ANALISIS BERITA: HIGH HEELS, INGIN MODIS VS URUSAN MEDIS

Hallo, bertemu lagi dengan saya di loker ilmu. Kali ini saya akan memposting tugas kuliah yang sudah pernah saya kerjakan. Yaitu tugas mata kuliah Antropologi Kesehatan yang telah saya dapat pada semester 5. untuk lebih jelasnya, yuks baca tulisan ini sampai selesai.

Oleh : Gde Dharma Gita Diyaksa

Diterbitkan 30 Agustus 2017, Pukul 18:50 WIB

Perempuan pengguna high heels (Liputan6.com/Zulfikar)

Liputan6.com, Jakarta

Beauty is pain. Kalimat itu meluncur dari mulut Saras Sanchez, 32 tahun, saat menceritakan pengalaman menggunakan sepatu hak tinggi atau high heels.  Saras memang kerap menggunakan sepatu hak tinggi. Menurut dia, sepatu hak tinggi merupakan aksesori penting yang dapat menunjang penampilan. Karena dengan memakainya kaki akan terlihat panjang dan cantik “Aku pakai dari umur 20 tahunan,” tutur Saras kepada Liputan6.com.

Dulu  Saras menekuni dunia model. Pekerjaan itu membuat Saras harus mengenakan sepatu hak tinggi selama dua hingga empat jam per hari. Namun karena kebiasaan itu, dia menjadi  sering merasakan sakit di kaki dan punggung dan cepat merasa sakit ketika duduk. Namun dia tidak menghiraukannya, katanya “Sudah kebiasaan. Kalau tidak pakai high heels itu tidak percaya diri,” ujar Saras.  Setelah konsultasi ke dokter, ternyata pemakaian high heels memiliki dampak buruk, diantaranya yaitu: .

Pergelangan kaki dan betis

Memakai sepatu hak memaksa pergelangan kaki menekuk ke depan. Sebuah gerakan yang bisa membatasi sirkulasi di tungkai bawah. Jika Anda seorang pemakai high heels abadi, ini akan berakhir spider veins.

Berjalan dengan tumit membuat tegang tendon achilles Anda. Dan juga menyebabkan betis berkelompok. Jika Anda sudah sepanjang hari mengenakan sepatu hak tinggi, Anda mungkin akan mengalami kesulitan berjalan secara alami.

Sering waktu, sepatu hak runcing dapat membuat betis kencang kronis. Sehingga urat pergelangan kaki dan betis akan terasa sakit meski sudah memakai sepatu flat.

Lutut

Lutut adalah sendi terbesar dalam tubuh. Jika keseringan memakai hak tinggi dapat menambah tekanan ekstra pada sisi bagian dalam lutut sehingga mengakibatkan keausan. Dan bisa berakibat osteoarthritis.

Pinggul

Untuk menjaga dari kelebihan beban di sepatu berhak tinggi, Anda harus mendorong pinggul ke depan, melengkungkan punggung, serta membuat dada maju ke depan. Sikap seksi seperti itu memaksa otot-otot pinggul bagian luar, dan tendon bekerja keras.

Bagian belakang

Saat berjalan, tulang belakang Anda perlu bergoyang ini merupakan proses yang menekan lumbar otot erector spinae Anda. Hasilnya, sakit punggung bagian bawah.

Keterkaitan Berita dengan Kajian Antropologi Kesehatan

Berita tersebut menjelaskan mengenai dampak negatif yang dirasakan oleh Sarah sebagai seorang model yang sudah bertahun-tahun memiliki kebiasaan memakai sepatu hak tinggi (high heels). Pemakaian sepatu hak tinggi tersebut bertujuan untuk mempercantik tampilannya dan meningkatkan rasa percaya dirinya ketika tampil di depan umum.

Dengan alsan demikian, fenomena tersebut sangat berkaitan dengan kajian antropologi. Sarah memakai sepatu hak tinggi bertujuan agar terlihat semakin cantik di depan umum, terlebih berkaitan dengan pekerjaannya sebagai model yang dituntut untuk selalu tampil cantik. Karena dengan memakai sepatu berhak tinggi, kaki Saras akan kelihatan lebih jenjang. Dan konstruksi masyarakat akan konsep cantik adalah perempuan yang memiliki kaki yang kelihatan jenjang atau panjang. Nah upaya yang dilakukan Saras untuk memenuhi konstruksi tersebut salah satunya yaitu dengan mengenakan sepatu berhak tinggi. Berbicara mengenai konstruksi cantik bagi perempuan yang berkaki jenjang tersebut jelas sekali berkaitan dengan antropologi, karena konstruksi tersebut merupakan salah satu bentuk atau wujud dari kebudayaan, sedangkan antropologi itu sendiri merupakan ilmu yang mempelajari mengenai kebudayaan manusia.

Upaya yang dilakukan Saras untuk mengikuti aturan atas konstruksi tersebut ternyata berdampak buruk. Karena pemakaian sepatu berhak tinggi ternyata tidak mendukung kesehatan Sarah. Justru malah menciptakan penyakit. Khususnya penyakit yang berkaitan dengan kaki, betis, lutut, pinggul, punggung, dan tubuh bagian belakang. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwasanya kebudayaan dapat mempengaruhi sehat atau tidaknya manusia sebagai pemilik dari kebudayaan tersebut. Karena budaya dapat memberikan andil dan mempengaruhi kesehatan pemiliknya. Dalam kasus yang telah dijelaskan di atas, menunjukan bahwa budaya telah menciptakan penyakit bagi pemiliknya, dalam hal ini bagi perempuan (Sarah) yang kebetulan berprofesi sebagai model yang dituntut agar selalu terlihat cantik. Dan tentunya tidak hanya dialami oleh Saras saja, melainkan juga dialami oleh perempuan-perempuan lain yang sering memakai sepatu high heels dalam waktu relatif lama, hanya karena mengikuti trend atau menggenapi konstruksi bentukan masyarakat yaitu “agar terlihat cantik atau modis di muka umum”.

Sumber:

LIPUTAN 6

(http://news.liputan6.com/read/3077127/high-heels-ingin-modis-vs-urusan-medis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons