Acuan Dasar Pembelajaran Antropologi kelas XII SMA

Pada Acuan Dasar Pembelajaran Sosiologi kelas XII kpmpetensi dasar di kembagkan menjadi tiga bagian sebagai berikut :

Kompetensi dasar (1)

Pada kompetensi dasar pertama, yang mana didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang menjadi acuan bagi peserta didik peserta didik yaitu Memahami dampak positif dan negatif dari perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia, dan slanjutnya Melakukan pengamatan lapangan, membaca berbagai literatur/media masa, dan berdiskusi untuk memahami perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia.

Materi pembelajaran

-Konsep-Konsep tentang Perubahan Sosial, Pembangunan Nasional, Globalisasi, dan Modernisasi

-Dampak Perubahan Sosial, Pembangunan Nasional, Globalisasi, dan Modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia.

Kegiatan pembelajaran

-Membaca berbagai literatur/media masa, dan berdiskusi untuk memahami konsep-konsep perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi.

-Melakukan pengamatan (observasi), mencari dan menemukan gejala-gejala beserta contoh-contoh tentang perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi.

-Mengidentifikasi dampak positif maupun dampak negatif dari perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia.

Kompetensi dasar (2)

pada kompetensi dasar bagian kedua ya didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang menjadi acuan bagi peserta didik yaitu Mengidentifikasi, menganalisis dan menilai dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia (misalnya: perilaku koruptif,  diskriminatif, pelanggaran HAM, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, dan hedonisme), dan selanjutnya Menggunakan  pendekatan Antropologi dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menilai dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia (misalnya: perilaku koruptif,  diskriminatif, pelanggaran HAM, kekerasan dalam rumah tangga, dan hedonisme).

Materi pembelajaran

Dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia (misalnya: perilaku koruptif,  diskriminatif, pelanggaran HAM, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, dan hedonisme) sebagai dampak perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi.

Kegiatan pembelajaran:

-Melakukan pengamatan dan/atau diskusi, serta  identifikasi tentang dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia (misalnya: perilaku koruptif,  diskriminatif, pelanggaran HAM, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, dan hedonisme) di lingkungan sekitar.

-Melakukan penelitian terhadap dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia (misalnya: perilaku koruptif,  diskriminatif, pelanggaran HAM, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, dan hedonisme).

-Membangun sikap dengan menjadikan nilai-nilai kultural yang positif dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul sebagai dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi terhadap kehidupan sosialkultural masyarakat Indonesia.

Kompetensi dasar (3)

pada kompetensi dasar ini, didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang menjadi acuan bagi  peserta didik yaitu Merancang strategi kultural berdasarkan sumber-sumber  kearifan lokal dan tradisi lisan untuk mengatasi berbagai dampak negatif dari perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi bagi pembangunan  karakter bangsa (nation and character building), dan selanjutnya Membaca literatur, melakukan pengamatan (observasi), dan wawancara (interview) untuk merancang strategi kultural berdasarkan kearifan lokal dan tradisi lisan untuk mengatasi berbagai dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi dalam rangka pembangunan  karakter bangsa (nation and character building).

Materi pembelajaran:

-Sumber-sumber Kearifan Lokal (local wisdom) dan Tradisi Lisan

-Strategi Kultural mengatasi perilaku negatif.

-Pembangunan Karakter Bangsa (nation and culture building)

Kegiatan pembelajaran:

-Membaca literatur, melakukan pengamatan (observasi), dan wawancara (interview) untuk memahami sumber-sumber kearifan lokal, strategi kultural, dan tradisi lisan bagi pembangunan karakter bangsa.

-Melakukan penelitian dan diskusi tentang sumber-sumber kearifan lokal yang dapat mencegah terjadinya perilaku yang bertentangan dengan nilai kultural masyarakat setempat seperti:  sikap hidup hemat, kerja keras, menghargai sesama, demokrasi, gotong royong,  menerima apa yang terjadi dan lain-lain.

-Merancang strategi kultural berdasarkan kearifan lokal untuk mengatasi berbagai dampak negatif perubahan sosial, pembangunan nasional, globalisasi, dan modernisasi dalam rangka pembangunan  karakter bangsa (nation and character building).

untuk lebih jelas dan lengkapnya dapat di lihat

 Silabus Antropologi SMA Kurikulum 2013  

juga sebagai referensi tulisaan di atas

No Comments

Acuan Dasar Pembelajaran Antropologi Kelas XI SMA

 

Pada acuan pembelajaran Antropologi kelas XI  kompetensi dasar di kembangkan menjadi empat bagian yaitu :

kompetensi dasar (1)

       kompetensi dasar bagian pertama didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang menjadi acuan bagi peserta didik yaitu Menggunakan pengetahuan dasar metode etnografi dalam mendeskripsikan  institusi-institusi sosial  (antara lain: sistem kekerabatan, sistem religi, sistem politik, sistem mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian) dalam suatu kelompok etnik tertentu di Indonesia, selnjutnya Melakukan penelitian etnografi/membaca dengan kritis laporan-laporan penelitian etnografi  dalam rangka mendeskripsikan institusi-institusi sosial  (antara lain: sistem kekerabatan, sistem religi, sistem politik, sistem mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian) dalam suatu  kelompok etnik tertentu di Indonesia

Materi pembelajaran

-Pengertian tentang Metode Etnografi

-Teknik Penelitian Etnografi

-Deskripsi  institusi-institusi sosial  (antara lain: sistem kekerabatan, sistem religi, sistem politik, sistem mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian) dalam suatu kelompok etnik tertentu di Indonesia.

Kegiatan pembelajaran

-Melakukan penelitian etnografi di lingkungan setempat tentang institusi sosial  (antara lain: sistem kekerabatan, sistem religi, sistem politik, sistem mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian).

-Membaca literatur tentang institusi sosial  (antara lain: sistem kekerabatan, sistem religi, sistem politik, sistem mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian) dalam masyarakat tertentu.

-Mendiskusikan dan mendiskripsikan institusi-institusi sosial  (antara lain: sistem kekerabatan, sistem religi, sistem politik, sistem mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian) dalam suatu kelompok etnik tertentu di Indonesia.

Kompetensi dasar (2)

        kompetensi dasar pada bagian ini didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang sebaiknya dilalui oleh peserta didik yaitu Menemukan dan menunjukkan persamaan dan perbedaan institusi-institusi sosial  dalam berbagai kelompok etnik di Indonesia, agar tercapai pemahaman tentang keanekaragaman dan kesamaan budaya, sehingga terbentuk sikap toleransi, saling menghargai, dan empati dalam rangka membangun masyarakat multietnik Indonesia yang rukun, aman, dan damai, selanjutnya Melakukan pengamatan (observasi), wawancara (interview), membaca literatur yang relevan, dan berdiskusi untuk menemukan persamaan serta perbedaan institusi-institusi sosial dalam  berbagai kelompok etnik di Indonesia, agar terbentuk sikap toleransi, saling menghargai, dan empati untuk membangun masyarakat multietnik Indonesia yang yang rukun, aman, dan damai.

Materi pembelajaran

-Persamaan dan perbedaan institusi-institusi sosial  dalam berbagai kelompok etnik di Indonesia.

-Kesadaran tentang kondisi masyarakat Indonesia yang Multietnik.

Kegiatan pembelajaran

-Membaca dan mendiskusikan berbagai laporan etnografi untuk menemukan persamaan serta perbedaan institusi-institusi sosial dalam  berbagai kelompok etnik di Indonesia.

-Melakukan kajian komparatif untuk menemukan dan menarik kesimpulan tentang persamaan dan perbedaan institusi-institusi sosial  dalam berbagai kelompok etnik di Indonesia.

-Membangun sikap toleran, empati, dan saling menghargai sehingga tercipta masyarakat Multietnik Indonesia yang rukun, aman, dan damai.

Kompetensi dasar (3)

       kompetensi dasar pada bagian ini  terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang menjadi avuan bagi peserta didik yaitu Menemukan nilai-nilai kultural yang disepakati bersama oleh masyarakat Indonesia (misalnya: gotong royong, tolong menolong, kekeluargaan, kemanusiaan, tenggang rasa)  dalam rangka membangun sikap toleran, empati, dan saling menghargai sehingga tercipta masyarakat multi etnik Indonesia yang rukun, aman, dan damai, dan selanjutnya Melakukan refleksi/diskusi untuk menarik kesimpulan tentang nilai-nilai kultural nasional Indonesia (misalnya: gotong royong, tolong menolong, kekeluargaan, kemanusiaan, tenggang rasa)  dalam rangka membangun sikap toleran, empati, dan saling menghargai sehingga tercipta masyarakat multi etnik Indonesia yang rukun, aman, dan damai.

Materi pembelajaran

-Konsep tentang Nilai-Nilai Kultural (cultural values)

-Pewarisan nilai-nilai kultural atau proses sosialisasi dan enkulturasi.

Kegiatan pembelajaran

-Mendiskusikan dan mendeskripikan nilai-nilai kultural bangsa Indonesia (misalnya: gotong royong, tolong menolong, kekeluargaan, kemanusiaan, tenggang rasa)

-Mendiskusikan cara-cara pewarisan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus dengan contoh-contoh konkrit dalam bentuk perilaku.

-Membangun sikap dengan menjadikan nilai-nilai kultural Indonesia sebagai pedoman perilaku.

Kompetensi dasar (4)

        kompetensi dasar pada bagian ini didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang menjadi acuan bagi peserta didik yaitu Mempromosikan nilai-nilai kultural yang disepakati bersama oleh masyarakat Indonesia (misalnya: gotong royong, tolong menolong, kekeluargaan, kemanusiaan, tenggang rasa) sebagai budaya nasional (national culture), dan selanjutnya Membuat program dan berbagai model untuk memprmosikan nilai-nilai kultural yang disepakati bersama oleh masyarakat Indonesia (misalnya: gotong royong, tolong menolong, kekeluargaan, kemanusiaan, tenggang rasa) sebagai budaya nasional (national culture).

Materi pembelajaran

Nilai-nilai kultural positif yang dapat dipromosikan sebagai bagian dari budaya nasional (national culture).

Kegiatan pembelajaran

-Mengidentifikati (memilih)  nilai-nilai kultural yang positif untuk dipromosikan sebagai bagian dari kebudayaan nasional berdasarkan  hasil kajian perbandingan terhadap berbagai institusi-institusi sosial dalam berbagai kelompok etnik di Indonesia

-Menyusun menyusun strategi untuk mempromosikan nilai-nilai kultural yang positif  tersebut dalam rangka pembangunan budaya nasional (national culture).

untuk lebih lengkap dan jelasnya mengenai acuan dasar pemeblajaran Antropologi kelas XI dapat di lihat

Silabus Antropologi SMA Kurikulum 2013 

merupakan referensi dari tulisan di atas

No Comments

Acuan Dasar Pembelajaran Antropologi kelas X SMA

Kompetensi Dasar Pada kelas 10 di kembangkan menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut :

 Kompetensi Dasar 1

Pada kompetensi dasar ini meliputi materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang bisa di gunanakan sebagai acuan peserta didik yaitu sebagai berikut :

 Memahami Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari keanekaragaman dan kesamaan manusia Indonesia dan cara hidupnya secara holistik dalam rangka membangun sikap toleran, empati, dan saling menghargai sehingga tercipta kerukunan nasional, selanjutnya adalah Membaca berbagai  literatur dan mendiskusikan hasil bacaan tentang ilmu Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari keanekaragaman dan kesamaan manusia Indonesia dan cara hidupnya secara holistik dalam rangka membangun sikap toleran, empati, dan saling menghargai sehingga tercipta kerukunan nasional.

Lebih lengkapnya mengenai pemaparan materi dan kegiatan pembelajaran :

Materi pembelajaran

– Pengertian tentang Ilmu Antropologi

-Konsep-konsep dasar Ilmu Antrpologi: Budaya (culture); Adat; Kelompok Etnik; Etnosentrisma, Relativisme Kebudayaan (cultural relativism), Emik; Etik; Holistik, Struktur Sosial; Bhinneka Tunggal Ika; Kerukunan nasional; Sikap Mental; Revolusi Mental.

-Sub-disiplin Ilmu Antropologi

-Tujuan, dan manfaat ilmu Antropologi.

Kegiatan pembelajaran

-Interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa-guru-lingkungan; membaca berbagai literatur tentang pengertian,  konsep-konsep dasar, sub-disiplin, tujuan, dan manfaat ilmu Antropologi.

-Mendiskusikan dan mendeskripsikan dalam bentuk lisan, tulisan, dan poster tentang pengertian,  konsep-konsep dasar, sub-disiplin, tujuan, dan manfaat ilmu Antropologi.

-Menarik kesimpulan tentang manfaat ilmu Antropologi untuk membangun sikap toleran, empati, dan saling menghargai sehingga tercipta kerukunan nasional.

Kompetensi dasar (2)

 pada kompetensi dasar ini, didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang bisa di gunakan acuan yaitu Mendeskripsikan  penggolongan sosial dalam masyarakat Indonesia berdasarkan kriteria tertentu (misalnya: agama, etnik, gender, pekerjaan, desa-kota) dalam rangka menyadari bahwa masyarakat Indonesia beraneka ragam. Selanjutnya Melakukan kajian lapangan, kajian literatur, dan berdiskusi untuk mendeskripsikan penggolongan sosial dalam masyarakat Indonesia berdasarkan kriteria tertentu (misalnya: agama, etnik, gender, pekerjaan, desa-kota) dalam rangka menyadari bahwa masyarakat Indonesia beraneka ragam.

Materinya Pembelajaran

-Konsep Differensiasi Sosial, yaitu penggolongan masyarakat berdasarkan kriteria: agama, etnik, gender, pekerjaan, desa-kota (disesuaikan dengan ciri khas masing-masing daerah).

Kegiatan pembelajaran

-Membangun sikap bijak, kekeluargaan, dan kemanusiaan.

-Membaca dan mengobservasi masyarakat etnik sendiri dan/atau komunitas setempat.

-Mengidentifikasi kelompok-kelompok dalam masyarakat yang berbeda berdasarkan kriteria agama, etnik, gender, pekerjaan, desa-kota (disesuaikan dengan ciri khas masing-masing daerah).

-Mendiskusikan, menganalisis dan menarik kesimpulan tentang persamaan dan perbedaan antar berbagai kelompok.

-Melakukan refleksi untuk menyadari tentang keanekaragaman masyarakat Indonesia sehingga terbentuk sikap bijak, kekeluargaan, dan kemanusiaan.

Kompetensi dasar (3)

  Dalam kompetensi dasar ini, didalamnya terdapat materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang di gunakan sebagai acuan peserta didik yaitu Mendeskripsikan strata sosial dalam masyarakat Indonesia berdasarkan kriteria tertentu (misalnya: penghasilan,  pendidikan, pangkat) dalam rangka menyadari tentang adanya pelapisan sosial dalam masyarakat Indonesia, selanjutnya Melakukan kajian lapangan, kajian literatur, dan berdiskusi untuk mendeskripsikan strata sosial dalam masyarakat Indonesia berdasarkan kriteria tertentu (misalnya: penghasilan,  pendidikan, pangkat) dalam rangka menyadari tentang adanya pelapisan sosial dalam masyarakat Indonesia.

Materi pembelajaran

-Konsep Stratifikasi Sosial, yaitu pelapisan sosial dalam masyarakat berdasarkan kriteria: penghasilan,  pendidikan, pangkat, dan lain-lain (disesuaikan dengan ciri khas masing-masing daerah).

-Membangun sikap bijak, kekeluargaan, dan kemanusiaan.

Kegiatan Pembelajaran

-Membaca dan mengobservasi masyarakat etnik sendiri dan/atau komunitas setempat.

-Mendiskusikan strata sosial dalam masyarakat Indonesia berdasarkan kriteria tertentu (misalnya: penghasilan,  pendidikan, pangkat) dalam rangka menyadari tentang adanya pelapisan sosial dalam masyarakat Indonesia.

-Mendiskusikan, menganalisis dan menarik kesimpulan tentang pelapisan sosial.

-Melakukan refleksi untuk menyadari tentang adanya pelapisan sosial sebagai sebuah kondisi yang perlu disikapi dengan bijak, kekeluargaan, dan kemanusiaan.

untuk lebih lengkap dan jelasnya mengenai acuan pembelajaran kelas 10 dapat di lihat

 Silabus Antropologi SMA Kurikulum 2013  

merupakan referensi dari tulisan di atas

No Comments

Budaya Kekerasan Terhadap Pemain Ke-12 Sepak Bola ( SUPPORTER) Dalam Perspektif Sosiologi Politik

artikel terdiri dari tiga bagian, yaitu awalan, pertengahan dan akhiran ( pendahuluan, pembahasan, simpulan )

 

 Awalan

Kekerasan di dalam dunia supporter sepakbola  sudah menjadi sesuatu hal yang tidak tabu, bahkan bisa di bilang sesuatu hal yang sudah menjadi kebiasaan dan budaya, bahwa kekerasan merupakan bagian dari kehidupan supporter, melihat dari masa dahulu kala sampai sekarang konflik-konflik antar supporter selalu terjadi bahkan selalu berujung pada kematian.

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang bergengsi di Indonesia, dari kaum tua, muda bahkan anak-anak sudah menggemarinya, dalam dunia sepakbola tidak lepas dari adanya pendukung atau supporter yang sekarang ini faktanya bukan hanya ajang untuk mendukung kebanggaan namun sebagian dari life style. Ini merupakan bahasan penting khususnya dalam ranah sosiologi, karena di dalamnya terdapat berbagai masalah yang kompleks, khsususnya kekerasan yang ada dan kaitannya dengan kekuasaan maupun .. yang akan di kaji dalam ranah sosiologi politik

 Kekerasan merupakan perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain ( KBBI), penggunaan kekuatan fisik secara paksa terhadap orang atau benda, itu menurut ahli Sosiologi Soerjono Soekanto. Budaya kekerasan adalah sistem gagasan yang mendasari perilaku masyarakat yang kemudian menjadi pedoman masyarakat dalam dalam melakukan tindak kekerasan (dalam Nugroho Trisnu Brata, Budaya kekerasan dalam Perspektif nilai nilai dan etika masyarakat Jawa )

Dalam pembahasan akan di paparkan mengenai kasus kekerasan supporter sepak bola yang terjadi di Indonesia, kemudian di kaji dalam bahasan Sosiologi Politik tentang kekuasaan, kekerasan dan budaya.

Pertengahahan

Konflik antar supporter sepak bola sudah menjadi kebiasaan bahkan menjadi legitimasi tentang organisasi yang kuat dan sebagai ajang pertunjukkan system kekuasaan pada organisasi supporter, seperti contoh kasus-kasus kekerasan yang berujung pada kematian sebagai berikut

Yang baru-baru ini terjadi adalah bentrok antar supporter PSMS (Medan) dan Persita ( Tangerang ) di Stadion Mini Cibinong, Bogor pada Rabu, 11 Oktober 2017, yang mengakibatkan tewasnya Banu Rusman, anggota Laskar Banteng Viola Tangerang . Di kabarkan korban meninggal karena mengalami pendarahan di otak akibat pukulan balok. Awal mula kejadian ini Bentrokan antarsuporter yang terjadi di akhir pertandingan tak bisa dihindarkan dalam laga Persita Tangerang vs PSMS Medan di kompetisi Liga 2 2017. Laga tersebut dimenangkan PSMS 1-0. Situasi makin memanas ketika ada lemparan batu dari arah bangku penonton. Tak terima, suporter PSMS yang didominasi anggota TNI melakukan serangan balik ke suporter Persita.
Kedua kubu suporter saling serang setelah wasit meniup pluit panjang. Kericuhan bermula ketika suporter Persita masuk ke area lapangan hijau lantaran protes kepada manajemen

Soal kabar tentang oknum anggota TNI yang terlibat dalam bentrokan antarsuporter, Manajer Liga Baru (LIB) menyebut pihaknya harus berhati-hati supaya tidak terjadi ketersinggungan antarpihak. Selain PSSI, ia juga memastikan bakal berkoordiasi dengan banyak pihak termasuk aparat keamanan.“Kami harus mencermati ini secara seksama. Ada [informasi] keterlibatan pihak di luar sepak bola, yaitu [oknum] aparat negara. Tapi jangan sampai ada ketersinggungan, jangan permasalahannya jadi melebar. Kita harus tahu di mana mendudukkan posisi dan masalah ini” . kasus tersebut di anggap sesuatu yang serius, bukan hal remeh lagi melihat kondisi sepak bola dewasa ini harusnya taat pada aturan dan sportif bukan sebaliknya.

Yang seperti tersebut di atas adalah kekerasan yang terjadi antar supporter yang letak geografisnya terhitung jauh, bahkan sebelumnya  juga pernah terjadi kekerasan supporter local daerah..

Peristiwa bermula ketika babak pertama Persib Bandung melawan Persija Jakarta usai. Ketika itu Riko ( korban ) hendak membeli makan, karena merasa gerah ia membuka baju Viking ( atribut supporter Bandung ) karena merasa gerah, saat sedang makan ada keributan yaitu supporter The Jack ( jakarta ) di pukuli oknum supporter Bandung, karena sudh lama di ketahui kedua organisasi supporter tersebut tidak baik atau sedang berkonflik. Ketika korban menghampiri sumber keributan ia justru ikut di anggap sebagai anggota The Jack dan menjadi korban emosi oknum yang tidak bertanggung jawab, sebeum di pukuli korban sempat menunjukkan KTP domisili Bandung kepada massa, namun pembelaan ternyata sia-sia saking banyaknya massa yang emosi. Korban di pukuli dan menjadi bulan-bulanan hingga akhirnya babak bekur dan tak sadarkan diri. Korban mengehembuskan nafas terakhir usai menjalani perawatan intensif selama lima hari di salah satu rumah sakit yang berada di Bandung. Hal seperti di atas merupakan korban salah sasaran.

Dari kedua kasus di atas dapat di pahami mengenai kekerasan, kebudayaan, yang erat kaitannya dengan kekuasaan. Bahwa di sana kekuasaan memberi kesempatan dan ruang gerak yang luas bagi sejumlah orang maupun massa untuk melaksanakan kemauannya sendiri. Khususnya yang berhubungan dengan harga diri maupun legitimasi bahwa organisasi supporter mereka yang paling kuat. Terlebih kekuasaan mereka yang yang mempunyai kekuatan yang di anggap lebih seperti kekerasan yang di lakukan oleh supporter medan yang dominan saat itu adalah aparat Negara  dan supporter Bobotoh ( Tuan Rumah ) , posisi yang di dapatkan mereka saat itu hampir sama sebagai pemegang kekuasaan. Khususnya orang Medan yang di kenal keras dan memang sudah mempunyai legitimasi seperti tersebut yang menambahi kekuatan kekuasaan mreka sebagai aparat Negara.

Politik sering kali dihubungkan dengan usaha mendapatkan maupun mempertahankan kekuasaan seperti yang telah di bahas di atas. Padahal hakikatnya Politik adaah bersih, namun seringkali menjadi kotor karena sifat negative manusia yang egois dan serakah, sama halnya dengan budaya kekerasan antar supporter tersebut yang terus tumbuh karena menganut nilai-nilai massa dahulu dan bahkan sudah mendarah daging bahwa kekerasan adalah satu cara yang di gunakan untuk menumbangkan dan memperebutkan kekuasaan yang akhirnya nilai tersebut di anut hingga saat ini oleh para supporter. Walaupun mereka harus berhubungan dengan polisi namun tetap saja mereka tidak takut dan bahkn mundur, karena musuh mereka bukanlah polisi atau keamanan lainnya, melainkan organisasi supporter di luar mereka. Padahal sebenarnya musuh mereka bukanlah sesama supporter namun klub yang menjadi musush dari kesebelasan yang mereka dukung. Karena faktanya sesama supporter adalah saling mendukung bukan saling bermusuhan yang di harapkan dalam sepakbola dewasa ini. Namun bagaimana bisa dan bagaimana sulitnya mengubah budaya kekerasan yang terbalut dalam kekuasaan yang mereka miliki.

Sejalan dengan acuan “ budaya kekerasan dalam perspektif nilai-nilai jawa dan etika masyarakat Jawa” bahwa masyarakat Jawa yang di kenal dengan kebudayaan yang adiluhung, halus, klasik, hierarkis dan aritrokratis ( Nugroho Trisnu Brata, 2000 : 63) merupakan konsepsi abstrak yang hanya di cita-citakan yang ternyata bebeda dengan realitas masyarakat , kondisi tersebut menurut Geertz di sebut sebagai model for reality. Bahwa di ketahui pada dasarnya masyarakat Jawa bukanlah masyarakat yang homogeny seperti yang di cita-citakan di atas, di sana juga terdapat acuan yang melandasi terbentuknya budaya kekerasan pada saat ini oleh masyarakat Jawa seiring berjalannya waktu atau massa bahwa melihat nilai dan etika terdahulu masyarakat Jawa adalah etnis yang keras dan Penakluk, pun bahwa penguasa ( pemilik kekuasaan ) adalah sosok yang keras dan berhubungan dengan kekerasan.

Hal tersebut sama halnya dengan budaya kekerasan oleh supporter di atas karena nilai yang sudah berkembang dan di anut oleh segenap masyarakat supporter. Kekerasan di gunakan untuk memberdayakan mereka yang lemah, sebagai bukti organisasi mereka yang paling kuat, dengan kekuasaan yang mereka miliki.

Akhiran

 Realita kekerasan dalam kekuasan saat ini merupakan implikasi dari massa ke massa, sebagai akibat dari nilai dan budaya yang di ambil dari massa dahulu kala, yang di gunakan sebagai alat berjuang maupun mempertahankan legitimasi jika di lihat dari segi politis. Faktanya pun kekerasan bukan di anggap sebagai hal yang baru dan hal yang tabu saat ini walaupun di lakukan oleh seseorang maupun massa yang mempunyai dan khususnya yang tidak mempunyai hak secara legal dalam kekuasaan. Yang pasti kekerasan tumbuh karena adanya proses perkembangan masyarakat yang mengacu pada kultur atau budaya yang kemudian menjadi nilai praktis oleh masyarakat yang mengangutnya.

Kemudian di sini sistem politik atau hukum tidak bisa lagi menggunakan cara-cara kuno seperti penangkapan, pemberian hukuman dan pemberrantasan pada kekerasan yang di lakukan,tidak akan memberikan efek jera. Namun harusnya lebih kepada pencegahan bagaimana di zaman yang sedewasa ini informasi mengenai kesadaran, etika, dan pengetahuan masyarakat harus lebih di gembleng untuk mewujudkan kekuasaan yang tidak berakhir pada kekerasan yang illegal dan kematian sesorang dalam memperkuat maupun meraih posisi maupun jabatan.

Artikel ini di tulis guna memenuhi tugas pegganti UTS Sosiologi Politik Pada mata kuliah semester 5

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho Trisnu Brata, Budaya Kekerasan dalamPerspktif  Nilai-Nilai dan Etika Jawa, 2008, https :// scholar.google.co.id

Regionl.kompas.com | Jumat, 28 Juli 2017 07 : 53 WIB

 

Titi Fajriyah , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 18:23 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No Comments

Hutan Hujan Tropis Suaka Chicho Mendez

selain review film” The Burning Season” juga di sertakan analisis berdasarkan Antropologi Pembangunan, Pun artikel ini di tulis guna memenuhi tugas harian mata kuliah Antropologi Pembangunan Pada semester 4

Cerita dari film ini adalah di Negara Brazil lebih tepatnya di Cachoeira, salah satu Negara berkembang pada masa akhir 1990an. Hutan Amazon di jadikan sumber pencaharian masyarakat, sehingga sebagian besar dari mereka bekerja sebagai penyadap karet. Yang menjadi cikal bakal atau tokoh utama dari cerita film ini adalah Chicho Mendez, seorang anak dari penyadap karet di sana. Ia hidup dan di besarkan dengan melihat suasana atau massa yang begitu kacau, di mana terjadi pembodohan oleh para kaum pemilik modal, kaum kapitalis atau semacam tengkulak. Ia melihat sendiri bagaimana proses jual beli yang mendapati kecurangan oleh para tengkulak, di mana timbangan di kurangi dan di beri harga yang sangat kecil, Chicho menganggap ini bisnis yang sangat buruk sekali, namun ayahnya hanya mengiyakan saja seperti budak yang sangat patuh pada keadaan. Salah satu yang mendoiminasi hal tersebut adalah karena siapapun yang berani menentang ataupun membuat serikat dagang penyadap karet akan di beri hukuman dengan di bakar hidup-hidup, Chicho juga telah menyaksikan sendiri hal itu dan tiada satu orang pun yang berani membela.

Setelah Chico bertumbuh besar dan dewasa yaitu pada tahun 1983, ada sesorang yang berani menentang dan berpikir realistis untuk menyelamatkan hutan Amazon sebagai hak masyarakat, yaitu Wilson Pinheiro, keudian ia bekerja sama dengan Chicho membentuk serikat dagang sindocato yang awalnya di sosialisasikan dalam forum gereja, Wilson mengatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan penghidupan yang layak khususnya hak mereka sendiri dengan tetap memperhatikan ekologi lingkungan, bukan hanya para saudagar saja atau peternak yang bias berkuasa, walaupun di bilang dengan tekhnologi yang sangat sederhana atau bahkan tanpa alat-alat perang seperti para saudagar kaya. Banyak masyarakta yang awalnya tidak setuju, namun tidak seditik dari mereka mau bergabung dalam sindikat pekerja Chicho.

Pada awal pemberontakan kepada kaum kapitalis, masih sangat sulit, belum pula berhasil sudah terjadi pembakaran dan pembunuhan. Ini bisa terjadi karena para kaum kapitalis membayar atau menyuap polisi untuk bekerja sama dan melakukan hal tersebut di atas dengan motif di anggap sebagai pelanggaran, apalah daya masyarakat yang tidak mempunyai atau melawan menggunakan senjata perang, karena di sini prinsip dari Welson dan Chicho adalah damai dengan tidak melakukan perlawanan atau pembalasan menggunakan kekerasan. Tidak putus asa mereka berdua kembali berbenah dan terus melakukan pemberontakan kembali untuk melindungi hutan dan hak mereka. Dari sini akhirnya para kapitalis atau peternak berjanji membebaskan tanah mereka sehingga perlawanan di hentikan.  Namun yang terjadi adalah mereka mengingkari dan terus melakukan pembakaran, dan pembunuhan seperti yang telah di jelaskan di atas, terjadi chaos yang sangat sengit dan pada saat ini juga menewaskan rekan chicho yaitu Welson.

Dari peristiwa chaos di atas tidak menyulutkan semangat para masyarakat yang tergabung dalam sindikat pekerja dengan di pimpin oleh Chicho selaku penerus perjuangan dari rekannya tersebut .setelah kematian Welson, Chico menikah dengan seorang gadis, merupakan putri dari salah satu masyarakat yang mendukung pergerakan Chicho. kemudian mereka melanjutkan pemberontakan  tidak menggunkan kekerasan namun dengan film documenter.karena saat itu ia mendapat tawaran untuk menjadi actor dalam film tersebut yang menggambarkan peristiwa kerusakan hutan di dalamnya. Namun keadaan menjadi buruk kembali dan terjadi terror di mana-mana, sehingga Chicho berinisiatif mencalonkan diri menjadi gubernur untuk menyelamatkan hutan Amazon walaupun tidak mendapat restu dari istrinya karena takut akan memiliki nasib yang sama dengan Welson. Namun ketika itu ia hanya mendapatkan sedikit suara, karena lawan yang di dukung oleh para peternak.

Kelanjutan dari film documenter Chicho adalah ia di undang untuk menerima penghargaan dari PBB terkait usahanya menyelamatkan hutan, awalnya Chicho tidak setuju dan merasa kecewa karena tujuan ia dan film documenter adalah tidak sama, yang di harapkan Chicho adalah perubahan bukan kemajuan. Kemudian setelah mealui beberapa perundingan akhirnya Chicho mau dan berpidato serta mencari media yang dapat menampung tuntutanannya untuk menghentikan penebangan hutan yang di gunakan akses jalan para peternak dan memberikan pekerjaan bagi masyarakat di daerahnya. Kemudian Chicho mendapatkan perhatian dunia, walaupun begitu setelahnya tetap tidak ada perubahan hingga ia mempunyai inisiatif dan menyiarkan mealui media bahwa telah terjadi pembantaian di daerahnya hingga mendapatkan perhatian dunia kembali, dari sini para kapitalis yang memiliki kuasa resmi  sangat bingung hingga terjadi perundingan antara mereka dan chicho bahwa negara akan melindungi hak mereka akan hutan dan adanya jaminan hokum serta kaum peternak melepaskan semua yang pernah di rampas kepada masyarakat. Namun lagi-lagi mereka tetap ingin menguasai hutan tersebut dan merasa malu atas apa yang telah di lakukan chicho sehingga membalas dendam dengan menembak Chicho. Walaupun sudah mengetahui hal tersebut Chicho tetap bertahan di sana dan tidak melarikan diri. Setlah penembakannya duka terjadi di Chachoiera. Dari hal tersebut akhirnya dunia dan pemerintah brazil sendiri khususnya benar-benar menghentikan penebangan maupun pembakaran hutan, kemudian hutan hujan tropis itu di namai dengan nama Chicho sebagai salah satu jasa yang telah di berikannya terhadap hutan amazon.

Analisis berdasarkan sudut Antropologi Pembangunan.

Seperti yang sudah di jelaskan di atas kaitannya dengan Negara berkembang, di buktikan di sana yang di bahas adalah sector perhutanan atau kebun yang masih sejalur dengan agraris, namun sedikit telah di dominasi oleh model industry peternakan oleh kaum kapitalis. Menurut saya mengenai pembangunan yang ada di sana dalam lingkup besar adalah meliputi pembangunan dalam bidang environtment atau ekologi dan pembangunan dalam hal social yang di dalamnya juga terdapat unsur politik. Karena politik juga merupakan salah satu aspek penting suatu Negara berkembang, apalagi prospek untuk menjadi Negara maju yang di dalamnyapun terdapat kelompok yang saling berkonflik. Environtmen juga masih termasuk dalam kajian antropologi, tergantung ranah yang akan di ambil sudut pandang atau di jelaskan, ekologi bukan melulu di pandang sebagai ranah ilmu geogragphy.

Yang menarik dari film di atas pun termasuk di mana masyarakat secara kolektif atau kelompok yang mau bergabung ke dalam serikat pekerjaan walaupun di sana masih sederhana dan tidak mempunyai alat senjata untuk melawan para kapitalis bukan menjadi budak dari kaum tersebut, inti terjadi karena hasrat dan iming-iming agar mendapatkan hak atas apa yang seharusnya menjadi milik mereka. Selain itu di sana juga bagaimana pintarnya sugesti yang di gunakan Chico dan Welson yang sepenuh hati. Namun secara tidak langsung serikat  yang tidak mengedepankan kekerasan ini juga salah satu bentuk agar pemerintah dapat peka terhadap keadaan saat itu. Selain itu juga mitos akan adanya mahluk curupira yang akan menelan kita jika mengekploitasi hutan. Hal ini juga merupakan salah satu sugesti untuk tidak melakukan kejahatan sehingga menumbuhkan rasa untuk membangun suatu kedaan lebih baik atau mempertahankannya untuk kelagsungan hidup anak cucu agar tidak kekurangan SDA di sampung SDM yang tinggi di masa yang akan datang.

Kembali lagi pada aspek environtmen yang telah di jelaskan faktanya tidak sejalan dengan arus logika pembangunan jika berbicara pada ranah globalisasi, di mana masyarakat mati-matian membela hutan agar tetap lestari dan tidak boleh di jadikan akses atau jalan, padahal jalan atau akses juga hal penting untuk melakukan suatu pembangunan khususnya ranah ekonomi. Namun sisi positif yang ada adalah masyarakat tidak kehilangan mata pencaharian sebagai peyadap karet.

Selanjutnya adalah berbicara aspek social, bahwa di sini juga di paparkan pembangunan bukan sesuatu yang ingin memajukan seluruh aspek, namun juga adalah bagaimana cara berubah atau sekedar mempertahankan, sesui dengan bahasan di atas mengenai politik, di sini juga di bahas bahwa politik bukan sesuatu yang harus berbau dengan kekerasan, di buktikan dengan sikap masyarakat yang tidak mau membalas dendam dan menggunakan seenjata untuk melawan para kapitalis, cukup dengan kehalusan atau perundingan, diskusi dan semacamnya. Walaupun di sana telah terjadi chaos, pembunuhan dan pembakaran. Ini juga menjadi salah satu model pemimpin yang harus bias menguasai hati rakyatnya.

Jadi yang dapat di simpulkan dari film ini dan kaitannya dengan Antropologi Pembangunan adalah pembangunan khususnya yang melibatkan kekolektifan masyarakat tidak melulu pada sesuatu yang besar dan wah, namun di sini perubahan atau pembangunan adalah mengacu pada hak dan kebutuhan  masyarakat yang ada dan mengacu pada pantas tidaknya akan suatu hal, seperti yang telah di kisahkan bahwa masyrarakat hanya perlu hutan Amazon agar tetap rindang karena di jadikan sebagai salah satu ladang pencaharian, bahkan tempat tinggal mereka. Mereka tidak perlu akan akses jalan ataupun lainnya sesuai dengan keinginan para kaum kapitalis agar proses bisnis maupun peternakannya bias lancar, pun hal tersebut sebenarnya juga bias di perlukan masyarakat local, namun kembali lagi di sini yang di butuhkan dalam pembangunan mereka adalah ladang pencaharian. Selain itu yang tergambar dari film di atas bahwa pembangunan juga harus tetap memperhatikan aspek-aspek kelingkungan, aspek kenyamanan atau hokum yang di percaya di dalam masyarakat tersebut. Bukan pada aspek-aspek yang berbau kapitalisme, karena perlu di tegaskan lagi pembangunan adalah mengacu pada kebutuhan masyarakat, bukan pada kebutuhan lembaga yang bersangkutan atau lainnya.

 

 

 

 

No Comments

“Kajian Agama (Religi) menurut teori Evolusi, Difusi, Fungsionalis, dan Fungsionalisme Struktural serta Aplikasi teori terhadap Fenomena Agama”

untuk lebih jelasnya pemaparan sebagai berikut

  1. Kajian agama menurut teori Evolusi

Di antara para ahli dan cendekiawan menulis berbagai karangan yang menjelaskan mengenai jalannya proses evolusi social yang kemudian menjadi cikal bakal atau di pergunakan dalam mengkaji sesuatu yang berhubungan dengan evolusi, di antaranya mengenai evolusi tentang agama ada beberapa ahli yaitu Edward B. Tylor, J.G. Frazer dengan penjelasan teori sebagai berikut :

Edward B Tylor ( 1832-1917)

Merupakan tokoh dari inggris penganut paham evolusionisme, ia melakukan suatu penelitian sendiri mengambil unsur-unsur  kebudayaan seperti sistem religi, kepercayaan, kesusasteraan, adat-istiadat dan kesenian hingga menghasilkan karyanya yang terpenting di budang religi yaitu dua jilid primitive culture : Research into the development of mytplpgy, philosophy, religion, language, art and custom pada tahun 1874. Dalam karyanya tersebut Edward mengemukakan bahwa asal mula religi adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa, kesadaran akan faham jiwa itu di sebabkan karena dua hal yaitu:

  1. Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Satu organisme pada satu saat bergerak, yaitu hidup tetapi tidak lama kemudian orgasme itu tidak bergerak lagi, yakni manusia mulai sadar akan suatu kekuatan yang menyebabkan gerak itu yaitu nyawa.
  2. Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat-tempat lain, maka manusia mulai membedakan antara jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan suatu bagian darinya yang pergi ke tempat-tempat lain yang bagian tersebut di sebut jiwa.

Selanjutnya pada tingkat ahkir evolusi religi menurutnya setelah manusia mengenai kematian dan jasmani dan jiwa, Edward menganggap manusia percaya bahwa mhaluk-mahluk halus yang menempati alam sekeliling tempt tinggalnya yang kasat mata sehingga menjadi objek penyembahan dan penghormatan di sertai dengan upacara berupa do’a dan sajen atau korban yang di sebut edwar sebagai animism. Jadi konsep evolusi edwar adalah mulai dari hal sadar manusia terhadap jiwa hingga kepercayaan terhadap hal-hal yang mendampingi jiwa tersebut.

Selanjutnya adalah teori religi menurut J.G. Frazeer (1854-1941)

Merupakan ahli foklor yang sama-sama dari inggris seperti Edward, karyanya yang berhubungan dengan religi dan hal ghaib adalah Totemism and Exogamy (1910) uga mengkaji mengei asal mula dari rigid an mahluk ghaib bahwa menurutnya manusia memecahkan soal-soal hidpnya dengan akal dan sistem pengetahuan yang tidak ada batasnya. Makin keterbelakang kebudayaan manusi, makin sempit lingkaran batas akalnya.  Bahwa hidup manusia tidak dapat di pecahkan dengan akal, namun dengan magic dengan konsep pada waktu iu belum ada religi dalam kebudayaan manusia, lambat laun terbukti bahwa dari tindakan magic yodak ada hasilnya maka ia mulai yakin bahwa alam di diami oleh mahluk halus yang lebih berkuasa, sehingga dari kepercayaan tersebut timbullah religi jadi perbedaan dengan teori Edward adalah cara dalam menentukan objek tersebut.

Dari situlah kemuian muncul pemikiran dan teori mengenai religi dan agama di antaranya teori tentang kekuatan luar biasa, konsep tentang animism dan spiritisme, teori yang berorientasi kepada sikap manusia terhadap hal ghaib, dari situlah di simpulkan lima komponen religi yaitu (1) emosi kagamaan (2) sistem keyakinan (3) sistem ritus dan upacara (4) peralatan ritus dan upacara (5) umat agama. Yang intinya membahas interaksi manusia dengan mahluk lain yang di anggap sebagai kekuatan lain yang memperkuat atau menjaga dirinya.

  1. Kajian Religi menurut teori Difusi

Mengenai kajian religi pada teori difusi lebih kental pada ahli teori difusi yaitu Whilhelm Schmidt ( 1868-1954) merupakan guru besar  perguuan tinggi di Austria di mana di didik calon-calon pendeta penyiar agama Katolik, yang juga di ajarkan mengenai ilmu antropologi. Schmid terkenal dengan ilmu antrolopologi dari penelitian-penelitiannya mengenai bentuk religi yang tertua. Ia sebenarnya menlanjutkan uraian religi dari tokoh evolusi Andrew Lang. dalam dasar dan filsafatnya ia yakin bahwa agama berasal dari Titah Tuhan yang di turunkan kepada mahluk manusia itu mula-mula muncul di muka bui. Oleh karena itu adanya tanda-tanda dari suatu keyakinan kepada dewa pencipta, justru pada bangsa-bangsa yang paling rendah tingkat kebudayaannya adalah yang paling tua. Degan demikian keyakinan yang asli dan bersih kepada tuhan ada pada bangsa yang tua, pada masa kebudayaan manusia paling rendah atau belum berkembang, sebab dalam zaman kemudian waktu kebudayaan manusia bertambah maju keyakinan asli terhadap Tuhan menjadi kabur dan terdesak oleh pemujaan-pemujaan kepada mahluk halus, ruh-ruh, dewa dan sebagainya.

Sisa-sisa kepercayaan terhadap Titah Tuhan ayang merupakan kepercayaan kepada Dewa tertingg dapat di temukan dalam religi uku-suku bangsa di dunia yang di anggap sebagai sisa manusia dahulu seperti kelompk negroid kecil yang hodup di daerah perairan sungai Kongo Afrika Tengah.

  1. Kajian Agama menurut teori Fungsionalisme

Ahli teori fungsionalisme yaitu Robert K. Marton mempunyai dua  asumsi dari adanya struktur kepercayaan dari fungsi yaitu postulat keutuhan masyarakat bahwa sesuatu berhubungan fungsional dengan sesuatu yang lain dan postulat fungsionalisme universal bahwa segala unsur budaya melaksanakan suatu fungsi dan tidak ada satupun unsur lain yang mampu melaksanakan fungsi yang sama itu. Jadi menurut marton semua asumsi postulat di atas harus di tolak atas dasat empiric. Dari situ marton menjelaskan konsep “fungsi” yaitu fungsi manifest dan fungsi laten atau fungsi tampak dan fungsi terselubung, dari fungsi laten atau fungsi terselubung tersebut timbul konsep religi lewat tarian hujan hopi bahwa suku hopi terus melakukan tarian hujan tidak hanya keliru mempercayai bahwa ritual tersebut menghasilkan hujan namun menggalakkan fungsi solidaritas masyarakat, jadi menurut marton bahwa fungsi dari kegiatan ritual akan menjadi sebab adanya solidaritas masyarakat, jadi konsep religi yang tersirat dari  fungsional bahwa masyarakat akan percaya atau yakin terhadap sesuatu hal gaib atas sugesti yang tinggi dari akibat suatu kegiatan yang menimbulkan fungsi tersebut.

  1. Kajian Religi menurut Teori Struktural Fungsionalisme

Teori structural-fungsionalis merupakan penggabungan dari dua pendekatan, yaitu pendekatan fungsional Durkheim dan pendekatan Struktural Radcliffe Brown. Namun mengenai kajian agama atau religi terdapat pada konsep teori Malinowski yang tidak  jauh dari konsep R.B. Menurut Malinowski Budaya pada tingkat pertama merupakan alat atau instrument, Malinowski mengacukan konsep Budaya terhadap mikrokosmos masyarakat terrible atau masyarakat sederhana, masyarakat primitive dan sebagainya. Bahwa keseluruhan unsur-unsur sebagai kesatuan yang terintegrasi, selanjutnya dalam keleruhuna intergasi tersebut di kaji fungsi atau guna dari keseluruhan unsur tersebut. Di sinilah konsep kepercayaan atau religi dapat di kaji atau di lihat menurut teori structural fungsionalis di mana pertama Malinowski mengaku terhadap makroksmos di mana religi tumbuh dari adanya mahluk halus atau mahluk tak kasat mata yang kemudian di percaya dan di hormati, dan dari kepercayaan tersebut di gali berbagai unsur-unsur yang ada seperti alat, sikap dan hubungan dalam kepercayaan tersebut. Ketiga Malinowski juga mengemukakan persoalan perbedaan warisan sosiologis dan biologis, bahwa kebudayaan merupakan warisan sosiologis, seperti kepercayaan merupakaan peninggalan pada masyarakat primitive dan oleh sistem serta tingkah laku manusia mulai di ubah sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan seperti yang telah di jelaskan pada konsep difusi;

  1. Studi Kasus

Fenomena agama yang di angkat adalah kasus Penistaan Agama oleh Mantan Gubernur Jakarta yaitu Ahok. Ahok di tuduh menistakan agama Islam karena menyinggung surat Al Maidah ayat 51 saat saat pidato di hadapan wrga Pulau Pramuka, Keulauan Seribu dan pada saat berlainan juga menuturkan meminta lawan politiknya untuk tidak pakai Al Maidah 51.

Jelas hal di atas memicu persoalan di antara berbagai masyarakat di Indonesia khususnya adalah masyarakat Islam, mengingat Ahok adalah sorang non muslim yang menjadi pemimpin di kota Jakarta. Fenomena atau kejadian ini berlangsung pada masa pencalonan kembali Ahok menjadi gubernur Jakarta. Tidak dapat di pungkiri fenomena semacam itu yang hakikatnya adalah persoalan agama atau kepercayaan di campuri oleh urusan social politik. Banyak tokoh agama maupun tokoh politik yang secara langsung maupun tidak langsung dan secara murni maupun tidak banyak yang mengecam dan melaporkan Ahok sebagai kasus penistaan Agama dan segera di Proses di Ranah hukum, kasus religi ini juga di jadikan sebagai alat provokasi dalam masa pencalonan Ahok sebagai Gubernur Jakarta

Teori yang Aplikatif untuk studi agama di atas adalah Teori Fungsionalisme marton di mana kasus penistaan agama oleh Ahok menjadikan banyak orang mengecam dan melaporkan pidato Ahok yang mengemukakan untuk tidak percaya terhadap surat Al maidah Ayat 51. Menurut pakar sosiologi tindakan ahok tersebut sebenarnya bukan atas dasar ketidaksengajaan, karena di sana Ahok mempunyai penasehat serta hal tersebut yang di kemukakan oleh Ahok tidak semata sekali saja. Itu merupakan cara yang di gunakan Ahok untuk menarik respond dari masyarakat berbagai kalangan untuk bersuara atau berkomentar. Jelas kasus seperti di atas akan menimbulkan akibat atau menjadi sebab dari pelaporan dan pengecaman Ahok oleh masyarakat Muslim dan di jadikan sebagai alat provokasi dalam dunia politik. Kemudian banyak masyarakat yang kemudian terperdaya atas sugesti kalangan atas untuk tidak memilih Ahok karena menistakan agama, tidak bisa menjaga attitude serta yang paling menonjol untuk agama islam adalah memilih pemimpin muslim, hal tersebut merupakan fungsi Laten dari fenomena di atas. Di mana bukan hanya respon pengecaman Ahok namun di balik itu terdapat tingkah laku manusia yang turrut serta menjadikan fenomena religi di atas sebagai hal provokasi yang memang secara alami akan tetap ada dan tidak di sadari oleh kalangan biasa. Seperti contoh fungsionalis Marton bahwa di balik upacara hujan Hopi menimbulkan esensi kekompakan atau solidaritas di antara masyarakat Hopi itu sendiri

Artikel ini di buat untuk memenuhi tugas pengganti UTS teori budaya Pada semester 4, referensi dari buku Teri budaya karya Kaplan dan Manner

No Comments

Video Pembelajaran Sosiologi SMA

Berikut ini adalah salah satu contoh pembelajaran sosiologi yang di kemas dalam video, materi yang di sampaikan adalah KONFLIK, khususnya materi sosiologi untuk kelas XI SMA. kelebihan dari video ini adalah materi di sampaikan secara lengkap, di sisipkan gambar, dan suara yang jelas, sebagai berikut :

No Comments

Silabus Sosiologi Kelas XII

Alokasi waktu: 4 jam pelajaran/minggu

Kompetensi Sikap Spiritual dan Kompetensi Sikap Sosial dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching)  pada pembelajaran Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

check this out

No Comments

Silabus Sosiologi Kelas XI

Alokasi waktu: 4 jam pelajaran/minggu

Kompetensi Sikap Spiritual dan Kompetensi Sikap Sosial dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching)  pada pembelajaran Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

check this out

No Comments

Silabus Sosiologi Kelas X

Alokasi waktu: 3 jam pelajaran/minggu

 

Kompetensi Sikap Spiritual dan Kompetensi Sikap Sosial dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching)  pada pembelajaran Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

check this out

No Comments

Skip to toolbar