2015
12.15

HSVHB

A. Individu
Individu berasal dari kata in-dividere yang berarti tidak dapat dibagi-bagi (Gerungan, 1981) atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri, atau manusia perseorangan (Lysen, 1981). Individu yang dimaksud adalah insan (manusia), Aristoteles berpendapat bahawa manusia merupakan penjumlahan dari kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri seperti kemampuan-kemampuan Vegetatif (makan dan berkembang biak), kemampuan Sensitif (bergerak, bernafsu, perasaan dan mengamati) dan kemampuan Intelektif (kecerdasan).

B. Kelompok Sosial
Lahirnya kelompok sosial disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk berhubungan, tapi tidak semua hubungan tersebut dapat dikatakan sebagai kelompok sosial.
Soerjono Soekanto (1982 : 111) mengemukakan beberapa persyaratan terbentuknya kelompok sosial, yaitu :
1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan lainnya dalam kelompok.
3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang bersangkutan yang merupakan unsur pengikat atau pemersatu. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama ataupun ideologi yang sama.
4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
Mac Iver (1961 : 213) Kelompok sosial adalah : “Kelompok sosial terbentuk melalui proses interaksi dan sosialisasi, dimana manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dan memiliki kebersamaan untuk tolong menolong”.
C. Hubungan sosial
Dalam hubungan sosial adanya sebuah interaksi sosial diantara masyarakat.

  1. Hakikat Interaksi Sosial
    Interaksi antarmanusia terjadi karena manusia saling membutuhkan.
    Gillin mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial dinamis yang menyangkut hubungan antarindividu, antara individu dan kelompok, atau antarkelompok.
    2. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
    Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa kontak sosial dan komunikasi.
  2. Kontak Sosial
    Kontak sosial memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
    1. Kontak sosial dapat bersifat positif atau negative.
    2. Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder.
  3. Komunikasi
    Lima unsur pokok dalam komunikasi
    1. Komunikator
    2. Komunikan
    3. Pesan
    4. Media
    5. Efek
  4. Faktor-faktor Pendorong Interaksi Sosial
    Interaksi sosial dilandasi oleh beberapa faktor psikologis yaitu,
    1. Imitasi
    2. Sugesti
    3. Identifikasi
    4. Simpati
    5. Empati
  5. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
    Hubungan antara Keteraturan Sosial dan Interaksi Sosial
    Keteraturan sosial tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan oleh setiap warga. Menurut proses terbentuknya, keteraturan sosial terjadi melalui tahap-tahap berikut.
    1. Tertib sosial (social order)
    2. Order
    3. Keajegan
    4. Pola
    1. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
    Menurut Gillin, interaksi sosial berlangsung dalam dua jenis proses sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif mengarah pada persatuan atau integrasi sosial. Sebaliknya, proses disosiatif, yang disebut juga proses oposisi, cara melawan seseorang atau sekelompok orang demi meraih tujuan tertentu.
  6. Proses Sosial yang Bersifat Asosiatif
    Proses asosiatif meliputi bentuk-bentuk antara lain kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
  7. Kerja sama
    Kerja sama didefinisikan sebagai usaha bersama antarindividu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Charles H. Cooley, kerjasama timbul apabila seseorang menyadari dirinya mempunyai kepentingan atau tujuan yang sama dengan orang lain.

Berdasarkan pelaksanaannya, kerja sama memiliki lima bentuk.
1. Kerukunan atau gotong royong
2. Bargaining
3. Kooptasi
4. Koalisi
5. Joint venture

Selain itu bebeapa ahli juga membagi kerja sama dalam beberapa bentuk berikut
1. Kerja sama spontan (kerja sama serta merta)
2. Kerja sama langsung (hasil dari perintah atasan atau penguasa)
3. Kerja sama kontrak (kerja sama atas dasar tertentu)
4. Kerja sama tradisional (kerjasama sebagai bagian antarunsur dalam sistem sosial)

  1. Akomodasi
    Akomodasi memiliki dua pengertian, yakni sebagai keadaan dan sebagai proses. Akomodasi sebagai keadaan mengacu pada keseimbangan interaksi antarindividu atau antarkelompok berkaitan dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.
    Akomodasi sebagai sebuah proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu:
    1. Koersi
    2. Kompromi
    3. Arbitrase
    4. Mediasi
    5. Konsiliasi
    6. Toleransi
    7. Stalemate
    8. Ajudikasi
    9. Segregasi
    10. Eliminasi
    11. Subjugation atau domination
    12. Keputusan mayoritas
    13. Minority consent
    14. Konversi
    15. Gencatan senjata,
  2. Asimilasi
    Asimilasi merupakan usaha mengurangi perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama.
  3. Akulturasi
    Akulturasi adalah berpadunya dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan ciri kepribadian masing-masing.
  4. Proses sosial yang Bersifat Disosiatif
    Proses sosial disosiatif atau oposisi dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravensi, dan pertentangan.
  5. Persaingan
    Persaingan adalah perjuangan berbagai pihak untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu ciri dari persaingan adalah perjuangan yang dilakukan secara damai dan sportif (fair play).
  6. Kontravensi
    Kontravensi pada hakikatnya merupakan bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi cenderung bersifat rahasia.
  7. Pertentangan
    Pertentangan atau konflik adalah perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan.
  8. Status dan Peran dalam Interaksi Sosial
    Status dan peran seseorang mempengaruhi cara atau bentuk interaksi sosialnya.
  9. Status (kedudukan)
    Menurut Ralf Linton, dalam kehidupan masyarakat terdapat tiga macam status:
    1. Ascribed status
    2. Achieved status.
    3.Assigned
  10. Peran
    Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status. Peran adalah perilaku yang diharapkan oleh pihak lain terhadap seseorang dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya. Status dan peran tidak dapat dipisahkan karena tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran.

Sumber :

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2014. Sosiologi 1:Kelompok Pemintan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta. Esis Erlangga
http://sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id/2015/02/materi-sosiologi-kelas-x-bab-2-hubungan.html

1 comment so far

Add Your Comment
  1. MAteri SMA dg materii kuliah kok masih nyampur di satu kategori