HUBUNGAN PATRON KLIEN DALAM KEHIDUPAN PETANI DI DESA IGIRKLANCENG, KECAMATAN SIRAMPOG, KABUPATEN BREBES

Hallo, bertemu lagi dengan saya di loker ilmu. Kali ini saya akan memposting tugas kuliah yang sudah pernah saya kerjakan. Yaitu tugas mata kuliah Sosiologi Politik yang telah saya dapat pada semester 5. untuk lebih jelasnya, yuks baca tulisan ini sampai selesai.

Tugas ini merupakan hasil observasi lapangan yang dilakukan di tempat tinggal saya..

Patron klien Merupakan hubungan timbal balik antara individu atau kelompok yang memiliki status sosial ekonomi tinggi (patron) dan yang rendah (klien). Hubungan patron klien ini mencakup semua bidang. Salah satunya yaitu di bidang pertanian (pada masyarakat petani). Pola hubungan patron klien yang terdapat di masyarakat petani yaitu terjadi antara petani kaya dan petani miskin (buruh tani), dan petani dengan pembeli hasil pertanian (bakul dan PT Indofood)

Hubungan patron klien ini terbentuk karena bertujuan mendapatkan keamanan, mendapatkan pekerjaan, dan modal. Patron mengaharapkan ketersediaan tenaga kerja, persediaan hasil pertanian, dan mengembangkan sektor ekonominya. Hubungan patron klien antara petani dan pembeli hasil pertanian umumnya kuat dan berlangsung lama. Sementara hubungan patron klien antara petani kaya dan petani miskin (buruh tani) tidak terlalu kuat karena klien selalu berusaha untuk hidup mandiri, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Dalam pembahasan ini, penulis akan megangkat tema mengenai hubungan patron kllien yang terdapat di Desa Igirklanceng. Dan menjelaskan faktor yang memperkuat dan memperlemah hubungan tersebut.

Menurut Scott dalam Rustinsyah, (2011) hubungan patron klien adalah: Hubungan patron-klien bersifat tatap muka, artinya bahwa patron mengenal secara pribadi klien karena mereka bertemu tatap muka, saling mengenal pribadinya, dan saling mempercayai.
Lande (1964) dala Rustinsyah (2011) menyebut model patron-klien sebagai solidaritas vertikal. Ciri-ciri hubungan patron-klien, menurut Scott (1972) adalah (1) terdapat suatu ketimpangan (inequality) dalam pertukaran; (2) bersifat tatap muka; dan (3) bersifat luwes dan meluas.

Pola hubungan itu terjadi karena persoalan mendapatkan jaminan subsistensi, mengatasi krisis keuangan, mengakses pasar, modal, dan kebutuhan tenaga kerja. Pola hubungan patron klien ada yang kuat bertahan lama dan lemah. Dalam memelihara hubungan patron klien diperlukan syarat tertentu antara lain (1) adanya sesuatu yang diberikan satu pihak, baik berupa uang atau jasa, yang merupakan sesuatu yang berharga bagi pihak lain; (2) terjadi transaksi pemberian antara pihak satu dengan lainnya maka yang menerima mempunyai kewajiban untuk membalas; dan (3) dalam hubungan tersebut terdapat norma-norma yang mengatur, misalnya apabila seseorang telah menerima sesuatu dan tidak tahu membalas, maka dianggap ingkar janji (Ahimsa 1996). Unsur penting dalam hubungan patron-klien adalah resiprositas yang diatur norma-norma tertentu.
Hubungan patron-klien yang terjadi di kalangan petani Desa Igirmanis diantaranya yaitu terdiri dari petani kaya dan buruh, dan petani dengan tengkulak dan PT Indofood.
“Petani kaya yang mempunyai tanah luas lebih dari satu hektar, aktif berpartisipasi dalam kegiatan tani dan mempunyai pengetahuan baik dalam kegiatan bercocok tanam sehingga sering dijadikan acuan atau panutan petani lainnya, mempunyai sumber penghasilan ganda di sektor pertanian dan di luar pertanian, memiliki buruh tetap” (Rustinsyah, 2011) . Buruh tetap merupakan buruh tani yang bekerja dan terikat dengan majikannya yaitu petani maju. Dalam hal ini Petani kaya memiliki posisi sebagai patron, dan buruh tetap sebagai kliennya. hubungan patron-klien ini terjadi karena adanya kondisi yang timpang, khususnya dari segi ekonomi. Menurut Scott dalam Rustinsyah (2011), klien memerlukan jaminan sosial bagi subsistensi dan keamanan. Sebaliknya patron memerlukan tenaga kerja sepanjang waktu dan kontinyu untuk kelancaran kegiatan ekonominya.

a. Hubungan patron-klien antara petani kaya dan petani miskin (buruh tani)
Hubungan kerja antara petani kaya dan buruh tani disebut patronase karena terdapat hubungan saling bergantung diantara keudanya. Petani kaya sebagai patron memberikan jaminan kepada buruh berupa pekerjaan, dan buruh memberikan keuntungan bagi patron berupa tenaga yang diberikan.
Seorang patron lebih mengutamakan buruh yang rajin, tekun, dan dapat dipercaya. Sementara buruh lebih memilih bekerja di tempat yang majikannya bisa kerjasama, tidak menuntut banyak aturan ketika bekerja, tidak pelit dalam memberikan makanan dan bonus lebaran. Dan lain-lain.

Umumnya patron mempunyai pekerjaan lain diluar sebagai petani. Contohnya pedagang toko kelontong, pedagang sayuran (bakul), guru, dan PNS. Biasanya patron memiliki klien lebih dari 5 orang.
Hubungan patronasi ini dapat dipandang dalam dua sudut pandang. Yang pertama sebagai hubungan yang saling menguntungkan. Karena patron memberikan keuntungan, dan perlindungan seperti penyedia lapangan kerja yang tetap, meminjami uang kepada klien apabila sedang membutuhkan uang untuk keperluan mendesak, Memberikan hadiah atau bonus ketika hari lebaran seperti uang, makanan, dan pakaian. Sementara itu klien juga memberikan keuntungan berupa penyedia tenaga kerja yang dapat membantu penyelesaian pekerjaan si patron.
Namun disisi lain juga dapat dikatakan sebagai tindakan eksploitasi patron terhadap buruh. Karena mereka sangat tergantung terhadap patron dengan mendapat upah rendah. Dan harus bekerja tepat waktu serta mengutamakan pekerjaan patron daripada pekerjaannya sendiri. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan klien berpindah bekerja ke tempat lain atau merantau ke luar kota untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi.

b. Hubungan patron klien dengan pembeli hasil pertanian
Hubungan patron-klien petani dan tengkulak (bakul). Hubungan petani dan tengkulak umumnya berlangsung lama. Tengkulak sebagai patron, petani sebagai klien. Kondisi patronase antara petani dan tengkulak dibangun karena ada ketergantungan. Petani sebagai klien ingin mendapatkan keamanan subsistensi sepanjang tahun, kelancaran bercocok tanam, mendapatkan akses pasar, dan modal. Sementara tengkulak sebagai patron ingin usaha dagangnya stabil dan berjalan lancar dengan mendapatkan pasokan hasil pertanian.
Hubungan petani dan tengkulak disebut sebagai hubungan patron klien karena sengaja dibangun oleh kedua belah pihak. Hubungan patron-klien tercipta karena ada ketimpangan dalam mengakses pasar, modal, dan mendapatkan jaminan keamanan subsistensi. Cara-cara yang dilakukan patron untuk membangun relasi sosial dengan klien adalah dengan memberi modal, memberikan pelayanan baik sekaligus mengontrol klien agar tidak menjual hasil panen ke bakul lain, misalnya melakukan pembelian tebas, artinya tengkulak membeli langsung dari lahan sementara petani sudah tidak perlu repot mengurusinyall agi. Memberikan bantuan dengan menyediakan atau menghutangkan kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan bercocok tanam. Contohnya menyediakan keperluan produksi (pupuk kimia, plastik atau mulsa, obat anti hama), kebutuhan pokok hidup sehari-hari, dan lain-lain.
Kesemuanya itu dikembalikan pada akhir masa panen dengan cara memotong hasil penjualannya. Tapi tidak menuntut harus lunas. Namun hal ini yang mengakibatkan para petani seolah diharuskan untuk menjual hasil pertaniannya kepada bakul tersebut. Patron mengontrol kliennya agar tidak terjadi pelanggaran seperti menjual hasil panen ke bakul lainnya. Cara mengontrol klien adalah. Pertama, melakukan pembelian tebas artinya keperluan panen ditanggung oleh bakul.
Kedua, menanyakan kepada klien kapan panen. Jika patron mengetahui kliennya menjual hasil panennya kepada orang lain maka patron menegur, menanyakan dan menegaskan agar melunasi seluruh pinjamannya

Runtuhnya hubungan patron-klien biasanya karena klien pindah patron. Patron baru biasanya masih kerabat dekat. Jika klien pindah ke patron lain harus menyelesaikan urusan utang-piutang dengan patron sebelumnya. Umumnya hubungan petani dengan bakul dapat mempertahankan hubungan dalam waktu lama puluhan tahun walaupun tempat tinggal mereka berjauhan.
Berbeda dengan pendapat Popkin (1979) dalam Rustinsyah 2011, hubungan patron-klien antara petani dan bakul dapat dipandang sebagai eksploitasi dan monopoli, karena petani sebagai klien tidak mempunyai kebebasan menjual hasil panen ke pasar, tetapi wajib menjual kepada patron dengan cara memberikan komisi yang cukup besar. Oleh karena itu acapkali terdapat petani yang memilih untuk menjual ke bakul yang lain, atau langsung membawanya ke pasar apabila harga beli dari patron tersebut murah. Menurut Popkin dalam Sairin (2001) (http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/53866/Chapter%20II.pdf?sequence=3&isAllowed=y) desa petani tradisional jauh dari kondisi harmonis dan penuh dengan eksploitasi. Menurut Popkin desa – desa petani lebih tepat dipandang sebagai korporasi, bukan sebagai konum, dan hubungan patron klien harus dilihat sebagai eksploitasi bukan sebagai hubungan paternal. Jadi sebenarnya hubungan patron klien dalam masyarakat petani lebih banyak pada modus eksploitasi.
Hubungan patron klien antara petani kentang dengan PT Indofood
PT Indofood merupakan PT penyedia bibit kentang jenis Atlantik. Biasanya memberikan modal bagi petani berupa bibit kentang. Para petani dapat memesan bibit tersebut kepada mandor, kemudian setelah didata maka akan dikirimi bibit kentang beberapa bulan setelah pemesanan. Petani tidak harus mebayarnya saat itu juga, namun pebayarannya diakukan ketika panen. Jadi petani kentang harus menjualnya kepada PT Indofood dengan harga yang telah ditentukan yaitu seharga 6.300/kg. Harga ini tidak mengalami perubahan. Meskipun harga kentang di pasaran mengalami kenaikan atau penurunan harganya tetap tidak berubah. Jadi hubungan diantara keduanya dapat dikatakan hubungan timbal balik yang menguntungkan sekaligus eksploitasi. Disebut hubungan yang saling menguntungkan yaitu karena keberadaan PT ini memberikan kemudahan modal untuk para petani sehingga mereka tetap bisa melakukan penanaman meskipun sedang tidak memiliki modal. Sehingga dapat memberikan pemasukan ekonomi pada mereka. Akan tetapi hal ini juga dapat dikatakan eksploitasi atau monopoli petani kentang. Ha ini disebabkan karena beberapa hal diantaranya yaitu:
o karena PT Indofood telah memberikan atau mempenjuaan yang mengharuskan ke PT indofood dengan harga yang teah distandarisinjamkan modal pada para petani, maka petani juga harus menjual semua hasil panennya kepada PT Indofood dengan harga yang telah ditetapkan yaitu 6.300/kg. Hal ini merugikan petani, ketika harga kentang sedang naik di pasaran. Padahal harga sebesar itu tidak dapat menutup keseluruhan pengeluaran.
o selain itu terdapat pembuangan sebanyak 2kg/karung sehingga akan merugikan. Padahal jika menjual kentang ke bakul buangannya hanya sebesar 1 kg/karung.
o Hasil panen kentang jenis Atlantik yaitu semuanya berukuran besar, tidak ada yang berukuran kecil sehingga tidak ada yang dimanfaatkan untuk dibuat bibit. Sedangkan ketika petani menanam kentang jenis yang lain hasil panennya ada yang berukuran kecil. Sehingga mereka dapat mengambilnya untuk dijadikan bibit tanam. Sedangkan kentang jenis Atlantik tidak, sehingga tidak memberi kesempatan petani untuk mandiri. Dan menyebabkan para petani kentang selalu bergantung pada PT Indofood.

Pola hubungan patron-klien di kalangan petani Desa Igirklanceng ada yang lemah, dan ada yang kuat, serta berlangsung lama. Hubungan patron klien antara buruh tetap dan petani kaya umumnya tidak berlangsung lama dibandingkan hubungan petani dan tengkulak. Runtuhnya hubungan petani kaya dan buruh tetap karena klien telah mandiri atau mendapat pekerjaan di luar kots atau sektor lain dengan upah yang lebih baik. Hubungan patron klien antara petani dan tengkulak khususnya bakul umumnya kuat dan bertahan lama. Patron berusaha mempertahankan pola hubungan tersebut untuk menjaga eksistensinya dalam menjalankan kegiatan ekonomi dan mendapat pasokan barang secara stabil.

Klien mendapatkan modal atau dimodali berupa kredit barang kebutuhan hidup sehari-hari, sarana produksi, dan sebagainya. Klien juga merasa aman karena mendapatkan keamanan subsisten seperti mendapat kredit di saat krisis atau kelangkaan uang. Hal itu senada dengan pendapat Scott (1976) bahwa klien mendapatan jaminan perlindungan subsistensi. Namun berbeda dengan pendapat Popkin (1979), hubungan patron klien antara petani dan tengkulak dipandang sebagai eksploitasi karena patron menarik komisi yang lebih besar dan seolah-olah menghalangi klien menjual hasil panen ke pasar. Runtuhnya hubungan mereka terjadi karena muncul patron lain yang ada hubungan kerabat atau yang memberikan keuntungan lebih besar.

Jadi Hubungan patron klien di kalangan petani dapat dipandang sebagai eksploitasi dan penggerak kegiatan ekonomi pedesaan. Kewajiban klien memberi komisi hasil penjualan yang ditetapkan patron merupakan satu bentuk eksploitasi . Namun hubungan patron-klien dapat menggerakan kegiatan ekonomi petani pedesaan karena memberikan perlindungan subsistensi kepada petani miskin, menyediakan modal (sarana produksi, kebutuhan hidup sehari-hari, dan lain-lain) dan mediator mendistribusikan hasil panen ke pasar.

Daftar Pustaka
(Anonim).Jurnal(online)http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/53866/Chapter%20II.pdf?sequen e=3&isAllowed=y diakses tanggal 11 Oktober 2017
Rustinsyah. 2011. Hubungan Patron-Klien di Kalangan Petani Desa Kebonrejo. Departemen Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga. Jurnal Antropologi (online) Volume 24, Nomor 2 Hal: 176-182 1. Surabayahttp://journal.unair.ac.id/filerPDF/09%20rustin%20Perbaikan%20J.pdf diakses tanggal 11 Oktober 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons