Pertumbuhan Ekonomi 2018 Diproyeksi Tak Sesuai Target APBN

September 13, 2018 in Uncategorized | Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun nanti akan berada dalam rentang 5,14 persen hingga 5,21 persen.

Proyeksi ini jauh lebih rendang ketimbang proyeksi sebelumnya, yaitu 5,3 persen atau bahkan lebih rendah dibandingkan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, yakni 5,4 persen.

Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III berada dalam rentang 5,13 persen hingga 5,25 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV akan berada di kisaran 5,1 hingga 5,23 persen.

Namun, ia berharap momentum pertumbuhan ekonomi di akhir tahun nanti bisa tetap di atas 5,2 persen seperti yang terjadi di kuartal II kemarin.

“Jadi, sesuai exercise yang kami lakukan, total pertumbuhan ekonomi seluruh tahun 2018 berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan adalah 5,14 persen hingga 5,21 persen. Ini baseline 2018”, jelasnya di Gedung DPR, Kamis (13/9).

Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal terakhir nanti akan banyak dipengaruhi oleh despresiasi rupiah terhadap dolar AS. Utamanya, memengaruhi ekspor netto yang merupakan salah satu komponen utama pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada kuartal kedua, ia memprediksi impor akan bertumbuh di atas 10 persen karena sebagian importir menahan aktivitasnya lantaran libur panjang Idul Fitri dan kembali melanjutkan impor pada kuartal ketiga.

Kenaikan nilai impor cenderung lebih tinggi. Sayangnya, pertumbuhan impor ini tidak sebanding dengan pertumbuhan ekspor, yang dia taksir masih di kisaran 7 persen sama atau sama seperti kuartal II kemarin.

Namun, ia melanjutkan depresiasi rupiah akan mempengaruhi importir secara psikologis pada kuartal IV. Sehingga, pertumbuhan impor di tiga bulan terakhir tahun ini akan turun menjadi 8 persen.

Pada saat bersamaan, ia meramal ekspor pada kuartal IV akan naik ke kisaran 8 persen karena eksportir melihat peluang pertumbuhan. Sebab, depresiasi rupiah membuat harga ekspor Indonesia lebih kompetitif, sehingga volume ekspor bisa meningkat.

“Dengan hal ini, semoga nanti pada akhir tahun bisa terjadi trade balance”, ungkap dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga sempat khawatir bahwa depresiasi nilai tukar juga bisa berdampak bagi pertumbuhan konsumsi. Namun, ia masih yakin bahwa inflasi Indonesia masih akan sesuai target, yaitu 3,5 persen hingga akhir tahun.

Sehingga, pertumbuhan konsumsi diharapkan bisa dijaga di atas 5 persen pada dua kuartal terakhir.

Apalagi, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,05 persen malah terjadi Agustus kemarin. “Konsumsi diharapkan masih bisa terjaga”, imbuh dia.

Optimisme serupa juga diharapkan terjadi di Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB). Sri Mulyani berharap, investasi bisa meningkat kembali mendekati 7 persen pada kuartal III atau tepatnya di rentang 6,7 persen hingga 6,9 persen. Hanya saja, dia tak memprediksi pertumbuhan investasi di kuartal IV.

“Kami berharap, investasi di kuartal berikutnya bisa recover dari kuartal II 5,87 persen”, pungkasnya.

Pada kuartal II kemarin, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen. Angka ini membaik dibanding kuartal I, yakni 5,07 persen.

Capaian ini merupakan pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak pemerintah Presiden Joko Widodo. Pertumbuhan kuartalan tertinggi sebelumnya terjadi di kuartal II 2016, yakni 5,21 persen.


Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco