Archive

Archive for the ‘suararia’ Category

Strategi Menaklukkan Hati Warga

June 23rd, 2017 No comments

Tulisan ini masih bagian dari episode yang melaju di Para Pencari Tuhan (PPT) 11. Ada satu urutan kisah yang membuatku tertarik untuk sedikit mengulasnya.

Kita tahu, kali ini warga kampung kincir menjalani hari-hari nya di pengungsian karena musibah banjir yang melanda. Tentu banyak cerita yang membuat kita tersenyum dan kadang tersindir. Bagaimana warga bisa menjalani kehidupan yang berbeda; di kampung pengungsian.

Masalah menjadi pelik saat warga mengetahui bahwa tanah yang dipakai untuk kamp pengungsian adalah milik investor (sebut saja pak Broto). Dan tanah tersebut harus segera dikosongkan karena akan dibangun apartemen. Warga akan melakukan perlawanan fisik dengan membentuk pasukan siap tempur (Biar lebih dramtis), baik bapak bapak maupun ibu-ibu. Mereka harus berani melawan pak Broto agar masih bisa menempati kamp pengungsian.

Awalnya pak Broto mendekati warga dengan “pemaksaan” atau kekerasan. Namun, melihat kegigihan warga pak Broto harus mencari strategi agar warga bisa “diusir” atau dengan sukarela pindah. Akhirnya jalur “pedekate” menjadi jalan. Mengambil hati warga adalah lebih tepat. Menghadapi warga “miskin” maka strateginya adalah memberikan “ikan” sesering mungkin.

Strategi dijalankan dengan memberikan bantuan pakaian, makanan dan bahkan yang tunai. Warga pun mulai menyukai pak Broto. Walaupun ada warga lain (hanya sedikit) yang masih mencurigai perbuatan baik pak Broto. Apakah strategi ini berhasil? Kita tunggu 2 episode terakhirnya ya.. Hehe..

Sepenggal alur cerita di atas, sangat mirip dengan apa yang sering dihadapi warga di sekitar kita. Bagaimana pendekatan “penguasa” dalam “mengusir” warga yang menempati “tanah bukan hak warga”. Terkadang jalur kekerasan dipilih. Dan kita miris melihatnya. Warga seakan akan tak punya pilihan untuk memperoleh solusi terbaik. Penguasa tidak terlalu memikirkan masa depan warga yang kebanyakan kurang mampu. Penguasa hanya memandang sisi “bisnis”. Persis yang dilakukan oleh pak Broto.

Di sisi lain, warga pun menyikapinya dengan emosional. Bagaimana tidak. Saat kondisi sedang dalam musibah, harus menghadapi musibah berikutnya; pengusiran atau penggusuran. Di sinilah diperlukan sosok pemimpin yang bisa memberikan keademan dalam bersikap. Sayang sekali, dalam kasus warga kincir pak RW tidak bisa berlaku bijak. Maka warga pun mendekatinya dengan pertarungan fisik. Walaupun kemudian mereka takluk dengan strategi “kebaikan” pak Broto.

Sebagai penguasa atau sejenisnya, seharusnya ada rasa sosial yang cukup. Memang harus tegas dalam menghadapi warga. Namun, kebaikan yang diberikan (bukan dengan strategi) akan menghadirkan kebaikan juga. Bisa jadi, warga akan memberikan pertolongan di masa mendatang. Entah apa bentuknya.

Hemat saya, kekerasan bukanlah jalan terbaik dalam menghadapi sesuatu. Kebijakan bersikap dan bertindak adalah wujud kepribadian yang dewasa. Bagi insan cendekia seharusnya demikian. Semoga kita bisa berlaku demikian. Bukan melakukan kebaikan tetapi untuk tujuan pribadi. Wallahu a’lam.

 

Di atas pohon jambu, 230617

Categories: suararia Tags:

Mengapa guru banyak cerita di kelas?

May 29th, 2017 No comments

 

Saat kita menjadi siswa atau mahasiswa tidak sedikit atau malah sering kita mendengarkan kisah atau cerita dari guru atau dosen tentang kehidupan dan pengalaman pribadi. Terkadang atau bahkan sering kita merasa “bosan” atau malah menganggap tidak bermanfaat cerita tersebut. Benarkah? Itu hanya bentuk “kesombongan” atau “curhat” yang biasa-biasa saja. Yang kadang juga lebih banyak memakan waktu. Tak dipungkiri ada dosen yang lebih banyak cerita daripada memberikan materi perkuliahan.. sepertinya.

Memang, banyak sekali cerita itu. Terkadang juga keluhan. Kadang hanya untuk pamer. Tetapi, tak sedikit merupakan cerita “transfer nilai” bahkan “transfer peradaban”.

Ya, guru atau dosen kita mengharapkan ada makna yang bisa kita ambil. Entah dari cerita dan pengalaman pribadi maupun kisah lainnya. Inilah bentuk pendidikan karakter dalam satu upaya. Dengan demikian, guru dapat menyampaikan nilai-nilai kehidupan dari realitas sosial yang dialami. Karena kita lebih bisa memahami tentang hal-hal yang lebih nyata. Guru dan dosen kita telah melalui perjalanan panjang yang belum pernah kita lalui. Belajarlah dari pengalaman.

Saat ini, saya baru menyadari. Banyak makna yang bisa diambil dari cerita bapak ibu guru dan dosen kita. Kita bisa menghadapi suatu tantangan. Kita bisa melakukan terobosan yang lebih inovatif dari apa yang telah dilakukan oleh mereka. Kita diberikan arahan dan bimbingan.

Terimakasih, bapak dan ibu. Pengalaman adalah guru yang berharga. Dan mari kita ciptakan pengalaman luar biasa di kelas. Agar kelak kita termasuk yang dikisahkan gembira dan bangga oleh murid-murid kita.

 

mua, tarawih ke 4

Categories: suararia Tags:

Hanyalah sebuah titik kecil

October 9th, 2016 No comments

Begitu tampak jelas di hadapan
Berbagai titik titik yang kian membesar
Menampakkan keberadaannya
Kadang mendekat, di masa berikutnya menjauh

Dan aku di sini, bukan lah bagian darinya
Aku hanyalah titik kecil yang kian kabur
Sekedar bertahan dari terpaan angin perubahan
Begitu berat terasa

Andai saja mereka bersama dan bersatu
Tampaklah titik besar nan kuat
Tak kan tersapu hegemoni hedonisme
Bertahan dalam keyakinan tauhidi

Aku hanya bisa melihat mereka
Menatap zaman
Menata kemaslahatan
Dan aku tak mampu bersamanya
Aku hanyalah titik kecil tak bermakna
Tidak seperti mereka

Namun, aku punya harapan besar padanya
Singkirkan egoisme
Rawatlah musyawarah dan husnudzon
Integrallah dalam mengambil kebijakan

Aku yakin, titik-titik itu kan ngayomi
Solusi atas kegundahan umat
Aku yakin, titik-titik itu kan sadar
Bersama lebih baik daripada berjalan sendirian
Meraih cita dan kehormatan

Aku yakin… sekali…
Walau aku hanyalah titik kecil yang kian tidak jelas
Hilang dari peredaran

Categories: suararia Tags:

Pahamkan Mereka

October 7th, 2016 No comments

Seingatku dulu, tak sedikit guru yang takut jikalau muridnya lebih pandai
Sepemahamanku dulu, tak sedikit guru yang khawatir tersaingi kemampuan muridnya

Itu dulu… ingatan yang salah
Itu dulu… pemahaman yang keliru

Sadarlah kini
Guru yang sukses itu jikalau muridnya lebih hebat
Guru yang keren itu jikalau muridnya lebih kreatif

Tak usahlah khawatir wahai guru, jika muridnya satu langkah lebih maju
Tak usahlah resah wahai guru, jika muridnya berfikir lebih futuristik

Kita hanya perlu mendampinginya
Kita harus mau membimbingnya
Kita mau tidak mau selalu menyemangatinya

Walau sebenarnya kita sudah sangat malu
Atas ketidaktahuan kita
Atas ketidakmampuan kita
Atas kekuperan kita

Yakinkan mereka, murid-murid kita…
Penuh talenta
Beragam kecerdasan
Bisa lebih baik dari kita

Pahamkan mereka
Kehidupan ini untuk kehidupan selanjutnya

Categories: suararia Tags:
Skip to toolbar