Proses Kognitif dalam Konseling Individu

Konseling individu menuntut konselor untuk melakukan kinerja kognitif selama menerima informasi dari konseli. Ketidak-efektifan kinerja kognitif konselor selama proses konseling berdampak merugikan terhadap proses konseling, diantaranya:

  1. Pemahaman empati yang tidak akurat. Empati menuntut konselor untuk bisa memahami kerangka acuan internal (internal frame of references) secara objektif dan komprehensif. Ketiadaan proses kognitif yang tepat membuat pemahaman yang objektif dan komprehensif menjadi sulit tercapai.
  2. Respon attending, yakni pelacakan pesan verbal (verbal tracking) yang tidak runtut atau melompat-melompat. Ketika konseli mengutarakan suatu pesan, maka pendalaman berikutnya oleh konselor diharapkan tidak jauh dari topik pesan tersebut. Proses kognitif yang tidak efektif menjadikan verbal tracking sulit dilaksanakan.
  3. Fokus konseling pada lingkungan atau situasi eksternal (dari luar diri) konseli. Selama proses konseling, konselor diharapkan senantiasa memfokus (memperhatikan) kondisi internal dari dinamika psikologis konseli, misalnya persepsi konseli tentang kenyataan yang dialaminya, penilaian konseli tentang kondisi yang dihadapi, pandangan pribadi tentang suatu keadaan, dan seterusnya. Proses kognitif yang tidak tepat mendorong konselor mendalami situasi eksternal, misalnya kapan suatu peristiwa dialami konseli, di mana kejadian peristiwa tersebut, bagaimana tanggapan orang di sekitar konseli atas kejadian tersebut, dan lain-lain. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat memfokus pada kondisi eksternal membutuhkan proses kognitif yang tidak terlalu kompleks dibandingkan dengan berusaha memahami dinamika psikologis dari kondisi kerangka acuan internal.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Konseling individu | Tag | Tinggalkan Komentar

Teknik Menyajikan Hasil Analisis Data Kuantitatif

Hasil analisis statistik pada kebanyakan laporan penelitian dan jurnal disajikan dalam kalimat. Sebagai contoh, “Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa hasil uji hipotesis 1 diperoleh nilai r sebesar 0,423. Jika dibandingkan dengan r tabel sebesar 0,246 untuk df sebesar … maka diperoleh p kurang dari 0,01. Temuan ini mengindikasikan bahwa hipotesis 1 diterima secara sangat signifikan.”

Cara menyajikan hasil analisis statistik di atas tidak lazim dilakukan di jurnal-jurnal internasional. Terlebih apabila peneliti menganalisis statistik dengan bantuan perangkat lunak, maka melihat atau membandingkan hasil analisis dengan semacam r tabel tidak perlu dilakukan karena perngkat lunak statistik telah menunjukkan taraf signifikansi secara akurat.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Tip penulisan karya ilmiah | Tag , | Tinggalkan Komentar

Assalamu’alaikum…!

Selamat datang di blog saya. Melalui blog ini ke depannya akan didiskusikan beberapa isu-isu akademik menarik seputar konseling dan psikologi pendidikan. Diskusi dan telaah konstruktif dari para pembaca sangat diharapkan.

Semoga bermanfaat!

Sunawan, Ph.D.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar