SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Resiprositas Sebanding dalam Bentuk Sinoman
November 9th, 2015 by afifah

  1. Latar Belakang

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 2009: 118). Manusia tidak dapat hidup sendiri, karena pada dasarnya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, manusia tidak terlepas dengan gotong royong. Gotong royong merupakan suatu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bertujuan untuk meringankan sebuah pekerjaan. Dalam kehidupan masyarakat desa di Jawa, gotong royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan untuk mengisi kekurangan tenaga kerja dalam lingkaran aktivitas produksi.

Sebagaimana layaknya warga bermasyarakat, setiap warga masyarakat pastinya memerlukan bantuan dari orang lain, mustahil jika ada seseorang yang mampu menjalankan aktivitas kehidupannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Disinilah suatu sistem pertukaran dalam segala aspek kehidupan terjadi. Sistem pertukaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam memenuhi segala kebutuhan masyarakat baik berupa barang maupun jasa. sistem pertukaran tidak hanya menggunakan alat uang, namun barang juga bisa digunakan untuk alat melakukan pertukaran. Salah satu bentuk dari sistem pertukaran adalah resiprositas, resiprositas merupakan pertukaran timbal balik antarindividu atau antarkelompok yang selalu ada dalam setiap lapisan masyarakat baik antarindividu maupun antarkelompok. Tanpa kita sadari, resiprositas telah terjadi dan dilakukan oleh masyarakat di desa Sambung, yang mana kegiatan tersebut dinamakan dengan Sinoman. Sinoman dalam masyarakat desa Sambung berlangsung ketika ada kerabat atau tetangga yang akan membangun rumah.

Dari gambaran tersebutlah penulis tertarik untuk mengamati sistem resiprositas yang berlangsung pada masyarakat desa Sambung Kabupaten Demak, yang mana keadaan ekonomi masyarakatlah yang mempengaruhi terjadinya sistem resiprositas di kalangan masyarakat, baik masyarakat yang berada pada lapisan atas, menengah, maupun bawah karena ketika resiprositas berlangsung masyarakat diposisikan dalam tataran yang sama, yaitu sebagai makhluk sosial.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang penulis ajukan adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana bentuk resiprositas yang terjadi pada masyarakat Desa Sambung Kabupaten Demak dalam kaitannya dengan kehidupan ekonomi masyarakat?
  2. Bagaimana fungsi resiprositas bagi masyarakat Desa Sambung Kabupaten Demak

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang hendak dicapai penulis adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui bentuk resiprositas yang terjadi pada masyarakat Desa Sambung Kabupaten Demak.
  2. Untuk mengetahui fungsi resiprositas bagi msyarakat Desa Sambung Kabupaten Demak.

Pembahasan

  1. Bentuk Resiprositas yang Terjadi pada Masyarakt Desa Smbung

Desa Sambung merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Gajah Kaupaten Demak. Mayoritas masyarakatnya adalah sebagai petani padi di sawah. Dalam kehidupan sosial ekonomi, manusia tidak akan terlepas dengan yang namanya membutuhkan dan dibutuhkan. Setiap warga membutuhkan bantuan orang lain.  Keterbatasan dan tingginya kebtuhan ekonomi yang sangat besar menuntut mereka untuk memnijam kepada orang lain. Dalam menjalani kehidupan, masyarakat Desa Sambung selalu tolong menolong dengan masyarakat lain. Disinilah sistem resiprositas berlangsung. Resiprositas merupakan ciri dari sistem pertukaran yang dilakukan oleh masyarakat tradisional. Namun itu bukan berarti pada masyarakat modern tidak terjadi resprositas. Seiring perkembangan zaman yang semakin modern ini, masyarakat Desa Sambung masih menerapkan sitem resiprositas, dan sistem resiprositas yang berlngsung pada masyarakat Desa Sambung adalah sistem resiprositas sebanding. Resiprositas sebanding sendiri adalah resiprositas yang menghendaki barang atau jasa yang dipertukarkan memiliki nilai yang sebanding. Pertukaran ini dapat dilakukan oleh seorang individu atau lebih serta satu kelompok atau lebih. Pihak-pihak yang bekerja sama dalam resiprositas sebanding membutuhkan barang atau jasa dari partnernya dan masing-masing dari mereka tidak menghendaki memberikan nilai lebih dibandingkan dengan yang akan diterima. Hal ini menunjukkan bahwa individu-individu atau kelompok-kelompok yang melakukan transaksi bukan sebagai satu unit sosial, satu-satuan sosial melainkan unit-unit sosial yang otonom. Dalam pertukaran ini, masing-masing pihak membutuhkan barang atau jasa dari parternya, namun tidak menghendaki untuk memberikan nilai lebih dibandingkan dengan yang akan diterima.

Dalam masyarakat Desa Sambung kegiatan resiprositas ini dinamkan Sinoman. Sinoman ini dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan, baik itu dari kalangan atas, menengah maupun bawah. Bentuk sinoman yang tetjadi pada masyarakat ini cenderung pada timbal balik yang sebanding, artinya seseorang yang menyumbang memiliki harapan jika barang atau jasa yang telah disumbangkan tersebut akan kembali dengan nilai yang sebanding (tidak kurang dan tidak lebih). Dalam sisnoman yang berlaku pada masyarakat ini ada pedoman bahwa barang siapa yang meminta sinoman, maka ia wajib mengembalikan di lain waktu, baik itu dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang karena itu semua tetgantung seseorang yang bersinoman. Jika masing-masing pihak yang melakukan sinoman sudah memberikan kewajiban dan menerima haknya, maka bisa dikatakan kegiatan resiprositas tersebut telah berhasil.

Sinoman yang terjadi pada masyarakat Desa Sambung dapat dilihat ketika salah satu warga memiliki hajat untuk membangun rumah. Pada saat itu warga yang memiliki hajat biasanya meminta bantuan dari kerabat maupun tetangga untuk membantu proses pembangunan ruamh tersebut. Dalam kegiatan pembangunan rumah sudah pasti membutuhkan modal yang tidak kecil, oleh karena itu warga yang akan memiliki hajatan utuk membangun rumah perlu bantuan dari warga lain. Bantuan yang dimaksud disini adalah bantuan yang berupa barang bukan berupa jasa maupun uang, kegiatan resiprositas seperti ini oleh masyarakat Desa Sambung disebut dengan Sinoman. Warga yang melakukan sinoman biasanya menyerahkan barang yang disinomkan tersebut dalam jangka waktu seminggu sebelum acara pembangunan rumah dimulai. Setelah ada warga yang datang untuk menyerahkan sinoman, maka nama warga  dan barang apa saja yang disinomkan dicatat. Warga yang mencatat bukan hanya yang diberi sinoman saja, namun warga yang memberi sinoman juga harus mencatatnya, kepada siapa ia melakukan sinoman dan barang apa saja yang telah disinomkan. Hal tersebut dilakukan karena untuk mengantisipasi jikalau orang diberi sinoman maupun orang yang memberi sinoman lupa, oleh karena dengan adanya proses penacatatan tersebut akan menjadi bukti bagi kedua belah pihak yang melakukan sinoman karena warga yang melalukan sinoman tersebut sangat berharap jika barang yang telah disinomkan akan kembali dengan nilai yang sebanding.  Barang yang disinomkan dapat berupa bahan bangunan, yaitu seperti semen, bata, pasir, genting, kayu, dan lain-lain. Selain bahan bangunan, barang yang disinomkan juga dapat berupa banrang pokok atau sembako, seperti beras, telur, gula, minyak goreng, dan sebagainya. Warga yang melakukan sinoman ini biasanya adalah warga yang memiliki hubungan kekerabatan dan warga yang memiliki hubungan personal diantara mereka, karena tanpa adanya hubungan yang personal interaksi yang terjadi diantara mereka sangat rendah, sehingga diantara keduanya tidak mungkin akan terjdi resiprositas.

Resiprositas yang terjadi pada masyarakat Desa Sambung diatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu faktor sosial dan ekonomi. Latar belakang adanya resiprositas pada masyarakat tersebut jika dilihat dari sudut pandang  sosial yaitu, untuk menjaga silaturrahmi antrwarga sehingga dapat menciptakan kerukunan dengan baik, dan dengan adanya sinoman sudah pasti akan menjaga kesinambungan hubungan antarwarga setempat, serta untuk meminimalisir munculnya konflik antarwarga. Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, resiprositas dapat meringankan beban yang dipikul warga ketika sedang mengadakan hajatan. Walaupun sebenarnya modal yang mereka miliki untuk mengadakan hajatan tersebut kurang, namun dengan adanya resiprositas tersebut mereka masih tetap bisa menjalankan hajatan mereka. Ha tersebut dapat mencerminkan jika masyarakat Desa Sambung memiliki tingkat nilai antarkekeluargaan yang tinggi. Tinggginya solidaritas antarkomponen sosial dapat mempertahankan tradisi turun temurun dalam kehidupan sehari-hari, walaupun masyarakat sekarang ini hidup pada zaman modern.

Kerjasama yang dilakukan oleh warga-warga yang bersinoman atau pihak-pihak yang terlibat dalam sinoman dapat disebut dengan sistem resiprositas atau tukar menukarn yang tujuannya adalah membantu meringankan beban yang dipikul warga pada saat akan melakukan sebuah hajatan.

  1. Fungsi Resiprositas bagi Masyarakat Desa Sambung

Adapun funsi resiprositas bagi masyarakat Desa Sambung adalah untk mengatasi keterbatasan modal uang. Keterbatasan modal uang merupakan salah satu faktor penghambat ketika seseorang memiliki suatu hajatan. Keterbatasan modal ini disebabkan karena kurangnya penghasilan dan tabungan keluarga pemilik hajat. Oleh karena itu, jalan terakhir bagi keluarga agar tetap bisa menjalankan hajatannya adalah dengan cara meminjam dengan orang lain. Warga yang meminjam tersebut mempunyai kewajiban utuk mengembalikan barang atau jasa yang telah diterimanya. Kerabat yang memberikan sinoman biasanya atas dasar kekeluargaan dan rasa saling percaya, sehingga pihak yang diberi sinoman tidak merasa gugup (kemrungsung) untuk segera mengemabalikannya. Selain itu, pihak yang memberkan sinoman juga tidak akan khwatir jika barang yang telah disinomkan tidak kembali.

  1. Kesimpulan

Resiprositas yang terjadi pada masyarakat Desa Sambung yang diwujudkan melalui kegiatan sinoman merupakan bentu resiprositas sebanding. Resiprositas sebanding yaitu pertukaran barang atau jasa yang mana dalam pertukaran ini mempunyai nilai sebanding yang disertai dengan kapan pertukaran itu berlangsung, kapan memberikan, kapan menerima, dan kapan mengembalikan. Warga yang memberi sinoman berharap jika barang yang telah disinimkan akan kemabali dengan nilai yang sebanding, tidak ada unsur nilai kurang maupun lebih.

Funsi resiprositas secara umum adalah untuk membantu warga yang memiliki hajatan untuk membangun rumah. Hajatan tersebut dapat berupa bahan bangunan atau sembako. Warga pemilik hajatan membutuhkan bantuan karena modal yang ia miliki tidak cukup, karena penghasilan yang tidak terlalu besar seta tubungan yang minim. Oleh karena itu, jalan satu-satunya agar tetap bisa menjalankan hajatan tersebut adalah dengan meminjam kepada kerbat atau tetangga.

  1. Saran

Masyarakat Desa Sambung hendaknya tetap melestarikan budaya sistem resiprositas, agar kerukunan antarwarga tetap terjamin sehingga mewujudkan masyarakat yang serasi, selaras, dan sejahtera serta meminimalisir timbulnya konflik di kalangan masyarakat.

  1. Daftar Pustaka

Koentjaraningrat, 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Skripsi Mahasiswa Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS Unnes tentang

Resiprositas dalam Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat (Studi Kasus Pada Masyarakat Kelurahan Kauman Kabupaten Blora)

 


6 Responses  
  • Nurul Latifah writes:
    November 19th, 20154:27 amat

    terimakasih menambah pengetahuan tentang resiprositas

  • mur ifa writes:
    November 20th, 20151:56 amat

    terimakasih, menambah pengetahuan saya 🙂

  • ayuherni writes:
    November 27th, 20154:18 amat

    menarik dan rapi 🙂

  • mur ifa writes:
    November 27th, 20155:25 amat

    sangat bermanfaat

  • oding wikanti writes:
    November 27th, 20151:41 pmat

    sangat menarik,

  • nunik writes:
    November 28th, 20154:29 pmat

    Bagus sekali, tetapi pada bagian rumusan masalah nomer 3 maksudnya apa ya nor?


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Lewat ke baris perkakas