Melihat Reaktor Nuklir Indonesia di BATAN Serpong yang Mengolah 10 Kg Uranium

Melihat Reaktor Nuklir Indonesia di BATAN Serpong yang Mengolah 10 Kg Uranium

Bila bicara soal isu reaktor nuklir pasti tak jauh-jauh dari Korea Utara atau Irak. Berbagai isu seram juga kerap terdengar. Atau kisah seperti bocornya reaktor nuklir di Fukushima, Jepang dan ledakan Chernobyl kerap menjadi kisah horor akan bahaya nuklir.

Nah, lepas dari soal kisah dari negara lain, kali ini soal reaktor nuklir di Indonesia, tepatnya di Serpong, Tangerang. Sudah sejak tahun 1980-an reaktor ini ada. Reaktor ini dibangun di era Menristek Habibie, dan menggunakan teknologi Jerman dalam prosesnya.

“Reaktor ini aman,” kata Staf BATAN Yusi Eko Yulianto yang menemani sejumlah wartawan saat berkunjung pada Rabu (20/5) lalu.

Reaktor nuklir ini ada di komplek Badan Tenaga Nuklir Nasional di Serpong. Di lahan puluhan hektar itu ada satu gedung yang menjadi tempat reaktor nuklir namanya reaktor GA Siwabessy.

Sejumlah wartawan yang diundang L’Oreal Girls in Science berkesempatan masuk ke dalam reaktor. Sebelum masuk, seluruh wartawan tidak diperbolehkan membawa kamera, HP, atau perekam. Staf dari BATAN, Yusi kemudian memberi penjelasan soal reaktor nuklir.

“Ini dibangun tahun 80-an, di sini tidak usah khawatir soal radiasi. Kami menerapkan prosedur yang ketat,” jelas Yusi.

Yusi menjelaskan soal proses pengolahan uranium dan prosedur keamanan. Reaktor nuklir ini menghasilkan listrik 30 megawatt, tetapi tak digunakan. Hasil pengolahan nuklir di Serpong lebih digunakan untuk kesehatan, berupa isotop yang digunakan untuk pengobatan kanker.

Kemudian, sebelum masuk melihat reaktor, rombongan wartawan diminta memakai baju seragam serta alas sepatu. Tak lama naik ke lantai tiga menggunakan lift. Ada dua lapis pintu tebal sebelum masuk ke ruangan reaktor.

“Di ruangan ini harus dingin,” terangnya.

Setelah masuk melewati pintu dari baja yang tebal, sampailah di ruangan yang cukup dingin. Di ruangan itu ada kolam dan di dalam kolam ada alat reaktor yang mengolah uranium.

“Di sini ada uranium 10 Kg. Itu lihat airnya berwarna biru, itu pancaran proses dari uranium,” tambah Yusi.

Uranium itu diproses sekitar 10 tahun sebelum kemudian diganti. Indonesia membeli dari sejumlah negara antara lain AS, Prancis, dan Rusia.

“Setelah diproses setelah selesai dan tak dipakai lagi uraniumnya dikembalikan ke negara asal,” tambahnya.

Soal kerisauan akan kebocoran dan gempa, Yusi meminta tak perlu khawatir. Lokasi dibuat dengan teknologi yang aman dan tahan goncangan.

Lalu apa bedanya dengan reaktor di negara-negara lain menggunakan nuklir? “Kalau mereka memakai ribuan Kg uranium, di kita hanya 10 Kg saja dan digunakan untuk kesehatan. Kalau di negara lain digunakan untuk macam-macam,” tutur dia.

Setelah 20 menit di dalam ruangan reaktor yang dingin, para wartawan diajak keluar. Namun sebelum keluar diperiksa di sebuah alat apakah terkontaminasi radiasi atau tidak.

“Bila mesin menyala merah maka ada terkena radiasi, tapi semua aman kan hijau semua,” tutup Yusi kepada wartawan yang kemudian pergi meninggalkan reaktor.

Sumber artikel ini ,
Semoga bermanfaat 🙂 ,

Published by

ruddi

Tertarik dengan ilmu pengetahuan alam dan teknologi ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.