Field note “POTRET HARMONI SOSIAL MASYARAKAT KAKI BROMO”

SUKU-TENGGER-MASYARAKAT-TENGGER

Tepatnya tanggal 31 maret 2014  saya bersama teman-teman sosiologi antropologi melaksanakan kajian lapangan masyarakat dan kebudayaan yang di lakukan di desa ngadas kecamatan sukapura, perjalanan dimulai pada hari senin pukul 13.00 setelah sholat dzuhur , kami menempuh perjalanan sekitar 13 jam untuk akhirnya sampai di terminal sukapura.

Diawali dengan kunjungan ke pananjakan dan di lanjutkan dengan perjalanan ke desa ngadas pagi harinya, yaitu tempat dimana itulah tujuan utama kami untuk melakukan observasi terhadap masyarakat yang ada di dalamnya

Sesampainya kami di desa ngadas kami langsung menuju ke homestay masing masing untuk kemudian beristirahat sebentar serta bersiap siap untuk melakukan pertemuan dengan tokoh adat setempat, dari kelompok saya sendiri mendapat homestay 1 yang mana homestay tersebut sudah memasuki daerah wonokerto

Setelah bersiap siap kamipun langsung menuju ke balai desa untuk melakukan pertemuan dengan tokoh adat yang ada di desa ngadas yang disitu juga terdapat pak kades serta pak dukun , dalam pertemuan tersebut  kami banyak mendapatkan informasi-informasi seputar masyarakat desa ngadas yang mencakup berbagai hal baik dari segi lingkungan, agama, pendidikan, serta adat-adat atau kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat desa ngadas

Waktu menunjukan pukul 13.00, pertemuan dengan tokoh adat desa ngadas pun selesai, setelah itu kami melanjutkan dengan makan siang serta sholat dzuhur serta beristirahat sebentar, waktupun menunjukan pukul 15.00 hingga akhirnya saya dengan teman-teman satu kelompok memutuskan untuk segera melakukan observasi terhadap masyarakat melalui wawancara

Kelompok saya sendiri mendapat tema “sistem kepercayaan dan religi” dari tema itulah kami telah menyusun pertanyaan untuk kemudian di tanyakan terhadap narasumber yang akan kami temui, di desa ngadas sendiri cukup sulit untuk bisa menemukan informan yang bisa kami wawancarai karena kebanyakan dari mereka sibuk di ladang atau jika tidak mereka akan lebih memilih untuk berdiam di rumah karena cuaca di luar yang begitu dingin

setelah kami berjalan mengitari desa ngadas cukup lama akhirnya kami bertemu dengan seorang narasumber berumur 60 tahun yang bernama pak habit , Pak habit sendiri adalah seorang petani yang ada di desa ngadas, yang kebetulan saat itu sedang berada di kebunnya sendiri, setelah bertemu pak habit akhirnya kami memutuskan untuk mengobrol dengannya

wawancara pertama dengan pak habit kita awali dengan mengobrol ringan, lalu kemudian kami bertanya soal sistem kepercayaan dan religi yang ada di desa ngadas, pak habit sendiri adalah seorang beragama hindu yang mana dari agamanya tersebut kami mencoba menggali tentang bagaimana agama yang ada di desa ngadas tersebut

namun wawancara pertama kami ini bisa dikatakan cukup sulit karena pak habit tidak bisa berbahasa indonesia sehingga kita harus bisa menyesuaikan pertanyaan dengan bahasa yang ia mengerti, selain itu banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa di jawab oleh pak habit

selang beberapa lama kamipun memeutuskan untuk menyudahi obrolan kami dengan pak habit lalu kemudian mencari narasumber lain, dan akhirnya kami bertemu dengan pak edi  yang berusia 40 tahun, disitu kita banyak mendapat informasi seputar desa ngadas tentunya yang berkaitan dengan sistem kepercayaan dan religi masyarakat desa ngadas itu sendiri, seperti halnya tentang bagaimana agama hindu di desa ngadas, adat istiadat apa saja yang biasa digunakan dan bagaimana mereka melakukan itu semua

wawancara kami dengan pak edi bisa dikatakan memuaskan karena pak edi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami tanyakan, dan kami pun cukup senang karena pak edi mengizinkan kami untuk merekam wawancara yang kami lakukan, agar kami bisa memutarnya lagi di waktu berikutnya

dari wawancara tersebut kami juga mendapat informasi tentang seperti apa masyarakat beragama hindu melakukan ibadahnya, masyarakat desa ngadas sendiri adalah masyarakat yang cukup harmonis, hal itu bisa di lihat dari bagaimana mereka melakukan sesuatu secara gotong royong dan tidak membedakan satu sama lain

selain itu dalam wawancara kami, kami juga mencoba memepertanyakan apakah penganut agama hindu di desa ngadas melakukan upacara ngaben dan ternyata tidak , karena masyarakat desa ngadas sendiri memperlakukan orang yang meninggal dengan cara yang sama seperti umat islam yaitu di kubur, pola pemakaman antara agama islam dengan agama hindupun tak jauh berbeda serta tak di beda-bedakan.

setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke homestay masing-masing karena waktu yang sudah sore,  kamipun memutuskan untuk menggunakan waktu yang ada untuk istirahat, sholat dan makan lalu kemudian kami menuju ke balaidesa utuk melakukan presentasi atas apa yang kami peroleh dari wawancara yang telah kami lakukan tadi

disitu kelompok kami  mencoba untuk menyampaikan tentang bagaimana sistem kepercayaan dan religi masyarakat desa ngadas, yang diantaranya disitu kita juga menyampaikan tentang bagaimana pebedaan antara agama hindu di desa ngadas dengan agama hindu di bali, selain itu kita juga mencoba memaparkan mitos-mitos apa sajakah yang muncul serta seperti apa kepercyaan-kepercayaan yang ada di dalamnya

dari presentasi pertama tersebut tentu masih banyak kekurangan yang harus kami perbaiki hal itu di ungkapkan oleh para dosen yang mengomentari hasil presentasi kami, presentasipun berakhir pada pukul 12 malam, selesai prsentasi kami kembali ke homestay masing-masing untuk kemudian beristirahat

keesokan harinya kami diberi waktu sampai jam10 untuk melakukan observasi lanjutan, dan kami pun mencoba berkeliling desa untuk kembali menemukan narasumber yang bisa kami wawancarai disitu kita tidak menemukan satu orangpun yang bisa kami wawancarai, sedikit kecewaa  karena kebanyakan dari mereka yang kami temui tidak mau untuk kami wawancarai sampai akhirnya kami kembali ke balaidesa kemudian  bertemu kembali dengan tokoh adat untuk berpamitan dan setelah itu kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke malang.

3 comments

  1. fieldnote nya bagus,, bisa membawa pembaca seolah ikut di dalamnya hehe

  2. seperti mengikuti perjalanannya

  3. menarik artikelnya kak..

Tinggalkan Balasan ke Maharani Elma Batalkan balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Lewat ke baris perkakas