasil kebudayaan tari-tarian Jawa yang gerakannya halus, serta gemulai. Selain diespresikan dalam bentuk tarian, masyarakat Jawa menampilkan sikap halus pada kehiduan sehari-hari. Nilai serta etika luhur masyarakat Jawa menjadi jatidiri dan sikap hidup orang Jawa yang berupa sikap Hormat, Rukun, dan Isin.

Akan tetapi dibalik sikap halus, lemah lembut, serta adiluhung pada masyarakat Jawa, pada zaman dahulu, orang Jawa dikenal sebagai bangsa yang keras. Sifat keras orang Jawa tersebut dapat kita lihat pada berbagai hasil pemaparan sejarah tentang berbagai kerajaan Jawa yang berhasil menaklukan daerah dan bangsa lain. Keberhasilan ekspansi tersebut tidak lain karena sikap keras, kasar, serta mempunyai jiwa penakluk pada orang Jawa. Selain itu, watak keras dan agresif masyarakat Jawa tersosialisasi pada berbagai hasil kebudayaan seperti cerita Barata Yuda dan perang Arjuna dan Buto Cakil.

Jauh setelah masa penaklukan kerajaan-kerajaan Jawa pada bangsa di wilayah luar Jawa, sejarah juga memaparkan bukti sikap keras Jawa saat menghadapi bangsa kolonial (kompeni) pada masa perebutan wilayah dan kekuasaan antara keraton dengan Belanda, dan melalui berbagai macam pertentangan, taktik, perang serta perundingan, melahirkan kesepakatan berupa “Perjanjian Giyanti 1755” yang menyepakati dibaginya kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Sikap halus pada masyarakat Jawa adalah simbol dari sikap pengendalian diri, menyimpan energi besar, serta berbibawa. Sikap halus tersebut merupakan lawan dari sikap kasar yang disimbolkan dengan tindakan agresif, keras, serta banyak bicara. Bagi masyarakat jawa sikap kasar dan halus memiliki struktur hierarkis, dimana sikap halus dimiliki oleh orang dengan kelas atas dan sikap kasar dimiliki oleh orang dengan kelas rendah. Hal tersebut jelas dapat kita lihat pada sikap Sultan dan Rakyat. Dimana Sultan atau Raja, bupati, serta pemimpin memiliki laku alus, berwibawa, penuh pengendalian. Berbeda dengan rakyat yang mudah tepancing emosi. Dari hal tersebut, muncullah analogi “Dupak bujang, semu mantri, esem bupati” yang menggambarkan sikap dan etika orang dilihat dari kelasnya.

Sikap alus merupakan sikap ideal manusia, untuk memilikinya dibutuhkan usaha, sedangkan sikap kasar adalah sikap bawaan yang tidak perlu usaha pun manusia sudah memilikinya, dan setiap orang berpotensi menunjukan kekasarannya, tergantung pengendalian diri mereka. Sikap halus selamanya akan selalu mengalahkan sikap kasar, hal tersebut diekspresikan pada jargon “surodiro jayaningrat lebur dening pangastuti”.

Dari pemaparan diatas, saya menyimpulkan bahwa, masyarakat Jawa memiliki etika halus baik pada watak, maupun tindakannya. Walaupun memiliki sikap halus, namun orang Jawa juga berpotensi untuk menjadi kasar. Halus atau kasarnya sikap, tindakan, serta laku orang Jawa tergantung pada pengendalian diri. Ketika orang sudah dapat memiliki sikap alus, maka orang tersebut dapat terhindar dari konflik, karena pada dasarnya sikap alus dapat menahan sikap kasar.

 

6 Responses to “Review Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-nilai dan Etika Masyarakat Jawa”

  1. Diah Rohmatul Laeli Says:

    kalau bisa setiap artikel diberi kategori ya kak 🙂

  2. Rani Meilina Siswoyo Says:

    Siap kak, makasih banyak sarannya 🙂

  3. Tri Yuliana Says:

    artikelnya bagus, menambah wawasan

  4. Novita Windiarti Says:

    keren, reviewnya pas pada intinya

  5. Siti Fatimah Says:

    sipppppp

  6. Gisella Tioriva Says:

    good

Leave a Reply