Antropologi Terapan

 

Antropologi Terapan

  • Dalam kajian Antropologi kita dituntut untuk mempelajari apa-apa yang dilakukan oleh manusia yang itu menjadi kebiasaan,namun jika kita memaparkan semua yang ita omongkan tidak ada salahnya karena omomgan terebut bisa menjadikan pembelajaran dan kesan dari diri ita yang kita ingat, omomgan-omongan tersebut bisa menjadi fakta maupun hanya omong kosong maka sebagai antropolog kita harus memperhatikan saat seseorang mengomongkan sesuatu, karena omongan yang meyakinkan belum tentu sepenuhnya benar dan yakin oleh orang lain.

Antropologi itu kasat mata, jika seperti apa memang tidak bisa dilihat dengan mata kita tidak akan tahu jika melihat kebiasaan orang lain sebagai antropologi , namun bisa dirasakan dengan cara kegiatan sehari-hari yang biasa kita lakukan seperti makan,minum dan tidur merupakan wujud nyata dari antropologi.

  • Antropologi merupakan kajian tentang kebudayaan atau gambaran tentang kebudayaan ,karena apa-apa yang menurutnya tentang budaya itulah antropologi. Semua hal dan kebiasan yang dilakukan menjadi kebiasaan dan tradisi merupakan salah satu pokok utama bentuk antropologi, antropologi itu tidak bisa kita ketahui kebenaranya karena bersifat abstrak namun antropologi bisa kita rasakan dengan diri kita dengan mengamatinya secara visual. Jika terkadang sistem sosial budaya yang disangkutkan dengan antropologi memang termasuk dengan antropologi karena itu merupakan kebiasaan-kebiasaan yang selalu dilakukan dan menjadi kebiasaan lalu, menjadikan sebuah simbol-simbol di daerah tertentu yang hanya di mengerti oleh orang-orang daerah tertentu. Contoh dari antropologi ini adalah tradisi slametan atau pesta komunal yang dilakukan orang jawa, biasanya dilakukan sore hari setelah magrib ataupun sesudah solat isya. Slametan ini dilakukan oleh para pria yang berdoa untuk mendoakan orang yang di slameti tersebut untuk di berikan keberkahan terhadap Tuhan. Sedangkan para wanitanya ikut slametan namun bekerja di belakang di dapur untuk mempersiapkan hidangan –hidangan pada saat slametan, nah itulah kebudayaan jawa yang sampai sekarang masih ada dan eksis.
  • Jadi antropologi yang akan dibangun di dalam masyarakat adalah antropologi yang menuntut zaman saatberkembang jadi mengikuti perkembangan zaman, dari hal-hal yag baru, sebagai antropolog kita harus menjadi antropolog yang cerdas dengan cara melakukan riset-riset mengenai antropologi, dengan mengungah kasus-kasus yang baru dan jarang, nah jadi kita secara otomatis memperbarui dan membangun kebudayaan-kebudayan yang baru lewat antropologi tersebut,jadi kita selain melakukan penelitian kita juga membangun kebudayaan atau menemukan hal baru dari masyarakat di lingkungan kebudayaan untuk di bangun di zaman yang baru sebagai pemaparan antropologi.
  • Pastinya antropologi akan di bawa ke dalam lingkup masyarakat , yang memiliki keragaman-keragaman budaya yang menarik, jadi antropologi tidak hanya di bawa di dalam diri kita ataupun di dalam diri masyarakat, karena banyak hal-hak yang menarik lainya yang bisa kita kaji melalui antropologi, karena di zaman sekarang ini susah dan sulit untuk menebak dan ditebak tentang presepi orang dan kebudayaan,nya yang akan di kaji tersebut,tidak mudah dan bukan secara instan, butuh waktu berbulan-bulan dan juga bisa bertahun-tahun untuk mengetahui serta mendalami sifat,tingkah laku dan kebiasaan yang dilakukan masyarakat tersebut, belum juga nantinya kepastiaan yang sudah menjadi titik fokus kita kan mengalami perubahan dari informan yang kita wawancarai saat kita melakukan riset, maka dari itu sebagai antropolog kita harus jeli dan pintar-pintar dalam mengambil kesimpulan agar kita dapat mendapatkan informasi yang benar,nyata dan juga bukan abal-abal yang nantinya tidak sesuai dengan kebudayaan yang dilakukan masyarakat tersebut di dalam lingkungannya.
  • Sebenarnya jika menurut aliran-aliran yang kita ketahui bersifat positif kenapa tidak kita ikuti, karena itu juga bermanfaat bagi diri kita sebagai antropolog, sejauh mana perkembangan informasi dari aliran yang berkembang tersebut. Apakah masih asli kebudayaan yang diturunkan oleh leluhurnya ataukah sudah terjadi pergeseran atau modifikasi kebudayaan yang dialami oleh kebudayaan masyarakat tersebut. Dalam kasus ini kita bisa mengambil positif dan negatif , dari kasus yang positif dari aliran yang tidak berubah meskipun mengalami perkembangan yang pesat di zaman globalisasi saat ini. Contoh di pulau bali beragam kebudayaan yang asli dan yang kuat begitu jelas akan kebergaman budayanya , saat Bali melakukan ritual atau hari raya nyepi semua yang berhubungan dengan kegiatan mausia dihentikan pada saat hari raya nyepi,bahkan bandara pun tutup. Tak hanya itu umat muslim yang berada di bali juga meghormati dengan rasa toleransi terhadap hari raya nyepi dengan cara tidak gaduh, jadi aliran yang seperti inilah dari dahulu hingga sekarang yang harus dipertahankan. Dari segi pandang negatif dari perubahan aliran antropologi ini adalah aliran ini menghendaki perubahan yang mengikuti zaman seperti masyarakat papua yang begitu hebat dan kuat kebudayaan yang khas, namun sejatinya di Papua terkenal dengan kebudayaan yang sering dikenakan oleh Masyarakat papua yaitu koteka yang dikenakan sehari-hari menjadikan simbol dari rakyat papua yang merupakan kebudayaanasli dan ciri khas dari Papua, namun secara perkembangan zaman di Papua malah tidak diberlakukan lagi memakai koteka, malah sekarang jarang yang mengenakan koteka, karena sesuai kebutuhan perkembangan zaman rakyat papua mengenakan kaos ataupun baju sebagai penganti koteka untuk menutupi tubuhnya itu. Sangat disayangkan karena aliran antropologi tersebut merupakan warisan leluhur yang wajib di jaga untuk diajarkan kepada generai-generasi penerus bangsa, namun apa daya perkembangan zaman telah mengerus kebudayaan yang asli tersebut.

Sebagai antropolog yang baik kita harus benar-benar faham untuk membuat kesimpulan dari masalah-masalah aliran yang mengendaki perubahan terencana agar tetap ada, jadi harus berjuang untuk memperjuangkan keaslian budaya dan bukan membiarkan kebudayaan tergerus oleh zaman yang berkembang inni.

  • Sebenarnya perlu atau tidak perlunya perubahan terencana tersebut itu terganttung oleh manusianya sendiri, karena manusia yang membuat ,melakukannya dan merusaknya sendiri,jadi jika ada keperluaan perubahan kebudayaan yang terencana tersebut meskipu iti ada segi positifnya ,namun secara tidak sadar perubahan yang kita rubah dari kebudayaan asli yang kita rubah ataupun kita modifikasi, secara otomatis kita juga merusak kebudayaan asli tersebut, meskipun tujuannya baik untuk mengkuti arus perkembangan zaman namu itu kurang efisien untuk memerindah dan mempertahankan kebudayaan, sebagai cari amanya kita harus menggambil jaan tengahnya supaya perubahan yang terencana tidak sepenuhnya dibutuhkan sebagai perubahan yang terencana.
  • Pandangan dari setiap orang memang berbeda, namun ketika penjabaran-penjabaran yang jelas dari keberagaman budaya tersebut memberikan gambaran yang jelas dan terbukti dari kebudayaan tersebut yang dilakukan sat riset, dirasakan menurut saya meskipun melakukan cara yang berbeda-beda dalam melakukan riset pasti tujuannya sama untuk meneliti kebudayaan dari setiap daerah-daerah masing-masing yang berbeda. Jika orang yang baru belajar antropologi ,kita bisa memberitahu bagaimana itu antropologi dan apa itu antropologi,nah jika kita memberikan gambaran-gambaran tentang antropologi secara jelas dan menarik pasti penjelasan tentang antropolgi yang kita transfer terhadap teman kita yang masih belajar tersebut akan semakin yakin ,senang dan terngiang-ngiang berkat penjelasan antropologi kita yang menarik. Jadi teman kita yang belajar tersebut akan semakin semanggat untuk mempelajari antropologi. Jika nantinya setelah kita keluar dari jurusan antropologi antropologi akan dikemanakan itu tergantung oleh presepsi setiap masing-masing indivi ,karena menurut saya sendiri saya akan membawa antropologi dalam kehidupan say dan akan mempelajarinya lebih lanjut ke jenjang perkuliahan S2 bahkan sampai dengan desertasi saya akan mempelajari antropologi, jadi ketakutan dari antropologi yang akan dibawa kemana tidak akan dibawa hanya di bangku kuliah , namun nantinya akan dibawa untuk memberikan pengajaran terhadap mahasiswa-mahasiswa yang saya ajarkan nantinya.
  • Pada nantinya akan memposisikan antropologi yang bagaimana, yaitu memposisikan antropolog sebagai calon pengajar di dalam proses kegiatan belajar mengajar. Jadi memposisikan diri menjadi antropolog yang cerdas dan mampu memberikan materi-materi yang baik terhadap para calon pendidikan, namun tidak sekadar aktif di dalam untuk melakukan pengajaran, namun aktif diluar sebagai antropolog umumnya melakukan sebuah kegiatan penelitian-penelitian sebagai antropolog.
  • Saya lebih berorientasi kepada hal akademis, dikarenakan ilmu-ilmu antropologi yang sudah saya pelajari dan diterima di saat bangku perkuliahan,dirasa sangat perlu di transfer kepada calon-calon pendidik yang nantinya akan saya didik di dalam dunia pendidikan akademis, jadi ilmu yang saya terima pada saat belajar antropologi dan yang sudah di ajarkan oleh pendidik tidak hanya sampai dan berhenti di saya saja, karena itu nantinya akan diajarkan kepada calon –calon pendidik akademis.
  • Sebagai rancangan dan rencana yng kuat untuk tetap berdiri tegap pada antropologi kita harus banyak belajar-belajar dan terus belajar, karena tiada gading yang tak retak. Jika kita terus berusaha untuk menjadi yang terbaik nantinya kita akan terus berusaha menjadi yang terbaik. Jika dirasa kita gagal melakukan pengaplikasian terhadap ilmu antropologi,rasanya kita tidak etis, mengapa demikian kita belajar dan melakukan sebuah antrpologi setiap hari karena kita melakukan antropologi setiap saat yang tidak kita sadari,kenapa kita takut untuk gagal saat mengaplikasikan sebuah antropologi. Jika kita memilih sebuah aliran dipastikan sudah sesuai dan tepat untuk kita buat dipelajari dan mengambil kesimpulannya ,intinya sudah diperkirakan apa-apa yang akan terjadi dan akan dihadapi nantinya, dan sudah mempunyai senjata yang hebat untuk membuat dan melawan rasa ketidak tegasan saat memilih aliran-aliran landasan yang menjadi pemikiran ke depan.

 

 

Referensi

Geertz,Clifford.2013.Agama Jawa Abangan,Santri,Priyayi dalam kebudayaan jawa.Depok: Komunitas Bambu.

 

1 comment

  1. Terimakasih dapat menambah wawasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar