Hallo. Salam semangat untuk para pembaca. kali ini saya akan berbagi materi yang pernah saya buat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sosiologi Politik. Materinya tentang budaya keras dan halus pada masyarakat Jawa. Kalian penasaran? Yuks baca lebih lanjut paparan di bawah ini.

Kebudayaan Jawa yang terdiri dari Keraton Solo dan Yogyakarta seringkali dikenal dengan budaya yang halus. Akan tetapi sebenarnya pada masa lalu masyarakat Jawa itu sendiri bersifat keras. Perubahan dari budaya keras menjadi halus tidak luput dari campur tangan Belanda yang melakukan ekspedisi di kerajaan-kerajaan jawa. Nah budaya itu sendiri menjadi pedoman, pengarah, atau bisa juga sebagai pemaksa bagi pemilik kebudayaan itu sendiri. Budaya jawa yang keras juga bisa saja diadopsi oleh masyarakatnya. Budaya keras jawa mewujud dalam nilai-nilai dan etika jawa ynag terdapat dalam sanjungan dan pemujaan terhadap para panglima perang atau para kesatria. Sosialisasinya bisa melalui pertunjukan wayang kulit yang mengandung cerita peperangan. Adapun nilai dan etika Jawa tercermin dalam 3 prinsip. Yaitu hormat, rukun, dan isin. Hormat adalah setiap orang harus saling menghormati satu sama lain. Rukun adalah hubungan sosial masyarakat harus berjalan selaras, dan jauh dari konflik. Sementara itu, isin adalah suatu sikap yang harus dimiliki setiap orang agar merasa malu apabila telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Ketiga nilai tersebut seringkali memang terwujud dalam kenyataan (model of reality), akan tetapi di sisi lain kadang-kadang juga hanya sebuah cita-cita yang berbeda dari kenyataan (model for reality).
Kekerasan dan Peperangan pada Masyarakat Jawa
Kedatangan VOC di Mataram mengakibatkan perubahan keadaan politik kerajaan tersebut. Karena pada akhirnya menyebabkan kerajaan Mataram harus dipisah menjadi dua bagian yaitu kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Pembagian tersebut berlaku sejak dilaksanakannya perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Namun kedua kerajaan tersebut akhirnya tetap berada dalam kendali pemerintah kolonial Belanda. Dan sering terjadi pemberontakan serta perang khususnya perang Diponegoro. Sehingga dapat dikatakan kerajaan tersebut sempat mengalami keporak-porandaan politik. Namun pada akhirnya kekacauan tersebut dapat dipadamkan Belanda dan keduanya menjadi kerajaan bonekanya Belanda (colonial state)

Kekerasan pada Masa Reformasi
Pada saat reformasi akan meletus kerajaan Yogyakarta dan Surakarta sudah menjadi bagian dari Indonesia. Sehingga raja bukan menjadi pemimpin negara lagi. Namun masih memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan masyarakat. Pada saat itu sultan Hamengkubuwono X menjadi sultan di Yogyakarta. Beliau melakukan nglakoni atau tapa brata (menahan diri untuk berbagai hal seperti makan, tidur, bicara, dll) tujuannya agar reformasi berjalan dengan lancar dan terhindar dari konflik atau gerakan anarkis dari massa yang melaksanakan demonstrasi penegakan reformasi. Dimana gerakan massa tersebut berlangsung pada tanggal 20 Mei 1998 yang sering disebut dengan Pisowanan Ageng. Di acara tersebut sultan berpidato kemudian untuk menghindari gerakan massa yang anarkis. Beliau memberikan gunungan atau grebeg berupa makanan. Dengan cara memerintahkan pada masyarakat untuk menyediakan makanan dan minuman secara gratis dan diletakan di pinggir jalan agar dapat dimakan oleh peserta gerakan massa. Adapun makna dari Pisowanan Ageng ini disebut sebagai people power yang mengandung dua makan. Yang pertama sebagai penggulingan rezim Soeharto, dan yang kedua yaitu sebagai tekanan akan penggulingan Soeharto. Namun pada intinya Pasowanan Ageng ini merupakan suatu gerakan massa yang terbesar di Yogyakarta dan dapat dikatakan sebagai gerakan yang berpengaruh terhadap lengsernya rezim Soeharto.

Budaya Alus dan Budaya Kasar
Budaya Alus dan kasar masyarakat jawa tercermin dalam bahasa dan perilaku. Sebagai contohnya mewujud dalam tarian bambangan cakil yang mengisahkan pertarungan antara Arjuna dengan Buto cakil. Gerakan Arjuna dalam tarian tersebut sangat halus, menunjukan sifat yang bijaksana, namun memiliki kekuatan yang besar. Biasanya ciri tersebut melekat pada golongan besar seperti bangsawan, dan priyayi. Dan pada akhirnya yang akan menjadi pemenang pun adalah Arjuna. Sementara gerakan dari buto cakil sangat lincah dan menghentak-hentak, menggambarkan sifat yang keras, melekat pada wong cilik, dan anak muda atau orang asing. Sehingga budaya alus inilah yang kemudian menjadi tolak ukur baik buruknya seseorang. Apabila ada orang yang tidak memiliki sifat alus maka akan dikatakan urung njowoni, artinnya tidak pantas menjadi orang jawa.

Dupak Bujang, Semu Mantri, Esem Bupati
Dupak Bujang (ditendang) menggambarkan wong cilik yang apabila melakukan komunikasi akan disertai dengan kekerasan dan kasar
Semu mantri (menyindir) menggambarkan komunikasi antara priyayi atau mantri menengah, yang harus ditegur terlebih dahulu.
Esem bupati (tersenyum) menggambarkan komunikasi seorang bupati yang hanya cukup dengan tersenyum saja orang-orang akan paham dengan sendirinya. Senyum menggambarkan perilaku yang sangat halus dan merupakan komunikasi yang menduduki level tertinggi.
Berbicara mengenai kealusan orang jawa tidak terlepas dari istilah “suro diro Jayaningrat, lebur dening pangestuti” yang mengandung arti bahwa sampai kapanpun kejahatan, kekasaran, angkara murka, akan terkalahkan oleh kebaikan, kealusan, kebecikan, keluhuran budi pekerti. Sehingga sifat alus sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat jawa.

Menjinakan Kekerasan
Cara menjinakan kekerasan yaitu tidak terlepas dari pengaplikasian “suro diro jayaningrat, lebur dening pangestuti” dalam kasus orde baru tergambarkan bahwa rezim Soeharto memiliki sifat angkara karena telah melakukan penyelewengan-penyelewengan yang merugikan rakyat. Akan tetapi pada akhirnya rezim tersebut dapat dilengserkan.
Kaitannya dengan peristwa gerakan massa menuntut reformasi tersebut sebenarnya bisa saja menimbulkan gerakan yang anarkis, karena pada setiap gerakan massa tentunya emosi peserta sedang dalam kondisi yang tidak dapat dikontrol, suasana yang panas karena berdesak-desakkan, lapar, dan lain sebagainya, tentunya terdapat banyak kemungkinan terjadinya kerusuhan atau kegaduhan. Akan tetapi karena adanya sistem pisowanan ageng, dimana di dalamnya diberlakukan pula grebegan, maka emosi peserta gerakan massa dapat diredam, dan tidak ada kegaduhan atau tindakan anarkis sama sekali. Sehingga acara gerakan massa berlangsung dengan aman dan lancar.

Tanggapan
• Menurut saya, kebudayaan jawa sebenarnya mengandung budaya alus dan budaya kasar memang benar. Karena pada kisah-kisah jawa seperti yang sangat terkenal yaitu Bratayuda menggambarkan kekerasan. Karena di dalamnya selalu melibatkan unsur-unsur peperangan, perebutan tahta, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, bisa saja pembaca atau penikmat karya tersebut justru akan meniru budaya kasar tersebut. Sementara budaya jawa identik juga dengan budaya halus, karena pada setiap karya-karya tersebut tokoh-tokoh yang memiliki kewibawaan atau kekuasaan lebih justru yang memiliki sifat-sifat yang halus. Selain itu, dalam setiap kisah tersebut, tokoh yang memiliki kepribadian halus itulah yang akan menjadi pemenangnya. Sehingga hal tersebut menanamkan nilai-nilai pada masyarakat jawa khususnya bahwasanya yang halus memang benar dan patut dicontoh.
• Budaya alus selain dikategorikan sebagai model of reality tapi juga bisa dikategorikan juga sebagai model for reality. Saya setuju dengan pernyataan ini. Karena pada era sekarang khususnya banyak orang jawa yang belum njawani. Khususnya anak-anak muda. Mereka berasal dari etnis jawa tetapi bahasa dan perilakunya tidak mencerminkan kealusan orang jawa. Hal ini disebabkan karena arus perubahan sosial yang semakin menggerus tatanan kealusan jawa. Selain itu, disebabkan juga oleh letak geografis setiap wilayah di Jawa. Budaya alus mungkin memang ada pada masyarakat yang berada di pusat kebudayaan itu sendiri yaitu di Yogyakarta dan Surakarta. Akan tetapi diluar daerah pusat kebudayaan itu, konsep alus mungkin hanya berupa nilai atau pola yang dicita-citakan, belum sampai pada tahap aplikasi.
• Berkaitan dengan Dupak Bujang, Semu mantri, dan Esem Bupati, jelas sekali menggambarkan bahwasanya strata sosial sangat menentukan gerak atau tingkah laku sesorang. Strata sosial menjadi tolak ukur apakah orang tersebut berlaku alus atau kasar. Dan yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa orang-orang yang berkedudukan tinggi seperti raja, bangsawan, dan lain sebagainya selalu digambarkan memiliki perilaku atau budi pekerti yang baik dan halus. Sedangkan seseorang yang berasal dari strata yang lebih rendah lagi contohnya rakyat biasa (wong cilik) selalu digambarkan sebagai golongan atau kelompok yang sering berlaku atau berbudi pekerti kasar. Apakah konsep-konsep tersebut merupakan sebuah upaya legitimasi dari para penguasa pada zaman itu untuk meninggikan kedudukannya? Agar para penguasa dihormati dan dihargai dalam posisi yang lebih tinggi? Dan lagi-lagi legitimasi tersebut adalah upaya atau cara-cara politik.