EPIDEMIOLOGI DI PURBALINGGA

LAPORAN OBSERVASI EPIDEMIOLOGI DI PURBALINGGA

Ujang Yanyan Mulyana, MM atau biasa disebut dengan dr. Mulyana adalah dokter umum yang memiliki alamat praktek di Perumahan Griya Perwira Asri Blok M No 7 Karang Sentul, Purbalingga. dr. Mulyana sudah menjadi dokter selama 15 tahun. Beliau lahir di Garut, 17 Desember 1973. Beliau memiliki Surat Izin Praktik (SIP) dengan Nomor 032/DKK/PBG/DU/VIII/2006. Beliau memililiki tiga tempat praktik dan di Karang Sentul ini merupakan tempat praktik yang ketiga yang dimulai pada tahun 2006. dr. Mulyana dinas di Puskesmas Serayu Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Di Kemangkon, Purbalingga, beliau memiliki tempat praktik bernama “Klinikita” yang dibantu oleh isterinya dr. Siti Rokhayah, M.Kes. dr. Mulyana memiliki salon kecantikan dengan nama “Griya dr. Y” yang dikelola oleh isterinya. Beliau juga memiliki PAUD dengan nama “PAUD HI-IT Attaqia Mulya” yang terletak di rumahnya di Jalan Raya Bojong No 58, Purbalingga.

Wawancara kali ini lebih ke praktik dr. Mulyana yang ketiga yang berada di Perumahan Griya Perwira Asri yang membuka praktik dua kali sehari, pagi hari membuka praktik dari pukul 06.00 sampai pukul 08.00, dan sore hari dari pukul 17.00 hingga pukul 20.00. Dalam satu bulan praktik dr. Mulyana ini bisa menerima pasien hingga 1900 lebih dan satu tahun bisa mencapai lebih dari 22.000 pasien, pasiennya berasal dari berbagai usia baik dari bayi yang baru lahir beberapa hari hingga orang yang sudah tua, dari etnis Jawa dan Tionghoa, bahkan tidak hanya pasien dari sekitar tempat praktiknya, tetapi ada juga yang berasal dari Purwokerto dan Banyumas. Penyakit yang sering dikeluhkan pasien adalah batuk, pilek, pusing, gatal-gatal, asam urat, eksim, dan pegal-pegal. Selain menerima pasien karena sakit, dr. Mulyana juga menerima pasien sunatan. Pernah juga ada pasien yang mengeluarkan susuk dengan cara bedah kecil di daerah pemasangan susuk. Bahkan ada juga pasien yang tidak sakit secara medis tetapi meminta surat keterangan sakit kepada dokter untuk keperluan pribadinya yang mungkin saja untuk membolos kerja.

Saya hanya mendapatkan data rekap medis selama satu bulan karena praktik dr. Mulyana hanya merekap dalam bentuk kertas, masih manual belum memakai file. Data rekap medis jumlah pasien ini diambil di bulan Maret tahun 2014 yang sudah dijadikan satu jumlah pasien di pagi dan sore hari.

Tanggal Tn Ny Mas Mba Anak Jumlah
1 Maret 2014 25 18 12 7 8 70
2 Maret 2014 15 19 19 4 9 66
3 Maret 2014 13 27 17 7 7 71
4 Maret 2014 11 15 19 8 11 94
5 Maret 2014 24 24 16 5 5 70
6 Maret 2014 16 21 17 5 7 66
7 Maret 2014 17 16 12 6 7 58
8 Maret 2014 17 20 13 5 8 63
9 Maret 2014 15 20 16 3 10 64
10 Maret 2014 22 27 18 4 4 75
11 Maret 2014 11 19 16 8 9 63
12 Maret 2014 21 19 17 5 5 67
13 Maret 2014 16 16 13 1 6 52
14 Maret 2014 17 22 16 12 5 72
15 Maret 2014 12 24 18 6 7 67
16 Maret 2014 16 11 20 6 4 57
17 Maret 2014 24 20 14 7 6 71
18 Maret 2014 12 24 14 7 8 65
19 Maret 2014 15 16 12 2 8 53
20 Maret 2014 11 15 9 6 6 47
21 Maret 2014 17 28 13 5 5 68
22 Maret 2014 16 27 20 6 10 79
23 Maret 2014 15 13 8 11 8 55
24 Maret 2014 20 19 16 8 8 71
25 Maret 2014 14 16 20 9 12 71
26 Maret 2014 15 26 14 6 6 57
27 Maret 2014 10 19 10 4 5 48
28 Maret 2014 15 17 12 6 5 65
29 Maret 2014 8 23 12 3 6 52
30 Maret 2014 12 18 9 2 6 47
31 Maret 2014 15 13 11 6 5 50
Jumlah 487 608 487 183 214 1974

Keterangan:

  • Penyakit jantung : 37 pasien
  • Penyakit TBC : 23 pasien
  • Orang Jawa : 1.724 pasien
  • Orang Chinese : 232 pasien
  • Penyakit orang Jawa : batuk, pilek, panas, pusing, telinga sakit, mata kabur, gusi bengkak, leher sakit, sesak nafas, dada sakit, sakit perut, sakit pinggang, sakit punggung, susah buang air kecil, susah buang air besar, diare, sakit sendi, asam urat, diabetes, stroke ringan, kaki sakit.
  • Penyakit orang Chinese: jantung dan diabetes ada 47 orang

Dari data di atas akan dikaitkan dengan materi kuliah Sosiologi kesehatan tentang Epidemiologi. Epidemiologi adalah suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis distribusi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan dalam suatu penduduk tertentu dengan tujuan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangannya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan terdiri dari kelas sosial, etnis, gender, dan usia.

  1. Kelas Sosial

Masyarakat di daerah Purbalingga yang memiliki kelas sosial yang rendah, rata-rata memiliki penyakit yang ringan, seperti penyakit yang dijangkit oleh orang Jawa. Sedangkan penyakit yang dijangkit oleh orang Chinese yaitu penyakit diabetes adalah penyakit yang kebanyakan dijangkit oleh masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih tinggi atau menempati kelas sosial yang lebih tinggi, sehingga dalam penangannya membutuhkan biaya yang besar. Penyakit ini juga disebabkan karena kebiasaan atau pola hidup dari masing-masing tingkatan. Bagi masyarakat yang memiliki kelas sosial rendah, mereka justru lebih banyak makan makanan yang harganya lebih terjangkau seperti sayuran hijau, tahu, dan tempe yang justru membuat mereka lebih meminimalisir terjangkitnya penyakit diabetes. Sedangkan bagi orang Chinese dengan kelas sosial yang dapat diktakan lebih tinggi dari orang Jawa lebih memilih memakan makanan yang prakis, cepat saji atau junkfood, walaupun mahal tetapi mengandung banyak gula dan justru makanan seperti itulah yang menyebabkan tingginya keterjangkitan penyakit diabetes, selain faktor genetik atau keturunan.

  1. Etnis

Dari hasil wawancara di atas tidak menunjukkan adanya perbedaan penyakit yang diderita dan disebabkan oleh etnis antara etnis Jawa dan etnis Tionghoa, karena penyakit tidak memandang dari mana asal si sakit, kecuali karna faktor keturunan. Siapa saja dapat terkena penyakit diabetes dan jantung, tidak hanya melulu dari etnis Tionghoa, tetapi juga dari etnis Jawa.

  1. Gender

Hasil rekap medis di atas memberikan gambaran bahwa masyarakat di Purbalingga lebih banyak laki-laki yang terjangkit penyakit daripada perempuan dengan perbandingan yang sangat jauh, yaitu 304 pasien. Hal ini dikarenakan masyarakat Purbalingga yang perempuan lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya di dalam ruangan pabrik yang pekerjaannya tidak terlalu berat, seperti di pabrik rambut palsu dan bulu mata palsu yang jumlahnya sangat banyak di Purbalingga yang mayoritas pekerjanya adalah perempuan, sedangkan laki-laki lebih banyak bekerja di luar ruangan, seperti menjadi kuli bangunan, tukang panggul, sopir, dan petani sehingga resiko-resiko pekerjaan di luar ruangan ini sangat besar dan dapat menimbulkan berbagai penyakit, misalnya saja penyakit sesak nafas, stroke ringan, dan TBC.

  1. Usia

Antara usia tua, dewasa, dan anak-anak memiliki perbandingan jumlah yang jauh. Dari data di atas menunjukkan bahwa usia tua lebih rentan terkena penyakit dibandingkan dengan usia dewasa dan anak-anak. Hal ini dikarenakan orang yang sudah tua atau lanjut usia kurang memperhatikan kesehatan tubuhnya, bahkan orang lain di sekitarnya juga kurang memperhatikan, sehingga mereka lebih mudah terserang penyakit, dan biasanya pada usia-usia tua identik dengan penyakit karena faktor usia yang disebabkan sudah melemahnya sistem imunitas di dalam tubuh. Pada usia dewasa jumlah pasien lebih sedikit karena usia dewasa bisa menjaga kesehatan tubuhnya sendiri, pada usia ini sistem kekebalan tubuh masih berfungsi dengan baik, bahkan banyak yang beranggapan bahwa sakit batuk, pilek dan penyakit ringan lainnya yang menyerang pada usia dewasa tidak terlalu berbahaya sehingga mereka mengurangi konsumsi medis. Dan terakhir adalah pada balita dan anak-anak, mereka lebih sedikit jumlahnya yang terkena penyakit karena di usia mereka masih ada orang tua dan orang dewasa lainnya yang masih menjaga kesehatan balita dan anak-anaknya dengan sangat hati-hati, di usia ini juga sistem imunitas tubuh si anak sedang terbentuk yang dapat memprediksi tinggi rendahnya konsumsi medis karena sakit di kemudian hari.

This entry was posted in Sosiologi and tagged . Bookmark the permalink.

28 Responses to EPIDEMIOLOGI DI PURBALINGGA

  1. Udah bagus rapi, ada yg sdikit kurang pada gmbar header image mnurut saya lebih baik buat gmbar yg tdak ad tulisanya atau kalau bisa bikin gmbr sndri yg mncerminkan konten atau nama blog.

  2. wah setelah membaca jadi tambah informasi. ternyata orang jawa lebih rentan terkena penyakit dibandingkan dengan orang chinese. mungkin karena faktor demografi atau karena faktor lainnya. jadi penanggulangannya yang tepat gimana ren secara epidemologi? penasaran 😀

    • Orang Jawa itu kan kalo punya uang sukanya buat makan-makan di luar, makan junk food seakan-akan menambah prestise, jadi lebih rentan terkena penyakit. sedangkan orang Chinese kan kalo punya uang ya ditabung atau keperluan lain, mereka ga boros kalo buat makan.

  3. Temanya bagus ren :D, tulisannya juga sudah rapi. Lanjutkan 😀

  4. blognya keren ren, menarik tampilannya 🙂

  5. menarik tampilannya ren 🙂 lanjutkaaaaan 😉

  6. wahhh tulisannya bagus ren.. semangat menulis ya beh !!

  7. good job . .
    lanjutkan ren . . .

  8. dijelaskan epidemiologi dong dibagian depannya

  9. ambil satu judul aja ren, isinya bagus kok 🙂

  10. bagus ren
    menambah informasi…

  11. LAPORAN OBSERVASI EPIDEMIOLOGI DI PURBALINGGA
    mungkin itu bisa dihapus saja, karena dijudul sudah ada
    hanya saran
    terimakasih

  12. gmna kalau misalnya judul yang laporan… itu dihapus aja ren

  13. ayo meneliti epidemologi di daerah lain hihi

  14. mungkin gaya hidup orang jawa yang selalu menggampangkan kesehatan yaa 😀

  15. semoga kita semua tetap sehat,amiiiiinnn

  16. biasanya orang purbalingga lebih memilih pengobatan medis modern atau tradisional ren untuk mengobati sakitnya? mksh

    • Pengobatan medis modern Ran, soalnya masyarakatnya lebih percaya sama pengobatan medis modern, bahkan dukun dan pengobatan alternatif kurang diminati, pemikiran masyarakat yang semakin modern juga ga mempercayai adanya penyakit yang naturalistik/guna-guna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: