KORELASI BAHASA KIMIA DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF

Hasil gambar untuk bahasaBahasa merupakan suatu sistem yang terdiri dari lambang-lambang, kata-kata, dan kalimat-kalimat yang disusun menurut aturan tertentu dan digunakan sekelompok orang untuk berkomunikasi (Fathoni, 2009). Dilihat dari segi fungsinya, bahasa memiliki dua fungsi, yaitu: pertama, sebagai alat untuk menyatakan ide, pikiran, gagasan atau perasaan dan kedua, sebagai

alat untuk melakukan komunikasi dalam berinteraksi dengan orang lain. Berdasarkan dua fungsi tersebut, mustahil jika manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi tanpa melibatkan peranan bahasa. 

Menurut Suyanti (2010), kimia ialah bagian dari ilmu pengetahuan alam yang merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisir tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. Jacob (2001) menyatakan bahwa kimia merupakan suatu ilmu eksperimen yang mentransformasi antara suatu zat atau substansi dengan bahasa kimia. Artinya, di satu sisi ahli kimia menganalisis dan mensintesis senyawa baru di laboratorium, sedangkan di sisi lain mereka harus membuat pernyataan yang tepat dan analitis tentang senyawa tersebut dalam suatu artikel penelitian. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa bahasa menjadi aspek yang penting dalam kimia. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana dalam kimia menggunakan bahasa yang sesuai dengan penggunaan dan konsekuensi pemanfaatan bahasa untuk kimia secara keseluruhan.

Hasil gambar untuk bahasa kimiaMerujuk pada pengertian tersebut, maka kimia dapat dipandang sebagai bahasa karena dalam kimia terdapat sekumpulan lambang atau simbol dan kata, baik kata dalam bentuk lambang maupun kata yang diadopsi dari bahasa biasa, misal kata “asam” yang dalam kimia menyatakan suatu zat yang menghasilkan ion H+ jika dilarutkan dalam air. Simbol-simbol kimia bersifat artifisial yang memiliki arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Lambang dalam kimia dibuat secara artifisial dan individual yang merupakan perjanjian khusus untuk suatu permasalahan yang dikaji. Suatu obyek yang dikaji dapat disimbolkan sesuai dengan kesepakatan bersama. Selain itu, bahasa kimia juga memenuhi tiga hal yang merupakan hakikat bahasa yaitu bahasa kimia memiliki makna, bahasa kimia sebagai lambang, dan bahasa kimia bersifat arbitrer.

Dalam pembelajaran kimia di SMA, bahasa kimia yang digunakan dapat dikatakan belum terlalu banyak. Sebagai contoh, simbol digunakan untuk menunjukkan atom, persamaan kimia digunakan untuk menunjukkan bagaimana campuran antara unsur dan/atau senyawa dalam suatu reaksi kimia. Pada umumnya, siswa cenderung belajar dengan hafalan daripada secara aktif mencari untuk membangun pemahaman mereka secara mandiri terhadap konsep kimia. Dari hasil observasi dan pengalaman di lapangan, banyak siswa kelas XII IPA yang masih bermasalah dengan pelajaran kimia. Padahal mereka sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional (UN). Berdasarkan hasil penelitian Rahman (2009), seorang guru kimia di SMA Negeri 2 Banjarmasin, dinyatakan bahwa perihal utama yang menyebabkan kesenjangan tersebut terjadi yaitu lemahnya kemampuan siswa dalam mengaitkan berbagai perlambangan dalam kimia dengan fenomena alam. Dalam kaitannya dengan perlambangan dalam kimia, hal ini dapat ditarik ke hal yang lebih umum yaitu bahasa kimia.

Di SMP, rumus kimia diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan atau daftar yang telah disediakan, tetapi siswa didorong untuk menghafal rumus daripada memahami prinsip-prinsip dasar yang dibutuhkan untuk menuliskan rumus kimia. Bradley, et al (2006) menuliskan dalam suatu studi penelitian tahun 1982 yang meneliti pemahaman siswa di Jerman mengenai pembakaran magnesium, Barke menguji 272 siswa. Hanya 30% siswa yang mampu menulis persamaan kimia untuk reaksi magnesium dan oksigen dengan benar hingga pada tingkat mikroskopis. Sedangkan 70% siswa mengandalkan menghafal rumus kimia dalam persamaan kimia, tetapi tidak menunjukkan adanya pemahaman pada tingkat mikroskopis dan tidak memahami rumus kimia. Dalam penelitian ini, Barke menyimpulkan bahwa penggunaan simbol kimia belum tentu mampu membantu siswa dalam menjelaskan suatu reaksi kimia.

Ketepatan bahasa dalam kimia merupakan suatu masalah jika guru menggunakan istilah atom, molekul, dan ion tanpa memandang miskonsepsi yang akan terjadi. Menurut Ver Beek & Louters, sebagaimana dikutip oleh Bradley, et al (2006), kesulitan dalam belajar kimia dapat dipengaruhi oleh kurangnya kemampuan memahami bahasa kimia. Menurut Herron, sebagaimana dikutip oleh Bradley, et al (2006), menunjukkan bahwa salah satu masalah dalam penggunaan bahasa kimia yaitu siswa menerima pernyataan kimia yang tidak benar. Hanya siswa yang memiliki pemahaman makna semantik dalam frase kimia dan persamaan kimia yang mampu menolak pernyataan yang tidak benar. Robinson, et al (1997) menyatakan konsep dasar yang termasuk dalam bahasa kimia yaitu teori atom, struktur dan massa atom, isotop, pembentukan ion, ikatan ion dan kovalen, jenis reaksi kimia, tata nama senyawa dan tabel periodik unsur.

siswa SMA 2 Pati :)

Jika kemampuan memahami bahasa kimia seorang siswa rendah, maka hasil belajar kimia siswa pun rendah pula. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi kemampuan siswa dalam memahami bahasa kimia maka hasil belajar kimia semakin tinggi pula. Hal ini seirama dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Danili & Reid, sebagaimana dikutip oleh Bradley, et al (2006), yaitu siswa mengalami kesulitan dalam belajar kimia jika kemampuan siswa dalam berbahasa kimia kurang. Kesulitan dalam belajar kimia mengakibatkan hasil belajar kimia rendah.

Menurut Veer Beek & Louters, sebagaimana dikutip oleh Bradley, et al (2006) menyatakan kesulitan dalam belajar kimia dapat dipengaruhi oleh kurangnya kemampuan memahami bahasa kimia. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam kimia bergantung pada pemahaman bahasa yang ia kuasai. Pemahaman bahasa kimia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal. Jika siswa kurang memahami bahasa kimia maka kemampuan dalam menyelesaikan soal kimia rendah dan mengakibatkan hasil belajar kimia rendah pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki pemahaman bahasa kimia yang baik akan mampu menyelesaikan soal kimia dengan baik dan mengakibatkan hasil belajar kimianya lebih tinggi.

Jika kemampuan memahami bahasa kimia seorang siswa rendah, maka hasil belajar kimia siswa pun rendah pula. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi kemampuan siswa dalam memahami bahasa kimia maka hasil belajar kimia semakin tinggi pula. Hal ini seirama dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Danili & Reid, sebagaimana dikutip oleh Bradley, et al (2006), yaitu siswa mengalami kesulitan dalam belajar kimia jika kemampuan siswa dalam berbahasa kimia kurang. Kesulitan dalam belajar kimia mengakibatkan hasil belajar kimia rendah.

Begitu pula dengan pengaruh kemampuan memahami konsep kimia terhadap hasil belajar kimia. Kemampuan siswa dalam memahami konsep kimia sudah pasti sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal kimia sehingga dapat dipastikan berimbas pada hasil belajar kimia. Meskipun tidak 100% kemampuan siswa dalam memahami bahasa dan konsep kimia berpengaruh positif terhadap hasil belajar kimia karena ada beberapa faktor lain misal kemahiran dalam berhitung, kemampuan membaca grafik, dan faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini, tetapi kontribusi yang mencapai lebih dari 70% bukanlah kecil. Di sisi lain juga menunjukkan kemampuan memahami bahasa kimia memberikan kontribusi sebesar 80,5% terhadap kemampuan memahami konsep kimia.

Jika dilihat secara keseluruhan antara kemampuan memahami bahasa kimia, kemampuan memahami konsep kimia, dan hasil belajar kimia menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan. Hal ini mengindikasikan siswa yang mempunyai kemampuan memahami bahasa kimia yang baik dapat mendorong kemampuan memahami konsep kimia yang baik. Kemampuan memahami konsep kimia yang baik tentu dapat mempengaruhi hasil belajar kimia untuk semakin baik. Secara umum, sudah pasti kemampuan bahasa kimia yang baik berdampak pada hasil belajar kimia yang lebih baik pula.

Efek langsung pemahaman bahasa kimia atas hasil belajar kimia yaitu seorang siswa yang memiliki kemampuan memahami bahasa kimia yang baik akan memiliki hasil belajar kimia yang baik pula, tanpa memperhatikankan faktor pemahaman konsep kimia yang dimiliki. Sedangkan efek tidak langsung pemahaman bahasa kimia atas hasil belajar kimia melalui pemahaman konsep kimia berarti seorang siswa yang memiliki kemampuan memahami bahasa kimia yang baik akan memiliki pemahaman konsep kimia yang baik pula dan hasil belajar kimia yang baik. Artinya, seorang siswa akan memiliki hasil belajar kimia yang baik jika memiliki pemahaman bahasa kimia yang baik dan pemahaman konsep kimia yang baik juga.

Pemahaman bahasa kimia yang baik dari siswa secara tidak langsung bergantung pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Penggunaan bahasa yang kurang tepat oleh seorang guru dalam suatu pembelajaran mengakibatkan miskonsepsi pada diri siswa. Menurut Herron, sebagaimana yang dikutip oleh Bradley, et al (2006), merekomendasikan untuk mengatasi masalah dalam bahasa kimia diperlukan pengenalan permainan kata dan keterampilan menggunakan kata dalam pembelajaran kimia. Selain itu, dia juga merekomendasikan agar ada beberapa materi kimia tertentu yang diberikan kepada siswa melalui membaca. Memaksa siswa untuk memperoleh materi dari membaca sudah pasti memaksa siswa untuk menggunakan bahasa kimia. Mengenalkan dan menekankan penggunaan bahasa kimia yang benar sejak dini untuk siswa dapat membantu siswa dalam belajar kimia lebih luas. Merancang strategi pembelajaran yang tepat untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami bahasa kimia merupakan tugas guru dan ilmuwan dalam mengembangkan penelitian berikutnya.

Reference :
1. Bradley, J. D. & Steenberg, E. 2006. Symbolic language in chemistry – a new look at an old problem. South Africa : RADMASTE Centre.
2. Fathoni, A. H. 2009. Bahasa matematika. Diunduh di http://sigmetris.com/index.php? option=com_content&task=view&id=33&Itemid=28 tanggal 16-7-2012.
3. Jacob, C. 2001. Analysis and synthesis interdependent operations in chemical language and practice. HYLE–International Journal for Philosophy of Chemistry, Vol. 7, No. 1 (2001), pp. 31-50.
4. Rahman, F. 2009. Pembelajaran kimia di SMA: korelasi antara dunia atom, dunia lambang, dan dunia makroskopik. Diunduh di http://fauzismadabjm.blogspot. com tanggal 24-11-2011.
5. Robinson, W. R., Odom, J. D. & Holtzclaw, H. R. 1997. Essentials of general chemistry. Edisi 10. New York : Houghton Mifflin Company.
6. Sudjana. 1983. Teknik analisis regresi dan korelasi: bagi para peneliti. Bandung : Tarsito.
7. Suyanti, R. D. 2010. Strategi pembelajaran kimia. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Adapted from :
Skripsi. Devy Lestari. 2012. Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:


Lewat ke baris perkakas