Hidayah Serambi Mekah


Senja telah tiba, suara-suara azan mulai menggema, menyaingi bisingnya kehidupan kota Jakarta. Tampak lalu lalang kendaraan memenuhi jalan, padat merayap. Adu mulut antar pengendara bukan lagi kejadian langka, rasa ingin cepat sampai di rumah membuat mereka lupa arti kata sabar dan juga keselamatan.

Di sudut jendela bis kota, terdapat hati yang sepi. Bisingnya jalanan ibu kota tak mampu memecah kesunyian jiwanya.

“Inikah yang dinamakan keadilan? Kau ambil nyawa ibuku di jalan itu tanpa kau tunjukkan siapa pelaku yang telah menabraknya. Ayahku Kau buat hancur, usahanya bangkrut, ia jatuh sakit hingga meninggal. Dimana sifat rahman dan rahim-Mu terhadap bocah delapan tahun yang di usia kanak-kanaknya harus mengalami kenyataan sepahit ini? Bagaimana mungkin aku harus mempercayai bahwa Kau ada? Dimana hadir-Mu saat diri ini kesusahan dan harus berjuang sendirian melawan kejamnya dunia?” Pekiknya dalam hati.

Pahitnya kenyataan dan kejamnya dunia berhasil menggiringnya kepada sifat ateis sampai ia beranjak dewasa. Hingga memaki Tuhan telah menjadi kebiasaan yang tak mungkin ia lewatkan disetiap harinya.

“Permisi Tuan.”

Sontak, sebuah kalimat berhasil membuyarkan Raihan dari lamunannya. Ia menoleh ke sumber suara. Kalimat itu terucap dari mulut seorang wanita berjilbab panjang, yang tanpa ia sadari telah lama duduk di sampingnya.

“Maaf Tuan, saya tidak tahu apa yang sedang Tuan fikirkan. Tetapi saya melihat tampak raut kesedihan yang begitu dalam telah menghiasi wajah Tuan. Sungguh merugi orang-orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk bersedih. Di tanah kelahiranku hampir semua warganya terlatih untuk bangkit dari kesedihan dan ketika melihat Tuan seperti ini, sungguh iba hati ini apalagi Tuan seorang lelaki, tidak pantas untuk berlarut-larut dalam kesedihan.”

Sempurna, perkataan wanita itu telah membuatnya mematung. Entah karena isi kalimat yang disampaikan atau karena pesona yang dipancarkannya.

“Maaf Tuan, halte tujuan saya telah sampai. Semoga Tuan berkenan memaafkan atas kelancangan saya terhadap Tuan” Dengan tergesa-gesa ia menyegerakan diri bangkit dari tempat duduknya.

“Tunggu!!” Suara Raihan berusaha mencegah kepergian wanita itu.

“Dimana kita bisa bertemu kembali?” Tanya Raihan kemudian.

Dengan senyum tipisnya, seraya wanita itu berkata “Serambi Mekkah”.

Kini wanita Serambi Mekah itu perlahan menghilang ditelan keramaian terminal dan menyisakan seribu tanya di hati Raihan.


***

Sudah sebulan lebih hatinya dibuat kacau oleh perkataan seorang wanita yang telah menegurnya di dalam bus waktu itu. Bahkan wanita itu sering kali hadir di dalam mimpinya. Dengan sepasang sayap, ia berusaha membawanya terbang, menariknya dari lembah yang menakutkan.

“Tidak bisa seperti ini!! aku harus segera menemuinya. Dia berhasil membuat kacau pikiranku. Dia harus mempertanggung jawabkannya” Ucap Raihan.

“Hmm.. Serambi Mekkah!! Yaa, aku akan datang” Lanjutnya kemudian.

Tekadnya yang kuat berhasil membawanya ke sebuah kota yang dijuluki sebagai “Serambi Mekkah”, Aceh. Kota yang penuh dengan nuansa keagamaan dengan mayoritas penduduknya beragama islam, membuat Aceh dijuluki sebagai “Serambi Mekah”.

                           *** 

Telah berjam-jam ia berjalan, dengan jeli sepasang matanya mencari, mengamati setiap wanita yang dilihatnya. Bertanya kesana kemari, namun wanita “Serambi Mekkah” yang dicarinya tak kunjung ia temui.

Ditengah kebingungannya itu, ia menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu kedai kopi yang banyak terdapat di kota itu. Orang Aceh adalah masyarakat yang mengutamakan kebersamaan dan kedai kopi merupakan ruang publik yang menjadi tempat tali silaturahmi dieratkan. Tak heran jika kedai-kedai kopi di kota ini tak pernah sepi dari pengunjung.

Duduklah ia di salah satu sudut kedai kopi, dengan memesan secangkir kopi aceh seraya melepas penat yang dirasanya, namun tanpa diduga ia bertemu dengan wanita yang dicarinya seharian ini. Ia bersama dengan seorang anak lelaki yang berjalan menggunakan tongkat. Wanita itu berjalan mendekati kasir yang terletak tepat di antara meja kasir dengan kursi yang Raihan duduki. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas menemui wanita itu.

“Permisi!! Anda kah wanita yang saya temui di bus kota Jakarta sebulan lalu ?” Tanya Raihan dengan sedikit gugup, berusaha menyakinkan.

“Assalamu’alaikum, Tuan” Seraya menelungkupkan kedua tangan di depan dadanya.

“Ya, Tuan. Saya Aisyah. Dan ini adik saya Umar. Selamat datang di tanah kelahiran kami Tuan, Aceh. Sudah lamakah Tuan disini?”.

“Panggil saja saya Raihan. Terus terang, saya sengaja menghantarkan diri kesini untuk mencarimu, setelah sebulan lebih saya merasa resah sejak pertemuan hari itu. Dan pagi tadi saya sampai di kota ini” Jelas Raihan.

“Karena kini saya telah bertemu denganmu, bisakah kita berbicara sebentar?” Pinta Raihan.

“Kak, bukankah kita telah ditunggu bibi untuk segera pulang?” sambung
Umar.

Dengan berfikir sebentar, akhirnya ia putuskan untuk berbincang sejenak dengan orang yang baru dikenalnya itu.

“Tuan, maaf waktu saya tidak banyak, segeralah Tuan berbicara”.

Dengan segera, Raihan menuturkan semua keresahan-keresahan dan juga kepahitan hidup yang telah ia alami selama ini kepada Aisyah, yang membuatnya terlihat sedih ketika di bus saat itu. Hingga sampailah ia pada sebuah pertanyaan,

“Apakah kau percaya adanya Tuhan, Aisyah?”.
Dengan perasaan tidak percaya, Aisyah terdiam. Ia tidak menyangka Raihan menanyakan hal itu kepadanya.

“Kau tahu, saya adalah seorang ateis. Tak pernah ku tahu bagaimana rupa Tuhan, di mana Ia berada, dan saya pun tak tahu dimana letak kasih sayangNya yang selama ini banyak dibicarakan orang. Saya tak mendapatkan itu semua, oleh karena itu untuk apa saya harus bertuhan?”.

Aisyah tetap diam.

“Kenapa kau terdiam Aisyah? Apakah kau sependapat dengan saya, bahwa Tuhan sebenarnya tidak ada?” Tanya Raihan dengan nada penasaran.

“Kalau kau benar ingin tahu, temui saya besok setelah zuhur di Pemakaman Massal Ulee Lheue. Untuk sekarang, kita cukupkan pertemuan ini, karena saya telah ditunggu bibi di rumah” Jawab Aisyah.

***


Bedug zuhur telah berlalu, jarum arloji tepat menunjukan pukul dua siang. Raihan tengah menunggu wanita yang telah menjajikannya untuk bertemu di Pemakaman Massal Ulee Lheue ini. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.

Setelah lama menunggu, wanita yang dinantikannya pun datang disertai dengan anak laki-laki yang membersamainya kemarin.

“Assalamu’alaikum..”. “Maaf Tuan, saya telah membuat Tuan lama menunggu, karena harus menunggu adik saya pulang dari sekolah dahulu dan sengaja saya ajak kemari agar tidak terjadi fitnah diantara kita”.

Dengan setengah terpaksa, Raihan berusaha menyembunyikan kekesalannya.

“Tak mengapa jika kau terlambat, kau datang seribu tahun lagi pun saya akan tetap menunggu di sini, asal kau memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaanku kemarin”.

Tanpa membuang waktu, ia langsung menanyakan perihal pertemuannya kemarin di pemakaman ini.

“Baiklah, karena kemarin Tuan telah banyak bercerita kini giliran saya yang akan berkisah”.

“Tepat 12 tahun yang lalu, telah terjadi kejadian dahsyat yang mengguncang tanah kelahiran saya ini. Gempa dan tsunami telah memporakporandakan kota ini. Dengan sekejap, ribuan nyawa telah menjadi korban. Rumah kami hancur tak bersisa, keluarga dan sanak saudara entah hanyut kemana. Kau tahu, saya adalah salah satu saksi ketika peristiwa itu terjadi, saya adalah bocah lima tahun yang menjadi saksi ketika alam telah merenggut ayah ibu, saudara, dan teman-teman saya yang kini telah terbaring di pemakaman massal ini. Lantas dengan adanya peristiwa pahit itu, pantaskah saya menyebut bahwa Tuhan itu kejam, tidak adil dan tidak berkasih sayang? Tegas ku jawab “Tidak!” peristiwa itu justru mengajarkan kami untuk tetap sabar dan bersyukur, karena telah diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki diri, bermuhasabah diri dan mengikhlaskan yang telah terjadi. Lihatlah adikku, ia terpaksa berjalan dengan tongkatnya. Kaki nya terpaksa diamputasi lantaran peristiwa itu. Tapi kini, ia tetap semangat melanjutkan hidupnya. Lantas bagaimana denganmu Tuan?”.

Raihan kini terdiam. Sesuatu seperti berusaha mengetuk nuraninya.

Tak lama setelah itu Aisyah mengajaknya ke suatu tempat bersejarah yang menyimpan semua foto-foto dan video dokumentasi peristiwa dahsyat yang terjadi 2004 silam, Museum Tsunami Aceh.

Setelah berkeliling ke beberapa sudut museum, hati Raihan merasa rapuh ternyata apa yang diceritakan Aisyah memang nyata terjadi. Jantungnya berdetak hebat ketika membayangkan bagaimana peristiwa itu terjadi.

Ditengah perjalanannya mengelilingi museum, langkah mereka terhenti ketika memasuki ruangan “The Light of God”, ruangan berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya remang-remang dan pada puncak ruangan terlihat kaligrafi berbentuk tulisan ALLAH. Dinding-dindingnya dipenuhi tulisan namanama korban tsunami yang tewas dalam peristiwa tersebut.

(image source : google.com)

“Lihat ini ..” menunjuk beberapa nama yang terpajang di dinding.

“Itu adalah nama ibu dan ayahku. Dan ini semua adalah nama-nama yang menjadi korban dari peristiwa dahsyat itu. Kau tahu, mungkin di luar sana banyak dari mereka yang nasibnya tak seberuntung diriku. Saya sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup, adik dan bibiku masih bisa selamat sehingga kami bisa berjuang bersama untuk melanjutkan hidup. Kami dan seluruh korban selamat berusaha bangkit dari keterpurukan. Tak ada gunanya meratapi yang telah tiada. Kami berjuang dari awal untuk membangun kehidupan baru. Dan akhirnya, banyak kami temui hikmah di balik peristiwa ini. Karena Allah selalu mempunyai rencana indah di balik setiap musibah” Sambung Aisyah.

Mencoba berontak, Raihan dengan tegas menyatakan ketidak setujuannya.

“Saya adalah seorang ateis, Aisyah. Saya tak percaya Tuhan itu ada. Dia tak pernah mencurahkan kasih sayangnya kepada saya. Selama ini, saya tidak meratapi kesedihan seperti yang kau tuduhkan. Saya berusaha bangkit membangun hidup saya sendiri dan itu semua tanpa ada campur tangan dari Tuhan”.

Entah setan apa yang telah merasuki Raihan selama ini, namun saat ia mengungkapkan kebenciannya terhadap Tuhan kali ini, hati kecilnya berkata lain. Lidahnya kelu untuk mengungkapkan yang sejujurnya.

“Kau bohong Raihan!! Jika kau tidak mempercayai adanya Tuhan, kau tak perlu memaki-Nya setiap hari. Tak ada gunanya memaki sesuatu yang tidak ada. Tetapi kau malah melakukannya setiap hari, itu berarti hati kecilmu masih percaya bahwa Tuhan itu ada”.

Mendengar pernyataan Aisyah, seketika kaki Raihan terasa lemas. Badannya bergetar hebat, air mata yang sedari tadi tertahan kini sudah tak terbendung lagi, seolah menyuarakan kebenaran dari hati kecilnya yang tak bisa diucapkan oleh mulutnya. Tiba-tiba ia teringat pada masa kecilnya dulu, saat ayahnya selalu mengajaknya untuk beribadah menghadap Sang Kuasa. Walaupun ia belum memahami bagaimana ibadah yang sesungguhnya namun ada rasa damai yang mengiringinya ketika itu, yang kini telah lama tak didapatnya.

Suasana tibatiba berubah tangis penuh haru. Aisyah dan Umar pun sejurus dengan Raihan, matanya bercucuran air mata.

“Allahu Akbar… Allaahu Akbar …”.

Terdengar lantang suara adzan yang berasal dari Masjid Baiturrahman, yang terletak sekitar 400 meter dari museum. Panggilan dari Sang Kuasa itu, semakin menggetarkan hati Raihan. Panggilan yang sering ia abaikan itu, kini benar-benar iya dengarkan dengan penuh penghayatan. Lafadz demi lafadz yang berkumandang seolah meresap ke dalam tubuhnya, mengusir setan-setan yang telah merasukinya selama ini.

“Dengar Tuan, kau telah terlampau jauh dari-Nya sehingga kau buta akan kehadiran-Nya. Untuk bisa mengenal-Nya, kau hanya perlu mendekatkan diri kepada-Nya” Ungkap Aisyah lembut, mencoba menenangkan suasana.

“Aisyahh . . .”

Diiringi isakan, ia mencoba meyakinkan diri dan menguatkan hati.

“Ajak saya mengenal Tuhan, ajak saya untuk menemuinya . . .” Ucap Raihan lirih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.