Masyarakat tidak dapat dipisiahkan dari agama atau religi. Dimanapun ada masyarakat, di situlah ada religi. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dengan adanya religi sudah barang tentu memunculkan ritual-ritual yang berkaitan dengan religi tersebut.  Nah dalam pembahasan kali ini, penulis bermaksud mengangkat salah satu ritual atau fenomena agama dari salah satu daerah, untuk kemudian dikaitkan dengan teori kebudayaan. Namun sebelum membahas lebih lanjut, penulis akan menerangkan pengertian dari religi itu sendiri terebih dahulu. Baik menurut para ahli, maupun dari beberapa teori kebudayaan.

  1. Pengertian Religi Menurut Para Ahli

Pengertian religi menurut para ahli antara lain:

  • Keyakinan bisa dikatakan sebagai religi apabila terdapat upacara di dalamnya. keduanya saling memperkuat. Keyakinan menggelorakan upacara, sementara upacara merupakan upaya membenarkan keyakinan tersebut.
  • V. Van Baal, mengemukakan bahwa religi sebagai suatu upaya simbolis. Yaitu

“Religi adalah suatu sistem simbol yang dengan sarana tersebut manusia dapat berkomunikasi dengan jagad rayanya. Simbol-simbol itu adalah sesuatu yang serupa dengan model-model yang menjembatani berbagai kebutuhan yang saling bertentangan untuk pernyataan diri dengan penguasaan diri. Dan bila tujuan (obyek yang dikomunikasikan itu) menyerupai sesuatu yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata lisan, maka simbol-simbol itu berfungsi sebagai perisai yang melindungi (menghalangi) sesorang dan kecenderungannya yang amat sangat untuk memperagakannya secara langsung.” (Radam, 2001;2)

  • Antony F. C Walace, religi sebagai berdoa, atau bersembahyang yang ditujukan kepada adikodrati (supranatural), memainkan alat dan memperdengarkan musik yang diiringi oleh nyanyian atau tarian tertentu, melakukan kegiatan kinetik tertentu, yang menggambarkan keadaan psikis tertentu yang diyakini mempunyai masa, berpantang tabu yakni tidak boleh menggunakan atau menyentuh sesuatu, berpesta, atau berslametan dan berkorban.
  • Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang menyatukan semua penganutnya ke dalam suatu komunitas moral tungga yang disebut gereja. Durkheim memandang dalam perkembangan agama terdapat tiga kondisi, yaitu sekumpulan kepercayaan agamis, sekumpulan ritual agamis, dan sebuah gereja sebagai komunitas moral tunggal yang melingkupi antarhubungan di antara yang suci, kepercayaan-kepercayaan, dan ritual-ritual.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa religi merupakan keyakinan terhadap kekuatan supranatural yang berada dalam ranah pikiran (ideologi) yang direpresentasikan dalam bentuk simbol dan tindakan-tindakan yang mendukung keyakinan tersebut. Seperti sembahyang, upacara, slametan, dan lain-lain.

  1. Religi menurut Teori Difusi

Difusi menitikberatkan pada persebaran unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain. Persebaran tersebut diakibatkan oleh migrasi atau perpindahan yang dilakukan oleh sekelompok manusia. Sehingga kebudayaan yang dibawanya dapat berpindah dan tersebar ke kelompok yang lainnya. Persebaran religi yaitu berawal dari satu titik tertentu kemudian menyebar atau tersebar ke tempat-tempat yang lain. Karena dibawa oleh sekelompok manusia yang bermigrasi.

  1. Religi menurut Teori Evolusi

Evolusi didefinisikan sebagai perubahan secara berkala (changes overtime). Inti dari teori evolusi yaitu menitikberatkan pada perkembangan atau perubahan dari tahap yang sederhana ke tahap yang lebih kompleks dalam waktu yang relatif lama dan bertahap.

E.B Tylor menyebut animisme sebagai bentuk religi tertua. Sedangkan Muller mengemukakan religi manusia yang berawal dari kepercayaan dinamisme menjadi kepercayaan terhadap monoteisme.  Jadi pada  awalnya manusia percaya atau menyembah kepada lebih dari satu Tuhan. Pada awalnya meyakini dan menyembah kepada hewan-hewan serta benda-benda yang ada di sekitar tempat tinggal mereka yang dianggap memiliki kekuatan atau penunggu supranatural. Contohnya matahari, pohon besar, batu besar, sapi, dan lain-lain. kemudian berkembang menjadi sedikit lebih kompleks, manusia mulai menaruh kepercayaan dan menyembah kekuatan roh nenek moyang yang telah meninggal, lalu mengalami perkembangan lagi dengan menyembah dewa-dewa yang jumlahnya lebih dari satu. Pada perkembangan selanjutnya, manusia sudah memiliki kepercayaan yang lebih kompleks lagi, yaitu dengan menyembah satu Tuhan yang mereka percayai. Kepercayaan ini mewujud pada pemilihan agama, misalnya islam, kristen, dan lain sebagainya.

  1. Religi menurut Teori Fungsional

Teori fungsionalisme disebut juga dengan teori strukturalisme fungsional. Fungsionalisme merupakan teori yang menekankan bahwa unsur-unsur di dalam suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yang berfungsi sebagai doktrin atau ajaran yang menekankan manfaat kepraktisan atau hubungan fungsional. kebudayaan ada karena dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia atau masyarakat.

Menurut  Berger fungsi agama untuk memperkuat dan menimbulkan solidaritas social secara fundamental, artinya agama merupakan salah satu benteng pertahanan untuk menghadapi anomie ( kericuhan ) sepanjang sejarah manusia

Fungsionalisme memandang religi atau agama  disini  memiliki fungsi untuk mempertahankan (keutuhan) masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus.  Keberadaan religi memberikan kegunaan untuk membangun keteraturan masyarakat. Berfungsi membimbing pemeluknya menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh pengabdian untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

  1. Pandangan Religi menurut Teori Strukturalisme

Pengertian strukturalisme antara lain:

  • Simon Blackburn mengemukakan, strukturalisme adalah “keyakinan bahwa fenomena kehidupan manusia yang tidak dimengerti kecuali melalui keterkaitan mereka. Hubungan ini merupakan struktur, dan belakang variasi lokal dalam fenomena yang muncul di permukaan ada hukum konstan dari budaya abstrak

Strukturalisme bekerja untuk mengungkap struktur yang mendasari semua hal yang manusia lakukan, pikirkan, dan rasakan.  bertujuan untuk mencari struktur terdalam dari realitas yang tampak di permukaan secara ilmiah.  Yaitu memiliki keobyektifan yang ciri-cirinya dapat dilihat sebagai berikut:

  • Bahwa semua yang tampak dipermukaan, memiliki struktur yang menyokong atau menyangga di baliknya.
  • Struktur tersebut juga terpola dan terorganisasi, yang dapat dikombinasikan untuk menjelaskan yang tampak di permukaan.
  • Para peneliti menganggap obyektif, yaitu bisa menjaga jarak terhadap apa yang sebenarnya diteliti.

Pengertian tersebut apabila dikaitkan dengan religi adalah, dalam setiap perwujudan religi atau agama atau kepercayaan. Terdapat struktur-struktur tertentu yang membangun di dalamnya.

Berdasarkan penjelasan mengenai pengertian religi yang telah dijelaskan di atas, Menurut penulis teori yang paling sesuai untuk mengkaji fenomena religi adalah teori fungsionalisme. Karena dalam setiap kegiatan religi atau keagamaan pasti memiliki fungsi tertentu yang berguna bagi masyarakat yang memeluknya. Di antaranya yaitu: Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. Berperan menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh, berupa struktur sosial.

  1. Studi Kasus

Upacara Sedekah Bumi di Desa Bagung Sumberhadi

Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen

Pelaksanaan upacara Sedekah Bumi dilaksanakan di sekitar Sumur Beji di sepanjang jalan Desa Bagung Sumberhadi pada tanggal 10 bulan Suro (penanggalan jawa) dimana warga desa akan melaksanakan tanam padi (tanem). perlengkapannya yaitu nasi tumpeng, nasi kuning, bubur merah putih, dan sesaji; yang dipimpin oleh orang yang sudah mengerti asal muasal desa Bagung Sumberhadi atau keturunan dari juru kunci Sumur Beji. Prosesi (jalannya) Upacara Sedekah Bumi di Desa Bagung Sumberhadi mencakup dua prosesi kegiatan, yaitu: (a) gombrangan adalah ritual membersihkan Sumur Beji yang merupakan ritual awal dari pelaksanaan upacara Sedekah Bumi. Tradisi ini dimulai pada pagi hari pukul 08.00-11.00 WIB. Pada tanggal 10 Suro (penanggalan Jawa). Dilaksanakan oleh para bapak dan pemuda desa Bagung Sumberhadi secara gotong royong. Para ibu dan anak perempuan menyiapkan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh para bapak serta pemuda yang sedang bersih Sumur Beji dan sepanjang jalan Desa Bagung Sumberhadi, serta menyiapkan masakan untuk upacara Sedekah Bumi di sore harinya. Peralatan yang dibawa untuk membersihkan Sumur Beji adalah cangkul, sabit, sapu, keranjang, dan cat; (b) Pelaksanaan upacara Sedekah Bumi dilaksanakan pada sore harinya setelah Gombrangan pada tanggal 10 bulan Suro (penanggalan Jawa) pukul 16.00 WIB. Di sepanjang jalan Desa Bagung Sumberhadi tepatnya di depan SD Negeri Bagung. Warga desa menyiapkan tikar di sepanjang jalan yang digunakan untuk duduk selama prosesi berlangsung. Susunan acara Upacara Sedekah Bumi Desa Bagung Sumberhadi, sebagai berikut: pembukaan oleh Kadus Desa Bagung Sumberhadi, sambutan oleh Kepala Desa Bagung Sumberhadi, pemberian santunan fakir miskin dan yatim piatu oleh beberapa sesepuh Desa Bagung Sumberhadi, doa bersama / tahlil oleh Kaum Desa Bagung Sumberhadi, ramah tamah / tukar menukar makanan dan makan bersama. 2

Prosesi akhir upacara Sedekah Bumi adalah pemimpin upacara Sedekah
Bumi bersama juru kunci berdoa dan memberi sesaji berupa bunga (kembang
telon), bubur merah putih diletakkan di sekitar Sumur Beji.

(Sumber: Jurnal Herliyan Bara Wati Vol /0 2 / No. 04 / Mei 2013 Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo)

  1. Analisis Teori

Sedekah bumi merupakan tradisi yang berkaitan dengan religi. Sebagaimana Taylor menyatakan bahwa agama harus diasumsikan sebagai masyarakat yang harus dilihat secara keseluruhan, seperti pengetahuan, kepercayaan, moral, bahasa, seni, legenda, mitos, dan adat istiadat, yang disebut bentuk etnologi. Masyarakat mempercayai akan keberadaan Tuhan yang telah memberikan rezeki melalui hasil bumi. Karena percaya, maka mereka berusaha memberikan suatu pengorbanan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan, dan berharap agar Tuhan juga akan selalu welas asih memberi kesuburan serta manfaat bagi bumi mereka. Fenomena religi berupa sedekah bumi ini apabila dikaitkan dengan teori fungsionalisme yaitu, kegiatan tersebut memiliki fungsi-fungsi yang berguna untuk masyarakat. Sebagaimana teori Fungsionalisme yang mengatakan bahwasannya setiap religi sebagai salah satu unsur kebudayaan memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Adapun fungsi dari kegiatan sedekah bumi tersebut adalah:

  1. Mempererat hubungan atau interaksi antar masyarakatnya. Karena melalui kegiatan atau upacara ini, semua warga desa ikut berkumpul merayakannya
  2. Menciptakan gotong-royong. Dalam pelaksanaannya membutuhkan beberapa warga yang bertugas mengatur dan mempersiapkan upacara. Sehingga akan tercipta gotong royong dan kerjasama diantara mereka yang terlibat
  3. Rasa senasib, seperasaan, dan sepenanggungan. Dalam upacara tersebut baik warga yang kaya atau miskin (anak yatim) ikut menghadirinya. Sehingga mereka yang tidak mampu akan terbantu dan ikut merasakan makan bersama.
  4. Saling memiliki tujuan yang sama
  5. Mengakui simbol-simbol
  6. Menambah rasa kepercayaan terhadap keyakinan yang dimiliki

Fungsi-fungsi tersebut akan membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang teratur, dan seimbang.  Begitulah pandangan penulis mengenai fenomena agama khususnya fenomena sedekah bumi dalam kacamata fungsionalme.

 

 

Daftar Referensi

Radam, Haloei Nuried. 2001. Religi Orang Bukit. Yogyakarta: Yayasan Semesta

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wati, Bara Herliyan. 2013. Pengaruh dan Nilai-nilai Pendidikan Upacara Sedekah Bumi Terhadap Masyarakat Desa Bagung Sumberhadi Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen. Jurnal (Online). Volume 02, No. 4, 19:20. (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=72007&val=616) (Diakses 21 April 2017)

https://etnobudaya.net/2008/10/09/struktur-sosial-agama-dan-upacara-geertz-hertz-cunningham-turner-dan-levi-strauss/ (Diakses 20 April 2017)

http://www.kompasiana.com/mukhodatulafidah/sistem-religi-dan-kepercayaan-dalam-masyarakat_54f754cda333117c358b4604 (Diakses 21 April 2017)

Filosofi Karikatur

September 19th, 2017

create by puji

Karikaturnya sengaja kugambar jelek. Biar mengingatkan pada kita. Bahwasanya tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ada sisi yang kurang dari makhluk yang dinamakan manusia. Dengan demikian, mudah-mudahan kita tidak mudah sombong (ojo adigang, adigung, adiguna). Atas kelebihan  yang sejatinya hanya sebutir debu saja. Setelah melihat karikatur ini, mudah-mudahan kamu juga akan paham dan mengerti akan kekuranganku. Yang tidak berwarna, berkepala besar melebihi badannya, tidak sesuai dengan wujud aslinya (dramaturgi kata teori sosiologi), dan masih banyak lagi. Begitupun sebaliknya, aku akan mengerti kekuranganmu.  Setelah kamu paham dan mengerti. Apakah kamu mau menjadi patner petualanganku? Upsss…,  maksudnya petualangan kita?, menjadi penjaga rahasia mengenai kekurangan masing-masing, menjaga rahasia perihal kekuranganku, menutupi atau menyamarkan kekuranganku,  dan menambal kekuranganku sedikit demi sedikit. Namun bukan hanya untuk malam ini saja, ketika kamu masih sedang begitu cinta-cintanya kepadaku. Tapi sampai nanti, selama-lamanya. Ketika waktu mungkin mulai menjenuhkanmu, melelahkanmu, menggodamu, dan lain-lain.

Berbicara mengenai hal ini, sudah barang tentu aku begitu menggantungkan harapanku. Mudah-mudahan kamu selalu setia pada petualangan kita. Petualangan untuk menjaga rahasia dan menambal kekurangan. Tapi lagi-lagi, kita tidak bisa menentukan dengan pasti apa yang akan terjadi di kehidupan yang akan datang. Bahkan sedetik yang akan datangpun kita tidak bisa memastikannya. Persis seperti yang pernah kamu tulis waktu itu, bahwasanya manusia hanya bisa berasumsi tanpa bisa berkata pasti. Karena manusia bukan Tuhan. Tapi bukankah manusia hidup berkelindan dengan ribuan angan, mimpi, rencana, prediksi, dan peluang? Kita bisa memaksimalkannya dalam hal itu.

Jadi tetaplah di sini. Menjadi seseorang yang sadar diri bahwasanya kita persis seperti karikaturku yang jelek. Yang senantiasa mencoba menambal kekurangan-kekurangan kita. Yang tidak henti merajut mimpi-mimpi, dan menciptakan peluang sebanyak-banyaknya, agar bisa selalu menjadi sang petualang. Petualang yang legendaris.

Hallo, ketemu lagi dengan puji. Pas sekali nih, saya akan berbagi sedikit cerita dengan teman-teman pembaca. Pada hari selasa, tanggal 12 September 2017 lalu saya mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan oleh Jurusan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Dalam kuliah umum tersebut mengundang Dr Luis Carmello L Buenaventura. Seorang profesor sosiologi dan komunikasi dari De La Salle University Philipina. Adapun tema dalam kuliah umum tersebut yaitu “Keluarga dan Hubungan dengan Menggunakan Buku Sekolah: Universitas de La Salle Dasmarinnas, Cavite, Philipine experience”.
Dalam kuliah umumnya, Doc B begitulah panggilan akrab dari prof Louis Carmello, membicarakan mengenai sebuah program terbaru di universitas tersebut. Yakni schoolbook, sebuah program serupa dengan facebook yang digunakan dalam proses pembelajaran. Alasan pembuatan program ini yaitu untuk meminimalisir penggunaan kertas. Mengingat penggunaan kertas yang dilakukan secara terus-menerus mengakibatkan pohon di hutan semakin lama semakin habis.
Alasan penggunaan schoolbook tidak hanya melulu untuk meminimalisir penggunaan kertas. Akan tetapi dapat dikaitkan dengan persoalan keluarga. Secara rinci Doc B menjelaskan bahwa mahasiswa De La Salle University berasal dari beberapa negara di luar Filipina. Sehingga orang tua dan keluarga tidak dapat mengontrol atau mengetahui bagaimana aktivitas belajar anak-anak mereka. Oleh karena itu, program schoolbook dapat menjawab persoalan tersebut. Karena keluarga dari mahasiswa seperti kakek dan nenek, ayah dan ibu, saudara kandung, paman dan bibi, Keponakan, dan sepupu dapat mengakses schoolbook sehingga dapat mengetahui perkembangan hasil belajar si mahasiswa.
Apa itu schoolbook?
Schoolbook merupakan program yang berfungsi sebagai sistem manajemen pembelajaran (LSM), dimana guru membuat kelas elektronik (e-class) untuk berbagi materi pembelajaran dan merancang kegiatan pembelajaran online. Melalui buku sekolah ini, universitas bermaksud untuk membangun dan memelihara komunitas online pelajar seumur hidup. Schoolbook juga merupakan sebuah kebijakan kelas elektronik
Terdapat dua jenis mode pengiriman dalam schoolbook. Diantaranya yaitu:
1. Kehadiran web
– Mode pengiriman kursus, dimana kelas sebagian besar dilakukan dengan menggunakan sesi tatap muka di kelas.
– Buku sekolah (schoolbook) digunakan sebagai alat berbagi komunikasi dan sumber daya melalui penggunaan pengumuman atau fitur baru, perpesanan, obrolan, dan lain-lain.
– Semua fakultas, harus menyediakan kehadiran web untuk semua subjek.
– Mereka juga bisa melakukan kelas alternatif dengan menggunakan kelas elektronik mereka
2. Web ditingkatkan
– Kursus yang dilakukan dengan model campuran, dimana 50% dari waktu kursus digunakan untuk aktivitas belajar online.
– 50% lainnya adalah aktivitas belajar dengan mahasiswa di dalam kelas (tatap muka)
Kebijakan kelas elektronik
– Semua fakultas diharapkan untuk membahas pelaksanaan kursus termasuk kebijakan kursus., kegiatan belajar online dan jadwal di awal semester
– Fakultas juga harus memberi siswa yang tidak memiliki komputer di rumah cukup waktu untuk mengakses setiap materi pembelajaran
– Anda juga dapat mendownload aplikasi mobile untuk IOS dan android dan nikmati neo pada perangkat mobile Anda
Layaknya mata uang atau dunia yang selalu dipenuhi dua sisi yang berbeda. Begitu pula dengan schoolbook, tidak terlepas dari konsepsi positif dan negatif. Berikut ini terdapat kelebihan dan kekurangan dari schoolbook.
a. Kelebihan buku sekolah (schoolbook) dari sudut pandang guru dan siswa
1. Meningkatkan pembelajaran dan klarifikasi konsep yang dibahas di kelas melalui komunikasi yang efektif antara guru dan siswa.
2. Siswa merasa pentingnya menjadi anggota keluarga sebagai keluarga belajar yang semula diyakini ditinggalkan sendiri atau terpisah.
3. Guru segera memberikan umpan balik mengenai status siswa dan transparansi kinerja akademis secara keseluruhan menjadi urutan hari antara kedua patitas tersebut.
b. Kelebihan buku sekolah dari perspektif orang tua
1. Orangtua dapat segera memonopoli putra dan putri mereka melalui evaluasi online.
2. Orangtua juga bisa memantau catatan kehadiran anak-anak mereka di mata pelajaran yang bersangkutan
3. Orangtua akan segera tahu mengapa anak-anak mereka lulus atau gagal dalam ujian
4. Kursi departemen akan memiliki tingkat kelulusan untuk anak laki-laki dan perempuan mereka dan dengan mudah mendiskusikan masalah ini dengan orang tua yang mempertanyakan nilai putra dan putri mereka.
c. Kekurangan buku, murid, dan orang tua sekolah
1. Banyak mahasiswa yang malas dan mengerjakan tugas hanya pada saat sudah mendekati batas terakhir pengerjaan.
2. Banyak alasan sinyal internet yang lemah. Banyak kejadian yang harus dihadiri sebelum tenggat waktu, baru saja membuka buku pelajaran sekolah sekarang dan baru mengetahui bahwa tenggat waktu itu hari ini, dan lain-lain
3. Besa kesempatan mahasiswa untuk menyalin dan plagiarisme
4. Terlalu transparan terutama bagi siswa karena orang tua mengetahui nilai sebenarnya

hmmmm… begitulah cerita saya terkait dengan kuliah umum mengenai schoolbook yang telah saya ikuti. Semoga bisa bermanfaat ya? mudah-mudahan dengan cerita schoolbook ini, kita bisa terinspirasi untuk membuat program-program baru khususnya dalam bidang pendidikan, agar pendidikan di Indonesia semakin berkembang.
sekian, dan terima kasih

Sampai jumpa di postingan selanjutnya 🙂 😊

Profilku

September 5th, 2017

Assalamualaikum

Perkenalkan nama saya Puji Astuti. Saya berasal dari Kabupaten Brebes. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dengan mengambil Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Tujuan pembuatan blog ini yaitu sebagai media untuk berbagi ilmu dan referensi khususnya berkaitan dengan Sosiologi dan Antropologi. Selain itu, sebagai syarat memenuhi tugas mata kuliah Produksi Media Audio-Visual.

Semoga dengan dibuatnya blog ini dapat memberikan manfaat, baik bagi saya pribadi maupun teman-teman pembaca.

 

Kontak person

Facebook : Puji astuti

IG             : hastutipuji61

Email        : hastutipuji61@gmail.com

Sekian, Terima kasih

Wassalamualaikum

Hello world!

November 19th, 2015

Welcome to Jejaring Blog Unnes Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!


Lewat ke baris perkakas