«

Oct 13

Review Jurnal “Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai – Nilai dan Etika Masyarakat Jawa”

     Hai, postingan saya kali ini merupakan hasil tugas saya pada mata kuliah Sosiologi Politik pada Semester 5 yang berisi tentang hasil review jurnal “Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai – Nilai dan Etika Masyarakat Jawa” karya Nugroho Trisnu Brata.

            Pada jurnal yang berjudul “Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-Nilai dan Etika Masyarakat Jawa” yang ditulis oleh Nugroho Trisnu Brata, masyarakat Jawa dikenal dengan kebudayaannya yang lemah gemulai, halus, dan hierarkis. Selain itu, kegiatan yang terjadi pada masyarakat Jawa secara tidak langsung telah diatur serta berpedoman pada nilai-nilai dan etika yang berlaku pada masyarakat Jawa itu sendiri. Nilai-nilai dan etika tersebut lah yang menjadi suatu penuntun, pengarah, dan bisa saja menjadi pemaksa bagi masyarakat Jawa itu sendiri. Franz Magnis Suseno mengintegrasikan nilai-nilai dan etika pada masyarakat Jawa ke dalam tiga prinsip. Prinsip yang pertama yaitu rukun yang berarti bahwa setiap manusia harus menunjukkan sikap hormat baik dalam berbicara maupun dalam berperilaku terhadap orang lain secara hierarkis. Prinsip yang kedua yaitu rukun yang berarti bahwa suatu masyarakat harus hidup dalam keadaan damai, selaras, harmonis, dan tentram tanpa adanya suatu perselisihan. Sedangkan prinsip yang ketiga yaitu isin (malu) yang berarti bahwa seseorang harus merasa malu jika telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam berkata dan bertindak agar sesuai dengan nilai-nilai dan etika dalam kebudayaan Jawa.

            Masyarakat Jawa yang disimbolkan dengan sikap lemah gemulai, halus, dan hierarkis, ternyata pada masa lalunya masyarakat Jawa merupakan bangsa yang kasar dan penuh dengan kekerasan yang diwariskan secara tradisi dari generasi ke generasi. Selain itu, masyarakat Jawa merupakan bangsa penakluk yang terbukti dengan banyaknya daerah yang berhasil ditaklukkan oleh Jawa. Penggambaran budaya kekerasan pada jurnal tersebut dijelaskan dengan berbagai peristiwa penjajahan yang pernah terjadi di Indonesia. Pada saat itu kekerasan muncul sebagai suatu usaha untuk saling menguasai satu sama lain, sehingga muncul juga suatu anggapan bahwa siapa yang menang dan berkuasa maka dialah yang mampu menggerakkan masyarakat baik dengan paksaan maupun dengan tipuannya.

     Menurut James T. Siegel, ketegori alus dan kasar merupakan salah satu kategori hierarki dalam masyarakat Jawa yang dapat diwujudkan dalam bahasa dan perilaku. Dimana watak alus merupakan suatu kondisi ideal orang Jawa yang untuk mencapai watak tersebut memerlukan usaha yang sungguh-sungguh. Sedangkan watak kasar adalah watak yang mendasari manusia sehingga untuk memilikinya tidak diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. Secara hierarki watak alus memiliki derajat yang lebih tinggi daripada watak kasar. Watak alus diidentikan dengan para ksatria, bangsawan, dan priyayi. Sedangkan watak kasar diidentikkan dengan wong cilik, anak muda, dan wong sabrang (orang asing). Namun, sebenarnya pada masa lalu masyarakat Jawa merupakan bangsa yang keras serta penuh dengan kekerasan yang mana diwariskan secara tradisi dari generasi satu ke generasi lainnya. Kekerasan pada masyarakat jawa ini selalu dipandang negatif dimana pada kekerasan tersebut mengandung makna bahwa orang jawa berperilaku kasar dan tidak pantas dilakukan di masyarakat serta harus dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

     Penulis menggambarkan budaya kasar dan halus melalui salah satu istilah yang ada di Jawa yaitu “Dupak Bujang, Semu Mantri, Esem Bupati”, cerita Barata Yuda, dan tari Bambangan Cakil. Ketiganya menjelaskan bahwa budaya kasar dan halus melalui kebudayaan yang ada pada masyarakat Jawa. Secara tidak sadar, orang Jawa yang dikenal halus dan memiliki nilai dan etika ternyata juga telah menurunkan budaya kekerasan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Hal tersebut dapat dilihat melalui pemaknaan “Dupak Bujang, Semu Mantri, Esem Bupati” yang salah satunya bermakna bahwa suatu komunikasi dapat berjalan pada kaum pemuda atau wong cilik dengan cara kekerasan. Selain itu, tari Bambangan Cakil menceritakan bagaimana budaya kekerasan saling berlawanan dengan budaya alus.

 

Sumber :

Brata, Nugroho Trisnu. Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-Nilai dan Etika Masyarakat Jawa. Jurnal. Ed. 2. Hlm 91-102.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco

Skip to toolbar