Beliau jadi figur yang enigmatik, penuh surprise, polemis, tetapi beberapa orang menyimpan keyakinan dan keinginan kepadanya. Idenya yang genial melebihi jaman, jadikan beberapa orang yang menyaksikan perlakuan dan keluguan sikapnya (seakan diminta untuk) waspada untuk pahami “labirin penglihatannya” supaya tidak tidak berhasil memahami atau berlaku. Bahkan juga sering mereka dibikin ketar-ketir dan gaungs atas pengakuan dan perbuatannya.

Pertemanannya tidak terbatas pada susunan kebudayaan atau isme tertentu. Beliau sebagai seseorang yang polos dan apa yang ada. Karena itu tidaklah aneh, beliau dekat sama siapa, bahkan juga beberapa orang yang memusuhinya.

Tetapi perjalanan hidupnya tidak pernah mulus, Beliau seakan selalu hidup dalam penjelajahan yang penuh badai dan onak berduri untuk menabur tuntunan yang sudah dibawa oleh junjungannya, kanjeng nabi Muhammad SAW; Islam cinta, untuk menyemai kehidupan nyaman yang adil dan bermoral. Semua kelompok berasa kehilangan di saat kepergiaannya, beberapa pencinta dan pencacinya memberi doa terbaik untuk mengantar ke tempat peristirahatan terakhir kalinya.

Adalah Almaghfurlahu, KH Abdurrahman Top, atau yang lebih masyhur dengan panggilan Gus Dur. Sebagai putra kyai besar sekalian cucu pendiri Nahdlatul Ulama, perubahan gus Dur tidak terbatas pada lingkungungan pesantren saja. Simak Artikel ini sampai tuntas? Tebuireng.co akan mengulas artikel ini sampai tuntas!

Potret Masa Kecil

Pada tahun akhir 1944, saat kyai Top Hasyim diutus oleh Hadratus syaikh Hasyim Asyari untuk mengurus Shumubu, sebuah departemen keagamaan yang dibuat oleh Jepang di Indonesia pada waktu itu. Dan kyai Top Hasyim ajak Gus Dur yang pada saat itu baru berumur empat tahun.

Sebagai seorang figur nasional yang berdasar belakang dan lingkungan pesantren tradisionil, kyai Top Hasyim memiliki cakupan pertemanan yang paling luas. Rumah beliau selalu disanggupi beberapa tamu dari bermacam kelompok, terhitung beberapa orang Eropa. Pertemanan semacam itu memungkinkannya Gus Dur tumbuh jadi seseorang yang berpikiran luas dan benar-benar menghargakan ketidaksamaan, seorang kosmopolitan.

Adapun kesukaan membaca yang dipunyai oleh Gus Dur, sama seperti yang disingkap oleh Greg Barton dalam biografi Gus Dur yang ditulisnya, sebagai didikan dari ibu nyai Solicahah Top, ibunya Gus Dur. Koleksi buku dan media massa yang banyak di tempat tinggal beliau, menggerakkan Gus Dur jadi seseorang yang suka membaca buku.

Gus Dur remaja jarang-jarang pergi keluar tanpa bawa buku. Jika ada suatu hal yang tidak bisa Beliau dapatkan di perpustakaan di rumah tinggalnya, beliau menelusurinya di beberapa toko yang jual buku-buku sisa di Jakarta. Kesukaan itu dilaksanakan sampai akhir hayat beliau.

Jejak Masa Remaja

Pada periode remajanya, beliau dikirimkan oleh ibundanya ke Jogjakarta. Di kota ini, beliau dipercayakan di dalam rumah salah satunya rekan ayah beliau. Seorang Muhammadiyah tulen, kyai Junaidi. Kecuali mengikut sekolah resmi dan belajar ke kyai Junaidi, tiap 3x dalam satu minggu, Gus Dur mengaji ke KH. Ali Ma’shum, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Sesudah menamatkan pengajaran formalnya, Gus Dur mulai mengikut pengajaran pesantren secara penuh. Beliau nyantri di Pesantren API Tegalrejo di Magelang. Di sini, beliau mengaji ke kyai Chudori. Di Tegalrejo, sanggup menuntaskan pelajarannya dalam saat yang benar-benar singkat, cuman 2 tahun. Umumnya santri-santri lain memakan waktu empat tahun untuk menuntaskan pelajaran yang ada.

Kekuatan untuk menuntaskan pengajaran dengan waktu secara singkat itu bukan hanya sebagai previlese yang Beliau bisa dari keluarganya di Jombang, tetapi karena—selain kepandaian dan daya hafalnya yang kuat, sebagai buah kesabaran dan kesukaannya membaca. Ini Beliau tunjukkan tiap di luar kelas, di antara menulis siswa sekalian mengingat pelajaran itu, sebagai pengusir rasa capek atau jemu, beliau mengubah bacaannya ke buku-buku barat.

Usaha Dzohir Batin

Selain aktivitas mengaji dan belajar, di pesantren Tegalrejo ini, Gus Dur melatih diri lakukan tirakat, riydloh, seperti laris untuk mengungkung nafsu dan keinginan materil dengan cara berpuasa dan ngrowot.

Karena, meskipun sejak kecil Gus Dur terlatih dengan buku-buku barat atau bacaan berbahasa non Arab, Gus Dur masih memiliki minat pada segi sufistik dunia pesantren, kecuali laris tirakat, beliau teratur berziarah ke pusara-makam auliya’illah.

Terciptanya segi cendekiawan seorang Gus Dur tidak saja Beliau bisa dari kesukaan membaca dan tirakatnya saja. Tapi juga lewat pendiskusian yang Beliau kerjakan bersama beberapa temannya. Saat di pesantren, kecuali dialog enteng di luar kelas bersama rekan beliau, dialog Beliau kerjakan berbentuk sorogan kitab.

Sorogan sebuah sistem ciri khas pesantren di mana seorang santri membaca sebuah kitab di depan gurunya. Di sana, si guru memberikan beberapa pertanyaan sekitar gramatika dan pengetahuan. Dan lewat bertanya jawab itu terjadi sebuah tahqiq pengetahuan.

Kepribadian

Kegemaran Gus Dur saat membaca, berunding, dan tirakat lewat hidup simpel Beliau kerjakan saat belajar dalam Kairo dan Baghdad. Dan lewat semuanya, terciptalah figur Gus Dur yang serius tetapi rileks. Jadi seseorang yang benar-benar simpel dan apa yang ada. Tetapi karakter yang tenang, rileks, dan kesederhanaannya itu yang membuat seluruh orang menyimpan hormat dan mengaku kebesarannya, bahkan juga terhitung beberapa orang yang berseberangan dengan beliau.

Bulan ini haul Gus Dur diselenggarakan. Tidak untuk kenang kembali dari di mana beliau tinggalkan beberapa pencintanya. Bahkan juga tidak cuma untuk kenang kembali saat beliau hidup. Tapi untuk diteladani. Untuk selalu jaga sanad sikap seorang santri. Lahu Alfu Al-Fatihah.

http://blog.unnes.ac.id/novita3011/wp-content/uploads/sites/286/2021/03/gus-dur-600x391.jpghttp://blog.unnes.ac.id/novita3011/wp-content/uploads/sites/286/2021/03/gus-dur-150x150.jpgNovita WindiartiPendidikanBeliau jadi figur yang enigmatik, penuh surprise, polemis, tetapi beberapa orang menyimpan keyakinan dan keinginan kepadanya. Idenya yang genial melebihi jaman, jadikan beberapa orang yang menyaksikan perlakuan dan keluguan sikapnya (seakan diminta untuk) waspada untuk pahami 'labirin penglihatannya' supaya tidak tidak berhasil memahami atau berlaku. Bahkan juga sering mereka...Jasa Backlink Berkualitas