KURIKULUM TAHUN 1952 DAN 1964

Hallo, bertemu lagi dengan saya di loker ilmu. Kali ini saya akan memposting tugas kuliah yang sudah pernah saya kerjakan. Yaitu tugas mata kuliah Telaah Kurikulum yang telah saya dapat pada semester 4. untuk lebih jelasnya, yuks baca tulisan ini sampai selesai.

Latar Belakang Terbentuknya Kurikulum 1952

Pada tahun 1952, kurikulum pendidikan mengalami penyempurnaan, dengan nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.

Sejarah Kemunculannya

 Kurikulum 1952 (Rentjana Peladjaran Terurai 1952) Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Peladjaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Pendidikan agama yang dipersyaratkan oleh Undang-Undang nomor 4 tahun 1950 harus dilakukan berdasarkan pedoman dari Departemen Agama. Untuk itu maka ditetapkan keputusan bersama antara Menteri PPK dan Menteri Agama pada tanggal 20 Januari 1951 melalui Peraturan Bersama nomor 1432/Kab. (pendidikan) dan nomor K.I./651 (agama) yang merupakan penyempurnaan dari Penetapan bersama sebelumnya yang tertuang dalam surat nomor 1142/Bhg.A (pendidikan) tanggal 2 Desember 1946 dan nomor 1285/K-7 (agama) tanggal 12 Desember 1946. Pendidikan Agama diajarkan mulai di kelas 4 untuk SD sedangkan di sekolah lanjutan dimulai dari kelas pertama. Guru agama diangkat dan digaji oleh Departemen Agama, mengajar di kelas paling sedikit terdiri dari 10 orang yang menganut agama tersebut.

Hukum yang digunakan

Undang-Undang nomor 4 tahun 1950 Bab V pasal 7, dirumuskan bahwa pendidikan dan pengajaran menengah (umum dan kejuruan) bermaksud melanjutkan dan meluaskan pendidikan dan pengajaran yang diberikan di sekolah rendah untuk mengembangkan cita-cita hidup serta membimbing kesanggupan murid menjadi anggota masyarakat, mendidik tenaga-tenaga ahli dalam berbagai lapangan khusus sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan masyarakat dan/atau mempersiapkan bagi pendidikan dan pengajaran tinggi. Konsep pendidikan menengah dalam undang-undang ini mencakup Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Undang-Undang No. 12 tahun 1954, mengatur tentang pendidikan dan pengajaran di sekolah, belum termasuk penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Definisi tentang kurikulum

Kurikulum 1952 yang dikenal sebagai Rentjana Pelajaran Terurai 1952 merupakan hasil penyempurnaan dari kurikulum 1947. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional Indonesia. Di dalam kurikulum 1952 ini menegaskan bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.    Landasan Yuridis Kurikulum 1952

Landasan yuridis kurikulum 1952 tidak berbeda jauh dari kurikulum 1947. Landasan idiil adalah Pancasila yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, sedangkan konstitusionalnya adalah UUD 1945. Landasan operasionalnya adalah UU No. 4 tahun 1950 dan UU No. 12 tahun 1954.

 Tujuan Pendidikan dalam kurikulum 1952 sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1950 di antaranya:

  1. Tujuan pendidikan dalam skala nasional yang disebut tujuan pendidikan nasional.
  2. Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU nomor 4 Tahun 1950 Bab II pasal 3 adalah membentuk manusia yang susila dan cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
  3. Tujuan pendidikan setiap jenjang yang mencakup tujuan pendidikan sekolah rendah, tujuan pendidikan sekolah menengah, dan tujuan sekolah tinggi.
  4. Tujuan pendidikan sekolah menengah berdasarkan undang-undang nomor 4 tahun 1950 Bab V pasal 7 dirumuskan bahwa pendidikan dan pengajaran menengah (umum dan kejuruan) bermaksud melanjutkan dan meluaskan pendidikan dan pengajaran yang diberikan di sekolah rendah untuk mengembangkan cita-cita hidup serta membimbing kesanggupan murid menjadi anggota masyarakat, mendidik tenaga-tenaga ahli dalam berbagai lapangan khusus sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan masyarakat dan/atau mempersiapkan bagi pendidikan dan pengajaran tinggi. Konsep pendidikan menengah dalam undang-undang ini mencakup Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan di sekolah menengah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan kurikulum pendidikan menengah adalah untuk menyiapkan siswa ke pendidikan tinggi serta mendidik tenaga-tenaga ahli dalam berbagai lapangan khusus, sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan. Dalam kurikulum 1954 lebih menekankan pada nilai etika, moral. Menerapkan aturan-aturan seperti  kedisiplinan, kerajinan, sopan-santun, dan jiwa nasionalisme.

Istilah khas

Istilah khas dari kurikulum 1952 yaitu Rentajana pelajaran terurai 1952, hal ini dikarenakan kurikulum 1952 merupakan penguraian, penyempurnaan, atau pengembangandari kurikulum 1947 yang telah diberlakukan sebelumnya.

Perubahan yang Terjadi

Isi kurikulum 1952 jauh lebih rinci dibandingkan kurikulum 1947. Mulai dari jumlah mata pelajaran, pengajaran, maupun dalam proses penilaiannya.

Ciri Khas

Ciri-ciri dari kulrikulum 1952 antara lain sebagai berikut:

  1. Terkenal dengan sebutan Rentjana Pendidikan Terurai 1952.
  2. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
  3. Proses belajar mengajar terpusat pada guru, murid sebagai objek yang menerima informasi sebanyak-banyaknya dari guru.
  4. Penggantian nama dari ujian penghabisan menjadi ujian Negara sebagai syarat kelulusan.

Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan

  1. Telah mengarah pada sistem pendidikan nasional
  2. Karena setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka guru lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih baik.
  3. Materi pelajaran sudah berorientasi pada kebutuhan hidup para siswa pada masa itu, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna ketika ditengah masyarakat
  4. Dapat mencerminkan suatu pemahaman dan cita-cita para praktisi pendidikan akan pentingnya pemerataan pendidikan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Kelemahan

  1. Belum mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
  2. Materi pelajaran belum orientasi masa depan
  3. Materi yang diajarkan berorientasi untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup dimasyarakat saat itu,
  4. Kurang membangkitkan kreatifitas dan inovasi guru.

Contoh Perangkat Pembelajaran

Berikut ini rincian isi kurikulum 1952.

  • Kelompok Bahasa
  1. Bahasa Indonesia
  2. Bahasa Inggris
  3. Bahasa Daerah
  • Kelompok Ilmu Pasti
  1.  Berhitung dan aljabar
  2.  Ilmu ukur
  • Kelompok Pengetahuan Alam
  1. Ilmu Alam/kimia
  2. Ilmu Hayat
  • Kelompok Pengetahuan Sosial
  1. Ilmu Bumi
  2. Sejarah
  • Kelompok Ekonomi
  1. Hitung dagang
  2. Pengetahuan dagang
  • Kelompok ekspresi
  1. Seni suara
  2. Menggambar
  3. Pekerjaan tangan/kerajinan wanita.
  • Pendidikan jasmani
  1. Budi pekerti
  2. Agama
  • Proses Pembelajaran

     Dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai model yang menerapkan etika, moral, nilai, dan aturan-aturan yang berlaku. Kedisiplinan, kerajinan, sopan-santun, dan jiwa nasionalisme ditanamkan melalui tingkah laku guru dan penegakan peraturan sekolah yang tegas. Sayangnya proses belajar mengajar berpusat pada guru. Siswa ditempatkan sebagai objek yang menerima informasi sebanyak-banyaknya dari guru.

  • Penilaian

   Sistem Penilaian pada kurikulum 1952 hampir sama dengan kurikulum 1947, yakni dilakukan melalui ulangan harian, ulangan umum catur wulan, dan ujian Negara. Ulangan harian dan ulangan umum catur wulan dipakai sebagai dasar untuk menentukan apakah seorang siswa naik atau tinggal kelas.

Ujian penghabisan yang kemudian diubah namanya menjadi Ujian Negara pada sekitar tahun 1958 digunakan untuk menentukan kelulusan. Seorang siswa SMP dapat dinyatakan lulus jika memiliki maksimal nilai 5 sebanyak 4 mata pelajaran atau equivalennya (nilai 4 equivalen dengan dua nilai 5, nilai 3 equivalen dengan nilai angka 5).

KURIKULUM 1964

Latar Belakang

Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Kurikulum 1964 juga menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana.

Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana.

Sejarah Terbentuknya Kurikulum

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Kurikulum kali ini diberi nama dengan Rentjana Pendidikan 1964. Isu yang berkembang pada rencana pendidikan 1964 adalah konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembelajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem solving).

Kurikulum 1964 ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, sehingga yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, keprigelan (keterampilan) dan jasmani. Konsekuensi Panca Wardhana dalam dunia pendidikan sangat jelas. Kurikulum harus diarahkan untuk mengembangkan kualitas yang dinyatakan dalam Panca Wardhana dalam semangat Manipol-USDEK. Tujuan pendidikan berubah dari menghasilkan manusia yang susila dan demokratis menjadi manusia susila yang sosialis dan pelopor dalam membela Manipol- USDEK.

Hukum yang digunakan

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 dan Undang-Undang No. 12 Tahun 1954, tujuan pendidikan nasional adalah “membentuk manusia Indonesia yang susila dan cakap serta bertanggung jawab”. Adapun dalam era Demokrasi Terpimpin tekanannya pada pembentukan manusia Pancasila dan manusia sosialis Indonesia.

Definisi tentang kurikulum

Kurikulum Pendidikan 1964 merupakan penyempurnaan kurikulum 1952. Kurikulum ini diberi nama dengan Rentjana pendidikan 1964. Isu yang berkembang pada rencana pendidikan 1964 adalah konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembelajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem solving).  Kurikulum 1964 ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, sehingga yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, keprigelan (keterampilan) dan jasmani. Konsekuensi Panca Wardhana dalam dunia pendidikan sangat jelas. Kurikulum harus diarahkan untuk mengembangkan kualitas yang dinyatakan dalam Panca Wardhana dalam semangat Manipol-USDEK.

Pada kurikulum 1964, pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Cara belajar  yang dijalankan menggunakan metode gotong royong terpimpin. Selain itu pemerintah juga menerapkan hari sabtu sebagai hari krida. Yang dimaksud hari krida yaitu pada hari Sabtu, siswa diberi kebebasan berlatih kegiatan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan permainan, sesuai dengan minat siswa.

Kurikulum 1964 menempatkan pendidikan sebagai lembaga penggerak seluruh kekuatan rakyat. Selain itu kurikulum ini juga merupakan alat pemerintah untuk membentuk manusia pancasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II tahun 1960, yaitu:

  1. Pendidikan sebagai pembina Manusia Indonesia Baru yang berakhlak tinggi.
  2. Pendidikan sebagai produsen tenaga kerja dalam semua bidang dan tingkatan.
  3. Pendidikan sebagai lembaga pengembang Kebudayaan Nasional.
  4. Pendidikan sebagai lembaga pengembang ilmu pengetahuan, teknik dan fisik/mental.

Istilah khas

Itilah lain dari kurikulum 1964 yaitu Pancawardhana. Dalam Pancawardhana memuat pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani. Kurikulum 1964 bersifat separate subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima kelompok bidang studi.

Perubahan yang Terjadi

Penyelenggaraan pendidikan dengan kurikulum 1964 mengubah penilaian di rapor bagi kelas I dan II yang asalnya berupa skor 10 – 100 menjadi huruf A, B, C, dan D. Sedangkan bagi kelas III hingga VI tetap menggunakan skor 10 – 100.

Perubahan yang sangat menonjol dalam kurikulum adalah adanya mata pelajaran Civics yang diarahkan untuk pembentukan warga negara yang bercirikan Manipol-USDEK. Civics menjadi mata pelajaran yang mengemban pendidikan ideologi bangsa dan ini merupakan awal dari pendidikan ideologi dalam kurikulum. Mata pelajaran ini adalah mata pelajaran yang berisikan materi pelajaran yang sangat ditentukan oleh ideologi dan politik.

Ciri Khas

Ciri khas dari kurikulum 1964 yaitu:

  1. Terkenal dengan sebutan Rentjana Pendidikan Pancawardhana 1964.
  2. Konsep pembelajaran bersifat aktif, keatif, produktif dan siswa dituntut mampu memikirkan sendiri problem solving.
  3. Pembelajaran dipusatkan pada pengembangan moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmani.
  4. Adanya mata pelajaran civics, pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapatkan kemampuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD.
  5. Cara belajar dijalankan dengan metode gotong-royong terpimpin.
  6. Pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida, yaitu berlatih kegiatan dibidang kesenian, kebudayaan, olahraga dan permainan, sesuai dengan minat siswa.
  7. Kurikulum ini ditetapkan untuk membentuk manusia pancasilais yang sosialis Indonesia.

Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan

  1. Sudah mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiganya merupakan faktor penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Sehingga hal inilah yang dijadikan sebagai prioritas utama dalam kurikulum 1964..
  2. Mencoba mengupayakan pengembangan potensi peserta didik dengan segala kreatifitas dan inovasi yang mereka miliki
  3. Pendidikan bersifat praktis, sehingga pembelajaran di sekolah akan memilki kegunaan dalam kehidupan peserta didik.

Kekurangan

  1. Kurikulum hanya dipergunakan pada tingkat sekolah dasar dan belum mencakup sekolah lanjutan dan perguruan tinggi.
  2. Dalam perjalanannya kurikulum ini terganggu oleh adanya manipol-usdek yang mengarahkan pendidikan Indonesia untuk pembentukan manusia sosialis
  3. Pelaksanannya terlihat ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang cenderung mengakomodir sistem-sistem yang belum sejalan dengan jiwa UUD 45.
  4. Terkesan sebagai alat untuk membantu kepentingan-kepentingan tertentu.
  5. Kurikulum ini belum integrative terhadap pengembangan budaya dan pengembangan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia

Contoh Perangkat Pembelajaran

Mata pelajaran yang ada pada kurikulum  1964 adalah yaitu Pengembangan Moral (Pendidikan Kemasyarakatan dan Pendidikan Agama/Budi Pekerti), Perkembangan kecerdasan (Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia,  Berhitung, dan Pengetahuan Alamiah), Pengembangan Emosional atau Artistik (Pendidikan Kesenian), Pengembangan Keprigelan (Pendidikan Keprigelan), dan Pengembangan Jasmani (Pendidikan Jasmani/Kesehatan).

Daftar referensi

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/197607312001121-ADE_SUTISNA/SEJARAH_PERKEMB.__KURIKULUM.pdf

https://www.slideshare.net/muterna/kurikulum-pendidikan-37820438

http://www.eurekapendidikan.com/2015/02/kurikulum-pendidikan-1964.html

http://www.geocities.ws/konferensinasionalsejarah/s_hamid_hasan.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons