EKSPLOITASI PADA PEREMPUAN SALES PROMOTION GIRLS

Abstrak
Terjadi perubahan posisi perempuan yang semula hanya berada di sektor domestik,
kini beralih ke sektor publik. Kondisi di perkotaan yang relatif lebih heterogen
membuka peluang perempuan untuk bekerja di berbagai bidang, salah satunya
adalah sales promotion girls (SPG). Dalam penelitian ini, penulis mengeksplorasi
bagaimana profil SPG dan eksploitasi yang dialaminya. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi
dalam pengambilan datanya. Penampilan cantik dan menarik menjadi modal
utama dalam pekerjaan ini. Sales Promotion Girlspada industri rokok dan minuman
berumur sekitar 21-30 tahun dengan jam kerja sekitar 5-7 jam perhari. Alasan
bekerja di bidang ini adalah bahwa bidang ini merupakan pekerjaan ringan dan
tidak memerlukan pendidikan yang tinggi, walaupun di sisi lain mereka hanya
mendapatkan upah yang rendah. Perempuan dalam pekerjaan ini seringkali
mengalami eksploitasi fisik berupa pelecehan seksual dan eksploitasi ekonomi
berupa waktu kerja yang sampai malam hari dan tidak terpenuhinya hak-hak pekerja
perempuan seperti faktor keselamatan dan hak untuk cuti. Dengan kondisi seperti
ini, maka perlindungan terhadap perempuan bekerja pada umumnya dan sales
promotion girlspada khususnya menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Abstract
A change in economic condition in Indonesia brings about a change of woman position,
from formerly domestic sector to recently public sector. Urban areas that is relatively more
heterogeneous than rural ones open opportunities for women to work in various fields, one of
which is sales promotion girls (SPG). In this study, the author seeks to explore the SPG profile
and the exploitation they experienced. The method used in this study are qualitative approach,
with observation, interviews, and documentation. The research uncovered the following facts.
Beautiful and attractive appearance becomes a priority in this work. Sales promotion girls on
cigarettes and beverage industry are about 21-30 years old with working hours of about 5-7
hours per day. The reason for choosing this job is that it is an easy job and does not require
higher education, although the wages is low. Women in these jobs often experience physical
and sexual exploitation, also economic exploitation of labor. They have to work until very
late, andand they do not have the rights of women workers such as safety and the right to have
time off. Considering these conditions, the protection of working women in general and sales
promotion girls in particular become very important thing that must be considered.
© 2012 Universitas Negeri Semarang
Info Artikel
Sejarah Artikel:
Diterima Juni 2012
Disetujui Juli 2012
Dipublikasikan September
2012
Keywords:
Exploitation;
Sales promotion girl;
Women.

Alamat korespondensi:
Jl. Sumur Umum Doplang, Blora, Jawa Tengah, Indonesia, 54423
E-mail: nur_afta@yahoo.com
ISSN 2086-5465
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
140
PENDAHULUAN
Dewasa ini terjadi perubahan paradigma
pada perempuan menyangkut peran yang
disandangnya dalam masyarakat. Perempuan
kini tidak lagi memegang peran tunggal,
namun mengembangkan peran ganda. Hal ini
terjadi karena perubahan peran perempuan
yang semula hanya bekerja di sektor domestik
mulai merambah juga ke sektor publik sehingga
menyebabkan perubahan struktur sosial yang
memberi bentuk baru pada peranan perempuan
dalam keluarga dan masyarakat. Pekerjaan
perempuan di sektor publik pun tersedia dalam
berbagai bidang.
Walaupun demikian sebagian besar
profesi yang tersedia untuk perempuan masih
berkisar pada pekerjaan yang kurang memiliki
prestise dan tuntutan ketrampilan khusus.
Pekerjaan perempuan sebagai Sales Promotion
Girlsrokok dan minuman merupakan salah satu
contoh. Profesi ini lekat dengan kesan hanya
mengandalkan modal fisik semata. Dengan
alasan tuntutan pekerjaan, tidak jarang mereka
terpaksa harus menampilkan diri dengan
pakaian minim dan dandanan menor untuk
menarik banyak pembeli dari pangsa pasar
yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Pekerjaan dan penampilan mereka tidak
jarang mengundang resiko pelecehan. Kondisi
ini diperburuk dengan tidak adanya sistem
perundang-undangan yang melindungi pekerja
dalam sektor informal, termasuk di dalamya
adalah perempuan yang bekerja sebagai
Sales Promotion Girls.  Menurut Syamsudin,
wanita memang diciptakan indah, cantik dan
mempesona. Kesempatan ini tidak dilepaskan
oleh kaum kapitalis bagi pengembangan
usaha mereka. Wanita dan dunia usaha/ bisnis
adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Hampir
bisa dipastikan di setiap bidang bisnis: film,
sinetron, telivisi, radio, iklan, perdagangan, dll.
selalu melibatkan wanita didalamnya. Selain
itu, kaum kapitalis sebenarnya memegang
posisi kunci dalam setiap bisnis yang banyak
melibatkan kaum wanita tersebut (2006: 2).
Dari latar belakang tersebut, rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana
profil perempuan yang bekerja sebagai Sales
Promotion Girlsrokok S dan minuman S; dan
bagaimana bentuk eksploitasi yang dialami
Sales Promotion Girlsrokok S dan minuman
S?
Keterlibatan perempuan dalam
perekonomian ternyata tidak menyelesaikan
masalah yang selama ini menghimpit
perempuan. Masalah lain muncul ketika
perempuan memutuskan untuk bekerja di luar
rumah. Conyers (2000) menyatakan bahwa
kaum perempuan hampir selalu mengalami
diskriminasi dalam hal perolehan imbalan,
peningkatan kelas pekerjaan dan dalam
keamanan kerja.
Fakih (1999:12-23) mengemukakan
ketidakadilan gender yang termanifestasikan
dalam pelbagai bentuk ketidakadilan. Pertama
yakni marginalisasi atau proses pemiskinan
ekonomi. Proses marginalisasi yang
mengakibatkan kemiskinan sesungguhnya
banyak sekali terjadi dalam masyarakat dan
negara yang menimpa kaum laki-laki dan
perempuan, misalnya penggusuran, bencana
alam atau proses eksploitasi. Namun ada salah
satu bentuk pemiskinan atas satu jenis kelamin
tertentu, dalam hal ini wanita disebabkan oleh
gender. Dari segi sumbernya bisa berasal dari
kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran
agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau
bahkan asumsi pengetahuan. Marginalisasi
wanita tidak saja terjadi di tempat pekerjaan,
namun juga terjadi dalam rumah tangga,
masyarakat atau kultur, bahkan negara.
Subordinasi atau anggapan tidak penting
dalam keputusan politik, yaitu pandangan
gender ternyata bisa menimbulkan subordinasi
terhadap wanita. Anggapan bahwa wanita itu
irasional atau emosional sehingga wanita tidak
bisa tampil memimpin, berakibat munculnya
sikap yang menempatkan wanita pada posisi
yang tidak penting. Misalnya, dalam rumah
tangga masih sering terdengar jika keuangan
keluarga sangat terbatas, dan harus mengambil
keputusan untuk menyekolahkan anak-anaknya
maka anak laki-laki akan mendapat prioritas
utama. Praktik seperti itu sesungguhnya
berangkat dari kesadaran gender yang tidak
adil.
Kedua, pembentukan stereotip atau
melalui pelabelan negatif, yaitu secara umum
stereotip adalah pelabelan atau penandaan
suatu kelompok tertentu. Pada umumya
stereotip selalu merugikan dan menimbulkan
141
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
ketidakadilan. Stereotip yang diberikan pada
kelompok sosial tertentu, misalnya TKW asal
Indonesia telah merugikan TKW itu sendiri.
Selain itu masyarakat beranggapan bahwa
wanita adalah melayani suami. Stereotip ini
berakibat wajar sekali jika pendidikan kaum
wanita dinomorduakan. Stereotip ini terjadi
di mana-mana. Banyak peraturan pemerintah,
atau aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan
masyarakat yang dikembangkan karena
stereotip tersebut.
Ketiga, kekerasan (violence), adalah
serangan atau invasi (assault) terhadap fisik
maupun integritas psikologis seseorang, yaitu
kekerasan terhadap sesama manusia pada
dasarnya berasal dari berbagai sumber, namun
salah satu kekerasan terhadap salah satu jenis
kelamin tertentu pada umumnya disebabkan
oleh anggapan gender. Kekerasan yang
disebabkan oleh bias gender ini disebut gender-related violence. Kekerasan gender disebabkan
oleh ketidakadilan kekuatan yang ada dalam
masyarakat, wujudnya antara lain tindak
pemukulan, pelecehan seksual, memegang
organ tanpa kerelaan, perkataan yang
merendahkan dan lain sebagainya. Keempat,
beban kerja lebih panjang dan lebih banyak,
yaitu adanya anggapan bahwa kaum wanita
memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak
cocok untuk menjadi kepala rumah tangga,
berakibat bahwa semua pekerjaan domestik
rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum
wanita. Konsekuensinya banyak kaum wanita
yang harus bekerja keras dan lama untuk
menjaga keberhasilan dan kerapihan rumah
tangganya, mulai dari membersihkan dan
mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari
air untuk mandi hingga memelihara anak.
Persoalan kemiskinan juga menjadi
kendala yang dihadapi oleh perempuan. Gejala
kemiskinan di kota erat kaitannya dengan
langkanya peluang kerja yang produktif.
Langkanya peluang kerja membuat masyarakat
dari lapisan bawah makin sulit memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Perkiraan
kebutuhan hanya mengacu pada kebutuhan
pokok atau dasar minimum untuk hidup layak.
Bila pendapatan seseorang atau keluarga tidak
memenuhi kebutuhan minimum, maka orang
atau keluarga itu dapat dikategorikan miskin.
Tingkat pendapatan atau kebutuhan minimum
merupakan garis pembatas antara miskin dan
tak miskin. Jadi kemiskinan tidak lahir dengan
sendirinya juga tanpa sebab, tetapi kemiskinan
lebih disebabkan oleh faktor ekonomi, politik
dan sosial (Cahyono,2005:9).
Keterbatasan perempuan sebagai
individu (human capital) dalam hal
pendidikan, pengalaman dan keterampilan
kerja, kesempatan kerja dan faktor ideologis
menyebabkan perempuan memasuki dunia kerja
yang berubah rendah sehingga kemungkinan
besar perempuan dieksploitasi. Keadaan ini
merupakan gejala diskriminasi dan perempuan
tersegmentasi pada sektor sekunder atau sektor
informal yaitu yang berupah rendah, peluang
yang ada terbatas, kesempatan promosi kecil,
dan jaminan sosial tidak tersedia (Abdullah,
2003:222).
Sagala dan Rozana (2007 :21)
mengemukakan bahwa terdapat lima bentuk
eksploitasi yaitu: 1) Eksploitasi seksual, dimana
mereka yang terlibat dalam kegiatan prostitusi,
pelayanan/pekerja seks, atau menjadi obyek
kegiatan pornografi yang dikarenakan oleh
ancaman pemaksaan, penculikan, diperlakukan
dengan salah, menjadi orang yang dijual
(debt bondage) atau karena menjadi korban
penipuan; 2) Kerja paksa (forced labour)
: segala bentuk pekerjaan atau pelayanan
yang di dapat (pelaku) dengan menggunakan
tenaga orang yang berada di dalam ancaman
hukuman dan orang tersebut bekerja melayani
tanpa keinginannya sendiri secara sukarela; 3)
perbudakan (slavery) : keadaan (status) dan
kondisi seseorang terhadap siapa hak pemilikan
(dari orang lain) diberlakukan terhadapnya; 4)
pengahambatan : status atau kondisi orang-orang yang berdiam di atas tanah milik orang
lain yang menurut hukum kebiasaan atau
perjanjian terikat untuk hidup dan bekerja di
atas tanah tersebut dan wajib mengabdi kepada
orang tersebut, baik dengan imbalan maupun
tidak dan ia tidak bebas mengubah statusnya
itu; dan 5)Pengambilan organ-organ tubuh:
trafficking dari pengambilan organ-organ tubuh
hanya muncul jika seseorang dipindahkan untuk
tujuan pemindahan organ dan protokol ini tidak
mengatur jika hanya berupa pemindahan organ
(organ yang dipindahkan sudah tidak berada
dalam tubuh lagi).
Labelling theoryatau teori penjulukan
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
142
berakar dari teori interaksi simbolik (Rudianto,
2003). Teori interaksi simbolik mementingkan
adanya proses pertukaran dan negosiasi
norma-norma yang sebelumnya sudah dimiliki
individu. Dalam proses ini diyakini terjadi
bawa masing-masing individu telah memiliki
nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi
landasannya melakukan tindakan individual
dan tindakan sosial. Sehingga dalam proses
interaksi, nilai-nilai dan norma-norma ini
memerlukan konvensi sebagai penguatan
kedudukan nilai-nilai itu beserta masing-msing pemiliknya. Dengan demikian label
yang melekat pada seseorang atau kelompok
bukanlah merupakan ciri atau karakter yang
muncul begitu saja secara internal, melainkan
merupakan hasil dari kesepakatan-kesepakatan
antar anggota masyarakat dalam proses
interaksi sosial.
Teori penjulukan (labelling theory)
mengatakan bahwa proses penjulukan dapat
membuat individu atau kelompok menyetujui
label-label yang diberikan masyarakat tanpa
protes sehingga citra diri asli objek pelabelan
hilang digantikan citra diri baru yang diberikan
orang lain (Sukirman, 2007).
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, digunakan
pendekatan kualitatif. Subyek penelitian
adalah perempuan yang bekerja sebagai
Sales Promotion Girlsproduk rokok merek S
dan minuman S. Jalan Pemuda dan kawasan
lapangan Simpang Lima, Pasar Johar, dan
pusat-pusat perbelanjaan yang ada di kota
Semarang diambil sebagai lokasi penelitian,
dengan alasan merujuk pada lokasi strategis
dimana  Sales Promotion Girls  mudah
ditemukan. Data primer diperoleh melalui
wawancara dan observasi terhadap Sales
Promotion Girlsproduk rokok S dan minuman
S, sedangkan data sekunder diperoleh dari
kantor BPS Kota Semarang dan dari kantor
kepala distributor produk rokok S dan
minuman S Group berupa dokumentasi
mengenai ketenagakerjaan Sales Promotion
Girls. Sedangkan untuk validitas data
menggunakan teknik triangulasi, dan teknis
analisis data dengan model interaktif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan kota Semarang
semakin pesat sebagai kota perdagangan,
perhubungan dan industri, sekaligus
sebagai ibu kota propinsi. Berbagai industri
bermunculan dan berkembang, diantaranya
adalah industri rokok (S) dan minuman
(S). Dua nama tersebut merupakan pemain
besar dalam bidangnya masing-masing.
Ketatnya persaingan dalam bisnis tersebut
membuat para produsen menciptakan
strategi pemasaran yang efektif untuk dapat
meningkatkan jumlah penjualan. Salah
satu upaya meningkatkan penjualan adalah
dengan menggunakan jasa Sales Promotion
Girls.
Sales Promotion Girlsyang menjadi
subjek penelitian ini adalah para  Sales
Promotion Girlsregular pada industri rokok.
Sedangkan pada industri minuman, Sales
Promotion Girlsyang diteliti adalah mereka
yang terlibat dalam acara-acara dimana
minuman tersebut menjadi sponsornya.
Profil perempuan  Sales Promotion Girls
adalah berumur antara 19-30 tahun, dengan
status belum maupun sudah menikah; secara
fisik relatif cantik dan menarik; tingkat
pendidikan Sales Promotion Girlsmayoritas
tamatan SMA, dan sebagian kecil lainnya
tamatan D3 bahkan sarjana.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi
perempuan memilih bekerja sebagai Sales
Promotion Girlsantara lain adalah faktor
ekonomi, yaitu untuk mendapatkan
tambahan penghasilan sehingga mampu
untuk memenuhi keperluan hari-hari
dan meningkatkan derajat perekonomian
perempuan. Konsep ini agaknya dapat
menyelesaikan permasalahan pembakuan
peran seperti yang selama ini dipahami
sebagian masyarakat sebagai sesuatu
yang tidak dapat ditawar. Hal inilah yang
disebut sebagai konsep peran ganda seperti
dimana perempuan tidak lagi melulu harus
berkutat di sektor domestik, tetapi juga dapat
merambah sektor publik (Supartiningsih,
2003 : 50).
Informan yang diteliti adalah tiga orang
yang sudah menikah yaitu dua yang bekerja
sebagai  Sales Promotion Girlsminuman
143
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
dan satu orang yang bekerja sebagai Sales
Promotion Girlsrokok. Dari informan yang
sudah menikah ternyata penghasilan suami
tidak tetap dan pendapatan yang diperoleh
suami sebenarnya tidak mampu mencukupi
kehidupan sehari-hari, sehingga perempuan-perempuan ini memilih bekerja sebagai Sales
Promotion Girlsuntuk menambah pendapatan
keluarga.
Sebagian Perempuan Sales Promotion
Girlsyang belum menikah juga mengaku
memilih bekerja sebagai Sales Promotion
Girlsuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut pengakuan mereka, meskipun
mereka masih mendapatkan uang dari
orangtua namun semakin tingginya harga-harga kebutuhan sehari-hari, biaya hidup
yang serba mahal, serta biaya kuliah yang
mahal membuat mereka harus bekerja
untuk menambah penghasilan. Biaya
yang diberikan oleh orangtua tidak dapat
mencukupi kebutuhan kuliah karena biaya
yang diperoleh dari orang tua tidak sebanding
dengan pengeluaran untuk memenuhi
kebutuhan kuliah. Tetapi ada juga yang
memilih bekerja sebagai Sales Promotion
Girlskarena tergiur gaji yang besar sehingga
kebutuhan sehari-hari dapat dengan mudah
terpenuhi. Hal ini diungkapkan oleh seorang
Sales Promotion Girlsrokok yang bernama Eki
(22 tahun):
Sopo seng gak gelem mbak nek entuk duit
okeh, bayangno wae sakdino entuk satus
seket ewu aku yo kepenak nak arep tuku
opo-opo iku juga aku iseh bisa wenehi
ibuku duit kanggo belanja kok, maklum
mbak wong tuoku cuma buruh garment.
(siapa yang tidak mau mbak, jika
mendapat uang banyak, bayangkan
saja satu hari dapat seratus lima puluh
ribu, saya ya enak kalau mau beli apa-apa itu juga saya masih bisa memberi
uang kepada ibu saya untuk belanja,
maklum orang tua saya hanya buruh
garment). (Wawancara, Juni 2011)
Selain faktor ekonomi, terdapat juga
faktor sosial. Sales Promotion Girlsdianggap
sebagai pekerjaan yang lebih baik posisinya
di masyarakat daripada pekerjaan lain yang
sama-sama tidak membutuhkan ketrampilan
khusus dan pendidikan tinggi, seperti
pelayan restauran, penjaga toko, dan lain
sebagainya.
Faktor lain yang mendorng seorang
perempuan bekerja sebagai Sales Promotion
Girlsjuga dikarenakan keinginan mereka
untuk bergaul. Bekerja merupakan salah
satu cara atau sarana seseoarng berinteraksi
dengan ornag lain. Dengan kata lain
bekerja adalah sebagai pengisi aktivitas atau
kesibukan sekaligus sebagai tempat bergaul
dan berkumpul dengan sesamanya. Pendapat
ini dikemukakan oleh seorang perempuan
Sales Promotion Girlsrokok yang bernama Eki
(22 tahun) :
Nak kerja kan asyik mbak, bisa ketemu
kanca dadi nek ono masalah neng omah
a tau masalah opo wae bisa ilang nak wes
mangkat kerja. Seneng lah kancane akeh
bisa tukar pengalaman pokoke wes koyo
sedulur dewe. Nak misale gak kerja juga
biasa kumpul podo jalan-jalan dadine
akeh koncone.
(kalau kerja asyik mbak, bisa ketemu
teman jadi kalau ada maslah di rumah
atau masalah apapun apa saja bisa
hilang kalau sudah berangkat kerja.
Senang temannya banyak bisa bertukar
pengalaman pokoknya sudah seperti
saudara sendiri. Kalau misalnya tidak
berangkat kerja juga bisa jalan-jalan
jadinya banyak teman). (Wawancara,
Juni 2011).
Menurut Asriwandari (2009),
kesempatan untuk perkembangan seluas-luasnya bagi perempuan membuat
perempuan mulai berani menunjukkan
keunggulannya dalam persaingan kerja dan
mengeluarkan pendapat. Dengan bekerja
perempuan dianggap mempunyai status sosial
yang lebih tinggi dan mendapat penghargaan
sosial dari masyarakat. Kesempatan bekerja
yang didapat oleh perempuan tidak secara
otomatis juga memberikan jaminan atas
keberadaannya dalam bekerja. Perempuan
seringkali mengalami hal yang kurang
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
144
menyenangkan sehubungan dengan
pekerjaan yang dilakukannya. Bahkan hal ini
dapat mengarah ke dalam bentuk eksploitasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), eksploitasi merupakan
suatu tindakan pemanfaatan untuk
kepentingan sendiri, pengisapan dan
pemerasan (tenaga orang) atas diri orang
lain dan merupakan tindakan yang tidak
terpuji. Eksploitasi yang dialami perempuan
dalam hal ini adalah salah satu bentuk
ketidakadilan gender.
Dalam mitologi Jawa adanya
anggapan bahwa perempuan bekerja adalah
hanya untuk membantu suami merupakan
salah satu faktor penyebab perempuan
dianggap remeh dalam dunia kerja dan
tentunya berdampak pula pada pendapatan
yang diperoleh perempuan bekerja.  Hal
ini diperparah dengan adaya pandangan
dari kaum kapitalis mengenai pembagian
kerja berdasarkan jenis kelamin. Kaum
laki-laki dianggap lebih unggul dan mampu
memproduksi barang produksi sedangkan
perempuan hanya bertugas sebagai
penyedia angkatan kerja. Dalam hal ini
perempuan hanya bertugas mengandung
dan memperbanyak keturunan yang
nantinya dijadikan sebagai tenaga kerja bagi
kaum kapitalis dan yang akan menunjang
keunggulan kaum laki-laki.
Pandangan kaum kapitalis ini
semakin menyudutkan kaum perempuan
dalam dunia kerja, yakni adanya anggapan
bahwa perempuan hanya bertugas
melanjutkan keturunan dan bekerja dalam
sektor domestik saja. Dasar inilah yang
menyebabkan perempuan menempati posisi
nomor dua dari laki-laki dalam dunia kerja
sehingga berdampak pula pada pendapatan
yang diperoleh perempuan.
Sales Promotion Girlsminuman tidak
bisa diperkirakan jam kerjanya Karena
bekerja sebagai Sales Promotion Girlsminuman
biasanya hanya bekerja pada saat ada
acara-acara tertentu. Pada umumnya Sales
Promotion Girlsyang bekerja pada industri
rokok adalah 5 jam. Sedangkan perempuan
yang bekerja sebagai Sales Promotion Girls
minuman bekerja biasanya bekerja sekitar
5-7 jam tergantung dari bentuk acara yang
Sales Promotion Girlsminuman ikuti. Dari
19 perempuan Sales Promotion Girlsrokok
dan minuman terdapat perbedaan jam kerja
di antara mereka. Jam kerja tersebut tidak
bersifat mengikat karena Sales Promotion
Girlsrokok bekerja berpindah-pindah dari
tempat satu ke tempat yang lain. Sehingga
banyak waktu terbuang untuk perjalanan ke
tempat tujuan. Dalam waktu tersebut belum
termasuk waktu istirahat dan makan.
Dalam peran ganda perempuan ini,
terdapat kondisi ketidakadilan yang diterima
oleh para perempuan. Menurut Khotimah
(2009), bahwa dalam pekerjaan seringkali
perempuan mengalami ketidakadilan karena
persoalan marjinalisasi dalam pekerjaan,
kedudukan perempuan yang subordinat
dalam sosial dan budaya, stereotype
terhadap perempuan, dan tingkat pendidikan
perempuan yang rendah.
Pendapatan yang diperoleh oleh
perempuan Sales Promotion Girls minuman
tergantung dari kesepakatan kontrak dengan
pihak perusahaan dan juga tergantung
dari berapa lamanya Sales Promotion Girls
bekerja pada setiap eventnya. Perempuan
Sales Promotion Girlsminuman S yang
diteliti biasanya mendapatkan gaji sekitar
Rp 50.000 per hari namun Sales Promotion
Girlsminuman S setiap harinya dituntut
untuk menjual produk minuman sesuai
target penjualan yang sudah ditentukan
oleh pihak perusahaan karena gaji Sales
Promotion Girls tergantung dari pencapaian
target penjualan produk. Pendapatan yang
diperoleh perempuan Sales Promotion Girls
rokok jika dihitung setiap minggunya bisa
mencapai satu juta lima puluh ribu itu
apabila Sales Promotion Girlsbekerja tiap hari.
Namun terkadang jika karena kesibukan
kuliah ataupun lainnya yang membuat Sales
Promotion Girlstidak berangkat kerja, maka
otomatis pendapatan mereka berkurang.
Pendapatan yang diperoleh oleh  Sales
Promotion Girlsrokok biasanya lebih banyak
jika mereka bekerja pada event-event
tertentu, yaitu antara Rp 150.000 hingga
sekitar Rp 250.000.
Pekerjaan sebagai SPG tidak
membutuhkan pendidikan yang tinggi. Hal
ini diungkapkan Anin (20 tahun):
145
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
Aku iki masih kuliah mbak, aku iki kerjo
kanggo sambilan tok aku ngalamar dadi
SPG nganggo ijazah SMA asale dadi SPG
kuwi rak perlu sekolah dhuwur-dhuwur
seng penting bisa adol barang sesuai targete
wae nek target penjualane tercapai yo
duwite akeh mbak tapi yo kadang diwenehi
bonus tapi bonuse biasane soko pembeli
kadang duwit jujulane diwenehke.
(Aku ini masih kuliah mbak, aku
bekerja hanya untuk sambilan. Aku
melamar jadi SPG memakai ijazah
SMA karena menjadi SPG itu tidak
perlu sekolah tinggi-tinggi yang
penting bisa menjual barang sesuai
targetnya kalau target penjualan
tercapai ya uangnya banyak mbak tapi
ya kadang diberi bonus tapi bonusnya
biasanya dari pembeli terkadang
uang kembaliannya diberikan).
(Wawancara, Juni 2011).
Sales Promotion Girlsrokok S dan
minuman S tugasnya adalah menjual barang
dagangan dengan memberikan penjelasan
mengenai keunggulan produk-produk yang
dijual. Tujuannya adalah agar pembeli
merasa tertarik dan membeli produk-produk
tersebut. Bekerja sebagai Sales Promotion Girls
rokok S dan minuman S memang syarat
utamanya adalah mempunyai penampilan
yang menarik dan cantik serta komunikatif
ketiga syarat tersebut mutlak dimiliki oleh
seorang Sales Promotion Girlsrokok S dan
miuman S karena dengan penampilan dan
ketrampilan komunikasi tersebut mereka
diharapkan dapat menarik minat pembeli
dan meningkatkan daya beli konsumen
terhadap produk-produk yang mereka jual.
Dalam sistem kapitalisme, Pilliang (dalam
Hagijanto, 2000: 8-9) menyebut sebagai
passionate capitalism.  Mereka mempunyai
tugas menggali setiap rangsangan, getaran,
dan hasrat ekonomi, serta memperhalus
dan meningkatkan daya kerja, daya tarik,
dan daya pesona produk; meningkatkan
mutu pelayanan, mutu kemasan, dan
mutu pengirimannya; meningkatkan daya
rangsang paracover girl yang menjadi bintang
iklan produk tersebut; meningkatkan daya
erotisme para  salesgirl  yang menawarkan
produk yang dijual; serta meningkatkan daya
sensual para modelgirl yang memamerkan
produk yang ditawarkan di atas catwalk.
Eksploitasi yang dialami Sales Promotion
Girlsberupa eksploitasi fisik dan ekonomi.
Eksploitasi fisik berupa Penampilan Sales
Promotion Girlsmulai dari polesan wajah,
pakaian yang dipakai hingga aksesoris yang
dipakai dibuat sedemikian rupa oleh pihak
perusahaan untuk memikat pembeli yang
sebagian besar adalah laki-laki. Oleh karena
itu bagian-bagian tubuh tertentu sengaja
diperlihatkan agar dapat memeberikan kesan
sexydan merangsang. Salah satunya dengan
memakai pakaian mini 10 cm di atas lutut,
sehingga terlihat paha Sales Promotion Girls
dan memakai sepatu berhak tinggi (high
heels)sehingga terlihat kaki Sales Promotion
Girlslebih indah. Selain itu ada juga yang
memakai kaos ketat dengan bawahan celana
pendek yang ketat pula sehingga payudara,
pinggul, dan pantat kelihatan menonjol,
serta lekuk-lekuk tubuh semakin terlihat.
Perempuan yang bekerja sebagai
Sales Promotion Girlsmodal utamanya yang
harus dimiliki adalah penampilan menarik
dengan tubuh yang indah, tata busana yang
menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu
dan rias wajah serta komunikatif. Teori
penjulukan (labelling theory) mengatakan
bahwa proses penjulukan dapat membuat
individu atau kelompok menyetujui label-label yang diberikan masyarakat tanpa protes
sehingga citra diri asli objek pelabelan hilang
digantikan citra diri baru yang diberikan
orang lain (Sukirman, 2007; Muashomah
2010). Pemberian stereotip pada perempuan
Sales Promotion Girlsrokok S dan miuman
S tentang penampilan cantik dan menarik
menyebabkan perempuan sales promotion girls
rokok S dan minuman S itu sendiri sulit untuk
mengubah persepsi di mata masyarakat
karena pemberian strereotip merupakan
konvensi sosial. Pemberian stereotip
biasanya didasarkan pada sesuatu yang
alamiah sehingga masyarakat menganggap
bahwa penampilan Sales Promotion Girlsyang
cenderung cantik dan menarik susah dirubah
dan sudah dikonstruksikan oleh masyarakat
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
146
sebagai ciri perempuan Sales Promotion Girls
rokok S dan minuman S.
Tidak jarang dalam menjalankan
profesinya sebagai  Sales Promotion Girls
rokok S dan minuman S, para perempuan
mengalami tindak pelecehan seksual dari
para pembeli, baik yang secara verbal, seperti
siulan, lelucon yang bernada cabul, kata-kata
kotor berupa rayuan, maupun yang berupa
tindakan fisik, seperti cubian, rabaan, dan
colekan. Apa yang mereka alami merupakan
akibat dari apa yang disebut sebagai ’ekonomi
libido’. Menurut Sobur (2004:38), fungsi
tubuh telah bergeser menjadi fungsi biologis
dan reproduksi kearah fungsi ekonomi
politik khususnya fungsi ’tanda’. Ekonomi
kapitalis telah merubah penggunaan tubuh
dan hasrat sebagai titik sentral komiditas
yang disebut dengan ’ekonomi libido’.
Tubuh menjadi bagian dari komoditi
kapitalisme yang memperjualbelikan tanda,
makna dan hasratnya. Selain iti tubuh
perempuan sering digunakan sebagai objek
pemuasan nafsu laki-laki, tubuh perempuan
juga sering ditampilkan sebagai pengukuhan
nilai-nilai ideal tubuh perempuan. Produsen
dan kapitalisme dalam hal ini mengusung
daya tarik seksual dengan penekanan pada
bagian-bagian sensual perempuan, seperti
payudara, paha, ataupun tubuh sensual yang
utuh. Keadaan ini memposisikan tubuh
perempuan sebagai obyek untuk pemuas
hasrat pandangan laki-laki untuk tujuan
komersil.
Pendapat ini juga didukung dengan
kondisi dimana eksploitasi tubuh ini lantas
menjadi komoditi ekonomis. Seperti yang
dikatakan oleh Supartiningsih (2004: 8-9)
Keterkaitan antara seksualitas dengan
sisi ekonomi ini tampak dalam kegiatan
produksi, distribusi dan transaksi hasrat.
Sistem ekonomi seperti ini pada gilirannya
menjelma menjadi  libidonomics, yakni
sebuah sistem pendistribusian rangsangan,
rayuan, kesenangan dan kegairahan dalam
masyarakat. JF Loytard dalam “Libidinal
Economy” (1993) juga berpendapat bahwa
di dalam tubuh ekonomi (kapitalisme
global) berkembang sebuah logika yang
disebutnya logika hasrat (the logics of desire).
Maksud yang terkandung dalam ungkapan
ini adalah bahwa lalu lintas ekonomi
disertai oleh lalu lintas hasrat. Pertumbuhan
ekonomi ditentukan dari bagaimana hasrat
setiap konsumen dirangsang lewat trik-trik
sensualitas komoditas.
Sales Promotion Girlspada akhirnya
harus memiliki strategi untuk meminimalisir
kondisi tersebut. Pemilihan calon pembeli,
dan memilih waktu bekerja di siang hari
merupakan upaya yang dilakukan Sales
Promotion Girlsuntuk menghindari hal-hal
tersebut. Sementara itu perlindungan dari
perusahaan tidak tersedia. Yang terjadi
adalah bahwa tubuh perempuan tersebut
menjadi sarana pengeruk keuntungan bagi
sistem kapitalisme itu sendiri.
Dalam hal yang lain, Sales Promotion
Girlsjuga mengalami eksploitasi ekonomi.
Fakta mengenai rendahnya upah perempuan
si sektor publik, kebijakan perusahaan
yang mengintimidasi perempuan serta
penyerapan tenaga kerja perempuan yang
terbatas membuat perempuan semakin
terhimpit. Tenaga dan pikiran perempuan
diperas habis-habisan untuk menggerakkan
roda-roda perekonomian dengan lebih
banyak menghabiskan waktu di luar rumah
daripada di rumah. Bahkan, eksistensi
perempuan di ranah publik kapitalisme
justru semakin mendudukkan posisi mereka
dalam kubangan eksploitasi.
Bentuk eksploitasi ekonomi yang
dialami oleh Sales Promotion Girlstampak
ketika mereka harus bekerja di tempat-tempat keramaian pada malam hari hingga
larut malam. Tenaga yang terkuras tidak
sebanding dengan apa yang didapat oleh
perempuan Sales Promotion Girlsterlebih jika
pembayaran gaji tidak diberikan langsung
dan harus menunggu hingga kurang lebih
satu bulan.
Bentuk lain dari adanya eksploitasi
ekonomi adalah tidak terpenuhinya hak-hak
pekerja perempuan oleh pihak perusahaan.
Sesuai dengan Undang-Undang tentang
Ketenagakejaan Nomor 13 tahun 2003, hak
tersebut antara lain: hak untuk memperoleh
imbalan atau upah; hak memperoleh fasilitas
berupa berbagi tunjangan dan bantuan;
hak mengembangkan potensi kerja sesuai
dengan bakat, minat, dan kemampuan;
147
Nur Afta Lestari / Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
hak mendapatkan perlindungan atas
keselamatan, kesusilaan, kesehatan,
pemeliharaan moral kerja, serta perlakuan
yang sesuai harkat, martabat manusia dan
moral agama; hak mendirikan dan menjadi
anggota serikat pekerja; hak mendapatkan
cuti; dan hak memperoleh perlindungan
hukum.
SIMPULAN
Perempuan yang bekerja sebagai Sales
Promotion Girlspada industri rokok dan
minuman berumur sekitar 19-30 tahun,
berpenampilan menarik, bekerja 5-7 jam
per hari, mendapatkan pendapatan yang
rendah, dan beberapa diantara mereka
memiliki peran ganda. Alasan perempuan
bekerja sebagai SPGkarena alasan ekonomi,
yaitu untuk menambah pendapatan
keluarga, dan alasan sosial, yaitu adanya
keingian berinteraksi dengan banyak orang.
Perempuan Sales Promotion Girlsrokok dan
minuman dalam melakukan pekerjaanya
seringkali mengalami eksploitasi fisik, baik
berupa pelecehan verbal maupun pelecehan
fisik. Selain itu perempuan yang bekerja
sebagai Sales Promotion Girlsjuga mengalami
eksploitasi ekonomi, yaitu berupa jam kerja
yang terlalu lama, waktu kerja yang sampai
malam hari, serta tidak terpenuhinya hak-hak pekerja perempuan tentang keselamatan
dan hak untuk cuti. Dalam hal ini maka
kepedulian terhadap perempuan bekerja
hendaklah ditingkatkan. Kesempatan bekerja
bagi para perempuan hendaknya juga bukan
hanya menyangkut ketrampilan remeh atau
bahkan hanya mengandalkan tubuh semata.
Perlindungan untuk perempuan bekerja
baik itu yang berada di level bawah maupun
menengah ke atas menjadi sangat penting,
mengingat perempuan rentan dengan
eksploitasi baik fisik maupun ekonomi.
Dengan posisi yang lebih terhormat dalam
pekerjaan, maka menaikkan juga posisi
sosial ekonomi perempuan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, I. 2003. Penelitian Berwawasan Gender
Dalam Ilmu Sosial.Jurnal Humaniora. 15 (3):
30-45.
Asriwandari, H. & Indrikawati, Y.E. 2009. Peran
Perempuan Bekerja Dalam Keluarga. Jurnal
Industri Dan Perkotaan. 13 (33): 15-30.
Cahyono, I. 2005. Wajah Kemiskinan, Wajah Perempuan.
Dalam jurnal Perempuan no.42 (ed) 2005.
Mengurangi Kemiskinan, Dimana Perempuan.
Jakarta: Yayasan jurnal perempuan.
Conyers, D. 2000. Sangkan Paran Gender: Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Fakih, M. 1995. Menggeser Konsepsi Gender Dan
Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Hagijanto, A.D. 2000. Figur Wanita Sebagai Penarik
Pandang Dalam Iklan. Nirmana.2 (1): 1-11.
Khotimah, K. 2009. Diskriminasi Gender Terhadap
Perempuan Dalam Sektor Pekerjaan. Yinyang :
Jurnal Gender Dan Anak. 4 (1): 158-180.
Muashomah. 2010. Analisis Labelling Perempuan
dengan Teori Feminisme. Jurnal Komunitas. Vol
2 (2): 79-91.
Sagala, V. & Rozana, E. 2007. Memberantas Traffiking
Perempuan Dan Anak. Bandung : Pojok 85.
Suhartini, S. 2010. Pergulatan hidup perempuan
pemecah batu. Jurnal Komunitas. 2 (2): 40-49.
Sukirman, O. 2007. Teori Komunikasi Politik. Jakarta :
Rajawali Press.
Supartiningsih. 2003.  Peran Ganda Perempuan,
Sebuah Analisis Filosofis Kritis. Jurnal Filsafat.
33 (1): 5-20.
Syamsudin. 2006. Eksploitasi Wanita dalam Perspektif
Kapitalis. E-jurnal Egalita.1 (2): 20-40.
—————-. 2004. Melacak Akar Masalah Pornografi
Dan Pornoaksi Serta Implikasinya Terhadap
Nilai-Nilai Sosial (Kajian Filsafat Nilai). Jurnal
Filsafat. 36 (1): 10-30.
Sobur. A. 2004. Analisis Teks Dan Media Suatu
Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik Dan Analisis Traming. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

Komunitas 4 (2) (2012) : 139-147
KOMUNITAS
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas
EKSPLOITASI PADA PEREMPUAN SALES PROMOTION GIRLS
Nur Afta Lestari 
SMA Kridha

4 comments

Skip to comment form

  1. great your post

  2. tulisannya dirapikan ya hehe

  3. Kajian yg menarik

  4. dirapikan lagi ya tampilannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar