REVIEW BUKU BACK DOOR JAVA KARYA JAN NEWBERRY: PKK SEBAGAI PERISAI PEMERINTAH UNTUK MENGKONSTRUKSI PERAN PEREMPUAN JAWA

Hallo, bertemu lagi dengan saya di loker ilmu. Kali ini saya akan memposting tugas kuliah yang sudah pernah saya kerjakan. Yaitu tugas mata kuliah Kajian Etnografi yang telah saya dapat pada semester 3. untuk lebih jelasnya, yuks baca tulisan ini sampai selesai.

Pada awal kedatangannya Jan Newberry ke Jawa, ia bermaksud melakukan penelitian di daerah pedesaan di Jawa. Karena ia ingin meneliti tentang hubungan pertanian dengan negara, dan perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat desa yang bertani di tengah sawah. Akan tetapi setelah dia sampai di desa ternyata bukan masyarakat desa yang bekerja sebagai petani yang ditemukan. Melainkan masyarakat desa yang terdiri dari kelas pekerja dan ibu rumah tangga. Sehingga fokus penelitiannya beralih ke rumah tangga. Dan bagaimana hubungan antara rumah tangga dengan program-program negara seperti PKK.

Saya akan mencoba melakukan pembacaan terhadap tulisan dari Jan Newberry. Jan Newberry melakukan penelitian di daerah Yogyakarta. Hasil penelitiannya dituliskan dalam karya yang berjudul Back Door Java. Karya berbentuk buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia diterbitkan pada tahun 2013. Buku hasil terjemahan tersebut diberi judul Back Door Java: Negara; Rumah Tangga, dan Kampung di Keluarga Jawa.

PKK Sebagai Perisai Pemerintah untuk Mengkonstruksi Peran Perempuan Jawa

Buku Back Door Java karya Jan Newberry membahas mengenai beberapa topik bahasan orang Jawa. Di antaranya yaitu fungsi pintu belakang rumah, rumah tangga, program pemerintah, PKK, hubungan kemasyarakatan, dan lain-lain. Namun dalam pembacaan yang saya lakukan, saya hanya akan membaca mengenai rumah tangga dan kaitannya dengan PKK yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia, untuk membentuk rumah tangga yang dianggap paling ideal. Karena moralitas suatu kampung atau bahkan negara bergantung pada perilaku kaum perempuan.

Kekhawatiran ini bukanlah  hal kecil, karena saya menyaksikan betapa pentingnya, dari sisi kehidupan sosial, kemampuan ini ketika ibu-ibu disorot oleh masyarakat sekitar dan dituduh tidak pandai mengurus rumah tangga. (Hal 217)

Berdasarkan kutipan di atas menekankan bahwa seorang perempuan dalam hal ini sebagai ibu rumah tangga diharuskan untuk bisa mengurus rumah tangganya. Mulai dari mengurus suami dan pandai memasak. Jika tidak, maka masyarakat yang berada di lingkungan tempat tinggalnya akan menyorotnya sebagai perempuan yang tidak bisa mengelola kehidupan  rumah tangga. Sorotan masyarakat tidak hanya dari segi ketidakmahirannya dalam urusan masak-memasak, akan tetapi juga dalam bidang pekerjaan yang diambil oleh seorang perempuan atau ibu rumah tangga.

Perempuan yang berjalan dari rumah ke rumah menjajakan jamu sering dianggap perempuan murahan. Stereotip ini tidak diragukan lagi berasal dari kenyataan bahwa perempuan penjual jamu banyak keluar rumah, dan pada umumnya perempuan yang keluar rumah dengan bebas dianggap juga bebas di bidang seks (191)

Selain itu, masyarakat juga mengkategorikan pekerjaan yang pantas dan tidak pantas bagi seorang perempuan. Salah satu contoh pekerjaan yang dianggap tidak pantas dalam tulisannya yaitu pekerjaan sebagai penjual jamu gendong. Yang mengharuskan perempuan keluar rumah. Nah bagi masyarakat Jawa pada umumnya pekerjaan tersebut dianggap kurang baik. Karena perempuan yang pergi keluar rumah pada saat hari mulai gelap menandakan perempuan yang tidak baik. Hal ini sangat jelas diceritakan dalam tulisannya Jan Newberry, dalam tulisannya menceritakan seorang tokoh yang tetap menyandang status yang tidak sama seperti orang-orang yang lain, karena ia bekerja sebagai penjual jamu. Untuk meminimalsir stereotip tidak baik yang ditujukan masyarakat kepada dirinya, maka ia berusaha untuk selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan PKK.

Dalam perkembangannya, khususnya dimulai ketika masa orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto. Ikut campur dalam penentuan peran yang harus diemban oleh perempuan Indonesia. Hal ini terdapat dalam tulisannya sebagai berikut

Azaz kekeluargaan orde baru menunjukan bahwa pemerintah indonesia telah memutuskan kategori utama istri  sebagai alat yang paling ampuh untuk mengontrol perempuan (179)

Hal ini berawal dari hilangnya pekerjaan seorang perempuan dalam bidang pertanian. Karena telah tergantikan oleh mesin dan tenaga kerja laki-laki. Sehingga pemerintah ikut serta menangani permaslahan perempuan. Guna menambah peluang kerja laki-laki sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi. Serta menempatkan posisi perempuan kembali ke ranah domestik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan membentuk lembaga PKK. Melalui keluarga, pengaturan dianggap akan lebih mudah seperti yang telah dituliskan Jan Newberry yaitu

Rumah kediaman, rumah, dan rumah tangga dibangun dan dibangun kembali dalam penggunaan sumber daya material dan ideologi yang tersedia dalam sistem nilai di tingkat lokal dan sebagian sumber daya dari negara (211)

Dalam kehidupan bermasyarakat, peran seorang perempuan khususnya ibu rumah tangga yang dianggap paling ideal adalah peran yang seperti dilakukan oleh para ibu anggota PKK. Dimana perempuan bisa menjadi anggota yang paling ideal dalam keluarga inti, karena perempuan sebagai ibu yang tinggal di dalam rumah.

Seorang tetangga dinilai dengan menggunakan ideologi PKK sebagai patokan, pertauran negara menjadi nyata dalam kehidupan penduduk kampung sehari-hari (202)

Karena terdapat campur tangan pemerintah dalam membentuk perempuan. Salah satunya melalui program PKK yang telah disampaikan diatas, hal ini membuat perempuan mau tidak mau harus menyesuaikan diri, dan harus mengikuti konstruksi yang telah terbentuk. Dan hal yang menarik, perempuan biasanya tidak mengetahui bahwasanya dirinya sedang dijinakkan atau sedang dipaksa melakukan peran-peran tertentu. Mereka justru menikmatinya dan menganggap bahwa konstruksi tersebut memang baik dan memang sudah sepantasnya serta sudah seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan. Hal ini dituliskan oleh Jan Newberry sebagai berikut.

Memahami bagaimana perempuan kampung menggunakan dan memproduksi bidang moral negara dan bidang moral lokal. Dalam hal ini, kita dituntun untuk melihat bahwa perempuan kampung sebagai ibu rumah tangga dan sebagai tetangga berusaha untuk menyesuaikan diri pada batasan yang didukung negara mengenai penjinakan dan pemikiran lokal mengenai perilaku yang pantas (200)

Dengan adanya program PKK yang digalakan oleh pemerintah, secara otomatis, pemikiran warga kampung pun berubah. Mereka menjadi berpandangan bahwa semua program yang terdapat dalam PKK adalah baik untuk perempuan. Dan dianggap dapat membentuk perempuan sebagai ibu rumah tangga yang ideal dan diharapkan dalam masyarakat. Sehingga menjadi patokan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga dituliskan oleh Jan Newberry sebagai berikut

Program, praktik dan propaganda PKK menjadi sumber daya untuk digunakan dalam tawar menawar antara masyarakat dan moralitas dengan warga kampung (183)

Berdasarkan tulisan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemerintah menggunakan PKK untuk menarik kembali kaum perempuan ke dalam ranah domestik. Hal ini bisa saja berkaitan dengan unsur-unsur atau tujuan politik. Dimana pada saat itu kekuasaan negara didominasi oleh kaum laki-laki. Dalihnya ingin memerdekakan dan mensejahtrakan kaum perempuan untuk dapat melaksanakan peran tertentu. Dan menjadi penopang ekonomi. Namun sejatinya hanyalah topeng belaka, perempuan justru semakin dibawa dan ditarik kembali ke dalam kehidupan belakang atau ranah domestik. Hal ini dibuktikan dengan tujuan-tujuan PKK itu sendiri yang membawa perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, pendukung suami, merawat anak-anak sehingga dapat menciptakan generasi-generasi muda yang cerdas, penjaga moral yang baik, dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan kehidupan rumah. Hal ini akan berdampak pada kekurangluasan kaum perempuan untuk mengembangkan sayapnya, karena dibatasi oleh program-program tertentu hasil bentukan pemerintah.

PKK sampai batas tertentu bertugas menggiring kaum perempuan ke pekerjaan berbasis rumah tangga di sektor informal, yang membawa dampak-dampak tertentu kepada upah dan reproduksi tenaga kerja yang lebih besar (178)

Catatan Akhir

Tulisan Jan Newberry  di dalamnya terdapat satu argumentasi untuk menunjukkan bagaimana posisi perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Bagaimana upaya pemerintah untuk memposisikan dan membentuk perempuan.  Data yang  digunakan Jan Newberry berupa data yang bersumber dari pengamatan atau observasi secara langsung, wawancara, dan mengambil sumber-sumber dari buku-buku. Menurut saya data yang banyak dituangkan dalam tulisannya berasal dari pengamatan atau observasi yang dilakukan secara langsung. Jan Newberry  mencoba menafsirkan dan merefleksikan dengan pengalamannya sehingga semua data yang diperoleh baik dari pengamatan, wawancara, maupun buku dapat disatukan sehingga dapat membentuk sebuah karya ethnografi. Apa yang dilakukan Jan Newberry bagaikan menceritakan pengalaman hidupnya sendiri. Data yang digunakan untuk membangun argumen berasal dari pengalaman langsung. Apa yang tersaji dalam tulisannya tersebut adalah sebagian besar peristiwa yang dilihat dan dialamainya ketika menjadi ibu rumah tangga dalam kehidupan orang Jawa. Sebagai sebuah karya etnografi, pelaku/pemilik kebudayaan yang menjadi tokoh utama dalam dongeng etnografi muncul dan diceritakan secara detail oleh penulis. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa di dalam tulisannya terdapat juga data yang dibangun atas interpretasi sang penulis. Sama halnya dengan etnografi-etnografi yang lain. Pasti di dalam naskah etnografi terdapat data yang berasal dari  interpretasi dari penulis itu sendiri.  Demikian pembacaan yang telah saya lakukan. Berdasarkan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman yang saya miliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons