CATATAN PERJALANAN KE KAMPUNG LAUT CILACAP

Hallo, bertemu lagi dengan saya di loker ilmu. Kali ini saya akan memposting tugas kuliah yang sudah pernah saya kerjakan. Yaitu tugas mata kuliah Kajian Etnografi yang telah saya dapat pada semester 3. untuk lebih jelasnya, yuks baca tulisan ini sampai selesai.

Pada hari Kamis, 6 Agustus 2016, kami melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Kampung Laut, Cilacap. Kami berkumpul di Kampus Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri semarang terlebih dahulu  pukul 02:00 WIB. Baru setelah jam 03:00 WIB kami berangkat menggunakan Bus. Rute yang kami lalui yaitu Semarang, ungaran, Kebumen, Purwokerto, Cilacap. Sekitar pukul 14.00 kami tiba di cilacap, tepatnya di Pelabuhan Sleko. Setelah itu rombongan dibagi ke dalam tiga kelompok, untuk menaiki kapal compreng. Lalu kamipun naik ke kapal compreng untuk mengarungi segara anakan menuju kampung laut.

Di perjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya melihat kapal-kapal besar milik pertamina disamping laut terdapat bukit yang hijau, hutan bakau yang rimbun, pohon-pohonnya digelantungi monyet-monyet hutan, dan burung angsa yang sering kali bertengger di balik tumbuhan-tumbuhan. saya juga melihat  rumah-rumah penduduk, yang berdinding kayu, dengan ciri khas di depannya terdapat kamar mandi atau lebih tepatnya jamban yang pembuangannya langsung ke air. Terdapat pula rumah yang kemungkinannya sudah tidak dihuni lagi, terkadang, hanya tinggal atap dan tiangnya saja, atau ada juga yang hanya terdapat bekas pondasi saja. Selain itu kami juga mendapati rumah-rumah penduduk yang bagus, yang terdapat kapal-kapal di depan rumahnya. saya juga mendapati bangunan yang resmi dari pemerintah, seperti kantor kepala desa, dan kecamatan, serta puskesmas yang rupanya sedang dalam proses pembangunan, di depannya terdapat dua buah  kapal ambulance berwarna putih.

Setiap desa yang kami lewati memiliki gapura, bertuliskan nama desa tersebut, disana terdapat rumah-rumah penduduk yang didepannya berjejer kapal-kapal, dan kadangkala terdapat warga yang sedang berada di luar rumah, sehingga mereka semua memandang ke arah kami. Selain itu, warga yang berada di depan rumah, warga yang  berpapasan atau beriringan dengan kami ketika di lautpun memandangi kami, seperti yang kami temui di sepanjang perjalanan yang sedang membawa pasir, kayu, pisang, daun pandan, dan penumpangpun memandang ke arah kapal kami.  Mungkin mereka merasa bahwa kami orang luar, dilihat dari pakaian yan kami kenakan, atau karena jumlah kami yang banyak.

Pada awalnya saya kira di jalur laut tidak ada rambu-rambu lalu lintas, ternyata di lautpun terdapat rambu-rambu lalu lintas, hal ini tentu sangat berguna bagi penyebrang.

.Setelah sekitar jam 16.00 WIB kami tiba di desa Ujung gagak. Disana kami berkumpul terlebih dahulu, kemudian diarahkan untuk ke homestay masing-masing. Pemilik homstay kami sudah berada di luar rumah untuk menyambut kami, pada awalnya saya kira mereka menggunakan bahasa sunda, ternyata mereka menggunakan bahasa jawa ngoko yang agak kasar, sehingga saya bisa memahaminya. Rombongan kami mendapat homestay yang berdinding batu, berkeramik, dan memiliki kamar mandi dalam. Sejenak, kami melakukan bersih diri, mandi secara bergantian, sebelum saya mendapat giliran mandi, saya sempat melihat dinding-dinding rumah, ternyata dinding rumahnya terlihat bercak-bercak berwarna hitam, mungkin karena pengaruh air laut. Kemudian saya mandi, saya sempat kaget, ternyata bak kamar mandinya besar sekali, sekitar berukuran 2 x 1,5 meter, dengan tinggi 1,5 meter. Di bagian dindingnya terdapat pipa berukuran besar, sepertinya berguna untuk menyalurkan air hujan dari genting ke bak tersebut, sementara bak yang besar digunakan untuk menyimpan air lebih banyak ketika musim hujan. Di bagian belakang rumah terdapat tempat khusus untuk mencuci piring, dan dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.

Setelah kami semua sudah bersih diri, kami berangkat menuju ke aula desa. Di perjalanan saya mengamati warga, jalan, rumah, bangunan, dan hewan yang ada di sana.

  1. Kegiatan sosial warga

Pada sore hari banyak sekali warga yang berada di luar rumah, ada ibu-ibu yang bergerombol sambil bercerita, ada bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di pos ronda, ada anak-anak yang ikut bermain ibunya, ada ibu-ibu dan anak muda yang sedang bermain voli di lapangan. semua kegiatan itu merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap sore hari. Kehidupan warga kelihatan rukun. Semuanya membaur menjadi satu.

Jalan

Kondisi  Jalan di kampung laut menggunakan pavingan, memiliki lebar sekitar 1,5 meter, sehingga tidak ada mobil besar yang bisa melaluinya, saya juga hanya menemui dua rumah yang memiliki mobil, jenis L 300, sementara yang banyak saya temui yaitu perahu, dan sepeda motor, di pinggir-pinggir rumah saya temui selokan berukuran besar yan sering dilalui kapal-kapal milik warga.

Rumah

Sumber dokumen pribadi: gambar rumah warga

Banyak ditemui rumah warga yang beratap dua lapis atau dua empyak, Setiap rumah memiliki halaman depan yang luas, biasanya di depan rumah terdapat udang atau ikan asin yang sedang dijemur. Di depan rumah juga terdapat  tanggul sebagai pembatas antara halaman rumah dengan jalan. banyak rumah-rumah yang mendirikan warung.

Bangunan

Bangunan yang saya temui yaitu SD, masjid dan aula

Sumber ddokumen pribadi: aula Desa Ujung Gagak

Ternak dan binatang peliharaan

Selain itu di Desa Ujung Gagak ini juga kebanyakan memelihara ternak, seperti kambing dan ayam, namun pemeliharaanya dibiarkan begitu saja, tidak selalu dimasukan ke kandang, istilah lainnya yaitu ’’diendar’’, selain itu binatang peliharaan warga terdiri dari anjing dan kucing banyak berkeliaran di jalan-jalan, halaman rumah, dan lapangan.

Setelah sampai di aula, kami langsung berkumpul. Di aula ada bapak-bapak yang sedang menyusun panggung untuk acara pagelaran wayang besok siang. Sore itu juga sedang dilaksanakan sedekah bumi, saya melihat bapak-bapak beserta beberapa anak laki-laki membawa sesajen, lalu menggali lubang di pintu gerbang aula tersebut, kemudian sesajen itu dikubur. Setelah itu, kami juga melihat banyak anak laki-laki yang membawa sesajen , mereka membawanya ke perempatan-perempatan jalan, untuk kemudian sesajen itu dikubur disana. Setelah mendapat arahan dari panitia kami langsung terjun ke masyarakat melakukan wawancara. Kelompok kami mendapati beberapa narasumber, narasumber yang pertama, yaitu Ibu Sukantri, kemudian ibu Salmiyati, Bapak Mujiyono, Bapak Rudiyanto, dan Bapak Budiono. Bersama narasumber tersebut kami menanyakan beberapa hal mengenai pekerjaan, pola asuh anak laki-laki dan perempuan, dan lain sebagainya. menurut Bapak Mujiyono rata-rata pekerjaan laki-laki di Desa Ujung Gagak yaitu nelayan, ada beberapa yang bekerja sebagai petani, tapi hanya sedikit. Alasan mereka lebih memilih bekerja sebagai nelayan daripada petani yaitu, “Orang disini tidak tekun, tidak sabar, mending milih jadi nelayan, pergi malam, pulang pagi dapat uang, daripada jadi petani, harus nunggu berbulan-bulan baru dapat uang”. Begitulah pernyataan dari Bapak Mujiyono. Selain itu, lahan di sini belum ada kepemilikan yang jelas, sehingga mereka enggan untuk bertani. Mereka juga menjelaskan antara pola asuh anak laki-laki dan perempuan berbeda, anak laki-laki dibebaskan dalam waktu bermainnya, sementara, pada anak perempuan dibatasi, diharuskan sudah berada di rumah sebelum jam 9 malam, tidak boleh bermain dengan laki-laki. Kemudian tugas anak perempuan di rumah yaitu membantu ibu memasak, mencuci piring, dan bersih-bersih rumah, sementara anak laki-laki di rumah membantu merapikan jala atau jaring.

Setelah itu, kami pulang ke homestay, Kami makan, dan setelah jam 7 kami menuju ke aula lagi, untuk temu dengan tokoh adat, kepala desa, pemuda, dan kyai. Kami pulang ke homestay pukul 23:00 WIB. Di sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan beberapa anak muda yang mengendarai sepeda motor. Ada beberapa yang bertanya kepada kami, kenapa pulangnya malem kak? Kami hanya diam. Dan kami tidak menemui anak perempuan berada di jalan ketika malam hari. Hal ini dapat disimpulkan bahwa antara anak laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan dalam waktu bermain. masyarakat di Kampung Laut sama seperti masyarakat umum yang tinggal di desa-desa yang masih menjunjung nilai-nilai lokal, salah satunya yaitu lebih protek terhadap anak perempuan, mereka menerapkan aturan yang ketat yaitu anak perempuan harus berada di rumah sebelum jam 9 malam.

Setelah itu, kami istirahat, bangun jam 05.00 WIB, kemudian mandi, setelah itu sebelum sarapannya datang, ibu homestaynya memberi kami teh anget manis, dan satu piring gorengan tempe dan pisang goreng, “ini mba goregan, gratis”. Ucap beliau. Kami memakannya. Setelah itu jatah makanan kamipun datang, dengan lauk kerang, dan sayur buncis. Sekitar jam 7 lebih kami kembali ke aula. Untuk berdiskusi dengan dosen pembimbing kami. Dalam perjalanan ke aula kami melewati SD, disana anak-anaknya sangat ramah, setiap kami lewat, anak-anak dengan gembira memanggil kami “kakak, “ sambil melambai-lambaikan tangannya. Kamipun tersenyum, dan membalas lambaian tangan mereka.  Di aula sudah ramai dengan orang, panggungnya sudah jadi, selama kami berdiskusi dengan dosen pembimbing, saya mengamati, bapak-bapak kelihatan sangat sibuk membuka acara, menyiapkan acara, sementara ibu-ibu sibuk di belakang aula, mungkin dia sedang memasak. Sempat waktu itu ibu-ibu membagikan minuman gelas kepada kami. Saat itu juga kedatangan ibu kepala desa, orang-orang bersalaman dan berjabat tangan. Setelah itu bapak-bapak membawa sesajen yang akan dilarungkan ke laut menuju ke luar aula. Setelah itu terdengar ada bapak pembawa acara yang membuka susunan acara dan memimpin do’a.

Diskusi kamipun selesai. Kami langsung keluar melihat acara yang sedang berlangsung, disana saya melihat sesajen yang akan dilarungkan ke laut. Ada boneka, layang-layang, sandal wanita, ayam panggang, pakaian wanita, pakaian dalam wanita, bubur warna warni, konde, emas, pisang dan lain-lain. Orang-orang sangat ramai disitu. Lalu saya menuju ke panggung yang akan digunakan untuk pementasan wayang, disana terdapat bapak-bapak yang sedang sibuk menyiapkan gamelan, wayang, dan lai-lain. Disana sudah terpasang gamelan jawa, dan wayang yang sudah dijejer di panggung. Setelah itu orang-orang berisik sekali, ternyata mereka sedang menggotong sesajen yang akan digunakan untuk sedekah laut menuju dermaga, orang yang membawa sesajen berada di posisi paling depan, dibelakangnya disusul warga, dan dibelakangnya disusul lagi kami, namun ada beberapa dari kami yang menerobos masuk ke bagian depan , karena ingin melihat jelas sesajen tersebut. Orang-orang di sana begitu kompak, memiliki gotong-royong dan kepedulian yang tinggi.

Stelah kami sampai di dermaga disana sudah banyak orang yang menonton, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak kecil, dan pemuda. Di laut anakan juga sudah berjejer perahu-perahu yang siap mengantar dan mengikuti sedekah laut tersebut. Ada beberapa ibu-ibu dan anak-anak yang ikut.  Setelah itu kapal-kapal berangkat untuk melarung sesajen tersebut. Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena hanya beberapa perwakilan mahasiswa saja yang diperbolehkan ikut.

Setelah itu, kami kembali ke homestay, bercerita-cerita, tiba-tiba ibu homestay memberi kami lagi satu piring buah pepaya yang sudah dikupas. Kami senang, karena kami sedang kepanasan. Sambil memakan pepaya, saya mendengarkan ceirta dari teman saya, katanya kalau orang baru disini tidak boleh bersandar ke tiang atau tembok rumah, dan untuk perempuan tidak boleh tidur siang. Kami sempat takut. Karena saya dari kemaren bersandar terus. Setelah cukup lama bercerita kami masuk ke dalam rumah, kami mandi, setelah itu kami tidur-tiduran, di atas kasur di depan tv, karena dalam keadaan lelah dan ngantuk, tanpa disadari kami tertidur di depan tv. Termasuk saya. Saya sempat khawatir, tapi saya berpikiran paling tidak papa, itu hanya mitos, pikirku.

Setelah itu kami pulang dengan menggunakan kapal lagi. Kami kepanasan, banyak diantara kami yang tertidur di dalam kapal. Tapi saya tidak tidur, saya mengamati sepanjang yang saya lalui. Setiap pertigaan atau perempatan, atau pojokan, saya melihat sesajen yang diletakan disana. Tiba-tiba di tengah perjalanan, kapal yang kami tumpangi mesinnya mati, sehingga tidak bisa berjalan. Kami semua panik. Di dalam hati saya khawatir, apa ini ada hubungannya dengan larangan yang kami langgar? Saya sempat takut. Untunglah setelah beberapa saat, mesin kapal bisa dihidupkan kembali, dan perjaanan kembali lancar seperti semula. Setelah 3 jam penyebrangan kami sampai di pelabuhan sleko, karena saya lapar, saya membeli mi, kemudian saya memakannya di dalam bis, sementara itu saya melihat diluar kaca, disana saya melihat ada seorang perempuan yang sedang membersihkan gerobak, usianya sekitar 40-an tahun. Ia memakai pakaian tanpa lengan, dengan celana yang sangat ketat, dan ia juga merokok. Ini berbeda sekali dengan di kampung laut, disana saya tidak menjumpai perempuan seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons