Sekilas Tentang Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik menggambarkan seorang guru yang sangat memperhatikan tentang manajemen kelas. Guru tersebut merasa ada masalah yang berkaitan dengan tingkah laku siswa, kemudian guru tersebut menerapkan teori behavioristik yang berfokus pada adanya stumulus yang diberikan guru dan siswa akan menunjukkan respon atas stimulus tersebut.

Dalam video dijelaskan bahwa “a behavior win only occur if given the right environment or antecedent. The behavior is more or less likely to reoccur based on the reinforcements or consequences that follow, such as rewards and punishments.” Sebagai contoh dari konsekuensi yang diberikan di video adalah sebagai berikut:

1. You can watch TV as soon as you are done with your homework.
2. Students who complete all homework this week, don’t have to take the quiz on Friday.
3. Receiving a sticker for a correct answer on a math problem.
4. Students who arrive late will receive detention.

Teori Belajar Behavioristik

Kemudian dalam kasus yang dihadapi guru yang ada di video, guru tersebut memberikan aturan sikap yang harus dipenuhi oleh siswanya beserta konsekuensinya sebagai berikut:

1. Come to class on time
2. Have materials out when bell rings
3. Participate in class discussion
4. Push in chair when leaving

Sedangkan sebagai reinforcement-nya adalah: Award classroom money buat siswa yang memenuhi behaviors yang diinginkan, dan take away classroom money buat siswa yang tidak memenuhi.

Masalah yang mungkin akan muncul dengan diterapkannya teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran tentang Teori Behavioristik adalah:

  1. Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variable atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Contohnya, seorang siswa akan dapat belajar dengan baik setelah diberi stimulus tertentu. Tetapi setelah diberi stimulus lagi yang sama bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau belajar lagi.
  2. Teori behavioristik tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Sebagai contoh, motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar. Pandangan behavioristik menjelaskan bahwa banyak siswa termotivasi pada kegiatan kegiatan di luar kelas (bermain video-game, berlatih atletik), tetapi tidak termotivasi mengerjakan tugas-tugas sekolah. Siswa tersebut mendapatkan pengalaman penguatan yang kuat pada kegiatan-kegiatan di luar pelajaran, tetapi tidak mendapatkan penguatan dalam kegiatan belajar di kelas.
  3. Pandangan behavioristik tidak sempurna, kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya.
  4. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan siswa untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: