TEORI-TEORI STRUKTURAL C. LEVI-STRAUSS

  1. RIWAYAT HIDUP LEVI-STRAUSS

Berbeda dengan teori-teori struktural yang dikembangkan oleh A.R. Radcliffe-Brown, para ahli antropologi Inggris lainnya, dan oleh J.P.B de Josselin de Jong beserta murid-muridnya, adalah teori-teori struktural yang dikembangkan oleh ahli antropologi Prancis yang terkenal bernama C.Levi-Strauss. Ia lahir di Brussel dalam suatu keluarga seniman pelukis Yahudi.

Pada tahun 1940 saat perang dunia ke II, Levi-Strauss pindah ke Amerika dan menetap di New York. Kepindahannya ke Amerika lebih disebabkan oleh persoalan rasial (Lévi-Strauss seorang Yahudi). Saat itu Prancis dikuasai oleh Jerman yang anti Yahudi. Ketika di New York, kecenderungan struktural yang sudah lama ada dalam diri Lévi-Strauss berkembang dan menjadi matang, berkat pertemuannya dengan ahli bahasa dari Rusia, Roman Jakobson.

Persentuhan Lévi-Strauss dengan Roman Jakobson ini membawanya lebih dalam untuk mempelajari linguistik struktural, yang akhirnya menjadi dasar dari teori antropologi budaya Lévi-Strauss. Analisis struktural ala Lévi-Strauss tersebut bersumber pada ilmu bahasa struktural (structural linguistics) Ferdinand de Saussure.

  1. METODE SEGITIGA KULINER

Dalam metode-metode yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss, dikenal metode segitiga kuliner (triangle culinaire). Metode ini diterapkan untuk mengamati unsur-unsur makanan yang dikonsumsi manusia. Beberapa pengamat mengatakan, alasan ketertarikan Lévi-Strauss mengamati makanan adalah karena makanan merupakan kebutuhan alamiah manusia maupun binatang. Makanan dipakai oleh Lévi-Strauss untuk menjelaskan antara sesuatu yang alami dan produk budaya.

Dalam pengamatannya, Lévi-Strauss menjelaskan bahwa makanan manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu; 1) makanan melalui proses pemasakan, 2) melalui proses fermentasi, dan 3) makan yang mentah, jadi yang bebas dari salah satu proses (non-élaboré). Akal manusia akan memilih untuk memanfaatkan makanan yang ingin dikonsumsinya, baik yang ‘bebas dari proses’ ataupun yang memalui ‘proses’.

Lévi-Strauss menjelaskan, makanan yang melalui proses ada dua yaitu; proses fermentasi dan proses di masak. Makanan yang melalui proses fermentasi adalah merupakan sesuatu yang alami, dan yang melalui proses dimasak merupakan kebudayaan, sedangkan makanan yang mentah ditempatkan oleh Lévi-Strauss sebagai bagian dari alam dan kebudayaan. Makanan mentah digolongkan pada makanan alam karena ia tidak melalui proses pengolahan oleh manusia, dan digolongkan pada makanan yang diproses adalah karena sumber makanan berupa tumbuhan harus terlebih dahulu ditanam dan makanan berupa hewan harus lebih dahulu diperlihara atah diburu. Berikut di bawah ini dapat diamati bagan segitiga kuliner yang ditulis Koentjaraningrat.

Bagan segitiga kuliner :

Bebas dari proses                              Kebudayaan                             Alam

(non-elabore)                                                                    Mentah

Kena proses                                                     Dimasak                      Fermentasi

( elabore)

  1. ANALISA SISTEM KEKERABATAN

Menurut Lévi-Strauss ada dua sikap dalam hubungan kekerabatan, yaitu sikap positif dan sikap negatif. Yang dimaksud dengan hubungan positif adalah sikap bersahabat, hangat, mesra, dan cinta mencintai, sedangkan hubungan negatif adalah hubungan yang berdasarkan sikap sungkan, resmi, dan menghormat.

Dalam hitopesisnya dijelaskan bahwa hubungan antara saudara sekandung dan hubungan karena perkawinan selalu bertentangan kebutuhan. Seseorang individu  dengan saudara sekandungnya, tetapi negatif dalam hubungan dengan iparnya. Dalam garis keturunan materinial misalnya, hubungan positif akan terjalin antara anak dengan keluarga keturunan ibu, sedangkan dalam garis keturunan patrilineal maka anak akan lebih dekat dengan keluarga keturunan ayah.

Lévi-Strauss mengemukan dua hipotesa yang kontras tentang hubungan kekerabatan ini, yakni: 1) apabila hubungan ayah dan anak positif maka hubungan antara anak dengan kerabat ibu adalah negatif; sebaliknya apabila hubungan ayah dan anak negatif maka hubungan anak dengan kerabat ibunya adalah positif, 2) apabila hubungan antara suami dan isteri itu positif, maka hubungan antara saudara sekandung pria dan wanita adalah negatif; dan sebaliknya apabila hubungan antara suami dan isteri itu negatif, maka hubungan antara saudara sekandung pria dan wanita itu positif.

Hipotesa Lévi-Strauss tersebut didasar pada beberapa penelitian etnografinya, contohnya adalah mengenai keluarga inti dalam masyarakat penduduk kepulauan Trobriand, yang mempunyai sistem keturunan matrilineal. Hubungan suami istri yang saling mencintai pada masyarakat Trobriand adalah hubungan yang hangat dan mesra, maka ini disebut dengan hubungan positif. Sebaliknya ikatan suami istri ini akan menimbulkan bentuk  hubungan yang mengekang antara suami dan saudara istri. Hubungan itu akan dikekang oleh berbagai pantangan dan suatu adat sopan santun pergaluan yang ketat dan resmi.

Seorang Pria Trobriand akan merasa tersinggung apabila orang lain mengatakan bahwa wajahnya mirip wajah adik wanitanya. Sikap semacam ini dikatakan oleh Lévi-Strauss sebagai hubungan negatif. Orang Trobriand biasanya bergaul sangat santai dan bersahabat dengan ayahnya, berdasarkan suatu sikap saling menolong, sebaliknya, suatu sikap yang formal dan menghormati apabila seseorang berhadapan dengan pamannya dari pihak ibu.

Selain menganalisis hubungan kekerabatan keluarga inti, Lévi-Strauss juga mengamati sistem perkawinan antara kelompok kekerabatan. Pada dasarnya konsepsi tukar-menukar wanita antar kelompok berawal dari konsepsi pantangan inseste, yaitu pantangan nikah antara saudara sekandung. Setiap orang dari satu kelompok akan mencari dan merebut wanita dari kelompok lain, hal ini mengakibatkan kelompok itu saling mempertahankan diri. Pada perkembangannya ada suatu kelompok tidak keberatan wanitanya diambil asalkan diganti dengan wanita dari kelompok yang mengambil tersebut. Proses tukar-menukar itu mengakibatkan terjalinnya hubungan kekerabatan antar dua kelompok tersebut dan tentu saja mengakibatkan kedua kelompok itu makin kuat. Hal serupa ditiru oleh kelompok lain. Akhirnya tukar-menukar wanita itu terjadi, semakin luas dan kompleks yang tersusun berdasarkan aturan-aturan yang membatasinya.

Lévi-Strauss mengemukakan teori umum mengenai sistem kekerabatan berdasarkan konsep tukar-menukar wanita, dimulai dengan membedakan golongan sistem kekerabatan dengan dua katergori struktur, yaitu; 1) structures élémentaires, atau struktur-struktur elementer dengan aturan-aturan yang tegas, yang mangakibatkan bahwa para warga kelompok kekerabatan yang bersangkutan mengetahui dengan gadis atau wanita mana, dari kelompok mana, mereka dapat menikah, dan 2) structures complexes atau struktur-struktur kompleks, dengan atauran-aturan yang hanya membatasi kelompok kekerabatan sendiri, tetapi tidak mempunyai aturan-aturan yang tegas, yang menentukan dengan gadis atau wanita mana di luar kelompok sendiri itu seseorang boleh menikah. Struktur-struktur elementaer terjadi sebagai akibat dari berbagai macam peraturan perkawin antara saudara sepupu silang (cousins croises), sedangkan struktur-struktur kompleks terjadi sebagai akibat dari usaha pria mendapatkan wanita untuk calon istrinya berdasarkan perjanjian mas kawin, pilihan sendiri, dan konsiderasi ekonomi lainnya, atau berdasarkan alasan-alasan politik.

Lévi-Strauss menyimpulkan teorinya, bahwa ada dua macam struktur elementer yang terjadi sebagai akibat dari cara tukar-menukar wanita, yaitu: 1) struktur ‘tukar-menukar terbatas’ (l’échange restraint), yang dapat dibagi dengan struktur ‘tukar-menukar kontinu (l’échange continue) dan struktur ‘tukar-menukar tak kontinu (l’échange discontinue), dan 2) struktur ‘tukar-menukar luas (l’échange généralisé).

Struktur tukar-menukar terbatas adalah struktur yang paling sederhana, karena dalam interaksi itu hanya diperlukan dua kelompok yang saling memberi dan saling menerima. Struktur tukar-menukar meluas memerlukan lebih dari dua kelompok, yaitu paling sedikit tiga, tetapi dapat juga empat, delapan, atau lebih. Struktur itu berfungsi paling rapi apabila satu kelompok memberi wanitanya kepada kelompok kedua, kelompok kedua memberi wantia kepada kelompok ketiga demikian seterusnya.

  1. KONSEP LEVI-STRAUSS MENGENAI AZAS KLASIFIKASI ELEMENTER

Pada bagian ini akan dijelaskan cara Lévi-Strauss dalam menjelaskan apa yang secara elementer dipergunakan oleh akal manusia untuk mengklasifikasikan seluruh alam semesta dan beserta segala isinya. Cara yang paling elemeter membagi alam semesta ke dalam dua golongan berdasarkan ciri-ciri yang saling kontras, bertentangan, atau merupakan kebalikannya yang disebut dengan cara binary opposition atau oposisi pasangan. Dua golongan ini bisa bersifat mutlak berupa gejala alam seperti bumi/langit, suatu keadaan seperti hidup/mati, mahluk seperti manusia/binatang, kaum kerabat penerima gadis/kaum kerabat pemberi gadis, dan lain sebagainya.

Konsep elementar pembagian ke dalam dua golongan yang relatif, telah menimbulkan konsep akan adanya golongan ketiga yang bisa menempati kedua kedudukan dalam kedua pihak dari satu pasangan binari. Pihak ketiga itu dalam cara berfikir bersahaja dianggap merupakan suatu golongan antara yang memiliki ciri-ciri dari kedua belah pihak, namun tidak tercampur, melainkan saling terpisah dalam keadaan yang berlainan.

Sebagai contoh konsep pembagian tentang jenis kelamain manusia, yaitu ada laki-laki dan wanita. Kedua ini menunjukkan oposisi binner yang saling berlawanan akan tetapi berpasangan. Namun diantara katagori yang dua ini, kita juga mengenal kategori ketiga di muka bumi ini, yakni kaum waria. Kategori seperti ini yang dimaksud oleh Lévi-Strauss dengan kategori yang memiliki ciri-ciri dari kedua belah pihak, yaitu ciri laki-laki dan perempuan.

Teori klasifikasi ini dipergunakan oleh Lévi-Strauss untuk menganalisis ratusan mitos, terutama yang berada di benua Amerika. Pada kenyataanya menurut Lévi-Strauss hampir secara universal, manusia dalam akal pikirannya merasakan dirinya kerabat atau berhubungan dengan hal-hal tertentu dalam alam semesta sekelilingnya, atau dengan manusia-manusia tertentu dalam lingkungan sosial budaya, yaitu dia merasa dirinya bertoteman dengan hal-hal itu.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa totemisme bukanlah hal yang istimewa, yang hanya ada dikalangan orang-orang primitif saja. Struktur berfikir seperti orang primitif dalam memperlakukan totem juga terdapat dalam struktur berfikir manusia modern. Dengan jelas Lévi-Strauss menunjukkan bahwa totemisme pada dasarnya tidak lebih dari suatu bentuk sistem klasifikasi yang diterapkan oleh manusia pada dunia sosialnya dengan menggunakan sarana atau konsep-konsep yang diambil dari lingkungan alam di sekitar mereka. Oleh Lévi-Strauss disebut dengan “the science of the concrete”. Sains seperti ini menurut Lévi-Strauss tidak beda prinsipnya dengan sains modern yang kita miliki. Bedanya hanya terletak pada sarana yang kita gunakan. Kalau kita melakukan klasifikasi atas dunia disekeliling kita dengan membuat konsep-konsep baru, maka tidak demikian halnya dengan suku-suku bangsa yang mengenal totemisme. Mereka menggunakan konsep-konsep yang telah mereka miliki, yang mereka pakai untuk mengkatergorisasikan lingkungan di sekitar mereka, untuk menyampaikan ide-ide absrak mereka.

Hal semacam ini dimungkinkan karena mereka dapat melihat kesejajaran atau homologi antara fenomena alam dengan fenomena sosial mereka. Cara kerja seperti ini mirip dengan cara kerja tukang atau ‘bricoleur’, yang jika ingin membuat sesuatu dia melakukannya berdasarkan atas apa-apa yang telah dimilikinya lebih dulu. Dengan apa yang ada itulah dia membuat suatu barang baru yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Cara kerja ‘tukang’ ini menurut Lévi-Strauss tumbuh pada suku-suku bangsa yang masih primitif.

Cara kerja seperti itu juga dipergunakan oleh seorang ‘engenieur’. Seorang insinyur jika ingin membuat sesuatu akan lebih dulu merencanakan apa yang akan dibuatnya, dan baru kemudian dia akan mencari alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu tersebut. Totemisme, menurut Lévi-Strauss, pada dasarnya adalah suatu bentuk klasifikasi atas dunia alam dan sosial dengan cara yang digunakan oleh seorang tukang. Masyarakat-masyarakat primitif atau sederhana menggunakan perangkat yang ada, yakni kategori-kategori dari alam, untuk mengekspresikan pandangan dan pengetahuan mereka tentang dunia sosial mereka.

  1. PENGARUH STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
  •   Di Belanda

Para ahli antropologi di negeri Belanda ada konsep-konsep klasifikasi dualisme serta oposisi pasangan sebelum di negara itu muncul karya-karya Levi-Stauss, dan karena itu lepas dari Levi-Stauss juga, timbul suatu metode analisa data etnografi, khususnya data mitologi dan data sistem kekerabatan di antara berbagai suku bangsa di berbagai daerah di Indonesia , yang mengandung banyak persamaan dengan Levi-Stauss.

  •  Di Inggris

Jurusan-jurusan antropologi  di Universitas di Inggris sejak dasawarsa terakhir buku-buku karya Levi-Stauss merupakan bacaan wajib untuk dapat lulus ujian bagi semua mahasiswa antropologi. Ini tentu tidak berarti bahwa ahli antropologi lulusan salah satu universitas di Inggris terpengaruh gagasan -gagasan Levi-Stauss.

  • Di Amerika Serikat

Levi-Stauss memperoleh pengaruh yang sangat luas di kalangan para ahli antropologi di Amerika Serikat. Pengaruhnya itu sedemikian luasnya sehingga untuk meninjau dan meringkas seluruhnya itu diperlukan buku yang khusus. Sementara itu terdapat karya tokoh antropologi di Amerika yaitu C. Kluckhohn dan James J. Fox.