KETIDAKADILAN GENDER

Hallo, bertemu lagi dengan saya di loker ilmu. Kali ini saya akan memposting tugas kuliah yang sudah pernah saya kerjakan. Yaitu tugas mata kuliah Sosiologi Gender yang telah saya dapat pada semester 5. untuk lebih jelasnya, yuks baca tulisan ini sampai selesai.

PENGERTIAN KETIDAKADILAN GENDER

Ketidakadilan terjadi manakal seseorang diperlakukan berbeda (tidak adil) berdasarkan alasan perbedaan gender. Padahal perbedaan gender pada dasarnya tidak menjadi maslah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana baik laki-laki atau perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender merupakan kondisi dimana relasi antara laki-laki dan perempuan berlangsung timpang, merugikan bahkan mengorbankan salah satu pihak. Ketidakadilan tersebut disebabkan oleh ideologi, struktur dan sistem sosial budaya yang menghendaki adanya stereotype gender yang membedakan ruang dan peran keduanya dalam berbagai bidang kehidupan. Ketidakadilan gender dimanifestasikan dalam bidang kehidupan.

JENIS-JENIS KETIDAKADILAN GENDER

Peminggiran (marginalisasi)

Peminggiran merupakan akibat langsung dari penomorduaan (subordinasi) posisi perempuan serta melekatnya label-label buruk pada diri perempuan (stereotype). Pada akhirnya perempuan tidak memiliki peluang, akses, dan kontrol seperti laki-laki dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi. Dalam banyak hal, lemahnya perempuan dalam hal ekonomi mendorong pada lemahnya posisi mereka dalam pengambilan keputusan. Lebih jauh hal ini akan berakibat pada terpinggirknanya atau termarginalkannya kebutuhan dan kepentingan pihak-ihak yang lemah tersebut, dalam hal ini perempuan.

Penomorduaan (subordinasi)

Penomorduaan atau subordinasi pada dasarnya adalah pembedaan perlakuan terhadap salah satu identitas sosial, dalam hal ini adalah terhadap perempuan. Cukup adil rasanya kalau saya menganggap bahwa kultur budaya kita di Indonesia ,perempuan masih dinomorduakan dalam banyak hal, terutama pengambilan keputusan. Suara perempuan dianggap kurang penting dalam proses pengambilan keputusan, terutama yang menyangkut kepentingan umum. Akibatnya perempuan tidak dapat mengontrol apabila keputusan itu merugikan mereka dan tidak bisa ikut  terlibat semaksimal mungkin saat hasil keputusan tersebut diimplementasikan tradisi adat, atau bahkan aturan agama paling sering digunakan sebagai alasan untuk menomorduakan perempuan. Padahal secara teologis, (dipandang dari sudut keagamaan), prinsip-prinsip tauhid (ketuhanan berlaku untuk agama apapun) pada dasarnya adalah menganggap semua makhluk yang ada di dunia ini sama kedudukannya di mata Tuhan. Implikasinya, jika penciptanya saja sudah menganggap kedudukan semua manusia adalah sama, laki-laki ataupun perempuan, kulit hitam, atau putih, dan lain sebagainya, alasan apa yang membolehkan adanya perempuan diperlakukan berbeda dari laki-laki? Oleh karena itu menganggap kedudukan laki-laki lebih tinggi dan lebih penting dari perempuan dikarenakna motif keagamaan, menurut saya, kurang beralasan.

Manusia dilahirkan sama, tanpa baju pangkat, status ataupun jabatan. Lingkungan (masyarakat) yang kemudian memperkenalkan dan menetapkan nilai dan norma tertentu yang menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan perlakuan. Jika masyarakat dulu bisa membangun norma, nilai dan tradisi yang kemudian kita jalani sekarang, bukankah hal yang sama bisa kita lakukan juga saat ini? Bukankah kita sekarang juga bagian dari masyarakat yang mempunyai hak untuk mengubah, menetapkan dan mengembalikan nilai-nilai tersebut sehingga tidak terjadi ketidakadilan gender yang serupa di masa datang? Perlu diingat bahwa gender bisa berubah dari waktu ke waktu dan manusia (masyarakat)bisa mengubah ketidakadilan gender tersebut menjadi keseimbangan dan kesetaraan.

Contoh penomorduaan perempuan yaitu dalam bidang pendidikan. Perempuan masih dinomorduakan, terutama pada lingkup keluarga di pedesaan atau di kalangan masyarakat yang lemah dalam status ekonominya. Dengan tingginya biaya pendidikan dan terbatasnya dana yang tersedia menyebabkan perempuan seringkali mendapat tempat kedua setekah laki-laki. Mereka menganggap bahwa laki-laki sebagai penopang keluarga, dan pencari nafkah keluarga kelak oleh karena itu laki-laki harus berpendidikan tinggi. Hal ini tentu merugikan perempuan dan juga memberikan tekanan atau tuntutan pada laki-laki, bahwa laki-laki ditunutut untuk lebih bekerja keras, harus kuat, pandai, harus memiliki pekerjaan yang bagus dan lain-lain.

Beban Kerja Berlebih

Ketidakadilan gender yang terjadi pada perempuan bisa berbentuk pada muatan pekerjaan yang berlebihan. Sebagian orang khawatir, bahwa jika perempuan semakin pintar, semakin maju, ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, meningkat kemampuan dan keahliannya di berbagai bidang, maka pada akhirnya “kebebasan berekspresi” tersebut akan berbalik menjadi senjata makan tuan. Beban kerja perempuan menjadi semakin bertambah banyak dengan kegiatan-kegiatan yang ingin dia ikuti di luar rumah. Hal ini disebabkan kaena pada saat yang bersamaan perempuan masih dibebani dengan tugas dan pekerjaan di dalam rumah tangganya (domestik).

Kekerasan

Kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender. Bentuk kekerasan sangat beragam. Mulai dari kekerasan fisik (pemukulan), kekerasan psikis (kata-kata yang merendahkan, melecehkan, menghina), kekerasan seksual (pemerkosaan), dll. Kekerasan ini dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja, baik di wilayah pribadi (rumah tangga) atau publik (lingkungan). Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga misalnya KDRT yang banyak menimpa perempuan. Akan tetapi seringkali perempuan tidak menceritakan maslah tersebut, dikarenakan istri harus menjaga martabat suami, menjaga keharmonisan keluarga, dll.

Pandangan stereotip

Pandangan atau penandaan (stereotype) yang seringkali bersifat negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotype yang melahirkan ketidakadilan gender dan deskriminasi bersumber dari pandangan gender karena menyangkut pelebel atau penandaan terhadap salah satu jenis kelamin tertentu, yang umumnya dalah perempuan. Misalnya, pandangan bahwa tugas dan fungsi perempuan hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengna kerumahtanggaan atau tugas domestik, walaupun dia berada di ruang publik hanyalah sebagai “perpanjangan” peran domestikya. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur, dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut.

CONTOH KASUS (BERITA)

Sumber Berita                    : Kompas.com

Diterbitkan tanggal             : 23/08/2017, 16:41 WIB

Membongkar Tingginya Kekerasan Seksual di Bengkulu

Ilustrasi(Thinkstockphotos)

BENGKULU, KOMPAS.com – Kasus kekerasan seksual di Bengkulu terus meninggi dalam beberapa tahun terakhir. Meninggalnya Yn seorang siswi di Bengkulu yang diperkosa 14 remaja beberapa waktu lalu ternyata bukan kasus terakhir, masih ada kasus lain bermunculan yang menyayat rasa kemanusiaan.

Kasus kekerasan seksual terbaru di Bengkulu pada bulan Agustus 2017, seorang remaja putri diperkosa rekannya, depresi karena anak diperkosa, ibu korban hidup dengan jalan gantung diri.

Direktur yayasan Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Susi Handayani menyatakan, pada tempo enam bulan atau semester pertama 2017 telah terjadi 121 Kasus pemerkosaan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu. Kasus pemerkosaan terhadap anak mencapai 46 kasus dan dewasa 75 kasus.

“Ini angka yang cukup tinggi, sebelumnya sepanjang 2016 ada 176 kasus kekerasan terhadap perempuan 115 pemerintah pemerkosaan,” kata Susi, Selasa (22/9/2017).

Pelaku pemerkosaan melibatkan laki-laki dewasa, remaja bahkan anak-anak. Dia menyebutkan, dalam catatan advokasi PUPA ada beberapa faktor penyebab kekerasan seksual terhadap perempuan pelaku kasus pemerkosaan. Pertama, pergaulan, tontonan pornografi ini sering terjadi pada remaja pria.

“Mereka tak sadar, tindakannya itu juga menjadikannya sebagai korban sekaligus,” ujarnya.

Kedua, eksistensi, teori maskulinitas yang menyatakan pria dapat menguasai tubuh perempuan. Tindakan ini dilakukan oleh laki-laki yang intovert (tertutup), penyendiri, merasa direndahkan oleh teman sepermainan, pemarah dan sering dilecehkan.

“Akhirnya ia berusaha menunjukkan eksistensinya, faktor ini internal,” ujarnya.

Ketiga, faktor keluarga, pelaku juga bisa melakukan karena di dalam keluarga sering melihat orang tua yang kerap dilihat anak perempuan, tidak menghargai anak, sering Melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anak.

“Bila dalam keluarga sering mengalami kekerasan, maka ini bisa saling,” sebutnya.

Keempat, masyarakat, masyarakat sering lengah melihat kondisi di sekitarnya, masyarakat abai. “Ada kasus di Bengkulu, masyarakat sering melihat anak-anak bermain dalam sebuah rumah kosong, rahasia terkena anak-anak itu menyekap dan melakukan tindakan kekerasan seksual pada seorang anak perempuan,” kata dia.

Kelima, faktor keamanan negara yang tidak adil dalam memberikan efek. “Misalnya pelaku pria yang berumur di bawah 14 tahun dibebaskan, harusnya mereka diberi sanski yang memperbaiki prilaku pelaku anak,” ucapnya.

Terhadap kebijakan negara Susi mendorong agar DPR-RI segera mengesahkan RUU Penghapus Kekerasan Seksual (PKS).

“RUU ini sangat melindungi dan memberikan kepastian hukum bagi perempuan korban perkosaan, ini melengkapi KUHP Yang tidak memberikan kepastian hukum terhadap tindakan pelecehan seksual, ” kata Susi, di Bengkulu, Selasa (22/8/2017).

Dalam RUU itu disebutkan bahwa kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh yang Terkait hasrat seksual seseorang, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak dapat memberikan kebebasan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual,kerugian secara ekonomi, Sosial, budaya, dan/atau politik.

Dalam RUU itu pula hak yang harus diterima korban, rehabilitasi, dan pemulihan. “RUU ini melengkapi KUHP dan beberapa peraturan yang belum sempurna untuk melindungi korban kekerasan seksual,” kata Susi.

Penulis Kontributor Bengkulu, Firmansyah

Editor Erlangga Djumena

Alamat link berita

(http://regional.kompas.com/read/2017/08/23/16410061/membongkar-tingginya-kekerasan-seksual-di-bengkulu-) diakses pada 14, September 2017 pukul 18;30 WIB.

Analisis Berita

Berita tersebut di atas, merupakan salah satu contoh dari ketidakadilan gender, berupa kekerasan terhadap perempuan. Pelaku kekerasan perepuan (pemerkosaan) tersebut   melibatkan laki-laki dewasa, remaja bahkan anak-anak. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi tindakan kekerasan tersebut. Diantaranya yaitu:

  1. konten pornografi yang sering ditonton
  2. eksistens, teori maskulinitas yang menyatakan pria dapat menguasai tubuh perempuan. Tindakan ini. Merupakan salah satu tindakan yang mensubordinasi, atau meminggirkan perempuan. Menganggap bahwa perempuan lemah, dan tidak masalah apabila mengalami kekerasan.
  3. Faktor keluarga juga berpengaruh terhadap tindakan kekerasan terhadap perempuan. Sebagai contoh, pelaku melakukan tindakan tersebut karena di dalam keluarga sering melihat orang tua yang tidak menghargai anak, sering Melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anak.
  4. Faktor masyarakat, masyarakat sering lengah melihat kondisi di sekitarnya, masyarakat abai. Tidak memperhatikan pergaulan anak-anak mereka.
  5. faktor keamanan negara yang tidak adil dalam memberikan efek. Misalnya pelaku pria yang berumur di bawah 14 tahun dibebaskan. Hal ini tentu tidak adil, mengingat pelaku yang pernah melakukan tindakan perkosaan akan berpotensi melakukan kekerasan lagi.

Itulah faktor-faktor yang mengakibatkan kekerasan perempuan. Dan pada intinya tindakan pemerkosaan tersebut sudah tentu merugikan pihak perempuan. Perempuan sebagai korban mengalami kerugian banyak, baik secara fisik, psikis, ekonomi, maupun sosial budaya.

  • Kerugian secara fisik

perempuan akan mengalami kerusakan pada organ tertentu, dan bahkan bisa memunculkan berbagai penyakit. Seperti IMS, dan lain sebagainya. Karena pemerkosaan adalah tindakan yang dilakukan secara paksa, sehingga organ perempuan akan mengalami kerusakan.

  • Kerugian secara psikis

perempuan sebagai korban akan mengalami depresi, trauma, murung, gelisah, malu, dan lain sebagainya. Banyak dari para korban yang mungkin akan merasa kehilangan harga diri, karena merasa sudah dilecehkan dan dirusak kehormatannya.

  • Kerugian sosial budaya.

Perempuan yang menjadi korban akan mendapat kerugian sosial. Biasanya mereka akan merasa malu, karena akan dianggap oleh masyarakat sebagai perempuan yang tidak dapat menjaga diri dengan baik. Dan sayangnya, sebagian besar perempuan yang diperkosa  (menjadi korban) justru akan dipandang jelek oleh masyarakat. Mereka menganggap bahwa pemerkosaan terjadi karena perempuannya yang nakal dan menggoda laki-laki. Anggapan masyarakat sperti ini disebut stereotype atau pelabelan buruk terhadap perempuan.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat banyak kasus-kasus kekerasan yang menimpa dan merugikan perempuan. Akan tetapi sayangnya masyarakat belum menganggapinya secara  serius. Bahkan perempuan yang sering menjadi korban, justru mendapat stereotype buruk dari masyarakat, dan lembaga hukum masih kurang dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Ha ini dibuktikan  dengan belum diberalkukannya hukuman serius  seperti  kebiri yang diberakukan bagi pelaku kekerasan seksual.

Oleh karena itu perlu adanya upaya yang berkesinambungan untuk meminimalisir kekerasan pada perempuan. Mulai dari pemerintah, orangtua, lembaga pendidikan, dan lingkungan masyarakat.

Sumber Referensi

Rokhmansyah, Alfian. 2016. Pengantar Gender dan Feminisme; Pemahaman Awal Kritik Sastra Feminisme. Yogyakarta: Garudhawaca.

Wiliam, Dede. 2006. Gender Bukan Tabu: Catatan Perjalanan Fasilitasi Kelompok Perempuan di Jambi. Bogor: Center for International Foresty Research (CIFOR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons