TRADISI BUDAYA

SUNAT ANAK PEREMPUAN

Bagi kaum perempuan sunat adalah hal yang tabu, sulit untuk dinalar karena secara pribadi penulis tidak pernah merasakan sunat. Tetapi salah satu keluarga penulis, yaitu nenek kandung penulis dari ibu pernah melakukan sunat di waktu kecil. Saat ini nenek penulis yang bernama Rochyati sudah berusia 73 tahun. Beliau melakukan sunat ketika berumur 8 tahun, jadi kejadian sunat tersebut sudah 65 tahun yang lalu. Saat ini penulis dan keluarga termasuk nenek tinggal di Desa Sidakangen, Kalimanah, Purbalingga, namun dahulu nenek penulis disunat di Desa Kertanegara, Karangmoncol, Purbalingga.

Sunat tersebut diikuti oleh 4 orang yang usianya 6 sampai 8 tahun yang memiliki hubungan keluarga. Sebelum melakukan proses sunat, warga melakukan pengajian di rumah salah satu anggota sunat yang dirasa mampu secara ekonomi. Yang disunat adalah alat kelamin perempuan, yaitu kelentit/klitorisnya dipotong sedikit. Proses ini tidak memakan waktu yang lama dan yang disunat merasakan sakit, karena pada zaman dahulu tidak ada obat bius. Proses penyembuhannya pun sampai satu minggu. Kelentit/klitoris yang dipotong kemudian dikumpulkan oleh dukun sunat perempuan di beruk maja (wujudnya seperti kendi). Beruk maja ini berasal dari pohon maja yang dipotong, diparas, dan dibentuk menyerupai kendil. Ada perbedaan dukun sunat antara dukun sunat anak laki-laki dan perempuan. Rumah yang dijadikan tempat sunat anak-anak tersebut dijadikan tempat hajatan. Setelah selesai proses sunat, di rumah tersebut juga dilakukan pagelaran wayang kulit, yang saat itu didalangi oleh Dalang Jemblung. Pagelaran ini sifatnya bebas, apakah wayang atau kuda lumping tergantung kondisi ekonomi masing-masing, namun akan lebih baik apabila pagelarannya adalah wayang kulit.

Sunat ini dilakukan secara masal karena ada kesepakatan dari keluarga dan juga kondisi ekonomi masing-masing keluarga. Dari menggelar hajatan saja sudah mengeluarkan banyak uang, belum lagi pagelaran yang ditampilkan sudah pasti mengeluarkan banyak uang. Tujuan dari diadakannya sunat tersebut adalah untuk mengislamkan anak perempuan agar sama seperti anak laki-laki yang disunat. Sunat ini tidak wajib dilakukan oleh masyarakat, bagi mereka yang mempercayainya, mereka akan melakukan hal tersebut, namun bagi yang tidak mempercayainya tidak akan melakukan hal tersebut dan tidak ada hukuman atau cemoohan apapun dari orang lain apabila anak perempuan tidak melakukan sunat. Berdasarkan penuturan narasumber, beliau tidak merasakan trauma akibat kejadian di masa lalunya.

Dari cerita tersebut, penulis akan mengaitkannya dengan tiga teori yang sudah dipelajari, yaitu fungsionalisme struktural, interaksionisme simbolik, dan tindakan rasional.

  1. Fungsionalisme Struktural

Asumsi Dasar Teori fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial. Teori struktural fungsional ini awalnya berangkat dari pemikiran Emile Durkheim, dimana pemikiran Durkheim ini dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer. Comte dengan pemikirannya mengenai analogi organismik kemudian dikembangkan lagi oleh Herbert Spencer dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dengan organisme, hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite functionalism , dimana ini menjadi panduan bagi analisa substantif Spencer dan penggerak analisa fungsional. Dipengaruhi oleh kedua orang ini, studi Durkheim tertanam kuat terminology organismik tersebut. Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana didalamnya terdapat bagian – bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut memiliki fungsi masing – masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural fungsional. Selain itu, antropologis fungsional-Malinowski dan Radcliffe Brown juga membantu membentuk berbagai perspektif fungsional modern. Selain dari Durkheim, teori struktural fungsional ini juga dipengaruhi oleh pemikiran Max Weber. Secara umum, dua aspek dari studi Weber yang memiliki pengaruh kuat adalah: Visi substantif mengenai tindakan sosial dan Strateginya dalam menganalisa struktur sosial. Pemikiran Weber mengenai tindakan sosial ini berguna dalam perkembangan pemikiran Parsons dalam menjelaskan mengenai tindakan aktor dalam menginterpretasikan keadaan.

            Apabila dikaitkan dengan Teori Fungsionalisme Struktural maka sunat pada anak perempuan di Desa Kertanegara merupakan bagian dari teori tersebut, karena ada aturan pada masyarakat yang mengatur agara anak perempuan melakukan sunat agar mengislamkan dirinya walaupun tidak semua orang mempercayai dan melakukannya karena sunat tersebut tidak wajib dalam masyarakat Desa Kertanegara saat itu dan tidak ada sanksi yang tegas apabila masyarakat tidak melakukan sunat, namun semua pihak terlibat dalam kegiatan itu. Ada masyarakat yang nyumbang dalam hajatan, mengadakan hajatan, membantu terselenggaranya hajatan, sebagai dukun sunat, dalang dalam pementasan wayang, dan membantu dalam acara baik sebagai juru masak, maupun sebagai sinoman. Semua komponen tersebut saling bekerja sama dan bekerja sebagaimana mestinya dan membentuk suatu kesatuan dalam masyarakat meskipun mereka memiliki perbedaan berbagai status dan peran dalam masyarakat yang menjadikan masyarakat hidup saling bergotong royong dan menjadi masyarakat yang rukun.

  1. Interaksionisme Simbolik

Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.

Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959).

Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “di luar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Selain itu, keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik, di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia.

            Kaitan antara teori tersebut dengan sunat pada anak perempuan di Desa Kertanegara adalah adanya pengaruh dari masyarakat untuk mengadakan sunat anak perempuan. Dari orang tua terdahulu yang lebih dulu melakukannya, sehingga hal tersebut masih dilakukan hingga sekarang dan menjadi sebuah kebudayaan yang ada pada masyarakat. Individu dibentuk oleh masyarakat untuk melakukan sunat walaupun sunat anak perempuan bukanlah hal yang wajib dilakukan oleh setiap anak, namun pada golongan orang yang mempercayainya individu tersebut melapaskan self-nya untuk menjadi me yang merupakan bagian dari masyarakat. Dari interaksi sosial tersebut individu dituntut untuk melakukan tradisi sunat walaupun individu itu bukanlah laki-laki.

  1. Tindakan Rasional

Dari karya Max Weber yakni, mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial dan antar hubungan sosial. Inti tesisnya adalah ”tindakan yang penuh arti” dari individu. Tindakan sosial yang dimaksud Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain.

Juga dapat berupa tindakan ”membatin” atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu, atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa, atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu.

Manusia dipandang sebagai makhluk yang rasional dan juga tidak rasional. Pada hakikatnya manusia itu memiliki kecenderungan untuk berfikir yang rasional atau logis, di samping itu juga ia memiliki kecenderungan untuk berfikir tidak rasional atau tidak logis, kedua kecenderungan yang di miliki oleh manusia ini akan nampak dengan jelas dan tergambar dalam bentuk tingkah laku yang nyata. Dengan kata lain dapat di jelaskan bahwa apabila seseorang telah berfikir rasional atau logis yang dapat diterima dengan akal sehat, maka orang itu akan bertingkah laku yang rasional dan logis pula. Tetapi sebaliknya apabila seseorang itu berfikir yang tidak rasional atau tidak bisa diterima oleh akal sehat maka ia akan menunjukan tingkah laku yang tidak rasional. Pola berfikir semacam inilah oleh Ellis yang di sebut sebagai penyebab bahwa seseorang itu mengalami gangguan emosionil.

Dalam tulisan ini, masyarakat yang berfikir rasional adalah mereka yang menerima dan melaksanakan sunat pada anak perempuan yang merupakan sebuah tradisi yang ada pada masyarakat, serta mereka yang ikut berpartisipasi demi terselenggaranya acara sunat dengan baik dan lancar baik yang merupakan warga setempat maupun di luar lingkungan setempat yang ada hubungan kekerabatan dengan penyelenggara hajatan. Mereka melakukan ritual ini berdasarkan pada rasio atau akal sehatnya karena merupakan bagian dari masyarakat, mereka bertindak sesuai dengan peranannya masing-masing tanpa sebuah paksaan, melainkan karena adanya nilai urmat dalam masyarakat sehingga masyarakat dengan rela melakukannya.

This entry was posted in Sosiologi and tagged . Bookmark the permalink.

16 Responses to TRADISI BUDAYA

  1. tulisannya bagus… menarik untuk dibaca :2thumbup

  2. ditingkatkan ya menulisnya, semangat kakjavascript:kaskusemoticonsclick(‘:selamat’)ak hehe

  3. reni setuju enggak dengan tradisi sunat peempuan?

  4. tampilan pada penulisan sudah bagus dan rapi namun dalam pergantian paragraf ada yang menjorok kekanan dan ada yang tidak jadi alangkah lebih baiknya jika disamakan. terimakasih

  5. bagus artikelnya menambah wawasan tentang sunat perempuan 🙂

  6. menarik baik tampilan maupun konten

  7. bagus ren,,
    lanjutkan,,,

  8. SUNAT ANAK PEREMPUAN bukankah ini yang seharusnya ada di kolom judul?

  9. PUTRI AYU says:

    wah di daerah saya tidak ada seperti itu kak…

  10. apakah ini salah satu bentik dari ketidakadilan gender yang ada dekat dengan kita?

  11. kalau sekarang masih banyak apa engga perempuan yang disunat di daerahmu ren?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: