CEBONG VS KAMPRET !! MANA YANG LEBIH BAIK??

(Image source : google.com)

Ditahun politik ini sebutan maaf “Cebong” dan “Kampret” sangatlah tidak asing ditelinga masyarakat Indonesia. Cebong dan kampret sendiri merupakan sebutan bagi kedua pendukung dari masing-masing Capres yang kini tengah beradu menuju RI 1. Cebong yang kita tahu merupakan sebutan bagi anak katak (berudu) disematkan bagi para pendukung petahana. Sedangkan gelar kampret yang dilambangkan dengan kelelawar dengan hormat disematkan kepada kubu oposisi.


Layaknya pilpres pada umumnya kedua pendukung baik Cebong maupun Kampret berlomba-lomba meraih simpati masyarakat demi memenangkan Capres yang diusungnya. Berbagai cara ditempuh baik menggunakan media sosial maupun orasi langsung. Tak ada yang salah jika mereka sangat menjunjung tinggi dan membangga-banggakan Capres pilihannya. Namun sayangnya, cara yang mereka tempuh dengan saling memberi gelar “Cebong” dan “Kampret” penulis anggap terlalu berlebihan. Media kini diwarnai dengan kegiatan saling mengolok-olok, mengejek, menghina bahkan menjurus pada ujaran kebencian.


Mana yang lebih baik antara keduanya???? Jawabannya TIDAK ADA !!


Saudaraku, sampai kapan kita saling mencela dan mengolok-olok? Lupakah kita pada perintah agama dimana Allah sendiri melarang hambanya agar tidak saling mengolok-olok dan memberi gelar yang buruk???


Allah Ta’ala berfirman :
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).


Sayangnya, kita jumpai saat ini banyak orang yang tidak mengindahkan larangan tersebut bahkan meremehkannya. Mereka saling berseteru saling menghujat hanya karena berbeda pilihan. Perbuatan saling mengolok-olok dan memberi julukan yang buruk (Cebong dan Kampret) dilakukan dengan ringannya seolah-olah perbuatan tersebut tidak ada perhitungannya di sisi Allah SWT.


Allah Ta’ala dengan tegas melarang perbuatan saling mengolok-olok karena sama saja dengam merendahkan diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).


Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang perbuatan mengolok-olok orang lain dan Allah mentebutnya dengan kefasikan. Istilah “fasik” sendiri maksudnya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena perbuatan semacam ini tidak pantas dinamakan dan disandingkan dengan keimanan.


Di akhir ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa barangsiapa yang tidak mau bertaubat dari perbuatan-perbuatan di atas (mengolok-olok, memberikan gelar yang buruk, mencela, merendahkan, ghibah dan adu domba), maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Mereka telah menzalimi orang lain. Dan bisa jadi Allah Ta’ala selamatkan orang yang dilecehkan dan Allah Ta’ala timpakan hukuman kepada orang yang mengolok-olok dan melecehkan tersebut dengan bentuk hukuman sebagaimana olok-olok yang dia sematkan kepada orang lain atau bahkan lebih buruk.


Mengapa mencela orang lain Allah Ta’ala sebut dengan mencela diri sendiri? karena setiap mukmin itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika dia mencela orang lain, pada hakikatnya dia mencela dirinya sendiri, karena orang lain itu adalah saudaranya sendiri.


Munafik. Kita sebagai orang tua sering mengajarkan kepada anak-anak bahwa kita tidak boleh mengejek teman karena itu adalah perbuatan tidak baik bahkan akan berdosa. Namun sejauh ini, justru kita malah memberi contoh langsung bahwa perbuatan mengolok-olok itu sah-sah saja. Pantas jika negeri ini mengalami krisis moral dan akhlak dikalangan remajanya.
Jika sudah demikian siapa yang akan merugi??? Tidak hanya orang-orang yang melakukan perbuatan mengolok-olok tersebut tapi juga orang-orang disekitar kita.

Ingat bahwa setiap perbuatan didunia akan tercatat dan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti. Tidak ada untungnya saling mengejek dan menghina jika pada akhirnya semakin memperberat amal keburukan kita dan mendekatkan kita ke pintu neraka.

Wallahu’alam ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.