PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT JAWA DALAM HAL BAHASA JAWA

Kali ini saya akan membagikan artikel tugas kuliah saya pada mata kuliah Perubahan Sosial Masyarakat Jawa mengenai hal Bahasa Jawa yang saya tempuh di semester 2.

Kajian mengenai pergeseran bahasa Jawa dari Kromo Inggil ke Ngoko, berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat yang menggunakan bahasanya dalam berkomunikasi. Di tiap-tiap daerah pulau Jawa, yang masyarakatnya masih menggunakan bahasa Jawa Kromo.

Inggil sebagai bahasa Ibu, hal tersebut menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Pergeseran dari bahasa Jawa Kromo ke bahasa Jawa Ngoko dapat dilihat, seperti anak muda saat ini menganggap lebih mudah berbicara atau berinteraksi dengan orang lain menggunakan bahasa Nasional Indonesia dan bahasa asing dari pada menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil.

Pergeseran bahasa Jawa yang terjadi pada masyarakat, misal saja masyarakat Jawa yang tinggal di lingkungan daerah pulau Jawa yang murni dan kental adanya tradisi dan kebudayaan asli Jawa. Keluarga keturunan asli Jawa yang masih menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, dapat diamati bagaimana proses interaksi sosialnya dengan masyarakat. Ketika mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, apakah mereka melihat dan menjadikan sebuah silsilah keluarga mreka menjadi prioritas utama untuk menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. Misalnya orang Jawa yang kedudukannya tergolong dalam masyarakat kelas sosial menengah atas dan kelas sosial tertinggi dalam stratifikasi sosial masyarakat seperti golongan priyayi. Tindak tanduk yang sopan santun, tutur kata yang halus dan tertata rapi meggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, menunjukkan adanya perilaku menjaga kesantunan di dalam keluarganya. Hal ini menjadi identitas diri dan membedakan mereka ke dalam kelas sosial tinggi bagi golongan priyayi dengan masyarakat kelas status sosial ke bawah yang menganggap sopan santu menjadi hal yang biasa dalam masyarakat.

Ketika bahasa Jawa Kromo Inggil ini mengalami pergeseran menjadi Kromo Ngoko di keluarga golongan priyayi, hal tersebut secara tidak mereka sadari yang berawal dari bahasa yang mereka gunakan, bisa mempengaruhi perilaku dan diri mereka menjadi tidak seperti biasanya. Ketika generasi penerus yang termasuk itu anaknya, cucunya yang terlahir dari golongan priyayi ini menjadi berbeda karena mengikuti arus perkembangan zaman modern saat ini. Mereka tidak lagi memperhatikan dan menjaga tradisi kebudayaan Jawa yang telah diajarkan nenek moyang dan orang tua mereka dengan bertindak tanduk yang sopan, berbicara dengan menggunakan bahasa Kromo Inggil yang halus tanpa ada kata-kata kasar, dan berbagai tradisi Jawa yang telah mengatur kehidupan mereka. Ketika keaslian tradisi budaya Jawa mulai memudar dari diri mereka, akan membawa perubahan yang negatif dalam diri mereka mulai dari perilaku hingga menjadi kebiasaan yang terus mereka bawa dan mendapat pengaruh dari lingkungan masyarakat luar.

Perubahan-perubahan struktur dalam masyarakat dapat mengenai nilainilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Perubahan-perubahan susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa adanya klasifikasi antara masyarakat-masyarakat statis dan dinamis.

Perubahan sosial pada umumnya di jumpai di tengah masyarakat ternyata tidak semua sama atau seragam. Perubahan sosial yang beragam dapat di golongkan:

  1. Perubahan berulang. Ialah perubahan mengenai unsur-unsur baru yang belum dijumpai dalam masyarakat.
  2. Perubahan hakiki dan perubahan jumlah. Merupakan suatu mengenai pada hakikat sosial dalam budaya.
  3. Perubahan siklis. Merupakan suatu perubahan yang terjadi secara memutar, seperti halnya dengan perubahan yang terjadi pada musim.
  4. Perubahan terencana dan tidak terencana. Perubahan terencana merupakan perubahan yang sngaja diadakan dan terenana sesuai dengan rencana dan pola yang telah di tentukan bagi dalam ruang lingku yang uas maupun sempit. Sedangkan perubahan tidak terencana adalah perubahan yang terjadi dalam masyarakat dari waktu ke waktu yng mengkuti hukum alam tanpa mengikuti suatu rencana.
  5. Perubahan pembaharuan. Ialah suatu perubahan mengenai unsur-unsur baru yang belum dijumpai dalam masyarakat.
  6. Perubahan regresif dan progresif. Perubahan progresif ialah suatu perubahan yang mengarah dan membawa masyarakat pada kemajuan. Pada perubahan ini lebih dominan dipengaruhi oleh unsur subjektif pada masyarakat. Sedangkan perubahan regresif merupakan perubaan yang terjadi dalam masyarakat, justru tidak membawa pada arah kemajuan, perubahan ini membawa pada arah kemunduran akibat adanya nilai negatif.

Masyarakat yang tersusun secara terstruktur, akan mudah mengalami Perubahan-perubahan mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.

Perubahan-perubahan yang berkaitan dengan Pergeseran Bahasa Jawa Kromo Inggil ini  terjadi pada masyarakat-masyarakat statis dan dinamis. Dimana masyarakat mempunyai pilihan untuk bisa menerima perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat, atau justru malah menolaknya karena dianggap tidak sesuai dengan struktur masyarakat sekitar.

Bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dalam masyarakat orang Jawa. Jadi, bahasa jawa merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat Jawa karena memang bahasa Jawa ini menjadi identitas diri bagi masyarakat asli suku Jawa. Dalam peristilahan bahasa Jawa yang terdapat dalam pokok ini, sifatnya dwiarti. Dalam bahasa Jawa terdapat bagian dimana yang utama yaitu kromo yang artinya tata krama atau sopan santun, madya yang artinya tengah atau diantara, dan ngoko.

Bahasa kromo iggil dan kromo ngoko menurut Suwardi Endrawara ialah :

Kromo Inggil adalah bahasa yang digunakan dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh seorang yang memiliki derajat dan status sosial rendah terhadap orang yang memiliki derajad dan status sosial yang lebih tinggi dengan tujuan untuk menghormati, sedangkan Kromo Ngoko ialah bahasa yang digunakan dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk strata sosial masyarakat umum atau oleh seorang bangsawan dan orang terhormat kepada bawahannya.

Pemakaian Bahasa Jawa, ada tingkatan pokok yang menjadi landasan dalam menerapkan dalam memakai bahasa tersebut. Yaitu bahasa Jawa kromo, madya, dan ngoko. Dimana bahasa Jawa Ngoko dianggap memiliki tingkat kesopanan berbahasa yang rendah yang biasanya digunakan oleh raja kepada rakyatnya atau priyayi kepada wong cilik (orang kecil), atau yang lebih mudahnya adalah orang tua kepada anak yang lebih muda.

Kemudian, sedikit yang lebih tinggi dari bahasa ngoko adalah madya, dimana bahasa ini digunakan dalam perbincangan pada tingkat menengah.

Menurut E.M. Uhlenbeck Bahasa Jawa Krama :

Kata Jawa Krama biasanya dipakai dalam buku tata bahasa Jawa untuk menyatakan substitusi sejumlah kata yang dahulu hanya boleh dipakai bila seorang pembicara menyapa seseorang yang menurut norma Jawa mempunyai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Dewasa ini, dimana hubungan sosial menjadi semakin kompleks sehingga status sosial para pemakai bahasa sukar untuk ditetapkan, bentuk ini juga dipergunakan dalam kasus dimana pembicara mempunyai kedudukan sosial yang sama atau bahkan yang lebih tinggi daripada lawan sapanya.

Biasanya digunakan oleh orang yang memiliki kedudukan atau usia yang setara. Dan yang dianggap paling tinggi dalam bahasa Jawa adalah bahasa kromo inggil, dimana bahasa kromo ini dianggap bahasa yang memiliki tingkat kesopanan paling tinggi yang biasanya digunakan oleh anak muda terhadap orang yang lebih tua dengan maksud sebagai pengungkapan sikap hormat.

Bahasa ngoko mencerminkan makna tak berjarak atau tak berjarak antara penutur atau seseorang yang mengajak berbicara dengan mitra tutur atau seseorang yang diajak berbicara. Makna tersebut mengisyaratkan adanya tingkat keakraban hubungan. Sehubungan dengan maknanya, maka fungsinya adalah untuk menunjukkan sifat hubungan yang akrab antara penutur dengan mitra tutur, sedangkan bahasa Kromo Inggil mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur.

Adapun makna tingkat tutur madya yaitu memiliki makna sedang. Pihak yang tingkat sosialnya lebih rendah, cenderung menggunakan tingkat bahasa yang lebih tinggi dalam berbicara, yaitu menggunakan bahasa kromo. Sedangkan pihak yang tingkat sosialnya lebih tinggi cenderung menggunakan tingkat bahasa yang lebih rendah, yaitu bahasa ngoko. Kromo Inggil yang menunjukkan adanya tingkatan kelas sosial seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dalam menggunakan bahasa mencerminkan kesopanan dan tata krama dalam pribadi seseorang tersebut.

Pada fenomena yang akan dikaji oleh peneliti yakni, Studi Pergeseran Bahasa Jawa dari Kromo Inggil ke Kromo Ngoko pada Masyarakat Kelurahan Balowerti Kecamatan Kota Kabupaten Kediri, apabila direlevansikan dengan teori Habitus atau Hexis Pierre Bourdiue, Bahasa yang menjadi bagian dari kebudayaan, telah menjadi bagian terpenting pula dalam masyarakat khususnya masyarakat pribumi dari suatu daerah. Bahasa dengan aspek-aspek sosial khususnya hubungan bahasa dengan perubahannya, dan bahasa dengan ragam yang digunakan. Dalam kaitannya dengan ragam bahasa, terdapat korelasi antara tinggi rendahnya strata sosial penutur sebagai pemakai bahasa, khususnya bahasa Jawa.

Tulisan ini dipublikasikan di Artikel Kuliah SosAnt. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: