Asyiknya Belajar Antropologi Kesehatan

Siapa yang tahu betapa asiknya belajar antropologi kesehatan. Belajar antropologi kesehatan bukan hanya sekedar tahu tentang sehat dan sakit, tidak juga berkaitan dengan obat, jarum suntik, ruang operasi seperti yang ada dalam benak banyak orang. Tapi belajar antropologi adalah belajar bagaimana budaya dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, dalam antropologi kesehatan juga kita dapat mengetahui seperti apakah pengobatan-pengobatan tradisional yang hanya dapat kita kemui dalam satu komunitas masyarakat saja. Asyik, sudah tentu sangat asyik. Mari kita bersama-sama belajar Antropologi Keseahatan.

Mari kita awali dengan konsep awal antropologi kesehatan. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia. Karena manusia adalah satu-satuya makhluk yang [1]memiliki dan menciptakan kebudayaan, maka antropologi juga berarti ilmu yang mempelajari tentang budaya. Maka, antropologi kesehatan adalah ilmu bantu yang digunakan untuk mendekati masalah kesehatan dari perspektif budaya. Singkatnya, bagaimana kesehatan masyarakat dilihat dari kacamata antropologi.

Setelah mengetahui konsep, selanjutnya yang dapat kita pelajari dari antropologi kesehatan adalah sistem medis. Sistem medis adalah usaha meningkatkan kesehatan, tindakan, pengetahuan ilmiah serta ketrampilan anggota-anggota kelompok yang untuk mencegah maupun mengobati penyakit. berbicara sistem medis, yaitu berbicara tentang sistem teori penyakit dan sistem teori perawatan, dua hal tersebut adalah bagian yang paling mendasar pada sistem medis dimanapun, keduanya bersifat universal.

Sistem teori penyakit adalah meliputi kepercayaan-kepercayaan mengenai ciri-ciri sehat, sebab-sebab sakit, serta pengobatan dan teknik penyembuhan yang digunakan oleh dokter.[2] Kita dapat memulai dengan sistem pengetahuan tentang asal-usul penyakit (etologi), dimana etiologi memunculkan sistem pengetahuan manusia mengenai pengobatan. Bagi pengobatan medis modern, untuk menemukan asal-usul penyakit serta menciptakan obat dari penyakit tersebut mungkin bukan hal yang terlalu sulit dengan bantuan alat-alat canggih modern, namun bagi masyarakat tradisional, yang notabene belum ditunjang oleh alat-alat medis canggih modern, bagaimana cara mereka melakukan penelitian tentang penyakit, apalagi untuk menemukan obatnya.

Bagaimana kelompok masyarakat tradisional menemukan teori penyakit dan dan sistem pengobatannya. Mereka (red: masyarakat tradisional) yang masih percaya pada hal-hal mistik, penyakit dipercaya merupakan pengaruh dari alam dan makhluk supranantural. Contohnya, pada masyarakat Desa Karangreja, Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap, ada larangan membawa anak balita keluar malam. Jika terpaksa harus membawa balita tersebut keluar, maka anak balita dan ibu balita tersebut harus mengaitkan peniti yang diberi tanaman dringo dan bengle (tanaman yang digunakan untuk mengusir setan). Lalu, orang tua balita tersebut juga selalu mengatakan “slaman slumun slamet, anak celeng arep liwat” yang artinya meminta ijin untuk lewat, balita yang dibawa diistilahkan anak babi itu tidak disukai oleh setan untuk dimakan oleh setan, maka dari itu para penunggu tempat gaib, tidak boleh mengganggu si balita tersebut. Ketika aturan-aturan tersebut tidak dipatuhi, maka anak balita yang dibawa keluar malam akan diganggu oleh roh halus dan balita akan menderita sakit seperti demam, rewel, “sumeng”, bahkan dapat mengakibatkan kejang-kejang pada balita tersebut.

Untuk mengobatinya, orang Cimanggu menggunakan pengobatan tradisional juga, menggunakan ramuan-ramuan tolak bala, atau meminta bantuan orang pintar untuk mengusir gangguan roh halus. Dari kasus tersebut kita dapat mengetahui bahwa pada masyarakat tradisional sekalipun memiliki teori penyakit dan penanganannya, berdasarakan rasionalisasi mereka. Upaya untuk mengobati sakit tersebut dalam antropologi kesehatan disebut sistem perawatan kesehatan. Sistem sistem perawatan kesehatan memperhatikan cara-cara yang dilakukan oleh berbagai masyarakat untuk memanfaatkan “pengetahuan” tentang penyakit untuk menolong si pasien.[3]

Selain belajar tentang sistem medis, dalam antropologi kesehatan juga belajar tentang etnomedisin. Etnomedisin artinya adalah sistem pengobatan yang ada pada tiap kelompok masyarakat. Etnomedisin, bagi ke dalam dua kategori besar mengenai kausalitas (sebab akibat) dari suatu penyakit. Dua kategori tersebut adalah sistem medis personalistik dana sistem medis naturalistik.

Sisem medis personalitik adalah suatu sistem dimana penyakit (illnes) disebabkan oleh intervensi dari suatu agen yang aktif, yang dapat berupa supranatural (makhluk gaib atau dewa), makhluk yang buka manusia (tukang sihir atau tukang tenung).[4] Orang yang menderita sakit adalah orang yang menjadi korban dari santet yang dikirim oleh manusia yang melakukan santet, ataupun karena hukuman yang harus diterima karena sudah melakukan suatu tindakan yang mengganggu roh halus. Contoh kasus seperti yang terdapat pada masyarakat Desa Karangreja, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap. Pada kepercayaan masyarakat di Desa Karangreja, ada perlakuan khusus terhadap tunggu tradisional “pawon”. Pawon bukan sekedar sebagai media yang digunakan untuk memasak bagi masyarakat, tetapi juga dipercaya memiliki kekuatan magis, karena pawon dihuni oleh makhluk halus. Nini Thowok (nenek Thowok) dan Kaki Thowok (kakek Thowok), adalah makhluk penunggu pawon. Maka ketika melakukan suatu hal berkaitan dengan pawon tidak boleh sembarangan, karena masyarakat Desa Karangreja takut jika menganggu ketenangan Nini Thowok ataupun Kaki Thowok.

Ketika pawon digunakan untuk memasak, kayu yang digunakan untuk alat bakar pada pawon tersebut, jumlah yang dimasukkan ke dalam mulut pawon tidak boleh terlalu banyak, karena mereka percaya akan membuat Nini dan Kaki Thowok tidak dapat bernafas. Selain larangan tersebut, ketika orang sudah tidak mau menggunakan pawon[5] maka bekas tempat yang digunakan untuk pawon yang sudah tidak terpakai tidak boleh diinjak-injak oleh manusia. Jika tempat bekas digunakan pawon tersebut diinjak-injak oleh manusia, maka hal tersebut akan menimbulkan penyakit bagi anggota keluarga si pemiliki pawon tersebut. Biasanya yang mengalami sakit adalah seorang istri atau ibu-ibu. Pada beberapa kasus, sakit yang muncul seperti sesak nafas, atau merasakan sakit di bagian payudara, atau bahkan terganggu kesehatan mentalnya. Diagnosa-diagnosa sakit biasanya tidak terlihat oleh pengobatan medis modern, karena sakit tersebut bukan disebabkan oleh “penyakit” secara biologis. Maka, untuk penderita penyakit diatas, sepertinya tidak mempercayai keampuhan dokter untuk menyembuhkan sakit mereka. pengobatan menggunakan pengobatan alternatif jasa dukun lebih dipilih karena dukun bagi mereka lebih mengetahui tentang penyakit yang mereka derita, selain itu dukun dapat berkomunikasi dengan makhluk halus, jadi manusia dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh makhluk halus. Selain itu, bagi masyarakat desa, ketika menderita sakit, pantangan untuk menggunakan pengobatan dua macam (medis dan alternatif) sekaligus, karena bukan malah menyebuhkan justru membuat sakit lebih parah. Obat dari penyakit yang asalnya dari gangguan nini thowok atau kaki thowok biasanya adalah tolak bala, selain itu biasanya para pemiliki pawon yang menderita sakit harus menyiamkan air bekas cucian beras atau yang biasa disebut “leri” ke bekas pawon yang sudah tak terpakai tersebut. Peggunaan tumbal juga dipilih karena sakit yang diderita oleh manusia tersebut dpat dipindahkan kepada tumbal tersebut. Tumbal biasanya berupa bianatang, seperti ayam.

Untuk sistem naturalistik, sakit biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia. Pada kasus di atas, penyebab sakit yang diderita mungkin bukan karena gangguan roh halus penunggu pawon, tetapi ketika pawon dalam rumah sudah tidak digunakan lagi, hal tersebut mengganggu keseimbangan temperatur suhu dalam rumah (dapur). Pawon, saat masih digunakan dapat menghangatkan rumah, sedangkan saat sudah tidak menggunakan pawon, rumah temperatur suhunya cenderung menjadi dingin dan lembab, dan hal tersebut mengganggu keseimbangan kesehatan juga bagi si pemilik pawon.

Dari belajar antropologi kita tahu banyak hal, asyiknya belajar antropologi.

[1] lihat buku Koentjaraningrat, pengantar ilmu antropologi, Jakarta, Rineka Cipta, 2009: hlm 9.

[2] Foster, George M dan Anderson. 1986.  Antropologi Kesehatan. Terjemahan. Jakarta: UI Press: hlm 46.

[3] Foster, George M dan Anderson. 1986.  Antropologi Kesehatan. Terjemahan. Jakarta: UI Press: hlm 46.

[4] Foster, George M dan Anderson. 1986.  Antropologi Kesehatan. Terjemahan. Jakarta: UI Press: hlm 63.

[5] Mungkin beralih menggunakan kompor atau membuat pawon di tempat baru.

10 Responses to “Asyiknya Belajar Antropologi Kesehatan”

  1. aeeey Says:

    Artikelnya bermanfaat ran 😀 lanjutkan menulis 😀

  2. Prestia Sukma Nur Azizah Says:

    hay ranio me, long time no see, i miss you babe hahaha
    berhubung mbak iyya gak ambil antrokes, ini bisa membantu untuk sedikit mengerti tentang antrokes hahaha

  3. Gisella Tioriva Says:

    bagus kak.. saya suka..

  4. anisa aulia azmi Says:

    semangat menulis tulisan-tulisan yang menginsrpirasi

  5. Anis Istiqomah Says:

    artikel nya bagus sekali ran
    lanjutkan semangat menulis…

  6. Tri Yuliana Says:

    artikelnya bagus, ditunggu post2 selanjutnya yak

  7. Novita Windiarti Says:

    semangat menulis

  8. Siti Fatimah Says:

    keren me

  9. Arrum yuni Says:

    lanjutkan kak

  10. Siti Farikhah Says:

    wah asyiknya 😀

Leave a Reply