BUDAYA KEKERASAN DALAM NILAI-NILAI DAN ETIKA MASYARAKAT JAWA

Penulis Artikel : Nugroho Trisnu Brata

REVIEW BY SETIAWATI

Artikel berjudul “BUDAYA DALAM PERSPEKTIF NILAI-NILAI DAN ETIKA MASYARAKAT JAWA” ini menggambarkan perspektif nilai-nilai dan etika masyarakat Jawa yang berkaitan dengan adanya budaya kekerasan dalam berbagai wujud dan beragam waktu. Seperti kita ketahui bahwa masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang perilaku dan budi bahasannya halus sering digambarkan dengan lemah gemulainya “Putri Solo “ misalnya.  Pada sisi lain, masa lalu bedasarkan sejarah masyarakat Jawa sebenanya adalah etnik yang keras dan menjadi “bangsa” penakluk. Contoh paling nyata dan menarik adalah Citra Penyatuan Nusantara yang dilakukan kerajaan Majapahit pada masa Imperiumnya.                 Budaya kekerasan seiring dengan perkembangan zaman dan berjalannya waktu di Indonesia memiliki masa-masa tersendiri, seperti kekerasan pada zaman kerajaan Jawa , banyak terjadi perebutan kekuasaan dan tahta dengan peperangan petumpahan darah dan perlakuan atau tindakan fisik yang merugikan dan menciderai orang lain, begitupula dengan masa kolonialisme yang dilakukan kompeni di indonesia. Pasca masa kolonialisme setelah Indonesia merdeka kekerasan memiliki tahap baru , yaitu kekerasan yang dilakukan oleh Gerakan-gerakan pemberontak seperti G30S/PKI, DITII, dan Andi Aziz misalnya. Kemudian pada tahun 90-an kekerasan baru muncul dengan adanya suatu pergerakkan massa besar dengan nama Reformasi. Pada masa Reformasi terjadi Amok massa dengan melakukan pembakaran dan pembunuhan seperti yang terjadi di kota Jakarta dan Surakarta serta kota-kota lainnya, tetapi yang menarik pada masa ini adalah Amok Massa tidak terjadi di salah satu kota unik di Indonesia yaitu Yogyakarta, karena di kota ini Amok massa dapat dijinakkan dan diganti dengan Pisowanan Ageng di Keraton Yogyakarta. Sehingga pergerakkan massa yang besar itu dapat diantisipasi agar tidak melakukan kekerasan seperti di kota-kota lainnya. Ketika membedakan mengenai contoh watak alus dan watak kasar pada masyarakat Jawa umumnya digambarkan dengan Buta Cakil (tokoh wayang  yang dicirikan oleh kekuatan fisik,penampilan sangar ,banayak bicara agresif dan menyukai kekerasan) dan Arjuna (Ksatria yang halus dicirikan dengan gerak sederhana tetapi memiliki energi besar, bicara halus dan penuh pengendalian diri).

Dalam bahasa Jawa pula terdapat peribahasa “Dupak Bujang, Semu Mantri, Esem Bupati” yang sekaligus menggambarkan watak alus atau budaya alus pada masa Hierarkis, yaitu Dupak Bujang , yaitu harus memakai “tendangan kaki” (dupak) maka komunuikasi baru bisa berjalan, biasannya dilakukan oleh kalangan wong cilik atau rakyat bagian strata paling bawah. Kemudian “Semu Mantri”, yaitu seorang mantri atau priyayi menengah di mana dia haus nyemoni atau menyindir kepada oang lain maka komunikasi bisa berjalan, biasannya dilakukan oleh seorang bangsawan atau priyayi atau rakyat kelas menengah. Sedangkan yang paling tinggi  adalah “Esem Bupati”, yaitu priyayi tinggi yang posisinya di bawah raja, untuk berkomunikasi dia cukup mesem/ tersenyum saja maka orang lain yang diajak komunikasi sudah tanggap maksudnya.

Dengan demikian budaya memiliki peran atau fungsi sebagai penuntun, pengarah atau pemakasa bagi masyarakat. Budaya kekerasan dalam hal ini adalah sistem gagasan yang mendasari perilaku masyarakat yang kemudian menjadi pedoman dan penuntun bagi masyarakat dalam melakukan tindak kekerasan. Inspirasi gagasan kekerasan bisa saja besumber pada nilai-nilai dan etika budaya Jawa, misalnya sanjungan  dan “pemujaan” terhadap panglima perang atau para Ksatria. Sosialiasanya bisa berwujud pertunjukkan wayang kulit atau wayang wong dengan cerita Barata Yuda yang mengisahkan pertarungan antara Pandawa dan Kurawa. Jiwa keoahlawanan, petumpahan darah, adu kesaktian , dan pengorbanan nyawa seakan menjadi legitimasi bagi munculnya kekerasan dalam budaya Jawa. Akan tetapi nilai-nilai dan etika Jawa juga berperan di dalam memahami budaya kekerasan itu, dengan demikian dalam kehidupan masyarakat Jawa dapat dikatakan memiliki dua sisi kebudayaan yaitu budaya halus dan kekerasan (berdasarkan berbagai wujud dan beragam waktu dengan berpijak pada sudut pandang nilai-nilai dan etika masyarakat Jawa).

12 thoughts on “BUDAYA KEKERASAN DALAM NILAI-NILAI DAN ETIKA MASYARAKAT JAWA”

Leave a Reply to Siti Mukharomah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: