Sebuah Review : Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

Identitas Buku:

Judul Buku            : Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

Penulis                  : Alvi Syahrin

Penerbit                : Gagas Media

Tempat Terbit     : Jakarta

Tahun Terbit       : 2018

Hlm                       : viii+224

Jenis buku          : non-fiksi

ISBN                   : 978-979-780-934-8

Cetakan Pertama, 2018

Synopsis:

Jika kita tak pernah jatuh cinta, kita tak akan banyak belajar dari masa lalu. Bagaimana ia mengajari kita untuk tetap kuat ketika hati terserak. Kita tak akan menjadi tangguh.

Jika kita tak pernah jatuh cinta, mungkinkah kita bisa lebih menghargai diri sendiri dengan melepaskan dia yang selalu menyakiti?

Jika kita tak pernah jatuh cinta, akankah kita tak pernah merasa berharganya waktu bersama dengan seseorang yang kita cinta?

Terkadang cinta memang sakit dan rumit. Namun, bisa pula membuat bahagia senyum tidak ada habisnya. Keduanya bersimpangan, tetapi pasti kita rasakan.

“Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta” ditulis untukmu yang pernah merasa terpuruk karena cinta, lalu bangkit lagi disebabkan hal yang sama.

Review:

Malam itu seorang kawan datang membawa sebuah buku, sekilas setelah melirik beberapa detik pada buku bersampul hitam itu ketertarikanku pada buku tersebut tidaklah begitu besar. Namun, setelah membaca judulnya dengan seksama dan membaca sedikit synopsis yang ada di bagian belakang cover, timbul dalam hati niat ingin membacanya.

Mungkin ini yang dinamakan “Don’t Judge a Book by The Cover”. Meskipun sempat tidak tertarik, karena memang dari segi cover sangat sederhana dan terkesan penuh misteri dengan warna hitam yang mendominasi, namun pada akhirnya buku ini pun rampung saya baca dalam sekali duduk karena isi dari buku ini yang berhasil menghipnotis sang pembaca agar tidak mau berhenti.

Bagaimana tidak, tak disangka isi dari bukunya sangatlah bagus dan dapat memberi arti tersendiri bagi pembacanya. Tiap babnya menggambarkan apa yang memang dialami kebanyakan orang, bahkan dapat membawa pembaca kembali ke masa-masa itu dan balik lagi ke masa sekarang. Untuk itu wajar jika ketika telah membuka halaman pertama buku tersebut, maka tidak akan berhenti hingga halaman terakhir.

Bagi yang telah membaca buku ini pasti sepakat bahwa buku ini banyak memberi manfaat dan layak dijadikan bahan bacaan bagi para remaja baik yang sedang jatuh cinta, pernah jatuh cinta ataupun belum jatuh cinta. Itulah alasan saya menulis review ini, bukan karena saya di-endorse atau ingin mem-boomingkan nama penulisnya, namun karena saya ingin memberitahu dan merekomendasikan kepada orang lain bahwa ada satu judul buku yang layak di apresiasi dan dibaca sekaligus untuk dijadikan bahan refleksi.

Pasti senang kan, ketika kita menemukan buku nonfiksi-pengembangan diri yang memang kita butuhkan untuk semakin menyadarkan dan juga mendukung kebenaran langkah-langkah yang telah kita ambil?? Yaa, saya menilai buku ini setinggi itu. Dan rasanya ingin sekali saya bertemu penulisnya (Mas Alvi Syahrin) dan bilang “terima kasih banyak, Mas, sudah menulis buku ini. It’s means a lot for me.”

Sebagaimana saya tulis pada bagian identitas, buku ini terdiri dari 200-an halaman. Secara umum, tidak terlalu tebal pun tidak terlalu tipis. Bagian dalam buku, dirasa sangat mengejutkan warna tiap lembarnya didominasi oleh warna merah muda, khas layaknya warna-warna buku bertema percintaan sebagaimana umumnya. Meski sangat kontras dengan warna covernya yang berwarna hitam, namun tidak menggurangi nilai dari isi bukunya. Layout yang disuguhkan pun cukup menarik dan bervariasi, buku setebal 200-an halaman ini tidak menyuguhkan layout yang datar-datar saja melainkan terdapat part-part yang tata letaknya dibuat berbeda. Hal ini dapat membuat pembacanya tidak akan merasa jenuh.

Merambah ke bagian isi, buku ini terdiri dari 45 bab. Banyak yaa. Tapi karena teknik penulisannya yang bagus, dengan gaya bahasa santai dan mudah dimengerti serta tidak terkesan menggurui, bab-bab tersebut pada akhirnya akan kita lahap juga. Karena pada dasarnya tiap bab pada buku tersebut memang berisi hal-hal atau informasi yang seharusnya kita ketahui dan dijadikan bahan refleksi. Isi dari tiap babnya pun tidak begitu banyak hanya berkisar 2-4 halaman bahkan ada yang babnya berisi hanya 1 halaman. Hal tersebut mungin sudah sesuai porsi dari sang penulisnya. Tidak terlalu kepanjangan serta bertele-tele tidak juga kependekan.

Sebenarnya isi tiap bab dari buku ini sangat bagus, dan beberapa sampai membuat saya tersentuh. Namun, berikut saya sajikan beberapa bab saja yang saya anggap sebagai bab favorit saya.

Bab 2 | Seorang Gadis dan Calon Jodohnya

Merasa teduh membayangkan menjadi istri yang taat untuk laki-laki yang taat. Sayangnya pada orangtuanya, dia bahkan tidak pernah belajar menjadi anak yang taat.

Bab 5 | Resiko Jatuh Cinta Diam-diam

Jatuh cinta diam-diam telah mengajarkanmu untuk menjaga hati dari hal yang tak pasti.

Bab 9 | Jodoh yang Sedang Mendoakanmu

Dia tak tahu namamu.

Kau tak tahu namanya.

Kalian tak pernah bertemu.

Namun, dia sedang mendoakanmu.

Bab 31 | Saat Hati Terasa Kosong

Kamu bukan butuh cinta baru, kamu hanya butuh berdzikir lebih Panjang di setiap malammu.

Bab 39 | Jika Cinta Bukan Tujuan Hidup, Lalu Apa?

Cinta ini begitu indah sampai-sampai kau ketakutan kehilangannya.

Bab 41 | Pesan Untuk Laki-laki dan Perempuan

Jangan tergila-gila pada apapun di dunia ini. Dunia ini fana.

Bab 45 | Istirahatlah

Kamu masih punya hak istimewa: kesempatan hidup. Kesempatan bernapas. Kesempatan melihat. Kesempatan merasa. Kesempatan memperbaiki.

Selain beberapa keunggulan di atas hal lain yang menarik dari buku ini yakni, buku ini tidak hanya berisi argument penulis terhadap bahayanya jatuh cinta apalagi sampai terikat dengan tali bernama pacaran. Dalam argumennya penulis menyelingi dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah sepatutnya kita jadikan pegangan. Tanpa ada kesan menggurui dalil tersebut ditulis dengan teknik yang apik, dan bersifat universal sehingga pembaca dari agama lain pun dapat menyetujui argument penulis.

Jadi buku ini sangat recomended sekali bagi kita yang ingin merefleksi diri dalam rangka memperbaiki kesalahan yang lalu dan fokus pada tugas kita sebagai seorang hamba. Karena sesungguhnya cinta bukanlah tujuan akhir kita dalam hidup, ada hal yang lebih besar dari sekedar mengharap datangnya cinta yang seharusnya dari sekarang kita persiapkan kedatangannya, yaitu hari setlah kematian. Begitu kira-kira pesan dari penulis dalam buku ini.

Kesimpulannya buku ini layak dibaca oleh para remaja yang mulai tumbuh rasa ketertarikannya terhadap lawan jenis hingga kalangan dewasa yang bahkan telah menikah. Sebagian dari buku ini mengambil sudut pandang perempuan sebagai tokoh utamanya, karena saat jatuh cinta dan dua orang terikat pada ikatan bernama pacarana, perempuan lah yang akan banyak merasakan kerugian-kerugiannya. Sehingga melalui buku ini kita, sebagai perempuan sangat di wanti-wanti agar berhati-hati dalam melangkah. Namun, bukan berarti buku ini khusus untuk pembaca perempuan saja, karena penulis juga seorang laki-laki ada beberapa part yang juga menjadikan laki-laki sebagai tokoh utamanya.

Jadi, jika kita tak pernah jatuh cinta…

Apa yang akan terjadi? Hidup tetap damai tanpa pernah patah hati seperti sebelum mengenal cinta? Atau justru hidup kita bakal hambar bagai sayur tanpa garam?

Semua akan terjawab pada buku ini. Selamat membaca.

Bagi yang belum memiliki bukunya, tenang. Penerbit telah menyiapkan versi ebook yang bisa kalian download di link berikut :   http://bit.ly/gagasmediaebook

Leave a Reply


Skip to toolbar