pengunjung

Struktur Masyarakat Jawa, “Pocok, Kuli, Bos” dalam pembuatan batu bata merah di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati

“Pocok, Kuli, Bos” dalam pembuatan batu bata merah di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati

  1. Pendahuluan
  2. Latar Belakang

Struktur Sosial merupakan tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini susunan struktur sosial dapat horizontal maupun vertikal. Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dalam suatu masyarakat yang tertata dalam suatu struktur yang cenderung bersifat tetap. Tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat itu diharapkan dapat berfungsi dengan baik, sehingga akan tercipta suatu keteraturan, ketertiban, dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat.

Contoh struktur sosial yang horizontal adalah kelompok pria dan kelompok wanita, atau kelompok orang beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu. Cirinya masing-masing dalam kelompok tersebut tidak bertingkat, artinya di masyarakat kedudukannya sama. Sedangkan contoh Sruktur sosial yang vertikal adalah kelompok orang kaya dan kelompok orang miskin, hal ini jelas menunjukkan kedudukan yang berbeda dalam masyarakat. Orang kaya berada di tempat yang lebih tinggi daripada orang miskin.

Begitupun yang terjadi di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, lebih tepatnya di RT 2 RW 1, juga terdapat struktur sosial, dan dalam paper ini saya akan membahas struktur sosial yang ada di Desa Kembang RT 2 RW 1 ini yang bersifat vertikal, yaitu tentang pengrajin batu bata, disni terdapat struktur sosial yang cukup menarik untuk dikaji.

  1. Tujuan

Paper ini dibuat untuk memenuhi Ulangan Tengah Semester mata kuliah Struktur Masyarakat Jawa, selain itu juga untuk mengemukakan tentang struktur sosial yang terjadi di Desa Kembang, RT 2 RW1, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati

  1. Alasan menarik

Hal ini menarik untuk dikaji karena dalam sebuah masyarakat dizaman yang modern ini masih ada struktur sosial yang disini bersifat vertikal namun hal tersebut tidak banyak menimbulkan konflik, karena memang dalam masyarakat tersebut masih memegang erat nilai-norma juga solidaritas antar masyarakat, juga masih erat akan rasa kekeluargaan.

  1. Hasil dan Pembahasan

Struktur Sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini susunan struktur sosial dapat horizontal maupun vertikal. Struktur sosial muncul karena adanya dua unsur berikut yaitu :

  1. Individu, dalam hal ini individu adalah sebagai pembentuk masyarakat sekaligus pembentuk struktur sosial, jika tidak ada individu-individu maka tidak mungkin ada masyarakat
  2. interaksi, interaksi antar individu dalam masyarakat akan membentuk struktur sosial, tanpa adanya interaksi maka struktur sosial tidak mungkin terbentuk.

Di Desa Kembang yang terletak di Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, ini juga terdapat struktur sosial di dalamnya. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di RT 2 RW 1 Desa Kembang ini adalah pengrajin batu bata merah, walaupun mereka memiliki pekerjaan lain seperti sopir, petani, atau bahkan gru, kebanyakan mereka masih menjadi pengrajin batu bata merah, namun tidak selalu mereka melakukan semua proses pembuatan batu bata merah itu sendiri, namun ada bagiannya sendiri-sendiri, dan dari sinilah terbentuk struktur sosial yang ada dalam pembuatan atau usaha batu merah tersebut.

Dalam usaha batu bata merah ini ada beberapa susunan yang menjadi struktur sosial dalam masyarakat tersebut, dalam usaha batu bata merah ada yang berperan sebagai “mocok” atau “tukang pocok”, yang dimaksud disini adalah pekerja yang disini dia hanya menjadi buruh yang tidak tetap, yang membutuhkan tenaganya untuk membuat atau membakar batu bata merah maka dia akan melakukannya, atau bahkan hanya untuk “dempingi”(menata batu bata yang akan dibakar) atau “nyudah” (membongkar batu bata yang telah dibakar). Disini dia bekerja bagi yang membutuhkan tenaganya, jadi tidak tetap dia bekerja kepada siapa.

Kemudian ada “Kuli”, disini dia hampir sama dengan “Pocok”, dia membuat batu bata namun disini dia telah terikat kontrak dengan bosnya, jadi disni dia telah diberi tempat, tanah (untuk membuat batu bata), juga peralatan untuk membuat batu bata seperti cangkul dan alat cetak batu bata, jadi dia tinggal membuat batu bata merah kemudian ketika sudah kering dan siap dibakar dia tinggal memindahkannya ke kandang tempat pembakaran.

Dan yang terakhir adalah “Bos”, disini bos adalah pemilik modal, dimana dia mempunyai beberapa “kuli” untuk melancarkan usahanya, biasanya bos hanya bekerja untuk “dempingi”, membakar, dan “nyudah” batu bata, sedangkan membuat adonan, mencetak, mengeringkan dan memindahkan ke kandang adalah pekerjaan “kuli”, namun ada juga “bos” yang dia memilih “Pocok” untuk melakukan pekerjaannya tersebut, sehingga dia tinggal membayari bawahan-bawahannya dan tetap mendpatkan untung.

Walaupun ada struktur sosial yang seperti ini tapi tidak banyak konflik yang terjadi dalam masyarakat ini yang ditimbulakn oleh struktur sosial yang ada. Dalam msayarakat ini nilai kekeluargaannya juga masih sangat kental, dimana “sambatan” dan “rewang” masih banyak ditemukan disini, bahkan ketika “pocok” atau “kuli” sedang membuat rumah atau ada hajatan, maka “bos” tidak sungkan untuk “sambatan” atau “rewang” ditempat “pocok” atau “kuli” tersebut, juga sebaliknyta. Namun disini tetap ada perbedaan antara “pocok, kuli, bos”, melihat pekerjaan dan penghasilan mereka pun juga berbeda, pandangan masyarakat tentang mereka pun juga berbeda-beda. Secara tidak langsung “bos” akan tetap lebih diutamakan ketimbang “pocok” dan “kuli”.

Dalam sebuah struktur sosial, umumnya terdapat perilaku-perilaku sosial yang cenderung tetap dan teratur, sehingga dapat dilihat sebagai pembatas terhadap perilaku-perilaku individu atau kelompok. Individu atau kelompok cenderung menyesuaikan perilakunya dengan keteraturan kelompok atau masyarakatnya. Seperti dikatakan di atas, bahwa struktur social merujuk pada suatu pola yang teratur dalam interaksi sosial, maka fungsi pokok dari struktur sosial adalah menciptakan sebuah keteraturan sosial yang ingin dicapai oleh suatu kelompok masyarakat.

  1. Simpulan

Dapat disimpulkan bahwa dalam masyarakat yang ada di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati ini ada struktur sosial yaitu “pocok, kuli, bos”, dimana seriap susunan memiliki pekerjaannya masing-masing, walaupun struktur sosial ini bersifat vertikal namun tidak menimbulkan banyak konflik, disini tetep solidaritas dan kekeluargaan yang dijunjung tinggi. Dan struktur sosial ini mampu berjalan dengan baik dan sesuai dengan mestinya, dimana nilai dan norma yang ada tetap dipegang teguh oleh tiap masyarakatnya.

  1. Daftar Pustaka

http://ssbelajar.blogspot.com

http://ips-mrwindu.blogspot.com

6 comments to Struktur Masyarakat Jawa, “Pocok, Kuli, Bos” dalam pembuatan batu bata merah di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati

Leave a Reply to nur ayu istiqomah cahya ningtias Cancel reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.